AELESHA

AELESHA
13



Pak Varo pun langsung menancapkan gasnya meninggalkan parkiran sekolah. Jika di bilang ia guru pilih kasih, memang benar jawabannya. Pak Varo lebih mengistimewakan Aelesha, murid cerdas dan cantik yang sudah mencuri hatinya sejak pertama ia melihatnya di lampu merah.


*


Di dalam mobil hanya keheningan yang ada. Ae berperang dengan fikirannya sendiri.


''Murid baru itu kayaknya bucin akut deh sama Pak Varo. Gimana ya jadinya jika Pak Varo bucin sama aku. Pasti dia sakit hati banget, hihihi,'' batin Ae, ia pun tertawa cekikikan sendiri.


''Aelesha, kamu kenapa tertawa sendiri?'' tanya Pak Varo.


''Eh, enggak pa-pa kok Pak,'' ucap Ae.


''Pak, Bapak punya peta nggak sih?'' tanya Ae yang mengeluarkan jurus andalannya.


''Peta? Ya nggak punya lah Aelesha. Saya ini guru Matematika, bukan guru geografi. Memangnya kenapa?'' tanya Pak Varo.


''Agar hatiku nggak tersesat menuju hati Pak Varo,'' ujar Ae tersenyum manis menatap gurunya.


Blushh.


Sudah bisa di pastikan wajah Pak Varo saat ini sudah seperti kepiting rebus.


''Pak Varo, cita-cita Bapak apasih kalau boleh tau?'' tanya Ae lagi.


''Pengusaha,'' ucap Pak Varo seadanya. Ia lebih memilih fokus pada jalanan.


''Tapi kenapa Bapak jadi guru?'' tanya Ae.


''Ya, itu juga salah satu cita-cita saya,'' ucap Pak Varo.


''Kalau Ae cita-citanya pengen jadi Dokter Pak, tapi---'' Ae menggantungkan ucapannya.


''Tapi apa?'' Pak Varo langsung menoleh kearah Ae karna penasaran.


''Tapi setelah kenal Bapak cita-cita Ae berubah. Berubah pengen jadi istri Bapak,'' ucap Ae enteng tanpa beban sekaligus. Berbeda dengan Pak Varo yang sudah spot jantung sejak tadi.


''Aamiinn,'' ucap Pak Varo.


''Kok di aamiinin sih Pak! Itu kan cuma gombalan,'' ucap Ae berubah kesal karna tak sesuai yang di harapkan. Ia berharap Varo akan baper. Tetapi ternyata Varo malah mengaminkan ucapan Ae.


''Kan kata kamu mau jadi istriku. Ya udah aku aminin, dimana salahnya coba?'' ucap Pak Varo. Ae pun mengerucutkan bibirnya.


''Udah deh, kesel aku sama Bapak,'' ucap Ae menoleh keluar jendela.


''Dia itu lucu banget sihh. Kayaknya otakku udah mulai geser deh, mencintai muridku sendiri,'' batin Pak Varo.


Ae berkali-kali menguap merasakan kantuk yang sangat dahsyat. ''Pak, kalau udah nyampek bangunin Ae ya,'' ucap Ae langsung menyenderkan kepalanya ke pintu mobil lalu ia memejamkan matanya.


''Padahal bengkelnya udah di depan itu, dia malah tidur,'' ucap Pak Varo menggeleng-gelengkan kepalanya.


Varo pun tak tega membangunkan Aelesha. Ia lebih memilih berhenti tak jauh dari bengkel dan di bawah pohon.


''Kamu pasti capek ya, apalagi tadi bantuin saya juga,'' ujar Pak Varo menatap lekad ke arah Ae. Tangannya menyingkirkan beberapa helai rambut panjang Ae yang menutupi sebagian wajahnya.


Tringgg tringgg tringggg.


Bunyi ponsel Ae membuat Varo terlonjak kaget. Begitu juga dengan Ae, Ae langsung terbangun dari tidurnya.


''Kak Bima?'' gumam Ae langsung menggeser tombol warna hijau.


''Halo Kak, ada apa?'' tanya Ae.


''Kamu di mana Ae. Aku di rumahmu sekarang,'' ucap Bima.


''Kak Bima di rumahku, ada apa Kak. Tumben,'' ucap Ae.


''Ya mau main aja sih. Kamu dimana? Apa perlu aku jemput?'' tanya Bima.


''Pak ini di mana sih?'' tanya Ae menoleh ke arah Varo.


''Aku ada di Jalan Xxx Kak, masih mau lihat motor dulu. Cuma bentar doang kok, tungguin Ae ya,'' ucap Ae.


''Nggak mau Kakak jemput?'' tanya Bima.


''Em, nggak usah deh Kak. Aku sama temen ini,'' ucap Ae melirik ke arah Varo.


''Ya sudah hati-hati Ae,'' ucap Bima.


''Oke Kak. Bye,'' Ae langsung mematikan sambungan teleponnya.


''Bengkelnya mana Pak?'' tanya Ae melirik sebelah kiri dan kanan namun tidak ada bengkel.


''Tuh,'' Varo menunjuk ke depan dengan dagunya.


''Ohh, ya udah kita turun disini aja yuk Pak,'' ajak Aelesha tak ingin membuang-buang waktu. Ae dan Varo pun masuk ke dalam bengkel untuk melihat motor Ae.


''Kira-kira berapa hari ya jadinya Mas?'' tanya Ae.


''Mungkin 4 harinan Mbak. Kalau motornya sudah jadi kita pasti hubungi Mbak. Jangan lupa tinggalkan nomor ponselnya ya,'' ujar pemilik bengkel.


''Oke,'' Ae langsung menuliskan nomor ponselnya.


Setelah puas bertemu dengan motornya, Ae dan Varo melanjutkan perjalanan pulang ke rumah mereka masing-masing. Kebetulan rumah Vano melewati rumah Ae.


''Nggak pengen makan dulu?'' tanya Pak Varo.


''Nggak usah Pak. Aku udah di tungguin di rumah,'' ucap Ae.


''Siapa? Pacar kamu?'' tanya Varo penasaran.


''Sahabat almarhum Kakak aku,'' ucap Ae.


''Oh,'' Varo hanya ber oh ria saja. Ia sebenarnya kurang puas dengan jawaban Ae.


Selang beberapa menit, mobil milik Varo sudah sampai di depan gerbang rumah Ae.


''Pak Varo mau mampir dulu?'' tanya Ae.


''Nggak usah, nggak enak sama temen kamu,'' ucap Varo.


''Ya sudah kalau gitu. Makasih ya Pak untuk hari ini,'' ucap Ae tersenyum lalu turun dari mobil Varo. Varo melihat Ae sampai Ae benar-benar hilang dari pandangannya.


Saat ia ingin menginjak gasnya, tiba-tiba ponselnya berbunyi.


''Halo ada apa Ma?'' tanya Varo.


''Kamu dimana Nak? Diva ada di sini,'' ucap Mama Gea.


''Diva? Ngapain lagi dia datang ke rumah Ma. Udah usir aja dia Ma,'' ucap Varo.


''Katanya dia mau nungguin kamu. Mama nggak enak Nak ngusir dia. Ya Mama pura-pura nggak tau aja masalah kalian,'' ucap Mama Gea.


''Varo masih lama Ma pulangnya. Kalau Diva udah pulang kabari Varo ya Ma. Udah dulu Ma, daa,'' ucap Varo langsung mengakhiri panggilannya.


''Apa aku mampir aja ya ke rumah Aelesha, tapi---'' belum sempat Varo melanjutkan bicaranya, terlihat Ae dan Bima keluar dari halaman rumah itu mengendarai motor.


''Mereka mau kemana?'' batin Varo bertanya-tanya. Apalagi Ae hanya memakai celana pendek sobek-sobek di atas lutut dan jaket jeans. Membuat hati Varo memanas.


''Aelesha,'' gumam Varo mengepalkan tangannya erat. Cemburu? Tentu saja. Varo memilih mengikuti mereka daripada pulang ke rumah bertemu dengan Diva.


''Apa aku salah jika aku mencintai muridku sendiri? Apa aku harus mengutarakan isi hatiku ini agar Aelesha tau dan ia tidak akan dekat-dekat lagi dengan lelaki lain. Tapi bagaimana kalau Aelesha malah menolakku?'' banyak pertanyaan yang membuat kepalanya terasa mau pecah.


''Ckkk, kenapa juga harus muridku sih. Ya Tuhan, apa nggak ada wanita lain selain muridku sendiri yang mampu membuat hatiku ini gonjang ganjing seperti ini. Aku takut jika rasa ini salah Tuhan. Aku harus bagaimana?'' ucapnya.


*


*