AELESHA

AELESHA
22



Hari pun telah berganti. Hari ini Ae pergi ke sekolah mengendarai motor milik Zehan karna kemarin belum sempat ia kembalikan. Ae memarkirkan motor Zehan di tempat biasa ia parkir. Di sana sudah ada motor Zelo dan juga Wilo.


Setelah memarkirkan motor Zehan, Ae segera berjalan menuju kelasnya karna bel masuk akan segera berbunyi.


Saat ia berjalan menuju ke kelas, mata Ae dan Varo tak sengaja bertemu. Varo yang baru saja tiba di parkiran menatap Ae dengan tatapan datarnya.


''Kenapa sih wajahnya kayak gitu. Nggak mengenakkan sekali,'' batin Ae terlihat acuh. Ia melanjutkan jalannya lagi menuju ke ruang kelasnya.


''Awas aja kamu nanti,'' gumam Varo menatap Ae yang sudah menghilang di balik pintu.


''Jam istirahat ke ruanganku,''' ucap pesan yang di kirim oleh Varo.


Ae yang merasakan saku bajunya bergetar langsung mengambil ponselnya. Ia membuka pesan yang di kirim oleh Varo.


''Mau ngapain coba,'' gerutu Ae lalu memasukkan kembali ponselnya tanpa ingin membalasnya.


*


Jam istirahat pun telah tiba, Ae tidak ikut teman-temannya ke kantin karna ingin menemui guru matematika yang akhir-akhir ini sangat menyebalkan.


Tok tok tok.


Ae mengetuk pintu ruangan Varo. Terdengar suara Varo yang menyuruhnya masuk dari dalam.


''Ada apa ya Pak?'' tanya Ae yang masih berhenti di ambang pintu.


''Masuk, tutup pintunya!'' perintah Varo tanpa menatap ke arah Aelesha.


''Duduk!'' ucapnya lagi.


Ae menurut saja. Ia duduk di depan meja Varo. Tatapan Varo beralih menatap Aelesha yang penampilannya hari ini tidak seperti biasa. Rambut pirang yang Aelesha gerai membuat tanda tanya besar di benak Varo.


''Bapak kenapa lihat Ae sampai segitunya?'' tanya Aelesha yang tidak suka di tatap seperti itu.


''Aku kemarin ke rumahmu, katanya kamu lagi tidur, lagi nggak enak badan. Sakit apa?'' tanya Varo.


''Sakit hati,'' jawab Aelesha asal. Ia teringat saat Varo merangkul pundak wanita kemarin membuat Aelesha kesal. Entahlah itu perasaan apa, namun Ae merasa tidak suka jika Varo berdekatan dengan wanita lain.


''Aku serius Ae,'' ucap Varo.


''Sakit gigi,'' ucap Aelesha tanpa menatap Varo.


''Terus sekarang udah sembuh? Kenapa kemarin nggak bilang suruh anterin ke dokter,'' ucap Varo.


''Udah sembuh, kemarin di anterin sama Kak Bima,'' ucap Aelesha, membuat hati Varo terasa nyeri.


''Siang aku ke rumahmu, kamu nggak mau ketemu aku dengan alasan nggak enak badan, tapi malah minta di anter orang lain ke dokternya,'' Varo kecewa dengan ucapan Aelesha.


''Dia bukan orang lain. Dia sahabat almarhum Kakak,'' ujar Aelesha yang tak suka dengan ucapan Varo.


''Tapi kalian nggak punya hubungan apapun Ae,'' ucap Varo menaikkan nada bicaranya.


''Bapak nyuruh aku kesini hanya ngajakin berdebat. Ae nggak punya waktu Pak,'' ucap Aelesha yang ingin bangkit dari duduknya namun Varo segera menahan tangan Aelesha.


''Ada yang ingin aku sampaikan Ae,'' ucap Varo masih memegang tangan Ae.


''Lepasin!'' Varo melepaskan pegangan tangannya. ''Cepat ngomong!'' ucap Ae berdiri di depan Pak Varo dengan bersedekap dada..


''Nanti malam Papa ingin bertemu denganmu. Nanti aku jemput ya, jam 7,'' ucap Varo.


''Ae nggak bisa. Ae udah ada janji,'' ucap Aelesha datar.


''Janji? Janji sama siapa Ae?'' tanya Varo penasaran setengah mati.


''Sama temen,'' ucap Ae seadanya.


''Sama Bima?'' tebak Varo. Ae hanya menganggukkan kepalanya pelan.


''Kamu lebih mentingin orang lain dari pada calon mertuamu sendiri?'' ucap Varo kecewa.


''Pak, Bapak yang membawaku ke arah hubungan yang tidak jelas ini. Waktu itu aku hanya ingin membantu Bapak, bukannya pengen jadi istri Bapak beneran,'' ucap Aelesha.


''Tapi Ae----''


''Maksud kamu apa Ae? Cuma kamu wanita satu-satunya yang aku cintai. Aku nggak pernah seserius ini dengan wanita,'' ucap Varo.


''Bulshit,'' ucap Aelesha.


''Ae, percayalah!'' ucap Varo memohon.


Ae merogoh saku bajunya. Ia mengambil ponsel milik Varo yang ia bawa sejak kemarin.


''Ini ponsel Bapak. Terima kasih sudah meminjamkan untuk beberapa hari ini,'' Ae menaruh ponsel Varo di atas meja.


''Ae, kamu kenapa sih Ae,'' Varo bingung dengan tingkah Ae yang tiba-tiba berubah seperti itu.


''Jangan pernah ganggu hidup Ae lagi!'' ucap Ae menatap tajam ke arah Varo.


Ae meninggalkan ruangan Varo begitu saja. Varo yang bingung dengan tingkah Ae hanya menghembuskan nafasnya kasar.


*


Bel pulang pun telah berbunyi, Varo yang sejak tadi menunggu Ae di parkiran pun tak mendapati Ae yang keluar dari kelasnya.


''Em, kamu!'' ucap Pak Varo memanggil Wilo yang tengah berjalan menuju tempat parkir.


''Saya?'' tanya Wilo yang menunjuk dirinya sendiri karna kebetulan di dekatnya tidak ada murid yang lain.


''Iya kamu, sini!'' ucap Varo. Wilo pun mendekat ke arah Pak Varo berada.


''Ada apa ya Pak?'' tanya Wilo penasaran.


''Aelesha mana?'' tanya Pak Varo.


''Kan Aelesha udah pulang sejak jam istirahat tadi Pak. Katanya ada acara,'' ucap Wilo polos.


''Acara? Acara apa?'' tanya Varo mengerutkan keningnya, penasaran.


''Enggak tau. Bapak kan bisa tanya sendiri. Ya udah ya Pak, saya permisi dulu,'' ucap Wilo meninggalkan Varo yang tengah berfikir keras.


Varo pun langsung menancapkan gasnya menuju rumah Aelesha. Ia sangat penasaran dengan ucapkan Wilo tadi.


Sesampainya di depan gerbang, Varo segera bertanya kepada satpam yang berjaga.


''Non Ae baru saja pergi Mas,'' ucap Pak Tedjo.


''Pergi kemana ya Pak?'' tanya Varo penasaran.


''Kalau itu saya nggak tau. Non Ae bawa motor sendiri dan bawa tas besar Mas. Tadi Non Ae di jemput sama Mas Bima. Saya juga nggak sempat bertanya, mending Masnya tanya langsung kepada Nyonya, beliau ada di rumah kok,'' ucap Pak Tedjo.


''Oh baiklah, saya masuk dulu Pak,'' pamit Varo.


Varo pun mengetuk pintu utama rumah berlantai tiga itu. Tak lama, Mama Yuni membuka pintu.


''Eh Nak Varo, silahkan masuk,'' ucap Mama Yuni mempersilahkan Varo masuk.


Varo pun mengikuti Mama Yuni dari belakang. Sesampainya di ruang tamu ia mendaratkan bokongnya di sofa.


''Ada apa Nak Varo datang kemari?'' tanya Mama Yuni.


''Begini Tante, tadi saya tanya sama satpam di depan katanya Ae baru saja pergi. Pergi kemana ya Tante kalau Varo boleh tau,'' ucap Varo.


''Lhoh, Apa Ae nggak pamit sama kamu?'' Varo hanya menggelengkan kepalanya. ''Ae pergi ke puncak Nak. Mungkin di sana sampai besok minggu,'' ujar Mama Yuni melanjutkan ucapannya.


''Ke puncak? Acara apa ya Tante?'' tanya Varo yang masih ingin tau.


''Kalau itu Tante kurang tau. Ae dan Bima juga nggak bicara acara apa. Ya mungkin cuma kumpul-kumpul sama temannya gitu,'' ujar Mama Yuni.


''Sampai hari minggu? Berarti di sana 3 hari 3 malam dong. Apa yang mereka lakukan selama itu?'' batin Varo merasakan sesak di dadanya. Fikiran negative tiba-tiba singgah di otaknya.


*


*