AELESHA

AELESHA
60



Setelah selesai makan bersama, mereka memutuskan pulang ke rumah yang selama ini hanya di tempati oleh Bima.


''Kak Bim, Kak Bima tau tidak jika aku tuh selalu kangen sama Kak Bima. Tapi kalau aku telpon Kakak, Kakak selalu bilang sibuk lah, ini lah, itu lah,'' ujar Mars dengan raut wajah kesal.


''Ya itu berarti aku memang sibuk Mars,'' jawab Bima.


''Masa tiap hari sibuk sih. Aku tuh cuma pengen ngobrol santai sama Kak Bim,'' ucapnya.


''Siang aku harus kerja Mars,'' ucap Bima berkata apa adanya.


''Kan bisa malamnya Kak. Masa Kak Bim malam juga kerja, enggak kan?''


''Kalau malam waktuku hanya untuk bidadariku dong. Nggak boleh ada yang mengganggu,'' ucap Bima sambil menoleh ke belakang sebentar.


''Ck,'' Mars berdecak kesal. Lagi-lagi ia kalah dengan Vanya. Dulu sebelum Vanya hadir di hidup Bima. Bima masih mau mengangkat teleponnya atau hanya membalas pesannya. Tapi sekarang membaca pesan darinya saja Bima enggan.


Setelah sampai di rumah. Mereka pun segera masuk ke dalam.


''Rumahnya masih sama seperti dulu. Bahkan sekarang lebih bersih, lebih terawat,'' ucap Mama Kelin.


''Ya iya dong Ma. Kekasihku ini pintar dalam segala hal. Bima sangat beruntung memilikinya,'' ucap Bima.


''Apa Vanya yang membereskan rumah dan membersihkannya?'' tanya Mama Kelin penuh selidik.


''Iya Ma. Kita berdua yang setiap hari membereskan rumah ini,'' ucap Bima.


''Kamu apa-apaan sih Bim. Seharusnya kamu punya pembantu, biar nggak merepotkan kekasihmu. Dan satu lagi, wanita itu bukan pembantu, dia ratu di rumahnya,'' ujar sang Mama.


''Nggak pa-pa kok Tan. Kebetulan Vanya nggak ada kerjaan jadi bantu Mas Bima beres-beres,'' ucap Vanya.


''Cuma ngandelin orang tua. Ck, nggak mandiri sama sekali,'' ucap Mars dengan senyum mengejek.


''Memangnya ada undang-undang wanita harus bekerja, tidak kan? Kenapa kamu sensi banget sih Mars,'' ucap Bima yang tidak mau wanitanya di jelek-jelekkan.


''Udah-udah jangan bertengkar mulu. Sekarang mending kita semua istirahat. Nanti malam Om mau bertamu ke rumahmu,'' ucap Om Rama kepada Vanya.


''Baik Om, saya akan memberitahu Mama dan Papa saya,'' ucap Vanya.


Setelah berpamitan, Vanya pun segera memberitahu Papa dan Mamanya jika orang tua Bima akan bertamu ke rumahnya malam ini. Vanya segera membantu Mama dan Bibi memasak banyak untuk acara malam ini.


''Apa orang tua Bima baik sama kamu?'' tanya Mama Gea penasaran.


''Baik Ma, mereka sangat baik. Namun ada satu penghalang di hubungan Vanya kali ini Ma,'' ujar Vanya dengan lesu.


''Siapa?'' tanya Mama Gea menatap anak bungsunya itu dengan raut wajah penasaran.


''Dia anak sahabat orang tua Mas Bima. Namanya Mars, kelihatannya dia suka sama Mas Bima. Sejak dari bandara tadi, dia nempel terus sama Mas Bima,'' ujar Vanya dengan raut wajah sedih.


''Ahh itu mah gampang. Hempas semua pelakor Van. Papamu dulu juga seperti itu, banyak yang suka. Tapi Papamu tetep cinta mati sama Mama,'' ujar Mama Gea.


''Caranya Ma?'' tanya Vanya. Mama Gea pun membisikkan sesuatu di telinga Vanya, membuat Vanya tersenyum smirk.


''Bagus juga ide Mama,'' puji Vanya.


''Iya dong,'' ujar Mama Gea bangga.


*


*


Malam hari pun tiba, Vanya sudah berdandan cantik malam ini. Di ruang tamu sudah berkumpul Mama Gea, Papa Rayan, Varo dan juga Aelesha. Mereka berempat menunggu Vanya turun dari kamarnya.


Setelah Vanya turun, semua mata takjub dengan Vanya yang terlihat mempesona.


''Van kamu cantik banget,'' puji Aelesha lebih dulu.


''Makasih Kakak ipar,'' ucap Vanya.


''Iya, anak Mama beneran cantik. Bima pasti langsung klepek-klepek nih,'' ucap Mama Gea.


Di lain tempat, Bima dan keluarganya sudah bersiap untuk datang ke rumah Vanya.


''Bim, kita ke rumah Vanya naik apa dong. Kan disini hanya ada motor, masa kita naik taksi sih,'' ucap Mama kelin.


''Jalan kaki Ma,'' ucap Bima sambil mengunci rumahnya.


''What?? You're kidding?'' ujar Mars.


''Siapa yang bercanda. Kita jalan kaki, karna rumah Vanya itu,'' ucap Bima menunjuk rumah yang berhadapan dengan rumahnya.


Orang tuanya pun menatap arah yang di tunjuk Bima.


''Pacar lima langkah Pa,'' ucap Mama Kelin ke suaminya.


''Iya Ma,'' ucap Papa Bima.


Mereka pun berjalan kaki menuju rumah Vanya. Di sana keluarga Vanya sudah berada di teras rumah untuk menyambut kedatangan keluarga Bima.


''Selamat malam, selamat datang di rumah kami yang sederhana ini,'' sapa Papa Rayan.


''Terima kasih Pak---''


''Rayan, dan ini istri saya Gea,'' ucap Papa Rayan mengenalkan diri.


''Terima kasih Pak Rayan,'' ucap Papa Bima.


Mereka pun di persilahkan masuk. Setelah berbincang-bincang sedikit mereka pun akhirnya membahas tentang pernikahan Vanya dan anak mereka Bima.


''Bagaimana kalau seminggu lagi,'' ucap Papa Rayan. Namun di gelengi oleh Papa Bima.


''Terlalu lama Pak. Bagaimana kalau 3 hari lagi,'' ucap Papa Bima membuat Bima dan Vanya saling menatap dengan tatapan yang sulit di artikan.


''Baiklah, saya setuju, lebih cepat lebih baik bukan,'' ucap Papa Rayan.


''Betul sekali Pak. Apalagi di jaman sekarang banyak penggoda. Saya hanya takut kalau salah satu di antara mereka tergoda oleh orang lain,'' ucap Papa Bima sambil melirik ke arah Mars. Papa Bima sebenarnya tau jika Mars menyukai anaknya itu. Namun ia tidak mau memiliki menantu seperti Mars yang kurang sopan santun.


''Apa Om sedang menyindir aku?'' batin Mars.


Setelah perbincangan mereka selesai. Mereka pun menikmati hidangan yang di sediakan oleh tuan rumah.


''Silahkan Pak, Bu. Jangan sungkan-sungkan. Ini semua masakan Vanya loh,'' ucap Mama Gea.


''Wah ternyata selain cantik calon menantuku juga pintar memasak ya,'' puji Mama Kelin.


Bohong jika semua itu yang memasak adalah Vanya. Jelas-jelas Vanya tidak bisa memasak yang macam-macam seperti itu. Ia hanya bisa memasak mi instan dan sayur asem saja.


''Mama apa-apaan sih. Mana ada aku memasak semua ini. Gimana kalau saat di rumah Bima aku di suruh memasak. Kan bisa mampus aku,'' batin Vanya.


''Tante Gea benar-benar pintar dalam berakting. Jelas saja anaknya itu tidak bisa memasak yang macam-macam begini. Ini malah bilang anaknya yang memasak,'' batin Bima tersenyum ke arah Vanya yang berada di seberangnya.


Di meja yang sama, Aelesha tengah kesal kepada wanita yang saat ini duduk di seberang suaminya. Wanita itu sejak tadi melihat ke arah Varo dengan tatapan yang sulit di artikan.


''Apa dia sedang tertarik dengan suamiku?'' batin Aelesha.


''Sayang, kenapa makanannya cuma di aduk-aduk saja. Apa makanannya kurang enak?'' tanya Mama Gea.


''Makanannya enak kok Ma. Ae hanya nggak nafsu makan saja,'' ucap Aelesha.


''Apa kamu tengah mengandung?'' tanya Mama Gea membuat semua yang ada di meja itu melihat ke arahnya.


''Em, mungkin sih Ma. Karna Mas Varo melakukannya setiap malam,'' ucap Aelesha sambil bergelayut manja di lengan Varo. Ia akan menunjukkan jika Varo milikknya. Dan ia sangat tidak rela jika suaminya itu di tatap oleh orang lain.


*


*