
Keesokan paginya, Ae sudah siap dengan seragam yang ia pakai. Tas ransel yang sudah berada di pundaknya dan sepatu yang sudah melekat di kakinya.
Ia memperhatikan dirinya di depan cermin. ''Perfect,'' ucapnya sambil tersenyum manis.
Ia pun bergegas menuju ruang makan untuk sarapan bersama Mamanya karna Papanya saat ini berada di luar negeri.
''Pagi Ma,'' sapa Ae langsung mencium pipi Mama Yuni.
''Pagi Nak, duduk!'' Mama Yuni mengambilkan nasi goreng ke atas piring milik Ae. Ae pun menerimanya dengan senyuman manis.
''Makasih Mama sayang,'' ucap Ae.
''Iya, cepat di habisin. Keburu telat lagi,'' ucap Mama Yuni.
Ae pun dengan santai memasukkan nasi goreng itu ke dalam mulutnya. Ia melihat jam yang ada pada dinding ruang makan. Masih jam setengah 7, pikirnya.
Tringg tringg tringg.
Bunyi pesan masuk ke dalam ponselnya. Ae segera mengambil ponsel yang berada di saku bajunya.
''Ae kamu nggak masuk?''
''Ae kamu nggak pa-pa kan?''
''Ae,''
''Queen,''
Banyak pesan yang di kirim sahabat-sahabatnya ke dalam grub chat Silent Boom.
''Mereka apaan sih,'' gerutu Ae setelah membaca beberapa pesan dari sahabat-sahabatnya.
Tak sengaja ia melihat jam yang ada pada layar ponselnya. Seketika matanya melebar dan mulut menganga.
''Jam 7 kurang 5 menit?'' ucapnya pelan. Ia membandingkan dengan jam yang ada pada dinding ruang makan. Dan ternyata jam yang ada pada dinding ruang makan tak bergerak sama sekali.
''Ada apa sayang?'' tanya Mama Yuni.
''Ma, Ae harus berangkat,'' ia langsung meminum susunya dan berdiri dari duduknya.
''Tapi ini masih jam 6 lebih dikit sayang,'' ucap Mama Yuni.
''Perhatikan baik-baik jam sialan itu,'' ucap Ae langsung berlari setelah menyambar jaket levisnya yang berada di kursi.
''Hati-hati Ae,'' teriak Mama Yuni.
*
Ae segera mengambil motor kesayangannya yang berada di garasi. Tanpa ba bi bu ia langsung memutar gasnya dengan kecepatan di atas rata-rata.
''Gila, jam 7 kurang 5 menit lagi. Masa iya aku harus terbang biar nggak telat sampai di sekolah,'' gerutu Ae.
Ae pun mengendarai motornya dengan kecepatan penuh. Untung jalanan tidak begitu ramai. Ia bisa menyalip kiri kanan. Namun nasib baik tak berpihak padanya kali ini. Ae menabrak mobil yang ada di depannya. Ae sampai tak sadar jika di depannya ada lampu merah.
Brak.
Ae pun langsung jatuh dari motornya. Siku dan lututnya terluka.
''Aww,'' rintih Ae saat merasa ngilu di bagian tangan, kaki dan perutnya.
Pemilik mobil itu pun langsung menepikan mobilnya, ia segera turun dan memeriksa mobil bagian belakangnya yang sudah penyok.
''Astagaaa, kamu masih belajar bawa motor ya?'' omel seorang pria paruh baya.
''Kok Bapak malah nyalahin saya sih. Kan Bapak yang ngerem tiba-tiba. Kenapa malah nyalahin saya?'' ucap Ae tak kalah kesal.
''Kamu aja yang bawa motor sudah seperti pembalap. Saya nggak mau tau, kamu harus ganti rugi!'' ucap pria itu.
''Nggak mau. Di sini aku juga terluka. Memangnya Bapak bisa membuat tubuhku kembali seperti sedia kala?'' ucap Ae tak terima.
''Heh anak kecil. Kalau kamu nggak mau ganti rugi, saya akan bawa ini ke jalur hukum,'' ucap pria itu.
''Dan harus anda ingat, saya tidak takut sama sekali,'' ucap Ae lantang.
''Ada apa ya Pak?'' tanya Varo kepada pemilik mobil yang di tabrak Ae.
''Ini Mas, dia udah nabrak mobil saya sampai penyot seperti itu. Tapi dia nggak mau ganti rugi,'' ucap pemilik mobil.
''Saya juga rugi Pak. Lihat motor saya pecah semua kayak gitu,'' ucap Ae tak terima.
''Em gini Pak. Biar saya yang ganti rugi semua kerusakan mobil Bapak. Ini kartu nama saya. Bapak bisa menghubungi nomor itu berapa nominal yang harus di bayar,'' ujar Varo.
''Bapak apa-apaan sih,'' gerutu Ae. Ia tak menyangka gurunya akan membayar ganti rugi itu.
''Udah kamu diem,'' ucap Varo.
''Tapi Pak----''
''Ya sudah, awas jika kalian bohongi saya. Akan saya laporkan kalian ke pihak berwajib,'' ancam pria itu.
Varo hanya menganggukkan kepalanya.
Pemilik mobil itu pun meninggalkan mereka. Sekarang Varo tengah menatap Ae yang sedang menekuk wajahnya.
''Mana yang sakit?'' tanya Varo perhatian.
''Nggak ada!'' ucap Ae ketus.
''Aelesha, nggak usah bohong kamu. Lihat motormu saja sampai seperti itu. Nggak mungkin kan kamu baik-baik saja,'' ucap Varo.
''Aku baik-baik saja Pak,'' ucap Ae tanpa melihat ke arah Varo.
''Lutut kamu berdarah Aelesha,'' ucap Varo tak sengaja melihat lutut Ae berdarah.
''Cuma berdarah sedikit!'' ucap Ae santai padahal lutut dan sikunya terasa perih, sedangkan perutnya terasa nyeri.
''Kamu kenapa sih Aelesha. Kenapa berubah cuek gini? Apa semuanya ada hubungannya dengan Bima?'' batin Varo.
''Ayo ikut saya,'' ucap Varo membukakan pintu mobilnya.
''Nggak usah. Aku mau ke bengkel buat benerin motor,'' ucap Ae mendekat ke arah motornya.
''Bengkel dari sini jauh Ae. Biar aku hubungi dulu bengkelnya,'' ucap Varo langsung menelpon pihak bengkel. Ae hanya diam, ia tak menyahut ucapan Varo.
''Ayo sekarang ikut saya,'' ucap Varo. Ae pun menurut saja. Ia masuk ke dalam mobil milik Varo.
''Kita mau kemana? Ini bukan jalan ke sekolah,'' ucap Ae.
''Kita ke rumah sakit,'' ucap Varo.
''Ngapain? Enggak, enggak. Aku nggak mau Pak. Udah turunin aku di sini,'' ucap Ae berontak.
''Udah diem Ae. Kebetulan temen saya seorang dokter. Kita bisa mengobati lukamu di sana,'' ucap Varo.
''Aku nggak pa-pa Pak. Udah lah aku bisa ngobatin lukaku sendiri kok,'' ucap Ae.
Varo segera menepikan mobilnya. Ia menatap lekad ke arah Aelesha.
''Kenapa sih kamu itu selalu ngeyel. Nggak mau dengerin saya ngomong. Luka kamu itu bisa infeksi tau nggak,'' ucap Varo yang terlihat kesal.
''Kenapa malah dia yang kesal,'' batin Ae lebih memilih menatap ke arah luar.
''Tapi kan Bapak harus ke sekolah. Bukannya hari ini ada jadwal di kelas 11,'' ucap Ae.
''Aku udah izin sama kepala sekolah,'' Varo melajukan kembali mobilnya. Tanpa Ae sadari sejak tadi Varo diam-diam memperhatikan Ae yang tengah fokus pada jalanan.
''Kenapa kamu cantik sekali jika berada dari dekat gini?'' batin Varo.
Selang beberapa menit, Mobil Varo telah sampai di halaman rumah yang lumayan luas. Varo segera turun dan membukakan pintu mobil samping Ae.
''Bisa turun sendiri?'' tanya Varo penuh perhatian.
''Bisa kok,'' ucap Ae turun dengan pelan. Setelah turun Varo mengajak Ae masuk ke dalam.
*