
''Kok bisa sampai kayak gini sih?'' tanya Dokter Iqbal yang memeriksa bagian perut Ae.
''Nggak tau,'' ujar Ae lesu. Ia tak tau jika perutnya membiru dengan bulatan cukup besar. Pantas saja terasa sangat nyeri, batinnya.
''Aku resepin obat ya. Jangan lupa di minum rutin biar cepat sembuh,'' ucap Dokter Iqbal.
''Iya Dok, terima kasih,'' ucap Ae.
Setelah di periksa oleh Dokter Iqbal. Ana pun keluar dari kamar yang mirip kamar tamu.
''Gimana?'' tanya Varo yang langsung berdiri dari duduknya.
''Luka di siku dan lutut udah aku obati. Tapi luka yang di perut cukup parah,'' ucap Doktet Iqbal.
''Perut?'' Varo mengerutkan keningnya. Setau Varo lukanya hanya ada di siku dan lutut.
''Coba aku lihat,'' ucap Varo dengan wajah khawatir.
''Apaan sih Pak! Enggak, enggak. Mau main lihat aja,'' gerutu Ae mengerucutkan bibirnya.
''Ehm, kayaknya ada yang demen sama muridnya sendiri nih,'' bisik Dokter Iqbal tepat di dekat telinga Varo.
''Apaan sih. Aku hanya khawatir saja,'' ucap Varo yang di buat sesantai mungkin.
''Masa sih? Kamu nggak pernah sepeduli ini loh sebelumnya sama cewek. Aku sahabatmu, aku tau semuanya tentangmu,'' ucap Dokter Iqbal.
''Udah, udah aku mau balik dulu. Thanks ya,'' ucap Varo menepuk punggung Iqbal dengan sedikit keras.
''Sakit goblok! Iya iya udah sana pergi,'' usir Iqbal.
''Makasih ya Dok,'' ucap Ae.
''Sama-sama Aelesha,'' ucap Dokter Iqbal.
Ae dan Varo pun pergi dari rumah Iqbal. ''Antar aku pulang Pak,'' ucap Ae tanpa menoleh ke arah Varo.
''Rumahmu di mana?'' tanya Varo fokus pada jalanan di depannya.
''Di Jalan A,'' ucap Ae.
''Kamu nggak mau makan dulu. Ini udah hampir jam makan siang lo, kebetulan di dekat sini ada restoran yang makanannya lumayan enak,'' ujar Varo.
''Sebenarnya lapar juga sih. Tapi apa kata dunia kalau aku makan sama dia. Di kira orang pasti aku sugar babynya,'' batin Ae.
''Enggak ah,'' ucap Ae.
''Kenapa?''
''Ya aku nggak mau aja makan sama Bapak. Nanti orang pasti mengira aku sugar babynya Pak Varo,'' ucap Ae. Ia membayangkan saja sudah ngeri.
''Hey, umurku dan umurmu hanya selisih sekitar 7 tahun saja! Mana ada aku kayak om-om,'' ujar Varo tak terima.
Varo pun langsung menghentikan mobilnya di depan restoran yang ia bicarakan tadi. Ia tak peduli jika Ae akan menolaknya.
''Kan aku udah bilang aku nggak mau Pak,'' ucap Ae kesal.
''Turun atau saya gendong?'' tanya Varo menatap Ae dengan tajam.
''Ish apaan sih,'' gerutu Ae. Ia pun turun dari mobil dengan mode ngambek.
''Udah dong ngambeknya. Jarang-jarang loh ada guru kayak saya ini,'' ucap Varo.
''Iya iya. Yok cepetan masuk. Panas nih,'' ucap Ae menghentak-hentakkan kakinya kesal.
''Astaga,,, kenapa aku bisa tertarik dengan gadis bar-bar seperti dia. Jelas-jelas sangat merepotkan,'' Varo pun menyusul masuk ke dalam restoran.
Sesampainya di dalam Ae memilih tempat duduk yang sedikit jauh dari orang-orang yang makan di restoran itu. Ae tidak mau menjadi pusat perhatian orang-orang.
''Kamu mau makan apa?'' tanya Varo sambil membuka daftar menu.
''Samakan saja sama pesanan Bapak,'' ucap Ae datar. Ia fokus pada benda pipihnya.
Tiba-tiba ponsel Ae berbunyi. Ae langsung menggeser tombol warna hijau.
''Ada apa?'' tanya Ae.
''Kamu di mana sih Ae, aku ada di depan rumahmu loh. Kata satpam kamu belum pulang,'' ujar Wilo.
''Heh, ngapain kamu di depan rumahku sihh. Mending kalian pulang deh. Aku ada urusan sebentar. Jangan sampai Mama lihat kalian,'' ucap Ae.
''Ceritanya panjang. Nanti aku ceritakan ke kamu,'' ucap Ae.
Suara berisik terdengar di telinga Ae. Mungkin mereka saat ini datang ke rumah rame-rame, pikir Ae.
''Queen, kamu nggak pa-pa kan?'' tanya Zelo terdengan di telepon.
''Aku nggak pa-pa Zelo sayang. Udah tenang aja. Mending kamu ajak mereka semua bubar dari sana ya. Aku nggak mau Mama sampai lihat kalian,'' ujar Ae dengan suara memohon.
''Baiklah. Nanti sore jadwal kita kumpul. Jangan lupa,'' ucap Zelo.
''Nanti aku kabari,'' ucap Ae langsung mematikan sambungan teleponnya saat tau makanan mereka sudah datang.
''Siapa? pacar kamu?'' tanya Varo yang sudah sangat penasaran.
''Temen-temen aku,'' ucap Ae tanpa melihat ke arah Varo. Ia fokus pada makanannya.
''Temen kok sayang-sayangan,'' gumam Varo lirih, namun masih terdengar di telinga Ae.
''Kan aku memang benar-benar sayang sama mereka Pak,'' jawab Ae santai.
''Ya ya ya, terserah deh,'' ucap Varo sedikit kesal.
''Kenapa dia kesal seperti itu? Apa dia udah mulai tertarik denganku? Akh hari ini aku terlalu cuek sih sama dia. Seharusnya kan aku baik-baikin dia biar dia bucin akut ke aku,'' batin Ae menatap Varo yang tengah makan.
''Pak Varo,''
''Hem,'' Varo kembali lagi ke mode cuek seperti di sekolah.
''Maafin Aelesha hari ini ya Pak. Tingkah Ae hari ini sungguh sangat tidak sopan,'' ucap Ae dengan wajah yang memelas.
''Iya,'' ucap Varo datar.
''Hih, gini nih kalau di baikin malah ngelunjak. Kembali seperti es batu lagi kan,'' batin Ae kesal.
Saat Ae ingin memasukkan makanannya ke dalam mulut, tiba-tiba ada yang menyapanya.
''Ae,'' panggil seorang pria yang berdiri di depan Ae.
Ae pun tidak jadi memasukkan makanannya, ia meletakkan kembali sendok yang ia pegang.
''Vincent?'' gumam Ae.
''Wah kita ketemu di sini. Gimana kabar kamu?'' tanya Vincent basa-basi.
''Baik kok,'' ucap Ae dengan menarik bibirnya agar terlihat seperti tersenyum.
''Eh, btw ini siapa?'' tanya Vincent menatap Varo dengan penasaran.
''Saya----''
''Oh, ini Kakak aku. Kenalin namanya Varo,'' ucap Ae memotong ucapan Varo.
Varo hanya melototkan matanya ke arah Ae.
''Oh Kakaknya Ae. Hai, aku Vincent. Teman Ae,'' ucap Vincent menjabat tangan Varo. Varo hanya menganggukkan kepalanya.
''Nanti malam geng Ombro merayakan aniv yang ke 5 kamu bisa datang kan Ae,'' ucap Vincent.
''Dimana?'' tanya Ae.
''Di Club Byby,'' ucap Vincent.
''Em, belum tau ya. Nanti aku kabari,'' ucap Ae.
''Iya, aku berharap kamu bisa datang,'' ucap Vincent. ''Ya sudah aku duluan ya. Temen-temen udah nungguin di depan,'' pamit Vincent.
''Oke, hati-hati,'' ucap Ae.
Vincent pun melenggang pergi. Wajah Ae langsung berubah.
''Enak ya kalian senang-senang. Sementara aku kehilangan orang yang paling aku sayang,'' batin Ae mengepalkan tangannya erat. Varo yang melihat mengurungkan niatnya untuk bertanya.
''Aelesha kenapa? Tadi dia tersenyum ramah, dan sekarang wajahnya sangat mengerikan. Apa dia punya kepribadian ganda ya,'' batin Varo menelan ludahnya dengan susah payah.
*
*