
''Kenapa wajah dan namanya tidak asing ya,'' batin Aelesha menatap Al dengan lekad.
Bima pun langsung melepaskan jabatan tangan mereka berdua. Bima melihat tatapan Ae yang tertarik kepada Al.
''Udah dong jabat tangannya,'' ujar Bima, Al pun hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sementara Ae tersenyum canggung.
Ae mengingat-ingat tentang seseorang yang ada di depannya itu. Ae seperti mengenal Alvarendra, namun otak kecilnya tak mengingat itu.
''Ae kok malah nglamun,'' Bima menyenggol tubuh Ae hingga Ae terlonjak kaget.
''Aku seperti pernah melihat Kak Al, tapi aku nggak ingat dimananya. Apa kita pernah ketemu Kak?'' tanya Aelesha kepada Al.
Pertanyaan Ae membuat Bima dan Al tertawa, Ae jelas bingung mengapa dua lelaki di depannya itu tertawa.
''Kok malah ketawa sih,'' Ae pun kesal karna mereka tidak menjawab pertanyaan Ae melainkan malah menertawakannya.
''Beneran kamu nggak kenal sama dia? Sama artis ini kamu beneran nggak kenal,'' ucap Bima menetap Ae dengan tatapan tak percaya.
''Artis?'' Ae mengerutkan keningnya sambil menatap Al.
''Iya artis, dia Alva pemain sinetron itu loh,'' ujar Bima.
''Ya ampun, ini Kak Alva pemain sinetron itu. Aduhhh aku nggak nyangka bakal ketemu Kak Alva disini,'' pekik Ae yang heboh sendiri.
''Iya, aku Alva tapi teman-temanku biasa memanggilku Al,'' ujar Alva.
''Aku salah satu fans Kakak loh. Aku bolehkan minta foto bareng sama Kakak,'' ujar Aelesha dengan wajah yang memelas.
''Boleh,'' ujar Al tersenyum, membuat Ae langsung mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan di berikan kepada Bima.
''Kak Bim tolong fotoin,'' ucap Ae langsung berdiri dan duduk di samping Al. Mereka pun berpose hanya mengangkat 2 jarinya saja.
Cekrek cekrek cekrek.
''Nih udah banyak,'' ujar Bima kesal karna ia hanya di jadikan kang foto.
''1 lagi Kak, belum kerasa nih,'' ujar Aelesha. Ae dan Al pun kembali berpose, di saat itu pula ada waiters yang mengantarkan pesanan mereka dan tiba-tiba kakinya tersangkut oleh kaki meja yang ada di sana.
Bruakk.
Tubuh Ae terdorong oleh siku waiters tersebut, membuat Ae jatuh ke pelukan Alva. Dan pada saat yang bersamaan tanpa sadar Bima menekan tombol untuk memotret.
''Ae kamu nggak pa-pa?'' tanya Bima langsung meletakkan ponsel Aelesha di meja.
''Aku nggak pa-pa kok. Maaf ya Kak Al,'' ucap Aelesha yang merasa canggung.
''Enggak pa-pa Ae. Santai aja,'' ujar Al.
''Maaf Kak, saya nggak sengaja,'' ucap waiters tersebut dengan wajah yang ketakutan.
''Enggak pa-pa, mending sekarang kamu kembali membuatkan pesanan kita lagi,'' ujar Al. Waiters tersebut pun keluar dari ruangan itu untuk membuatkan pesanan mereka.
Sementara Ae kembali duduk di dekat Bima. Ae mengambil ponselnya lalu melihat foto-foto yang di ambil oleh bima tadi. Mata Ae serasa ingin keluar saat melihat foto yang terakhir, saat ia jatuh kedalam pelukan Al. Namun foto itu malah terlihat begitu mesra tidak seperti kenyataannya.
''Kamu kenapa Ae?'' tanya Bima.
''Eng enggak kok, aku nggak pa-pa,'' ujar Aelesha. Ia menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas, ia juga enggan menghapus foto pada saat ia jatuh kepelukan Al tadi.
Jam pun menunjukkan pukul 11 malam. Ae, Bima dan Al masih asik bersenda gurau di dalam bar itu.
''Aku nggak mau pulang Kak,'' rengek Aelesha.
''Gimana kalau mereka nyariin kamu Ae, pasti mereka khawatir sama kamu,'' ujar Bima.
''Enggak akan! ayo bawa Ae pergi,'' ucap Ae dengan manja. Al yang melihat interaksi mereka berdua pun hanya menyimak saja karna ia tidak ingin ikut campur.
''Mau pergi kemana Ae, bahkan rumahku cuma ada satu. Aku juga bingung mau bawa kamu kemana,'' keluh Bima.
''Ehm, maaf kalau aku ikut campur. Ini sebenarnya ada apa sih?'' tanya Alva yang sedari tadi menyimak namun tak tau akar permasalahannya.
''Ini Al, dia kabur dari rumah. Eh malah ngajakin aku pergi dari Jakarta. Nih anak memang seenaknya,'' ujar Bima menatap Ae dengan gemas.
''Pergi dari rumah?'' tanya Al.
''Enggak Kak. Aku hanya ingin menenangkan fikiran untuk sementara waktu, itu saja. Tapi Kak Bima sulit banget di ajakin,'' ujat Aelesha dengan wajah yang di tekuk.
''Coba kamu bayangkan jadi aku Al gimana nggak bingung. Dia tiba-tiba ada di depan rumahku dan mengajak aku pergi dari Jakarta, yang ada nanti aku yang di cari polisi karna membawa anak orang,'' ucap Bima menatap Ae kesal.
''Kalau Kak Bima nggak mau juga nggak pa-pa kok. Ae bisa pergi sendiri,'' ujar Aelesha yang bangkit dari duduknya. Namun Bima langsung menarik tangan Aelesha agar duduk kembali.
''Kamu mau kemana? Nggak usah aneh-aneh deh Ae. Oke-oke setelah ini kita cari hotel atau apalah yang bisa buat kamu tinggal beberapa hari,'' ucap Bima yang tak tega membiarkan adik sahabatnya itu pergi seorang diri. Apalagi hari hampir tengah malam.
''Aku punya apartemen yang nggak aku pakai. Kamu bisa tinggal di sana Ae,'' ujar Al menawarkan apartemennya.
''Nggak usa---'' ucapan Bima di potong begitu saja oleh Ae.
''Beneran Kak Al? Makasih ya Kak. Kak Al memang baik banget,'' puji Aelesha. Al hanya tersenyum tipis sambil membatin dalam hati.
''Kenapa gadis kecil ini sangat menggemaskan,'' batin Alva.
Sementara Bima menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia benar-benar tak menyangka dengan Aelesha yang berbeda jauh dari Aiden dulu.
''Ya udah sekarang kita langsung ke apartemen ya. Udah hampir tengah malam nih,'' ujar Al sambil memakai maskernya. Ia tak mau ada yang mengenalinya di bar ini.
Aelesha pun langsung menarik tangan Bima yang terlihat tidak setuju dengan keputusan Aelesha.
''Ayo lah Kak Bim. Lumayan kan nggak sewa kamar hotel,'' ucap Aelesha sambil mengedipkan sebelah matanya.
Bima pun akhirnya menurut saja, toh Al juga tidak tinggal di apartemen itu, pikirnya.
Al mengendarai mobil sportnya sementara Ae dan Bima mengendarai motor milik Bima. Mereka mengikuti mobil Al dari belakang.
Selang beberapa menit, mereka telah sampai di apartemen milik Al. Apartemen yang sangat mewah, menurut Aelesha.
''Makasih Kak Al, apartemen Kakak bagus banget,'' puji Aelesha.
''Iya Ae sama-sama. Anggap saja rumah sendiri,'' ujar Al sambil mengambil minuman yang berada di lemari pendingin.
Mereka duduk di sofa ruang tamu dengan di temani beberapa cemilan dan minuman di depannya.
''Aku pulang ya Ae,'' ujar Bima melihat jam yang menunjukkan pukul 12 lebih.
''No, Kak Bima harus nemenin aku disini. Aku nggak berani kalau disini sendiri,'' ujar Aelesha tanpa beban.
*
*