AELESHA

AELESHA
51



''Siapa wanita yang tadi Mas?'' tanya Vanya sedikit ragu.


''Dia teman Aelesha. Tadi pagi tiba-tiba ban ku bocor di jalan, kebetulan Wilo lewat dengan teman-temannya. Nah, mereka menawarkan tumpangan untukku, ya terpaksa aku harus mau dong Van. Tapi aku nggak bocengan kok sama Wilo, tadi pagi aku nebeng sama Zelo,'' ujar Bima serius.


Vanya menatap lekad mata Bima mencari kebohongan di sana, namun ia tidak menemukan kebohongan itu.


''Van, aku sama sekali nggak berbohong. Percayalah,'' ujar Bima memohon.


''Aku percaya,'' ucap Vanya.


''Jadi kamu mau kan menjadi kekasihku?'' tanya Bima dengan senyuman terbit di wajahnya.


''Aku pikir-pikir dulu,'' ujar Vanya.


''Pikir- pikir dulu? Kamu meragukan cintaku Van? Atau kamu siap kehilangan aku?'' tanya Bima.


''Kehilangan bagaimana maksudmu? Apa kamu sudah mempunyai wanita lain yang kamu incar jika tidak mendapatkan aku?'' tanya Vanya menatap Bima dengan tajam.


''Ya nggak gitu maksudnya Van. Udahlah lupakan. Kamu mau di beri waktu berapa hari, hem?'' tanya Bima.


''1 hari, besok aku akan menjawab semuanya,'' ujar Vanya.


Setelah makan malam selesai, Bima mengajak Vanya mengelilingi kota di malam hari. Vanya terlihat menikmatinya. Apalagi setelah dari restoran tadi, mereka seperti sepasang kekasih pada umumnya. Bima yang tak mau melepaskan tangan Vanya sampai di parkiran, bahkan Bima juga menarik tangan Vanya agar memeluknya dari belakang setelah menaiki motornya.


''Apa kamu suka?'' tanya Bima sedikit menaikkan nada bicaranya agar Vanya mendengar.


''Iya, suka banget Mas,'' ujar Vanya tersenyum sambil merentangkan kedua tangannya.


''Pegangan Van, bahaya,'' ucap Bima. Vanya pun langsung mengeratkan pelukannya di perut Bima. Bima tersenyum, akhirnya ia mendapatkan wanita secantik dan sebaik Vanya. Ya, walaupun Vanya belum menjawab tentang hubungannya.


Motor Bima berhenti di depan gerbang berwarna putih. Vanya turun dari motor Bima dan menyerahkan helm yang ia pakai tadi ke Bima.


''Makasih makan malamnya,'' ucap Vanya.


''Iya, cepet masuk lalu istirahat. Nggak usah begadang mulu,'' ucap Bima perhatian.


''Iyaa, sampai ketemu besok,'' Vanya melambaikan tangannya sebelum membuka gerbangnya. Setelah Vanya masuk, Bima langsung pulang ke rumahnya yang hanya berjarak jalan raya saja.


''Kalau Vanya menerima cintaku, itu artinya pacar 5 langkah dong,'' ujar Bima terkikik sendiri. Ia pun menyanyikan lagu pacar lima langkah sambil masuk ke dalam rumah.


*


*


Di tempat lain, Varo dan Ae sedang memperdebatkan masalah sepele menurut Aelesha. Bagaimana tidak sepele, Varo cemburu pada kekasih khayalan Aelesha yang bernama Bright Vachirawit, aktor thailand yang tampan dan mempesona. Dan perdebatan itu pun mulai panjang saat Varo tak sengaja menjatuhkan figura yang di dalamnya terdapat foto kekasih khayalan Aelesha itu.


''Udahlah Yang, nggak usah ngambek lagi. Aku kan udah minta maaf. Besok aku ganti deh, tapi di dalamnya foto aku bukan lelaki itu,'' ujar Varo.


Aelesha diam seribu bahasa dengan bersedekap dada. Rasa kesal di hatinya bertambah saat figura kesayangannya pecah begitu saja.


''Yang,'' rengek Varo.


''Yang, udah dong,'' ujar Varo memelas. Ae pun masih bertahan dengan kekesalannya kepada Varo. Ia memilih duduk di kursi dengan mata yang fokus pada benda pipihnya.


''Yang,'' rengek Varo kembali. Varo pun duduk di lantai di dekat kaki Aelesha. Aelesha pun seakan tak peduli dengan tingkah Varo.


Varo yang tidak tahan di diamkan oleh Aelesha segera bangkit dari duduknya dan mendekatkan wajahnya ke arah Aelesha. Niat hati ingin mencium istrinya, namun Varo kalah cepat dari Aelesha. Varo mendapat bogeman mentah di wajahnya hingga ia terhuyung ke samping Aelesha.


Bugh.


''Itu hukuman buat orang yang nyebelin kayak kamu!'' ucap Aelesha malah menatap tajam ke arah Varo.


''Cuma kayak gitu aja sampai berani nonjok suami sih. Aku loh suami nyata kamu bukan dia,'' ujar Varo membela diri.


''Seharusnya kamu itu berterima kasih sama dia. Karna dia, aku tidak tertarik dengan lelaki manapun selain kamu. Ya mungkin kalau pun kamu nggak paksa-paksa aku, aku juga nggak bakal tertarik sama kamu,'' ujar Aelesha menatap sinis Varo.


Glug.


Varo menelan salivanya dengan susah. ''Astaga sesayang itukah dia sama artis itu? Padahal dia udah punya suami. Masih aja mikirin orang lain, bahkan orang itu tidak mungkin bisa di gapai,'' batin Varo.


''Iya, iya aku minta maaf Yang. Jika aku bertemu dengan artis itu, aku akan berterima kasih banyak kepadanya. Karna dia sudah menjaga hati istriku,'' ucap Varo dengan senyum di buat semanis mungkin.


''Hem,'' Aelesha hanya berdehem pelan.


''Udah dong jangan marah lagi, masa malam pertama kita malah berantem gini. Pipiku malah kena bogem lagi,'' ujar Varo sambil meraba pipinya yang masih terasa sakit.


''Ya maaf, kamu dulu sih yang mulai,'' ucap Aelesha yanh sedikit melunak sambil mengelus pipi suaminya yang memerah. Sebenarnya Aelesha tadi tidak berniat meninju pipi suaminya. Namun saat suaminya ingin menciumnya di saat hatinya tidak membaik, membuat ia kesal dan tiba-tiba tangannya mendarat di pipi.


''Baikan ya Yang,'' ucap Varo menatap wajah Ae dengan memelas.


''Iya, maafin aku ya Mas,'' ucap Aelesha, Varo pun menganggukkan kepalanya dengan cepat.


''Yang,'' panggil Varo setelah beberapa saat hening tidak ada yang berbicara.


''Hem, apa?'' tanya Ae.


Varo mendekatkan wajahnya ke arah Aelesha. Dengan spontan Aelesha langsung memejamkan matanya. Tak menunggu lama, bibir Varo dan Ae pun saling bertautan. Ternyata apa yang di pikirkan oleh Varo selama ini tidak sesuai realita. Varo tak menyangka Aelesha akan langsung semahir ini dalam hal berciuman. Padahal dia yang pertama bagi Aelesha.


''Ternyata kamu mahir juga,'' ujar Varo saat melepas pagutannya.


Ae hanya tersenyum tipis. ''Berkat nonton film thailand,'' ucap Aelesha tanpa di tutup-tutupi.


''Wahh, berarti aku harus berterima kasih banyak dong sama kekasih khayalanmu itu. Berkat dia, aku tidak usah mengajari gadis yang terlihat polos sepertimu,'' ujar Varo langsung menyerang Aelesha kembali.


Tanpa sadar tubuh Ae sudah terlentang di atas ranjang.


''Bolehkan?'' tanya Varo dengan tatapan sayunya.


''Aku menstruasi Mas,'' ucap Ae pelan. Tubuh Varo pun langsung lemah saat mendengar Aelesha berkata demikian.


''Masih lama?'' tanya Varo. Ae menjawab dengan anggukan kepala.


''Baru tadi pagi keluarnya,'' ucap Aelesha kemudian.


''Akhhhh,'' Varo menjambak rambutnya dengan kasar. Nafsunya yang sudah sampai ubun-ubun pun harus berakhir di kamar mandi.


''Maaf ya Mas,'' ucap Aelesha.


''Its oke, nggak pa-pa. Aku ke kamar mandi dulu,'' pamit Varo menuju kamar mandi dengan langkah gontai.


*


*


Akhh nggak jadi unboxing deh. Hehehe.


Jangan lupa tinggalkan jejak di setiap bab nya ya kak.