AELESHA

AELESHA
18



''Ya udah matiin teleponnya,'' ujar Ae tanpa melihat ke arah Varo.


''Iyaa,'' ucap Varo langsung mematikan panggilannya.


Ae tak sadar jika ponsel yang saat ini di depannya bukan ponselnya. Setelah memakai cream malam, Ae langsung menuju ranjangnya. Tak lupa ia membawa ponsel yang bukan miliknya itu. Saat ia membuka ponsel itu terdapat fotonya di layar depan.


''Kapan aku ganti wallpaper. Perasaan kemarin wapaperku si hitam deh,'' batin Ae belum menyadari. Saat ia menggeser layar ke atas di sana ada foto Varo di layar kedua.


''Kok ada foto Pak Varo sih di sini,'' Ae mengerutkan keningnya karna aneh.


Ae segera menekan layar yang bergambar telepon, di sana tidak ada panggilan terakhir yang bernama Pak Varo yang ada malah nama bocil kesayangan.


Aelesha baru menyadari jika ponsel itu bukan miliknya. Ia segera membalikkan ponselnya, dan benar saja warna ponselnya berubah menjadi biru tua, bukan hitam lagi.


''Pak Varooooo,'' pekik Ae kesal.


Ae segera menekan nama bocil kesayangan itu di ponsel yang ia yakini ponsel milik Pak Varo.


''Apa sayang? Kangen ya?'' tanya Varo langsung to the point. Wajah tak bersalahnya membuat Ae bertambah kesal.


''Ini ponsel siapa?'' tanya Ae dengan wajah marah tapi menurut Varo sangatlah imut.


''Ponsel calon suamimu,'' ucap Varo.


''Ihh Pak Varo nyebelin tau. Balikin ponselku sekarang juga!'' ucap Aelesha.


''Enggak mau. Udah malem kok. Apalagi aku belum lihat semuanya yang ada di ponselmu,'' ucap Pak Varo santai.


''Jangan, please!!'' Aelesha memohon.


''Why? Apakah ada video yang nggak senonoh?'' tanya Pak Varo malah tambah penasaran.


''Enggak! Itu privasi Pak. Jangan buka-buka ih,'' ucap Ae kesal.


''Apanya yang mau kamu sembunyiin sih Ae. Kamu itu calon istri aku,'' ucap Varo. Mulut Ae komat kamit menirukan ucapan Varo.


''Dosa tau nggak calon suami ngomong di gituin.''


''Pak Varo nyebelin. Awas aja besok,'' ucap Aelesha langsung mematikan panggilannya.


Di tengah Aelesha yang kesal, Varo malah tertawa cekikikan. Ia melanjutkan membuka aplikasi chat milik Ae.


Di sana hanya ada nama Mama dan Papa yang tertera. Varo curiga, ia membuka arsip. Dan benar saja, di sana tertera nama teman laki-laki semua, hanya nama Wilo lah yang perempuan.


''Astaga, ini apaan coba, udah kayak asrama putra aja,'' ucap Varo membuka satu persatu pesan di ponsel itu. Wajahnya memerah menahan amarah. Hatinya memanas melihat chat Ae dengan teman lawan jenisnya.


''Aeleshaaaa,''


Setelah membuka aplikasi chat, Varo membuka galeri di ponsel Ae. Di sana banyak sekali foto-foto se*y milik Aelesha. Jakun Varo terlihat naik turun saat melihat foto-foto Ae.


''Kenapa dia begitu cantik dan juga se*y. Aku benar-benar nggak mau kehilangan kamu Aelesha. Kalau perlu aku akan segera mengikatmu agar kamu tidak bisa macam-macam di luaran sana,'' batin Varo.


Sementara di lain tempat lain, Ae lebih memilih langsung tidur daripada membuka ponsel milik Varo. Ia benar-benar tidak penasaran sama sekali dengan isi ponsel milik gurunya itu.


*


Pagi harinya ia terbangun karna mendengar suara ponsel yang sangat berisik. Ae meraba-raba nakas di dekat tempat tidurnya. Dengan matanya yang masih sulit terbuka ia menggeser tombol berwarna hijau.


''Halo,'' ucap Ae dengan suara seraknya.


''Halo, ini siapa? Varo mana?'' tanya seorang pria.


Ae langsung melebarkan matanya dan duduk di ranjangnya. Ia melihat layar ponselnya yang tertera nama Papa.


''Mampus aku,'' gumam Ae.


''Halo, halo,'' ucap lelaki di seberang telepon yang Ae yakini adalah Papa Varo.


''I iya halo, selamat pagi Om,'' sapa Ae.


''Saya Aelesha Om,'' ucap Aelesha. ''Masa iya aku bilang calon istrinya Pak Varo. Jangan ngadi-ngadi deh,'' batin Ae.


''Aelesha? Kenapa ponsel Varo ada di kamu?'' tanya Papa Rayan lagi.


''Itu anu Om----''


''Itu apa? Kamu mencuri ponsel Varo ya?'' tuduh Papa Rayan.


''Enggak Om, saya calon istrinya Pak Varo eh maksud saya Mas Varo,'' ucap Ae sambil memejamkan matanya. Ia terpaksa bilang calon istrinya Varo karna tidak mau di tuduh yang tidak-tidak.


''Calon istri? Apa kalian sedang tidur bersama?'' tuduh Papa Rayan lagi.


''Eh enggk Om, kebetulan ponsel saya di bawa Mas Varo tadi malam,'' ucap Ae.


''Mampus kamu Ae, ini semua gara-gara Pak Varo,'' batin Ae.


''Oh begitu ya? Ya sudah kalau begitu. Sampai jumpa besok malam,'' ujar Papa Rayan.


''I iya Om,'' ucap Aelesha. Papa Rayan mengakhiri panggilannya, sementara Ae langsung menghembuskan nafas panjangnya.


''Kenapa bisa panjang seperti ini sih urusannya. Belum lagi kalau Papa tau, bakal di interogasi lagi aku,'' gerutu Ae.


Setelah berperang dengan fikirannya sendiri, Ae bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci muka. Setelah itu ia bersiap-siap berangkat ke sekolah.


''Pagi Ma,'' sapa Ae yang baru sampai di ruang makan.


''Pagi sayang,'' jawab Mama Yuni yang tengah menyiapkan sarapan mereka di meja makan.


''Hari ini Ae bawa mobil sendiri ya Ma,'' ucap Ae.


''Enggak-enggak! biar di antar sopir saja. Nanti mobilnya mau Mama pakai,'' ucap Mama Yuni.


''Yahhhh, nggak asik tau Ma di antar sopir,'' keluh Ae.


''Ya resiko kamu sendiri kenapa bawa motornya seperti pembalap. Tuh akibatnya,'' ucap Mama Yuni.


''Ishh, Mama kok malah gitu sih,'' ujar Ae kesal.


''Kenapa? Kamu memang selalu ugal-ugalan kok kalau bawa motor. Untung ada calon suamimu yang baik hati yang mau bayar semua ulah kamu. Coba kalau enggak, udah Mama jual tuh si hitam buat ganti ruginya,'' ujar Mama Yuni.


''Tega bener sih Ma,'' ucap Ae mengerucutkan bibirnya.


''Ya tega nggak tega. Kamu juga selalu berulah,'' ucap Mama Yuni.


Setelah sarapan Ae berpamitan dengan Mama Yuni. Ia berjalan menuju pos satpam untuk meminta Pak Tedjo mengantarkan ke sekolah. Namun Ae melihat ada mobil yang baru saja berhenti tepat di depan gerbang. Mobil siapa lagi kalau bukan mobil milik Varo.


''Pagi Ae,'' sapa Varo setelah turun dari mobilnya. Ae terpesona dengan penampilan Varo hari ini.


''Pagi,'' jawab Ae tak berkedip memandang Varo.


''Kita berangkat sekarang yuk. Nanti kamu telat,'' ujar Varo. Ae hanya mengangguk, ia seperti terhipnotis dengan ketampanan guru matematikanya itu. Tanpa ada pemaksaan dan tanpa banyak bicara Ae masuk ke dalam mobil.


''Pak Varo tumben rapi banget,'' ucap Ae.


''Hari ini aku nggak ada jam ngajar, jadi hari ini aku mau ke perusahaan Papa,'' ujar Varo.


''Jadi nggak ke sekolah dong?'' tanya Ae terlihat kecewa.


''Enggak! Cuma anter kamu doang nyampek depan gerbang,'' ujar Varo.


''Kenapa aku nggak semangat gini sih,'' batin Aelesha.


*


*