
Bima dan Ae menyantap sarapan paginya di sebuah Cafe. Di tempat lain, Varo baru bangun dari tidurnya, karna semalaman ia tak bisa tidur karna teringat Aelesha yang menyatakan cintanya tadi malam.
''Jam berapa ini?'' gumam Varo sambil meraba nakas tempat ia menaruh ponsel. Ia mengerjabkan matanya beberapa kali, ia melihat jam yang ada di ponsel menunjukkan ke angka 10.
''Jam 10?'' Varo langsung bangun dari tidurnya dan segera bergegas ke kamar mandi. Ia membersihkan diri dan langsung berganti pakaian.
Kunci mobil dan juga dompet tak ia lupakan. Varo segera keluar dari kamarnya menuju kamar Aelesha.
Tok tok tok.
''Ae,'' panggil Varo pelan. Berkali-kali Varo mengetuk pintu namun tak ada sahutan dari dalam. Varo pun langsung memutar knop pintu dan masuk kedalam kamar Aelesha. Namun Ae tidak ada di dalam kamar.
''Kemana Ae?'' gumam Varo. Ia pun segera bergegas keluar dan menuju kamar Vanya.
Tok tok tok.
''Vanya,'' panggil Varo dari luar.
Ceklek.
''Apa sih Kak. Ganggu orang aja,'' ujar Vanya dengan muka bantal khas bangun tidur.
''Kamu baru bangun?'' tanya Varo menggeleng-gelengkan kepalanya.
''Hem, Kakak ganggu aja,'' Vanya menyebikkan bibirnya karna kesal.
''Ya ampun anak gadis jam segini baru bangun, jodohnya di patok ayam kapok kamu,'' ujar Varo.
''Ish kenapa malah ngomongin jodoh. Kakak kesini mau ngapain sih. Aku tuh mau melanjutkan mimpiku bersama Eun Woo tau. Ganggu aja,'' Vanya terlihat sangat kesal karna Varo mengetuk pintunya di saat ia masih asik-asiknya bermimpi.
''Memangnya kamu udah kenyang sendiri dengan memimpikan orang yang kamu suka, enggak kan? Mending kamu cepat mandi dan ganti baju. Kita cari makan sekarang,'' ujar Varo.
''Aku diet Kak,'' ujar Vanya.
''Nggak usah diet-dietan. Orang tubuhmu aja kayak kacang panjang gitu sok-sokan diet,'' ejek Varo.
''Ihhh Kak Varo,'' pekik Vanya melototkan matanya ke arah Varo.
''Cepet Van, aku udah lapar nih,'' ucap Varo berlalu menuju kamarnya sendiri. Saat ia berjalan menuju kamarnya, ia tak sengaja melihat Aelesha yang baru masuk ke dalam Villa dengan Bima.
''Jadi ini alasannya aku di tinggal?'' batin Varo kesal. Varo diam di tempat melihat Aelesha yang berjalan menaiki tangga. Ia menatap Aelesha dari lantai bawah berjalan ke lantai atas.
''Eh, Pak Varo,'' Aelesha kaget saat melihat Varo bersedekap dada di dekat tangga, lebih tepatnya di dekat kamar Aelesha. Varo hanya menatap Ae dengan tatapan datarnya.
''Ini aku bawain makanan buat Pak Varo,'' ujar Aelesha sambil menyerahkan kantong plastik yang berisi makanan.
''Aku udah kenyang,'' ujar Varo.
''Tapi Kayaknya Pak Varo belum makan deh,'' ujar Aelesha.
''Siapa bilang, aku udah makan kok. Makan hati tiap hari,'' ujar Varo berkata dengan ketus.
''Makan hati? Hati apa?'' Tanya Aelesha yang otaknya belum conect sepenuhnya.
''Ck,''
Ceklek.
Tiba-tiba Vanya keluar dari kamarnya dengan berpakaian rapi.
''Ayo Kak,'' ucap Vanya mendekat ke arah Varo dan Ae. Varo hanya diam saja, masih memandang wajah Ae yang tidak merasa bersalah sedikit pun.
''Pak, di ajakin tuh,'' ujar Ae menyenggol lengan Varo.
''Memangnya kamu nggak ikut. Kan kita udah janjian sejak semalem,'' ucap Varo kepada Aelesha. Aelesha hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
''Ayolah Ae, apa kamu mau jalan sama Bima? Sampai-sampai kamu nggak mau ikut sama aku,'' ujar Varo terlihat kecewa.
''Eng enggak gitu Pak. I iya Ae ikut,'' ucap Aelesha yang tidak tega melihat Varo seperti itu.
Ae, Varo dan Vanya menuruni anak tangga. Vanya berjalan di belakang Ae dan Varo dengan banyak tanda tanya di kepalanya.
''Mau pergi?'' tanya Abi teman Bima.
''Iya Kak. Aku pergi sebentar. Bilangin sama Kak Bima Ya,'' pamit Aelesha.
''Beres, hati-hati ya,'' ucap Abi dan di angguki oleh Aelesha dan Varo.
Mereka pun berjalan menuju arah mobil Varo berada, setelah sampai di dekat mobilnya, Varo membukakan pintu depan.
''Vanya kamu di belakang ya,'' ucap Varo membuat Vanya mau tak mau menganggukkan kepalanya.
''Aku yang di belakang aja Pak,'' ucap Aelesha.
''Kenapa nggak pernah nurut sekali aja sama aku,'' gerutu Varo membuat Aelesha langsung masuk duduk di sebelah kemudi. Varo pun tersenyum tipis.
Setelah Aelesha masuk, Varo pun menutup pintu di sebelah Ae, dan ia juga menyusul masuk ke dalam mobil.
''Mau makan apa?'' tanya Varo sambil menghidupkan mesin mobilnya. Namun tak ada yang menjawab. Ae merasa pertanyaan itu bukan untuknya karna ia baru saja makan. Vanya juga tak ingin menjawab pertanyaan Kakaknya karna ia merasa di mobil itu ia hanya jadi obat nyamuk.
''Kok diem?'' Varo pun mengurungkan niatnya untuk menginjak pedal gas. Ia memperhatikan Ae dan Vanya bergantian.
''Pak Varo tanya sama aku?''
''Kakak tanya sama aku?'' tanya mereka berdua secara bersamaan.
''Ya aku tanya sama kalian, mau makan apa?'' Varo tiba-tiba saja merasa darahnya naik jika bersama dua wanita yang ia sayangi ini.
''Aku udah kenyang Pak, kan baru saja makan,'' ucap Aelesha.
''Aku nurut aja sama Kakak,'' ucap Vanya.
Varo pun menginjak pedal gasnya menuju restoran yang tak jauh dari Villa yang mereka tempati. Sesampainya di restoran Varo memesan banyak makanan.
''Kak, beneran Kakak pesen ini semua?'' tanya Vanya yang melihat meja di depannya penuh dengan makanan.
''Iya, udah cepetan di makan. Keburu dingin nggak enak,'' ujar Varo.
Aelesha hanya menatap makanan yang ada di depannya tanpa ingin menyentuhnya karna ia baru saja makan.
''Kamu pengen yang mana Yang?'' tanya Varo membuat wajah Ae memerah. Di sana tidak hanya mereka berdua, namun juga ada Vanya, adik Varo.
''Kak, aku tanya dari tadi. Siapa gadis ini, kenapa Kakak nggak jawab,'' ujar Vanya menatap Varo dan Ae bergantian.
''Oh iya Kakak lupa. Dia Aelesha, calon Kakak iparmu,'' ucap Varo mengenalkan Aelesha kepada Vanya.
''Dan ini Vanya, adikku Yang,'' ujar Varo mengenalkan Vanya kepada Aelesha. Aelesha mengulurkan tangannya terlebih dulu kepada Vanya. ''Aelesha,'' ucap Aelesha. ''Aku Vanya, adik Kak Varo,'' ucap Vanya.
''Sekarang udah saling kenal kan. Jadi jangan ada yang cemburu-cemburu buta kayak kemarin,'' ejek Varo sambil melirik sekilas kepada Aelesha.
''Ihhh,'' Aelesha mencubit perut Varo dengan kesal. Ia malu karna di sana ada Vanya juga yang mendengarkan ucapan Varo.
''Iya iya Yang ampun, maaf,'' ucap Varo yang merasakan nyeri pada perutnya.
''Jadi kekasih Kakak masih bocah? Sejak kapan Kakak suka sama bocah kayak gini,'' batin Vanya menatap Aelesha tanpa berkedip sekalipun.
*