AELESHA

AELESHA
14



Hari pun telah berganti. Hari ini Pak Varo terlihat lebih cuek dan dingin kepada semua murid-muridnya. Termasuk dengan Ae juga. Ia kesal jika teringat kejadian kemarin saat Ae dan Bima asik makan di restoran, mereka terlihat seperti pasangan remaja pada umumnya.


*


''Pak Varo kenapa sih. Beda banget, nggak seperti biasa,'' ucap Wilo.


''Lagi mens kali,'' ucap Ae asal.


''Yaelah, masa cowok mens sih. Kan kemarin terakhir dia sama kamu Queen, masa kamu nggak tau dia kenapa,'' ujar Wilo.


''Iya, tapi kemarin kita nggak ngapa-ngapain. Kemarin dia juga biasa-biasa aja,'' ucap Ae.


''Eh Wil, kamu tau nggak kalau murid baru itu udah bucin parah sama Pak Varo,'' ucap Ae.


''Masa sih? Kok kamu tau?'' tanya Wilo.


''Yah kemarin dia di panggil keruangan Pak Varo gara-gara setiap hari ngirim pesan terus sama Pak Varo. Gila nggak sih,'' ucap Ae setengah berbisik.


''Wah sangingan kamu berat Ae. Dia juga nggak kalah cantik loh,'' ucap Wilo.


''Ya walaupun dia nggak kalah cantik sama aku, tapi aku nggak kalah pinter dari dia,'' ucap Ae.


''Tapi kamu harus lebih dulu buat Pak Varo bucin. Jangan mau kalah sama dia,'' ucap Wilo.


''Itu mah gampang,'' ucap Ae sambil menyedot es tehnya.


Setelah jam istirahat selesai, Ae dan Wilo berjalan menuju kelas. Ae melihat Deena yang masuk ke dalam ruangan Pak Varo dengan gerak gerik yang mencurigakan.


''Eh, eh kayaknya aku harus mepetin doi deh. Aku nggak mau kalah sama dia,'' ucap Ae menunjuk Deena yang sudah masuk ke dalam ruangan Pak Varo. Ae pun langsung berlari menuju ruangan Pak Varo berada.


Ae memutar handle pintu dengan pelan, ia ingin tau apa yang di lakukan murid baru itu di dalam ruangan Pak Varo. Dan ternyata----.


''Kalian ngapain?'' pekik Ae saat mendapati Deena ingin mencium Pak Varo yang tengah tertidur di kursi sambil menghadap langit-langit ruangan.


Suara Ae mampu membuat Pak Varo kaget dan terbangun dari tidurnya.


''Ngapain kalian disini?'' tanya Pak Varo kaget karna ada dua muridnya yang tiba-tiba berada di ruangannya.


''Sa saya mau mengumpulkan ini Pak,'' ucap Deena dengan tangan sedikit gemetar.


''Terus kamu ngapain?'' tanya Pak Varo menatap Ae dengan tatapan datar.


''Tadi aku melihat dia masuk ke dalam ruangan Pak Varo dengan tingkah yang mencurigakan. Aku hanya ingin memastikan dong Pak. Eh ternyata benar dugaanku, dia memang mau macam-macam dengan Bapak,'' ucap Ae menatap Deena dengan tatapan sinis.


''Maksud kamu apa Aelesha?'' tanya Pak Varo yang tak mengerti maksud Ae.


''Dia tadi mau cium Bapak!'' ucap Ae tanpa takut sedikitpun.


''Heh, kamu jangan menuduh macam-macam ya. Mana ada aku mau cium Pak Varo,'' ucap Deena berusaha membela diri.


''Kamu kira mataku buta? Jelas-jelas kamu mau cium wajah Pak Varo saat Pak Varo terlelap dalam tidurnya,'' ujar Ae.


''Itu semua nggak benar Pak. Saya tau saya murid baru, mungkin banyak murid lama yang tidak suka dengan saya, termasuk Aelesha,'' ucap Deena dengan wajah memelas.


Varo hanya menghembuskam nafasnya dengan kasar.


''Lain kali kalau ingin masuk ketuk pintu dulu. Bukankah di pintu sudah bertuliskan ketuk pintu sebelum masuk,'' ucap Pak Varo terlihat kesal.


''I iya Pak, maaf,'' ucap Deena.


''Ck, dasar tak tau malu,'' ucap Ae pelan.


''Silahkan kembali ke kelasmu Deena!'' perintah Pak Varo.


''Permisi Pak,'' ucap Deena meninggalkan Pak Varo dan juga Ae. Ae pun ingin melangkahkan kakinya keluar, namun Pak Varo menghentikan langkah Ae.


''Ya mau ke kelas lah Pak,'' ucap Ae.


''Setelah kamu bangunkan tidur saya dengan pekikan suaramu yang cempreng itu, kamu mau pergi begitu saja, hm?'' tanya Pak Varo bersedekap dada.


''Seharusnya Bapak berterima kasih dong sama Ae karna Ae sudah menyelamatkan wajah Bapak dari noda yang nggak bisa di hilangkan,'' ucap Ae.


''Kalau tadi Ae nggak datang, pasti wajah Bapak udah nggak perjaka lagi,'' ucap Ae tanpa di saring. ''Eh, tapi mungkin emang udah nggak perjaka sih, Pak Varo kan bilang udah mau nikah,'' ucap Ae melanjutkan kalimatnya.


''Kan saya nikahnya sama kamu,'' ucap Pak Varo.


''Kok sama Ae sih?'' ucap Ae menatap kesal ke arah Pak Varo.


''Kan yang pengen jadi istri saya cuma kamu Aelesha,'' ucap Pak Varo tersenyum dan mendekat ke arah Aelesha.


''Bapak mau ngapain?'' Ae panik, ia segera mundur saat tubuh Varo mendekat ke arahnya.


Varo segera mengunci tubuh Ae saat tubuh Ae sudah pentok di dinding.


''Pak Varo jangan macam-macam ya, atau aku akan teriak,'' ucap Ae.


''Aelesha, Aelesha. Siapa juga yang mau macam-macam sama bocil sepertimu. Saya hanya ingin minta tolong,'' ucap Varo dengan serius.


''Iya, tapi singkirkan dulu tangan Bapak. Benar-benar tidak sopan!'' gerutu Ae.


''Oke, oke maaf karna membuatmu takut. Saya minta tolong sama kamu, ikutlah denganku nanti malam,'' ucap Pak Varo.


''Kemana?'' tanya Ae menatap Pak Varo penasaran.


''Nanti malam Mama ulang tahun, jika saya tidak membawa pasangan, maka saya akan di kenalkan dengan anak sahabat Mama. Saya nggak mau Ae,'' ucap Pak Varo menghembuskan nafas panjangnya.


''Kan cuma kenalan Pak. Nggak di suruh nikah juga,'' ucap Ae sewot.


''Tapi nanti ujung-ujungnya di suruh nikahin Ae. Saya yakin itu,'' ucap Pak Varo.


''Ya udah nikahin. Gampang kan Pak,'' ucap Ae santai.


''Kan saya maunya nikah sama kamu Ae,'' ucap Pak Varo serius. Namun berbeda dengan Ae, Ae kira Pak Varo hanya bercanda.


''Bercandanya nggak lucu,'' ujar Ae berubah kesal saat Varo berbicara seperti itu. ''Nanti malam jam berapa?'' tanya Ae.


''Nanti jam 7 saya jemput. Dandan yang cantik, okay. Thanks Ae,'' ucap Pak Varo tersenyum bahagia.


''Hem, sama-sama. Aku kembali ke kelas Pak,'' ucap Ae langsung keluar begitu saja.


''Yeesss! Untung Aelesha mau. Kalau tidak, udah tamat riwayatku,'' ujar Pak Varo.


Ae pun kembali ke kelasnya, sesampainya di kelas ia langsung di tanya oleh sahabat-sahabatnya.


''Ngapain aja Ae, lama banget,'' ujar Wilo.


''Bisnis Wil,'' ucap Ae langsung duduk di kursinya.


''Akhir-akhir ini Ae lebih sering sama Pak Varo ya. Jangan-jangan Ae udah jadian lagi,'' ujar Zehan.


''Enggak! Enak aja,'' ujar Ae yang tidak terima di katakan jadian dengan gurunya.


*


Bel pulang sekolah pun berbunyi, Ae meminta Wilo menemaninya untuk membeli pakaian yang akan di kenakan nanti malam. Karna Ae tidak punya dress dan kawan-kawannya.


*