
Di lain tempat.
Vanya yang belum bisa tidur memilih berjalan menuju balkon kamarnya sambil membawa gitar kesayangannya. Gitar ini yang selalu menemaninya di kala ia sedih dan juga galau. Senar gitar itu pun di petik dengan pelan.
Jrengg.
Bagaimana dengan aku 🎶
Terlanjur mencintaimu 🎶
Yang datang beri harapan 🎶
Lalu pergi dan menghilang🎶
Tak terpikirkan olehmu 🎶
Hatiku hancur karnamu🎶
Tanpa sedikit alasan 🎶
Pergi tanpa berpamitan 🎶
Takkan ku terima cinta sesaatmu 🎶
Sial, sialnya ku bertemu dengan cinta semu🎶
Tertipu tutur dan caramu, seolah cintaiku 🎶
Puas kau curangi aku?🎶
Tes.
Tiba-tiba air matanya menetes begitu saja. Entahlah apa yang di rasakan Vanya saat ini. Namun dadanya terasa sesak saat mengingat Bima yang datang dengan wanita lain dan tidak mengabarinya sama sekali.
''Kenapa aku jatuh hati padanya. Akhhh,, bahkan baru beberapa hari aku mengenalnya. Tapi, perhatian yang selama ini aku rindukan dari Aiden, aku menemukannya di dalam diri Bima. Maka dari itu aku nyaman dengannya,'' batin Vanya.
Ia segera mengusap air matanya yang mengalir di pipi. Tiba-tiba notifikasi di ponselnya membuat ia mengalihkan pandangannya.
Ting.
''Van, udah makan?'' bunyi pesan itu
''Aku dengar ada orang main gitar, apa itu kamu?''
^^^''Iya,'' balas Vanya^^^
''Udah makan belum?''
^^^''Belum,'''^^^
''Makan bareng yuk, aku juga laper belum makan setelah dari rumah Ae tadi,''
Huft, Vanya menghembuskan nafas panjangnya. Antara mau menerima ajakan Bima atau tidak.
^^^''Oke,'''^^^
Akhirnya Vanya menerima ajakan Bima untuk makan bersama.
Vanya pun berganti pakaian sebelum keluar dengan Bima. Setelah selesai, Vanya berpamitan dengan Mama dan Papanya untuk pergi sebentar. Vanya berjalan menuju gerbang rumahnya, di sana Bima sudah berada di atas motornya dan tersenyum manis ke arah Vanya.
''Hai,'' sapa Bima.
Vanya hanya membalasnya dengan senyum tipis, lalu ia naik ke atas motor Bima.
''Mau makan apa?'' tanya Bima sebelum menyalakan motornya.
''Terserah!'' jawab Vanya. Ya, terserah adalah jawaban yang mewakilkan semua jawaban.
''Nggak ada makanan terserah Van. Kamu pengennya makan apa?'' tanya Bima kembali.
''Seafood,'' jawab Vanya singkat membuat Bima hanya menganggukkan kepalanya.
Bima segera menyalakan motornya lalu menancapkan gasnya. Motor yang ia kendarai melaju di keramaian kota, Vanya yang tidak berani memegang pinggang Bima pun hanya memegang ujung jaket milik lelaki itu sambil memejamkan matanya, Vanya berharap Bima tidak menambah laju motornya, karna ia benar-benar takut jika terjatuh.
Ternyata Bima tau apa yang di lakukan Vanya di belakang. Ia ingin sedikit mengerjai Vanya yang terlihat ketakutan.
Brumm.
Bima menambah kecepatan yang berada di tangannya. Namun tidak lama kemudian ia mengerem mendadak.
Bruk.
''Nggak usah ngebut bisa nggak sih,'' gerutu Vanya kesal karna tanpa sengaja ia menabrak tubuh Bima bagian belakang.
''Maaf Van tadi ada kucing lewat,'' ujar Bima beralasan.
''Pegangan Van,'' ucap Bima. Namun Vanya malah memundurkan sedikit badannya agar tidak bersentuhan dengan Bima.
''Bima rese, buat aku ketar ketir aja,'' batin Vanya.
Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di depan restoran seafood yang ada di kota itu. Vanya segera turun dari motor dan di susul Bima.
''Yuk,'' Bima menarik tangan Vanya begitu saja membuat jantung Vanya berdetak lebih cepat. Setelah sampai di dalam, Bima memilih kursi yang jauh dari keramaian.
''Disini lebih nyaman,'' ujar Bima sambil menarik kursi agar Vanya duduk di kursi itu. Namun Vanya lebih memilih duduk di kursi yang lain. Niat hati ingin romantis, namun Vanya tidak bisa di ajak kerja sama.
''Oke, tidak masalah,'' ujar Bima menduduki kursi yang ia tarik tadi.
Di meja itu hanya keheningan. Bima merasa jika Vanya berbeda hari ini. Kemarin-kemarin Vanya asik di ajak bercanda, namun hari ini Vanya terlihat cuek dan dingin.
''Van, kamu mau pesan apa?'' tanya Bima.
''Apa aja, yang penting buat perut kenyang,'' ujar Vanya datar.
''Baiklah, aku yang akan pilihkan. Semoga nanti kamu suka,'' ucap Bima sambil membolak balikkan buku menu yang ada di restoran itu.
Setelah memesan dan menunggu makanannya siap, Bima ingin mengajak Vanya mengobrol seperti kemarin-kemarin. Namun Vanya hanya menanggapinya dengan datar dan lebih memilih fokus pada benda pipihnya.
''Van,'' panggil Bima dengan raut wajah serius. Vanya pun mengalihkan pandangannya dari ponsel ke arah Bima.
''Ya,''
''Kamu kenapa sih? hari ini terlihat beda,'' ujar Bima.
''Engggak kok, biasa aja!'' ucap Vanya mengalihkan pandangannya kembali ke ponselnya.
''Van,''
''Hem, apa?'' tanya Vanya menatap Bima dengan tatapan datarnya.
''Aku mencintaimu,'' ucap Bima. Vanya langsung membeku di tempatnya. Apa ia salah dengar? Atau hanya halusinasi seorang Vanya, entahlah.
''A apa?'' tanya Vanya gugup.
''Aku mencintaimu Van. Aku ingin menjagamu sama seperti Aiden menjagamu dulu. Mungkin rasa ini terlalu cepat tumbuh tapi---'' belum selesai Bima berucap Vanya sudah memotongnya.
''Jangan di teruskan Mas,'' ujar Vanya.
''Why?'' tanya Bima penasaran.
Vanya menghembuskan nafasnya panjang sebelum berkata. ''Sudah cukup kamu membuat ku baper, aku ingin mengakhiri semua ini,'' ujar Vanya tanpa menatap Bima.
''Maksudmu?'' tanya Bima yang belum mengerti maksud ucapan Vanya.
''Fokuslah pada satu wanita Mas. Aku tau kamu tampan, tapi tidak semua wanita mau denganmu,'' ujar Vanya menatap tajam kearah Bima.
''Maksudmu apa sih Van, aku benar-benar tidak mengerti,'' ujar Bima bingung.
''Mas Bima sudah punya kekasih kan? Jadi jangan harap aku mau menjadi yang kedua ataupun yang ketiga di hidup Mas,'' ucap Vanya.
''Kekasih? Kekasih yang mana? sejak lulus kuliah aku bahkan tidak pernah pacaran sampai saat ini. Dan kamu bilang aku punya kekasih, kamu dapat berita seperti itu dari mana sih Van?'' tanya Bima penasaran.
''Udahlah Mas nggak usah mengelak, tadi pagi Mas Bima datang ke nikahan Kakak bersama wanita kan. Kalian juga nampak serasi,'' ujar Vanya yang memperlihatkan kecemburuannya.
''Kamu cemburu?'' tebak Bima sambil tersenyum smirk.
''Cemburu? Ya nggak lah. Ngapain aku cemburu,'' ucap Vanya dengan wajah yang memerah.
''Bilang aja kalau cemburu,'' Bima tersenyum mengejek ke arah Vanya, Vanya pun mendengus kesal.
''Aku nggak cemburu sama sekali!'' ucap Vanya.
''Masa? Kalau aku bener-bener jadian sama wanita tadi bagaimana?'' tanya Bima sambil menaik turunkan alisnya.
''Terserah, aku nggak peduli!'' ucap Vanya bangkit dari duduknya.
''Eh, eh mau kemana Van. Maaf-maaf, aku hanya bercanda. Duduklah, aku belum selesai bicara Van,'' ujar Bima menarik tangan Vanya agar duduk kembali.
''Aku tau kamu juga punya rasa yang sama denganku. Maka dari itu aku harap kamu menerima aku menjadi kekasihmu Van. Aku ingin menjagamu, sama seperti Aiden menjagamu dulu. Aku juga ingin mengenalmu lebih jauh,'' ucap Bima menggenggam tangan Vanya erat.
''Tapi---''
''Aku tidak punya kekasih Van, percayalah. Jika aku berbohong, kamu boleh membunuhku kapan pun itu,'' ujar Bima sambil tersenyum ke arah Vanya, membuat Vanya tak yakin dengan ucapan Bima.
*
*
Malam pertama Ae dan Varo di skip dulu ya. Hahaha😁