
''I itu,,'' Varo pun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Rasa ia tidak bisa berbohong jika di hadapan sang istri.
''Itu apa?'' Ae dengan tatapan tajamnya menatap wajah Varo yang seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
''Enggak, aku nggak pernah lakuin itu Yang. Beneran deh!'' ucap Varo mengangkat kedua jarinya.
''Terus?'' tanyanya yang masih menelisik.
''Cuma pegang dikit doang,'' ucap Varo keceplosan. Ia pun langsung membekap mulutnya sendiri.
''Dikit? Pegang apa?'' tanya Ae merasa terbakar api cemburu.
''I itu,'' Varo menunjuk dada Aelesha membuat Ae langsung memutar tangan Varo.
''Aw, sakit Yang. Aku nggak sengaja beneran kok,'' ucap Varo meringis kesakitan saat tangannya di pelintir oleh istrinya.
''Enak kan? Pasti empuk banget ya. Apalagi milik Diva kan gede, gede banget malah,'' ujar Aelesha.
''Masih enak milik istri sendiri dong,'' ujar Varo.
''Emang kamu pernah ngerasain?'' tanya Aelesha.
''Ya belum sih,'' ujar Varo dengan nyengir kuda.
''Malam ini tidur di sofa. Aku lagi pengen tidur sendiri,'' ujar Ae langsung merebahkan tubuhnya di ranjang. Ia pun menarik selimut sampai leher.
''Yang, jangan gini dong. Kan itu udah dulu, itu juga nggak sengaja kok,'' ujar Varo dengan nada memelas.
''Nggak menerima alasan dalam bentuk apapun. Udah sana! aku nggak mau mendengar ocehanmu!'' ucap Aelesha sambil mendorong tubuh Varo agar turun dari ranjang.
Dengan terpaksa Varo pun berjalan menuju sofa daripada nanti Ae marah dengannya.
''Nasib-nasib, nih bibir emang nggak bisa di ajak kompromi,'' gerutu Varo.
*
Pagi harinya, Varo bangun lebih dulu karna merasa tubuhnya sakit semua. Ia mengerjabkan matanya beberapa kali sebelum ia duduk di sofa itu. Ia melihat sang istri yang tengah tertidur nyenyak di atas ranjang empuknya.
''Enak banget dia,'' ujarnya sambil mendekat ke arah Aelesha.
Saat melihat Ae yang tengah tidur nyenyak dengan bibir yang setengah terbuka, membuat Varo ingin mengecup bibir itu sebentar. Namun saat bibirnya sudah mendekat dengan bibir Ae, tangan Ae tiba-tiba meninju wajah Varo. Entah itu sengaja atau tidak. Namun Ae masih tetap memejamkan matanya.
''Oh ****. Baru aja buka mata udah kena bogem lagi. Nih tangan enteng banget sih,'' gerutunya sambil meraba pipinya yang terasa sakit.
Ia pun mengurungkan niatnya mencium sang istri. Ia pun langsung bergegas ke kamar mandi karna ada sesuatu yang harus ia keluarkan.
Setelah selesai di dalam kamar mandi ia melihat istrinya sudah duduk di atas ranjang dengan tatapan tajam ke arahnya. Varo pun hanya melihat istrinya dengan tatapan datar tanpa mau menyapa sang istri.
''Istri marah malah ganti di cuekin, seharusnya di baik-baikin kan biar udahan marahnya. Ini malah beda,'' batin Aelesha. Ia pun langsung masuk ke dalam kamar mandi tanpa memusingkan sang suami.
*
Saat ini mereka tengah berada di ruang makan untuk sarapan bersama. Mama Gea sejak tadi memperhatikan anak dan menantunya yang hanya diam saja. Biasanya pengantin baru akan ceria di pagi harinya.
''Ehm, kok diam aja. Kalian nggak sarapan?'' tanya Mama Gea kepada mereka berdua.
''Eh, i iya Ma. Ae sarapan roti ini aja,'' ujar Ae meraih roti dan juga selai.
''Dia ambil sendiri dan nggak ingat suami. Astaga, bener-bener nih bocil,'' gerutu Varo dalam hatinya.
Varo pun juga meraih roti dan juga selai yang di pegang oleh Aelesha dengan sedikit kasar.
''Biasa aja dong!'' ujar Aelesha menatap Varo dengan tatapan tidak suka.
''Hey hey hey. Kalian ini kenapa sih. Mama perhatiin sejak tadi kok nggak ada romantis-romantisnya,'' ujar Mama Gea. Sementara Papa Rayan dan Vanya hanya menyimak.
Mereka berdua memilih diam.
''Mama tanya kenapa kalian malah diam?'' tanya Mama Gea lagi.
''Enggak Ma, nggak ada apa-apa kok,'' ujar Aelesha.
''Nggak ada apa-apa gimana. Pipi aku rasanya masih sakit juga. Dia nggak sadar atau pura-pura sih. Kalau nggak sadar kan seharusnya nggak sesakit ini,'' gerutu Varo dalam hati.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Ae lebih memilih kembali ke kamarnya untuk melihat drama thailand kesukaannya. Tanpa sadar Varo pun mengikutinya dari belakang.
Saat ia sudah sampai di kamar, Varo pun ikut masuk ke dalam dengan diam seribu bahasa. Ae terlihat acuh kepada suaminya yang mendiamkannya.
Aelesha segera membuka ponselnya dan memutar film thailand kesukaannya.
''Ya ampun, tambah hari tambah ganteng aja sih kamu,'' puji Ae kepada pemain di film itu.
Varo yang terbakar api cemburu pun langsung merampas ponsel milik Aelesha, membuat sang pemilik langsung mengeluarkan tanduknya.
''Balikin nggak!'' ujar Ae menatap tajam ke arah Varo.
''Siapa yang kamu bilang tampan tadi?'' tanya Varo dengan tatapan tak kalah tajam.
''Pacarku dong, memang siapa lagi,'' ujar Ae dengan entengnya.
''Siapa? Aku nggak denger,'' ujar Varo pura-pura tuli.
''Yang ada di ponsel itu,'' ucap Aelesha.
Varo pun berjalan menuju kamar mandi sambil membawa ponsel milik Aelesha. Ia pun membuka tutup kloset lalu ia ingin membuang ponsel milik Ae kedalam sana. Ae pun menjerit histeris. Bagaimana bisa suaminya ini bisa sekesal ini padanya. Seharusnya kan dia yang lebih kesal.
''Stoppppppp!! Jangan Mas, please jangan lakuin itu. Cuma Mas Varo kok yang tampan. Iya, cuma Mas Varo,'' ucap Aelesha sambil melihat ponselnya yang sudah berada di ujung tanduk.
''Aku nggak percaya,'' ucap Varo yang memainkan ponsel Aelesha di atas kloset.
''Beneran aku nggak bohong kok. Cuma Mas Varo. Udah dong Mas main-mainnya sama ponsel Ae. Please jangan Mas,'' rengek Aelesha yang sudah seperti anak kecil.
Namun Varo tetaplah Varo. Ia masih saja memaikan ponsel Ae di atas kloset. Sampai akhirnya----
Blungg.
Ponsel Ae akhirnya berakhir na'as. Ae melihat Varo dengan tatapan membunuhnya. Berbeda dengan Varo, ia terlihat syok saat ponsel Ae benar-benar jatuh le dalam kloset.
''Ya Yang, yang maafin aku Yang. Aku bener-bener nggak niat jatuhin itu ponsel kok, sumpah!'' ucap Varo dengan memohon kepada Ae.
''Ambil nggak!'' ucap Aelesha yang sudah seperti ibu tiri kejamnya.
''Ambil!!!!'' sentak Ae.
''Ma masa harus ambil sih Yang. Biar aku minta tolong sama Bibi ya,'' ucap Varo ingin melarikan diri, namun Ae langsung mencekal tangan Varo.
''Ambil sendiri atau ponselmu nanti juga ikut berenang seperti itu!'' ancam Aelesha.
''Ya ampun, dia bener-bener kuat banget. Mau nggak mau aku harus ambil sendiri tuh, daripada ponselku juga ikut,'' ujar Varo dalam hati.
Mau tak mau Varo mengambil ponsel Ae dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanannya membekap hidungnya agar tidak mencium bau yang keluar dari dalam kloset.
*
*