
Varo menyodorkan sendok yang berisi nasi dan lauk ke mulut Aelesha. Namun Ae menggelengkan kepalanya dan menutup rapat-rapat mulutnya.
''1 aja Yang. Pengen nyuapin kamu nih,'' ucap Varo dengan muka memelas.
''Beneran cuma 1 ya. Aku beneran udah kenyang Pak,'' ujar Aelesha.
''Ehm kok Kak Ae manggil Kakak Pak sih?'' tanya Vanya dibuat heran dengan sepasang kekasih di depannya saat ini.
''I itu, dia guruku di sekolah,'' ujar Aelesha.
''Whatt???'' Vanya syok saat mendengar ucapan Aelesha. ''Kakak suka sama muridnya sendiri. Astaga,'' ucap Vanya memijat keningnya sendiri.
''Nggak ada larangan guru menyukai murid Van,'' protes Varo.
''Tapi dia murid Kakak sendiri loh. Ya ampun,'' Vanya tak habis fikir jika gadis di depannya sekarang masih anak SMA.
''Nggak usah berisik dari pada kamu ke Jakarta sendiri sekarang,'' ucap Varo menatap adiknya dengan tajam.
''Iya deh iya,'' Vanya menyebikkan bibirnya, ia selalu kalah jika berdebat dengan Kakaknya.
Mereka pun menikmati makanan mereka dengan keheningan. Setelah makan, Varo mengajak Aelesha dan Vanya jalan-jalan ke beberapa wisata yang berada di puncak. Di sepanjang perjalanan, Varo tak melepaskan genggaman tangan Aelesha yang duduk di samping kursi kemudi. Namun hari ini Ae tak seceria biasanya karna Ae merasa Vanya terlihat tidak menyukainya.
Jam pun menunjukkan pukul 5 sore, dan mereka baru saja pulang ke Villa setelah setengah hari mereka menghabiskan waktu bersama. Ae langsung masuk ke dalam kamarnya, namun saat ingin menutup pintu kamarnya Varo mencegahnya.
''Apa lagi?'' tanya Ae malas.
''Kamu kenapa? Seharian ini kayak nggak bahagia gitu,'' ujar Varo.
''Bahagia kok. Aku capek aja mau istirahat,'' ucap Aelesha.
''Nggak usah bohong Yang,'' ucap Varo dengan tatapan yang dalam.
''Beneran. Udah ya aku masuk dulu,'' ucap Aelesha. Ae menutup pintunya dengan pelan, sementara Varo hanya menghembuskan nafas panjangnya. Varo pun berjalan ke kamarnya sendiri.
*
Malam harinya, Varo nampak berkumpul dengan teman barunya. Sementara Ae lebih memilih menyendiri di balkon kamarnya. Ada perasaan yang mengganjal di hatinya.
''Apa aku salah jika mempunyai rasa kepada Pak Varo. Walaupun awalnya aku hanya iseng semata. Namun sekarang aku tak mau kehilangannya. Tapi, bagaimana dengan Vanya. Ia jelas-jelas terlihat tidak menyukaiku,'' ujar Aelesha sambil mendongakkan wajahnya ke langit.
Greb.
''Eh,'' Ae terlonjak kaget saat ada tangan yang melingkar di pinggangnya. Ae tadi melihat Varo berkumpul di bawah, tapi kenapa sekarang sudah ada di sini, pikir Ae.
''Apa kamu meragukanku Yang?'' tanya Varo yang tak mendengar ucapan Ae tadi.
''Enggak, lepasin Pak. Nanti ada yang lihat,'' ujar Aelesha berusaha melepaskan lingkaran tangan Varo namun tenaga Ae jelas kalah dengan tenaga Varo.
''Nggak akan ada yang melihat Ae. Kamu lagi mikirin apa sih?'' tanya Varo membalikkan tubuh Ae agar menghadap ke arahnya.
''Aku nggak mikirin apa-apa,'' ujar Ae sambil menoleh ke arah lain.
''Jangan bohong! Kita pasangan, kalau ada yang mengganjal di hati di omongin baik-baik. Cari solusi sama-sama. Aku nggak mau kamu merasa sendirian sayang,'' Varo menangkup wajah Ae yang terlihat sedih.
''Mikirin apa, hem?'' tanya Varo lagi.
''Kayaknya Vanya nggak suka deh sama aku. Buktinya seharian ini dia diam aja,'' ujar Aelesha.
''Dia memang orangnya kayak gitu Yang, kalau belum kenal banget males sama orang baru. Ya kamu coba mendekatkan diri lagi sama dia. Siapa tau kalian bisa lebih dekat lagi,'' ucap Varo.
''Memangnya harus aku yang mulai duluan?'' tanya Ae.
''Nggak pa-pa kamu yang mulai duluan Yang. Anggap aja lagi berjuang buat dapetin restu dari adik ipar,'' ujar Varo.
''Good girl,'' Varo mengusap pelan kepala Aelesha sambil tersenyum ke arahnya.
''Kenapa senyum-senyum kayak gitu? Biar aku terpesona gitu?'' tanya Ae menatap Varo dengan tatapan aneh.
''Kenapa semakin hari semakin cantik sih Ae. Kamu tau nggak, semakin hari cinta ini semakin tumbuh. Aku nggak sabar menanti 2 tahun agar segera berlalu,'' ujar Varo.
''Mau gombalin aku? Aku loh ratunya gombal. Nggak mempan tau nggak Bapak gombalin kayak gitu,'' ujar Aelesha.
''Siapa yang gombal Ae, aku bicara serius. Aku bukan kamu yang suka mengobral gombalan manis. Aku ya aku, yang bicara apa adanya Ae,'' ujar Varo berkata serius.
''Iya-iya percaya,'' ucap Aelesha.
''Belum ngantuk?'' tanya Varo, Ae hanya menggelengkan kepalanya pelan.
''Masuk yuk, udaranya dingin banget,'' ajak Varo. Ae hanya menurut saja. Sampai di kamar Ae duduk di tepi ranjang dan Varo berada di sebelahnya.
''Huh, kenapa aku nggak bisa ngontrol diriku gini kalau lagi dekat dengan Ae. Jangan Varo dia murid kamu. Ya walaupun dia kekasihmu juga,'' batin Varo yang menahan sesuatu di bawah sana.
Bibir merah muda milik Aelesha membuat Varo mati-matian tak melahapnya. Ia mencoba menyadarkan dirinya agar tidak melahap bibir mungil itu. Namun tetap saja ia penasaran dengan rasanya.
''Ae,'' panggil Varo membuat Ae langsung menoleh ke arah Varo.
Cup.
1 kecupan mendarat di bibir Aelesha. Aelesha langsung melebarkan matanya.
''Pak Varoooo!!'' pekik Aelesha. Tangannya langsung memukul tangan Varo.
''Maaf, aku nggak bisa menahan diri agar tidak mengecupnya sayang. Maaf, bibir kamu benar-benar buat aku khilaf,'' ujar Varo sambil mengusap bibir Ae.
''Aku mau tidur, mending Pak Varo keluar deh,'' usir Aelesha. Ia terlihat sangat kesal kepada Varo.
''Aku nggak akan keluar jika kamu masih memanggil aku dengan panggilan Pak,'' ucap Varo.
Ae menghembuskan nafas panjangnya. ''Aku mau istirahat Yang,'' rengek Aelesha yang sudah seperti anak kecil.
''Ya ampun, kenapa aku malah mencintai gadis kecil sepertinya sih,'' ucap Varo dalam hati.
''Kiss dulu Yang. 1 aja,'' ucap Varo tanpa merasa berdosa.
''Berani cium-cium lagi, kena bogem nih,'' Aelesha mengepalkan tangannya erat, ia menatap ke arah Varo dengan tajam.
''Pelit banget sih Yang. Ya udah aku kembali ke kamar dulu. Kamu istirahat ya,'' Varo mengusap pucuk kepala Aelesha dengan lembut.
''Ponsel Yang. Kesepian nih,'' rengek Aelesha sambil menengadahkan tangannya.
''Ponsel siapa? Ponsel kamu udah aku buang. Kayak asrama putra aja,'' gerutu Varo sambil berjalan meninggalkan Aelesha yang masih duduk di atas ranjang.
''Yangggg,'' rengek Aelesha.
''Apasih Yang. Nih ponselku kalau mau dibuat mainan,'' Varo menyerahkan ponselnya, ia tak mau jika Ae memegang ponselnya sendiri. Karna hampir setiap hari Vincent mengirim pesan kepada Ae.
''Pengen lihat ponselku bentar aja Yang, pleaseee,'' ucap Ae dengan tatapan memohon. Raut wajah yang memelas membuat Varo tak tega kepada Aelesha. Ia merogoh sakunya mengambil ponsel milik Aelesha.
''Mau ngapain sih?'' tanya Varo penasaran. Varo mencoba mengintip ponsel yang beberapa hari ini ia bawa. Ia sangat penasaran dengan apa yang di lakukan oleh Aelesha.
*
*