
Setelah kejadian dua hari lalu, batang hidung pak Juan tidak pernah nampak lagi di sekolah, dan semenjak kejadian itu pula, kepopuleran Stella berserta teman-temannya semakin meningkat, terutama Stella, tak ada yang tidak mengenali Stella lagi disekolah itu, bahkan para guru guru sekalian.
Kejadian itu juga sudah terdengar oleh para guru bahkan kepala sekolah. Banyak guru yang marah pada anak itu dan menjulidti nya, merasa seperti terhina akan profesi mereka
Ada dimana coba? Siswa yang berani melawan gurunya sampai seperti itu, selain Stella.
****
Hari ini saat mereka sedang di kantin, tiba- tiba saja datang segerombolan anak cowok menuju ke arah meja mereka. Mereka terlihat seperti anak kelas 10, karena tampang- tampangnya terlihat masih sedikit baby face, dan kekanak-kanakan.
“Hai kak Stel, boleh minta tanda tangan gak?” Stella langsung menatap ke arah teman temannya, mereka saling pandang kemudian Stella mengangguk.
Anak itu langsung menyodorkan sebuah saputangan putih dengan bordir biru, diujungnya ada sebuah nama yang bertuliskan ‘ Rendi ‘, dia juga menyodorkan sebuah pena untuk Stella menandatanganinya.
Langsung saja Stella mengambil pena tersebut, dan menandatanganinya ditengah tengah.
“Nih ....” Katanya sambil menyodorkan saputangan dan pena tersebut.
"Makasih kak ...." Dia tersenyum lebar kearah Stella kemudian melenggang pergi bersama teman-temannya.
Sebenarnya kejadian ini sudah sering Stella alamin semenjak kejadian dua hari lalu, bukan hanya tanda tangan saja, dia bahkan sering mendapatkan kiriman-kiriman dari pra fensnya.
Sebenarnya Stella merasa risih dan muak, tapi mau gimana lagi, dia menghargai pemberian dari para fensnya itu. Dia gak mau membuat fensnya merasa kecewa. Walaupun Stella terkenal dengan ke Bad-annya, ia tetap memiliki rasa kemanusiaan dan rasa simpati.
****
Stella dan teman temannya telah selesai makan siang di kantin, mereka memutuskan untuk kembali kekelas, karena sebentar lagi pelajaran buk Siti akan dimulai. Kalian tentu ingat bukan? Gimana anehnya hukuman buk Siti itu, kalau kita sampai terlambat atau melakukan kesalahan.
"Huwa ... Guys bentar lagi pelajaran buk Siti nih, gue malas, cabut yok." Rengek Bima dengan tampang yang memelas. Dia benar- benar tidak suka dengan buk Siti, yang dianggapnya punya peraturan aneh.
"Hush ... lo cabut-cabut aja, gue gak mau yah ... ntar kenak hukum buk siti gara-gara lo, gue juga gak mau ketinggalan pelajaran, apalagi matematika, pelajaran terlemah gue, gue harus banyak belajar," ujar Kevin, dia menatap Bima tak suka, karena telah mempengaruhi teman-temannya untuk melakukan hal yang tak baik.
"Gue gak ngajak lo, kalau mau belajar yah belajar aja." Ia menjawab dengan acuh sambil melirik Bima dengan sinis.
Terlihat kevin menghembuskan nafas kasar, ia memanyunkan bibirnya dan menekuk mukaknya, ia melenggang pergi meninggalkan kami menuju tempat duduknya. Dia mengambil sebuah buku dan pulpen, ntahlah itu buka apa, tidak ada dari mereka yang ingin mengetahuinya, biarlah hanya dia dan Tuhan yang tau.
"Ih Bim, lo apaan sih ... tuh lihat Kevin, dia jadi murungkan." Gue menatap Bima yang terlihat sedang lesu di tempatnya
" Biarin aja sih Stel, dia emang gitu, sok rajin ...."
"Dia emang rajin tau."
"Iyah-iyah rajin, tapi rajinnya buat sengsara orang." Ujar Bima dengan sangat malas.
Tuk
"Apaan sih Stel, kok kepala gue digetok sih?" Bima mengelus-elus kepalanya yang habis ditimpuk Stella dengan buku, ia memanyunkan bibirnya dan membuat-buat muka sedih yang tak patut untuk dikasihani.
"Habisnya lo ... malas bangat disuruh belajar, tinggal duduk anteng dengerin ucapan guru, catet, terima bersih ilmunya, gak disuruh nerangin lagi lo, gitu ae repot." Salah satu alisnya Stella naik ke atas , dengan tangan yang terlipat diatas dada, Stella menatapnya dengan sangat malas, kelakuan anak yang satu ini tidak akan pernah berubah, dia tetap akan menjadi anak yang malas kalau gak dipaksa.
"Ih apaan sih, gue kan lagi malas sekarang." Dengan wajah sedih, Bima melirik Stella sebentar.
" Perasaan tiap harinya lo malas, bukan hari ini aja."
"Serah lo deh Stel, males gue debat ama cewe, gue tau ujung-ujungnya pasti gue yang salah:("
****
Bel pulang pun berbunyi, seiring dengan berakhirnya jam mata pelajaran buk Siti, guru cantik nan aneh.
Keenam sahabat itu atau yang biasa disebut dengan the six mouse friends, memutuskan untuk tidak langsung balik kerumah, mereka memilih untuk bersantai-santai sebentar, menghilangkan penat saat belajar, sekalian Refresing karena sebentar lagi mereka akan menghadapi ujian kenaikan kelas.
"Guys ... kita jalan kemana nih? " Seru Kevin yang terlihat begitu semangat, diantara kami berenam hanya Kevin yang terlihat begitu antusias sekali, bukannya kami tidak antusias tapi kami hanya tak ingin terlalu berlebihan.
Bukankah segela sesuatu yang berlebihan itu tidak baik?
"Kepantai kayaknya cocok deh guys ... sambil minum kelapa muda, menikmati angin sepoi- sepoi yang berhembus dari utara ke selatan." Usul Stella.
"Gue setuju, sekalian mau main-mainin air pantainya, gue dah lama gak kepantai." Kali ini Bianca yang angkat bicara.
"Ha Bim? Lo takut hitam? " Bima mengangguk mengiyakan perkataan Amanda.
"Potong aja tuh burung, gak cocok lo jadi laki,
masa laki-laki takut hitam, kalah sama kite- kite yang cewe."
"Iyah Bim, potong aja tuh dedek emes kamu." Jawaban Somplak dari Kevin mampu mengundang gelak tawa dari kami berlima kecuali Bima yang mendengus kesal mendengar ejekan tentangnya itu.
"Apaan sih kalian, kalau dedek emes gue dipotong, terus masa depan gue apa?" Wajah Kevin benar benar-berubah seperti kepiting rebus, dia benar-benar kesal dengan teman- temannya yang terus menertawainya.
"Kan masih ada pisang alami Bim, tuh di pohon pak Mamat masih banyak." Tanpa menghentikan gelak tawanya Devano menyambung perkataan Kevin.
"Huh ... gini amat nasip gue punya teman kayak lo pade, nyesel gue ketemu sama lo pade, gue berdoa semoga kehidupan gue selanjutnya gak ketemu sama lo–lo semua." Kevin memanyunkan bibirnya, dia memalingkan wajahnya dari kami, dengan tangannya yang berada di pinggang.
"Lagian lo Bim, sok-sok an gak mau hitam, padahal lo udah hitam kian dari sononya."
Lagi-lagi Amanda memulai mengejeknya. Membuat semua orang yang ada di sana kembali tertawa. Dia memberikan sorot tak senang kepada Amanda. Serius kali ini dia benar-benar ingin memotong mulut Amanda yang lemesnya minta ampun, sayangnya Amanda adalah temannya, jadi ia mengurungkan niatnya saja.
"Udah-udah jangan pada ribut mulu nape, sakit nih kuping gue dengarnya." Stella memegang kedua kupingnya seolah-olah telinganya benaran sakit mendengar ocehan mereka, padahal dia juga menikmati candaan tersebut.
"Udah ah buruan, ntar hari semakin sore, kita jadi gak sempat bermain di pantai." Lagi-lagi Bianca yang menengahi pembicaraan kami.
Diam-diam Bima merasa senang, karena berkat Bianca bullyan terhadap dirinya terhenti.
****
Setelah pembullyan terhadap Bima tadi, mereka langsung pergi menuju sebuah pantai, alhasil jadinya sekarang mereka sedang berada disalah satu pantai terkenal di Jakarta, yaitu pantai perawan.
Letak pantai perawan lumayan jauh dari pantai ancol. Jika ingin kesana kita butuh waktu 1-2 jam dari dermaga ancol,walaupun perjalanan kesana lumayan panjang, tapi hasilnya mampu membuat kita terpukau.
Dengan pasir berwarna putih cerah, dan air yang berwarna hijau toska, membuat pantai tersebut terlihat lebih bersih dan airnya yang jernih mampu membuat siapapun yang kesana terasa seperti dimanjakan.
Maha Agung Tuhan yang telah menciptakan alam semesta beserta isinya.
***
Terlihat tiga orang cewek saling bergandengan sedang berlari bersamaan. Tampak kebahagian dari raut wajah mereka, suara tawa terus terlontar dari mulut manis gadis gadis itu.
"Amanda, Bianca, Stella jangan jauh-jauh larinya, ntar kita terpisah jadi repot." Seorang laki-laki terlihat sedang meneriaki tiga gadis yang sedang berlari sambil tertawa itu.
"Iyah Dev, kami gak jauh-jauh kok, sans ae."
Amanda berjalan mundur sehingga ia bisa melihat kearah 3 pemuda tampan di belakangnya. Dia kembali berteriak agar Devano mendengar suaranya.
Senyum terus terukir di wajah-wajah para remaja tersebut, mereka terus berlarian di pinggir-pinggir pantai,vbanyak hal yang mereka lakukan dari berfoto bareng, lempar- lemparan tanah sampai siram-siraman air.
Seperti sekarang ini, saat mereka sedang berlomba membuat istana pasir terbaik, tiba- tiba saja ombak menghancurkan istana yang telah di buat susah payah oleh Stella, tak terima dengan keadaan itu, tiba-tiba saja muncul akal licik di otak Stella.
Dia mengambil sebotol air dan menyiramkannya kepada Devano, alhasil istana pasir Devano hancur, Devano melirik Stella, kemudian melemparkan tanah kewajah Stella, tak terima dengan perlakuan Devano, Stella membalasnya dengan lebih kejam lagi. Alhasil mereka berdua saling lempar- lemparan pasir, sambil berlari-lari ntah kemana.
Tawa canda terus menghiasi hari mereka ini, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 4.30 sore, mereka memutuskan untuk kembali sebelum hari semakin sore, karena mereka harus menyebrangi lautan untuk bisa kembali ke tempat asal mereka.
"Hua ... gue senang buangat ... hari ini." Ucap Amanda sambil merentangkan kedua tangannya keatas.
"Haha, gue juga senang bat, btw makasih yah guys untuk hari ini. Kalian mau nemani gue seharian kayak gini, dan foto-foto kita hari ini bakalan gue cuci, terus gue masukin ke dalam album kenangan." Dengan senyum yang tak kunjung lepas dari bibir Stella, ia menatap temannya dengan sangat bahagia.
Hari ini ia benar-benar bahagia, sampai tidak tau bagaimana cara menjelaskannya, tanpa terasa air matanya luruh membasahi pipinya, ia terharu dengan momen-momen yang dia dapati hari ini. Kelima temannya langsung memeluk erat tubuhnya, mereka saling tersenyum dan merangkul pundak satu sama lain.
Hari ini adalah hari yang melelahkan sekaligus membahagiakan, mereka memutuskan untuk kembali kerumah masing- masing, karena esok mereka harus kembali bersekolah dan menjalani aktivitas seperti biasanya.
****
NB: JGN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTE, MKSH:)