
Sesampainya di rumah, Varo dengan semangat turun dari mobil. Ia pun berjalan masuk ke dalam rumah.
''Varo! Mana ponselmu?'' tanya Mama Gea.
''Ini, memang ada apa Ma?'' tanya Varo bingung, kenapa Mamanya menanyakan ponselnya.
''Sini ponselmu! Sebelum menikah dilarang memegang ponsel, di larang keluar rumah sendirian dan di larang bertemu dengan Aelesha secara diam-diam,'' ujar Mama Gea sambil merebut ponsel yang ada di tangan Varo.
''Tapi Maa, Varo cuma pengen telpon sama Ae. Udah nggak boleh ketemu masa telpon juga nggak boleh. Ma, Maa,,'' Varo mengejar Mama Gea yang menaiki tangga sambil membawa ponsel pintarnya.
''Kamu nurut aja sama orang tua Ro. Kenapa susah banget sih di bilangi. Cuma 4 hari doang kok nggak sabar banget,'' omel Mama Gea.
''Tapi Maaaa,'' rengek Varo, namun Mamanya berjalan begitu saja meninggalkan dia yang tengah kesal. Ia pun melanjutkan jalannya menuju kamar dengan langkah lesu.
''4 hari Ro cuma 4 hari. Sabar,'' ucap Varo kepada dirinya sendiri.
Sesampainya di kamar, ia pun langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Rasanya belum afdol jika bersantai namun tubuhnya masih kotor. Berbeda dengan Ae yang malas mandi. Bahkan sampai sekarang pun Ae mandi 1 kali sekali, itu pun kalau tidak lupa.
*
Sehari tanpa kabar dari Aelesha rasanya seperti setahun. Itulah yang di rasakan Varo saat ini. Ingin rasanya ia keluar dari rumah hanya ingin melihat pujaan hati dari jauh, namun apalah daya Mama Gea telah menyita kunci mobil, dompet, bahkan sampai ke ponselnya juga. Rasanya hanya berdiam diri di rumah tanpa melakukan aktivitas apapun membuat ia semakin menggila.
''Huftt, mau ngapain lagi ya biar nggak boring,'' gumamnya.
''Akhh renang aja kali ya, biar lebih seger dan nggak mikirin calon istri mulu,'' ujar Varo bangkit dari sofa depan televisi. Ia pun bergegas ke kolam renang yang berada di samping rumah.
Byurrr.
Varo langsung menceburkan dirinya ke dalam kolam. Siapa tau setelah berenang otaknya bisa berfikir jernih.
''Aeleshaa,'' Varo pun teringat Aelesha yang memeluknya di bandara kemarin. Senyum di bibir tipisnya membuat ia tak sadar jika tengah senyum-senyum sendiri.
Tanpa Varo ketahui ada dua pasang mata yang tengah melihat ia dari jarak cukup dekat namun terhalang jendela kaca.
''Lihatlah anakmu Ma, Kak Varo benar-benar sudah bucin akut sama Aelesha,'' ujar Vanya yang ikut melihat Varo yang berada di tepi kolam renang sambil senyum-senyum sendiri.
''Ini yang memang Mama harapkan Van. Mama bahagia sekali karna Kakakmu sudah mengingat semuanya. Dan akhirnya mereka sebentar lagi akan menikah. Aduhhhh,, Mama udah nggak sabar pengen punya cucu,'' ujar Mama Gea.
''Cucu?'' beo Vanya. Ia jadi memikirkan dirinya yang sudah pantas menikah namun belum menemukan orang yang pas dan mengerti dirinya sama seperti Aiden dulu. Ia pun lebih memilih pergi dari dekat Mamanya daripada nanti di tanya yang tidak-tidak oleh sang Mama.
Vanya berjalan menuju pintu utama. Lalu ia duduk di kursi kayu dengan ukiran-ukiran yang sederhana namun terkesan sangat mewah.
Tek tek tek.
Bunyi seorang tukang bakso yang setiap hari lewat di depan rumahnya membuat cacing di dalam perutnya pun meronta-ronta. Ia pun segera memanggil tukang bakso itu.
''Mang, beli,'' ucap Vanya berlari ke arah gerbang rumahnya.
''Iya Neng, paket komplit?'' tanya penjual bakso itu.
''Nggak pakai mie ya Mang,'' ucap Vanya. Penjual itu pun mengangguk patuh.
''Oh iya Neng, mau di bungkus apa di makan di mangkuk?'' tanya penjual bakso yang biasa di kenal Mang Seno itu.
''Em, di mangkuk aja deh Mang. Kayaknya enak langsung makan disini sambil lihat orang lewat, he he he,'' ujar Vanya sambil cengengesan.
Vanya pun duduk di kursi plastik yang di bawakan oleh Mang Seno. Dari depan rumah, Vanya melihat ada seorang laki-laki yang tengah membawa mangkuk membuka pintu pagarnya. Vanya mengeryitkan dahinya saat melihat laki-laki yang pernah ia jumpai saat acara di Puncak dulu.
''Eh, kamu,'' sapa lelaki itu.
''Beli bakso?'' tanya lelaki itu.
''I iya,'' jawab Vanya.
''Mang, aku pesan seperti biasa ya,'' ucap Bima kepada Mang Seno.
''Baik Mas Bima, silahkan duduk dulu,'' ujar Mang Seno. Bima pun duduk di dekat Vanya. Vanya terlihat biasa saja, namun tidak dengan Bima.
''Bagaimana Aiden tak menyukainya, dia cantik dan juga terlihat baik,'' ujar Bima di dalam hati.
''Ini silahkan Neng,'' ucap Mang Seno menyerahkan bakso pesanan Vanya.
''Makasih ya Mang. Saya makan duluan ya Mas,'' ucap Vanya dengan sopan.
''Oh, silahkan,'' ucap Bima. Saat Vanya fokus memakan baksonya, Bima malah fokus pada wajah Vanya yang terlihat memerah akibat sambal dan kuah panas pada bakso tersebut. Keringat pun mengalir di dahi Vanya.
''Akhh, ada apa denganku. Jangan sampai aku tertarik dengan gadis pujaan hati sahabatku. Aku tidak mau menikung Aiden walaupun ia sudah tidak ada di dunia ini,'' batin Bima menepis fikirannya yang telah tertarik dengan Vanya.
''Oh iya, gimana keadaan Kakakmu?'' tanya Bima memecah keheningan.
''Kak Varo baik, dia juga sudah ingat semuanya,'' ujar Vanya.
''Berarti dia sudah ingat dengan Aelesha dong. Syukurlah kalau memang begitu,'' ujar Bima.
''Iya, dan beberapa hari lagi mereka akan me---'' Vanya pun langsung membungkam mulutnya saat ia teringat jika pernikahan Kakaknya bersifat rahasia.
''Me apa?'' tanya Bima yang sudah penasaran.
''Eh, enggak! Lupakan!'' ujar Vanya langsung bangkit dari duduknya. Ia pun mengeluarkan uang ratusan dari dalam kantong saku celananya.
''Mang, ini uangnya. Kembaliannya buat Mang aja ya,'' ujar Vanya menyerahkan mangkuk dan juga uangnya setelah itu ia bergegas pergi.
''Tunggu! Vanya tunggu!'' ucap Bima segera menyusul Vanya. Bima sangat penasaran dengan ucapan Vanya tadi.
''Ada apa ya?'' tanya Vanya yang sedikit takut dengan tatapan Bima.
''Aku hanya ingin mengenalmu lebih jauh. Bolehkan?'' Bima mengurungkan niat bertanya tentang ucapan Vanya tadi. Dan ia pun di buat bingung dengan dirinya sendiri yang malah berkata demikian.
''Mengenal? Lebih jauh?'' beo Vanya.
Bima menganggukkan kepalanya dengan semangat. ''Ya, bolehkan?'' tanya Bima lagi.
Vanya pun menganggukkan kepalanya pelan. Mungkin ini saatnya ia membuka hati untuk orang lain lagi, pikir Vanya.
''Mana ponselmu?'' tanya Bima dengan tangan seperti orang meminta.
Vanya dengan ragu menyerahkan ponselnya kepada Bima. Di sana Bima mengetikkan nomor ponselnya dan ia memanggil nomornya dengan ponsel milik Vanya. Setelah panggilan telepon dari ponsel Vanya berdering di ponselnya. Ia pun langsung mematikan panggilan itu.
''Thanks ya,'' ucap Bima sambil menyerahkan ponsel milik Vanya.
''Ada apa denganku, kenapa aku malah ingin mengenalnya lebih jauh? Bagaimana jika aku malah jatuh hati dengannya?'' batin Bima menatap Vanya yang tengah memainkan ponselnya
*
*
Maaf ya, Vanya dan Bima numpang lewat๐๐