
Pagi harinya, Aelesha mengetuk pintu kamar Vanya. Ia ingin mencoba lebih dekat lagi dengan calon adik iparnya itu. Ya, walaupun di dalam hatinya ia ragu Vanya bisa menerimanya atau tidak.
Tok tok tok.
Tok tok tok.
Ceklek, pintu di buka dari dalam. Terlihat penampilan Vanya yang masih sangat acak-acakkan.
''Hem, ada apa?'' tanya Vanya datar.
''Em,, kamu mau nggak jalan-jalan?'' tanya Aelesha .
''Kemana?''
''Ya deket-deket sini aja. Kalau mau aku tunggu di bawah,'' ujar Aelesha.
''Oke, sebentar aku mandi dulu,'' ujar Vanya langsung menutup pintu kamar. Ae hanya menghembuskan nafas panjangnya.
''Semoga dia baik seperti Pak Varo,'' gumam Ae sambil menuruni anak tangga.
Aelesha menunggu Vanya di ruang tamu, ia duduk sambil memainkan ponsel miliknya. Hampir setengah jam Ae menunggu Vanya, dan akhirnya Vanya turun ke lantai dasar.
''Kita mau kemana?'' tanya Vanya yang sudah rapi dan cantik.
''Jalan-jalan yuk, aku bosen di Villa terus,'' ujar Aelesha sambil memakai jaket jeansnya.
''Bawa motor?'' tanya Vanya.
''Iyaa, nih pakai,'' ujar Aelesha memberikan helm kepada Vanya.
''Helm siapa ini?'' tanya Vanya sambil mengerutkan keningnya. Ia tidak biasa memakai barang orang lain.
''Helm Kak Bima, udahlah pakai aja. Orangnya masih tidur kok,'' ujar Aelesha.
''Enggak ahh. Aku nggak biasa pakai barang milik orang lain. Aku nggak usah pakai helm aja deh,'' ujar Vanya. Ae hanya menghembuskan nafas panjangnya.
''Kalau kamu nggak pakai helm bahaya Van. Kalau kita jatuh bisa cidera tuh kepalamu,'' ujar Aelesha.
''Ya udah pakai mobil aja, nggak usah pakai motor. Aku juga nggak biasa naik motor,'' Ucap Vanya dengan sedikit kesal.
''Sabar Ae sabar. Dia calon adik iparmu,'' batin Aelesha.
''Makanya kamu harus cobain. Seru tau naik motor itu,'' ucap Aelesha sambil menarik tangan Vanya.
''Kenapa Kakak bisa jatuh hati sama nih cewek. Astaga aku benar-benar nggak mengerti sama jalan fikirannya,'' batin Vanya.
Setelah sampai di parkiran motornya, Aelesha memakaikan helm ke atas kepala Vanya. Vanya hanya menurut saja sambil memejamkan matanya dan menahan nafasnya.
''Bernafaslah Van,'' ujar Aelesha yang sudah selesai memakaikan helm di kepala Vanya.
Huhh.
''Berat banget nih helm. Pening kepalaku,'' keluh Vanya.
''Nanti lama kelamaan udah biasa Van. Yuk kita berangkat sekarang,'' ujar Aelesha sambil menaiki motornya. Vanya pun ikut naik dan langsung berpegangan dengan pinggang Ae.
Ae melajukan motornya dengan kecepatan rata-rata. Vanya pun menikmati suasana yang berada di sekelilingnya.
''Asik juga ya naik motor. Baru kali ini aku naik motor seumur hidupku,'' ujar Vanya sedikit berteriak.
''Apa katanya, baru kali ini naik motor seumur hidupnya. Omegatttt,'' batin Aelesha.
Ae pun menghentikan motornya di tepi jalan. Tak jauh dari sana ada telaga yang terlihat sangatlah indah.
''Kenapa berhenti?'' tanya Vanya terlihat kesal karna Ae tiba-tiba berhenti.
''Kita lihat dari sini aja. Biasanya lihat dari jauh lebih indah,'' ujar Vanya. Mereka pun duduk di rerumputan hijau dengan pandangan ke arah telaga tersebut.
''Ehm, Ae apa benar kamu murid Kakak?'' tanya Vanya memecah keheningan.
''Iya, aku murid kesayangan Kakakmu,'' ujar Aelesha sambil tersenyum ke arah Vanya.
''Benarkahh? Kok bisaa? Padahal kan Kakak belum lama mengajar di sekolahmu,'' ujar Vanya.
''Iya, baru beberapa bulan ia mengajar di sekolah. Ya awalnya aku hanya iseng-iseng menggodanya. Tapi entahlah, dia malah jadi bucin kayak gini sama aku,'' ujar Ae mengingat kejadian-kejadian saat ia menggoda Pak Varo hingga Pak Varo bucin dengannya.
''Tapi kamu juga suka kan sama Kakakku. Aku nggak akan rela jika kamu hanya mempermainkan Kakak,'' ucap Vanya menatap Ae dengan tajam.
''Awalnya aku biasa saja. Namun lama-kelamaan aku merasa nyaman dekat dengannya. Aku juga merasa cemburu jika dia dekat dengan wanita lain,'' ucap Aelesha.
''Termasuk aku?'' tanya Vanya dengan tatapan menyelidik.
''Ya aku kemarin kan nggak tau kalau kamu adiknya. Dia juga nggak pernah bilang,'' ujar Aelesha jujur.
Vanya hanya menganggukkan kepalanya. ''Apa kamu akan menikah dengan Kak Varo setelah lulus SMA?'' tanya Vanya.
''Aku punya cita-cita, aku masih ingin kuliah di universitas yang selama ini aku cita-citakan. Namun,,,'' Aelesha tak melanjutkan ceritanya. Pandangannya memandang ke arah danau yang airnya berwarna hijau.
''Namun kenapa?'' tanya Vanya yang penasaran.
''Namun kayaknya nggak bisa deh. Pak Varo udah bucin gitu sama aku,'' ujar Aelesha terlihat sedih.
''Memangnya kamu mau kuliah di universitas mana?'' tanya Vanya yang masih kepo.
''Di Universitas xx di Negara S,'' ujar Aelesha.
''Heyyy, itu kampusku dulu. Aku baru saja menyelesaikan S1 ku di sana. Dari kecil aku tinggal di Negara S, namun saat aku menginjak sekolah menengah atas aku pindah kesini. Dan setelah lulus aku kembali lagi ke Negara S,'' ucap Vanya.
''Benarkah?'' tanya Aelesha setengah tak percaya.
''Iya, aku dari kecil ikut Oma di Negara S, di sana sangat menyenangkan. Aku kembali ke Jakarta hanya ingin menemui seseorang,'' ujar Vanya.
''Seseorang? Siapa? Maaf kalau aku terlalu kepo,'' ujar Aelesha.
''Dia,, dia cinta pertamaku waktu SMA dulu. Dan sampai sekarang aku masih sangat mencintainya,'' ujar Vanya tersenyum sambil memandang danau yang berada jauh di sana.
''Kekasihmu?'' tanya Aelesha.
Vanya menggelengkan kepalanya pelan. ''Bukan, dia tidak pernah mengungkapkan rasanya kepadaku, namun aku yakin jika dia juga menyukaiku. Tapi, dia tidak mau menyakiti hati sahabatnya,'' ujar Vanya.
''Maksudnya?'' tanya Aelesha yang tak paham ucapan Vanya.
''Waktu SMA dulu aku bersahabat dengan 2 orang lelaki. Aku pun mempunyai rasa kepada salah satu sahabatku. Namun aku harus memendam rasaku karna sahabatku yang lain menyukaiku dan mengutarakan perasaannya kepadaku. Aku takut jika persahabatan kita hancur hanya demi rasa cinta. Dan ketakutanku akhirnya menjadi kenyataan. Dia yang menyukaiku tau jika aku mencintai orang lain. Dan sejak saat itu, persahabatan kita hancur,'' ujar Vanya dengan mata berkaca-kaca.
Aelesha mengusap pundak Vanya dengan pelan. ''Apa setelah itu kamu masih berhubungan dengan sahabatmu yang kamu cintai itu?'' tanya Aelesha.
Vanya mengangguk pelan. ''Ya, kami masih bersahabat hingga kami lulus SMA. Dan dia juga berjanji akan menemuiku di Negara S saat aku lulus kuliah. Namun, sudah hampir 2 tahun ini kami tidak pernah komunikasi lagi, seakan dia hilang di telan bumi,'' ujar Vanya mulai terisak.
''Mungkin dia sudah lupa denganku,'' ucap Vanya lirih.
''Kenapa nggak kamu coba datang ke rumahnya. Pasti disana kamu dapat jawabannya,'' ucap Aelesha memberi solusi.
''Aku takut Ae, aku takut jika dia sudah mempunyai hidup yang baru,'' ucap Vanya.
''Maksudmu menikah?'' tanya Aelesha, Vanya hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda membenarkan ucapan Aelesha.
*
*