
Setelah acara selesai, Aelesha mengajak Varo untuk beristirahat karna badannya terasa sangat lelah. Mereka pun menaiki anak tangga sampai di lantai dua dimana kamar Aelesha berada.
Sesampainya di depan kamar, Ae segera membuka pintu kamarnya. Dan setelah pintu di buka, mulut Varo menganga melihat isi kamar Aelesha.
''Kenapa?'' tanya Aelesha.
''Ini beneran kamarmu? Kamu nggak salah kamar kan?'' tanya Varo seperti tak percaya.
''Iya, ini memang kamarku Pak, cepat masuk,'' ujar Aelesha.
Varo dengan ragu masuk ke dalam kamar, setelah ia dan Aelesha masuk, Ae memencet saklar lampunya.
Kamar dengan cat berwarna hitam dan sedikit putih membuat suasana di dalam sedikit mencengkam. Bagaimana Ae bisa seperti itu? Biasanya wanita lebih suka dengan warna pink atau warna yang terang lainnya. Berbeda dengan Ae yang lebih memilih warna hitam sebagai warna favoritenya.
Mata Varo masih melihat sekeliling. Mulai dari sepray dan bad cover berwarna hitam, lemari berwarna hitam bahkan sofa pun berwarna hitam. Apa istrinya ini memang sesuka itu dengan warna hitam? Entahlah.
''Ada yang aneh dengan kamarku?'' tanya Aelesha sambil melepas hiasan yang ada di kepalanya.
''Eng enggak Yang. Aku nggak percaya saja dengan kamarmu yang berwarna hitam seperti ini. Biasanya wanita lebih suka warna yang cerah, tapi berbeda dengan istriku,'' ujar Varo.
''Warna hitam melambangkan kedamaian, aku suka tempat yang damai,'' jawab Aelesha singkat.
''Bukankah warna yang terang lebih bagus?'' tanya Varo.
Ae menggelengkan kepalanya. ''Walaupun banyak di luaran sana warna-warna terang, namun yang tetap menduduki peringkat teratas hanyalah warna hitam, karna warna hitam warna netral,'' ujar Aelesha.
Varo hanya menganggukkan kepalanya pelan. Sekarang ia mengerti. Ternyata istrinya itu pemuja warna hitam. Dari motor, pakaian jika keluar selalu menggunakan warna hitam, sampai-sampai kamar pun berwarna hitam.
''Mandi dulu sana Pak, habis itu gantian,'' ujar Aelesha.
''Jangan panggil Pak kalau nggak mau mandi bareng,'' ujar Varo berbisik di dekat telinga Aelesha.
''Ishh, apaan sih!! cepetan mandi sana Mas,'' Aelesha langsung mengganti panggilannya kepada Varo daripada ia harus mandi bareng dengan suaminya itu.
''Iya, iya,'' Varo berlalu ke kamar mandi. Ae yang sudah selesai melepas semua riasan di rambutnya pun langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuknya. Hari ini badannya benar-benar lelah. Walaupun ia hanya duduk manis, namun nyatanya badannya terasa remuk semua.
''Pak Varo lama banget sih, hoamm, tidur bentar kali ya,'' ujar Aelesha yang berkali-kali menguap. Tak menunggu lama, Ae langsung memejamkan matanya dan terbang ke alam mimpi.
Beberapa menit kemudian, Varo baru saja selesai dengan ritual mandinya. Ia keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Bukan di sengaja, melainkan ia lupa membawa baju ganti ke kamar mandi.
''Yang, bajuku man---''belum selesai ia berbicara, mata Varo melebar melihat istrinya yang tengah terbaring di atas tempat tidur dengan menggunakan baju pengantin yang ia pakai tadi.
''Astaga, malah tidur lagi,'' gerutu Varo.
Ia pun mencari bajunya di dalam koper yang di bawakan oleh orang tuanya tadi. Setelah menemukan bajunya ia segera memakainya di dalam kamar mandi.
Varo keluar dari kamar mandi dengan keadaan rapi dan juga segar. Ia segera mendekat ke arah ranjang di mana istrinya berada.
''Yang, bangun! Mandi dulu, tidurnya di lanjut nanti,'' ujar Varo menggoyang-goyangkan tubuh istrinya.
''Mama berisik banget sih,'' gerutu Ae yang masih memejamkan matanya.
''Akhhhhhhhhh!!'' Aelesha menjerit saat ada wajah seseorang yang sangat dekat dengan wajahnya. Varo yang mendengar Ae menjerit langsung membungkam mulut Aelesha.
''Stttt, jangan berisik Yang!'' ucap Varo yang masih membungkam mulut Aelesha.
''Hmppt hmptt,'' melihat Aelesha yang berontak membuat Varo melepaskan tangannya yang ada di mulut Aelesha.
''Bapak apa-apaan sih. Ganggu orang tidur aja!'' omel Aelesha.
''Mandi dulu sana, nanti setelah mandi bobok lagi,'' ujar Varo.
''Masih ngantuk, besok aja ya mandinya,'' ujar Aelesha dengan wajah memelas.
''Mandi sendiri atau suamimu ini yang mandiin?'' tanya Varo langsung mendapat pukulan dari Aelesha.
''Dasar mesum!'' ujar Aelesha langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Tok tok tok.
''Ae, Aelesha!'' pintu di ketuk dari luar membuat Varo mengeryitkan dahinya. Ia pun langsung berjalan ke arah pintu.
Ceklek.
Varo membuka pintunya, di sana sudah ada Papa Rio dan Mama Yuni dengan wajah khawatir.
''Ada apa ya?'' tanya Varo.
''Mama denger Ae teriak kenceng banget, Ae kenapa Ro? Kamu nggak apa-apain Ae kan?'' tanya Mama Yuni penuh selidik.
''Eh, i itu Ma, Ae nggak pa-pa kok. Tadi dia hanya lihat kecoa saja. Iya kecoa,'' ujar Varo mencari alasan.
''Beneran?'' tanya Papa Rio yang masih belum percaya dengan jawaban Varo.
''Beneran Pa, Ya walaupun Varo mau apa-apain Ae kan juga nggak masalah, Ae kan udah jadi istri Varo,'' ujar Varo enteng membuat Mama Dan Papa Rio bungkam.
''Ya sudah kalau memang tidak ada apa-apa. Takutnya Mama, kamu belum ingat sepenuhnya dan mau menyakiti Aelesha,'' ucap Mama Yuni yang tengah menahan malu kepada menantunya itu. Seharusnya ia tidak ikut campur dengan urusan anak dan menantunya. Karna anaknya saat ini sudah menikah. Namun, saat mendengar Aelesha yang menjerit Mama Yuni langsung panik dan mengajak Papa Rio untuk melihat ke kamar Aelesha.
''Aku sudah ingat semuanya Ma, Pa. Kalian jangan khawatir. Aku akan menjaga Aelesha dengan baik kok,'' ucap Varo meyakinkan Mama dan Papa mertuanya.
''Oke, ya sudah kalau begitu, selamat istirahat,'' ucap Papa Rio langsung membawa Mama Yuni pergi dari sana. Sementara Varo terkikik geli melihat Mertuanya yang sangat khawatir dengan keadaan anaknya.
''Mungkin mereka lupa kalau mereka juga pernah menjadi pengantin baru,'' gumam Varo sambil menutup pintu kamarnya.
Sementara di kamar lain, Papa Rio tengah mengomel kepada Mama Yuni yang membuatnya malu di depan menantunya. ''Akhh Mama buat malu saja,'' gerutu Papa Rio.
''Ya maaf Pa, Mama hanya takut Ae kenapa-napa,'' ucap Mama Yuni.
''Ae udah punya suami Ma, udahlah jangan khawatir berlebihan,'' ujar Papa Rio.
Mama Yuni hanya diam, sebenarnya ia sangat-sangat khawatir dengan anak gadis yang saat ini sudah bersuami itu. Jika ia boleh berkata jujur, sebenarnya ia tak mau jika Ae menikah di umurnya yang masih terbilang sangat muda. Namun ia juga memikirkan kebahagiaan Aelesha. Aelesha terlihat sangat bahagia saat ia resmi menikah dengan Varo.