AELESHA

AELESHA
58



''Mas laperr,'' rengek Ae saat sudah selesai memakai bajunya.


''Mau makan di bawah apa suruh Bibi antar kesini?'' tanya Varo kepada istrinya.


''Aku nggak bisa jalan Mas, rasanya sangat sakit jika di buat jalan. Tapi kalau aku nggak keluar kamar, pasti Mama curiga,'' ucap Aelesha.


''Udah nggak pa-pa, biar aku yang bilang sama Mama. Mama pasti ngerti kok, mereka juga pernah muda,'' ucap Varo. Ae hanya mengangguk saja. Varo pun segera mengambilkan makanan untuk sang istri.


Varo menuruni anak tangga menuju ke ruang makan. Di sana sudah tidak ada siapa-siapa selain Bibi yang tengah membersihkan meja makan.


''Pagi Den Varo, apa Den Varo mau sarapan?'' tanya Bibi.


''Aku mau ambil sarapan Bi. Aelesha lagi nggak enak badan, jadi hari ini aku sarapan di kamar saja bersama Ae,'' ucap Varo.


''Biar Bibi ambilkan Den, sebentar,'' ucap Bibi langsung mengambilkan 2 piring makanan untuk Tuan mudanya. Varo pun mengetukkan jarinya di atas meja sambil menunggu sang Bibi mengambilkan makanan.


''Eh Varo, mau sarapan? Aelesha mana?'' tanya Mama Yuni yang kebetulan lewat ruang makan.


''Iya Ma. Aelesha lagi nggak enak badan Ma. Jadi mau makan di kamar aja,'' ujar Varo.


''Ae kenapa? Dia sakit apa Ro?'' tanya Mama Yuni yang terlihat khawatir. Varo bingung mau menjawab apa. Ia pun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


''Em, i itu----


''Mungkin Ae kelelahan Ma. Biasalah pengantin baru. Mama tidak perlu khawatir seperti itu,'' ucap Papa Rio yang tiba-tiba datang entah dari mana asalnya. Varo pun hanya tersenyum kepada mertuanya itu.


''Ini Den Makanannya,'' ucap Bibi membawa nampan berisi makanan dan minuman.


''Makasih ya Bi. Ma, Pa Varo ke kamar dulu ya. Kasihan Ae pasti sudah sangat lapar,'' ucap Varo meninggalkan kedua mertuanya yang masih menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.


''Mama jangan terlalu khawatir dengan Ae. Ae sudah bersuami Ma. Lihatlah Varo, dia sangat menyayangi istrinya,'' ucap Papa Rio.


Mama Yuni tertegun sebentar. Sebenarnya ia belum rela jika anak semata wayangnya menikah semuda ini. Apalagi jika Ae sampai segera hamil sangat di sayangkan oleh Mama Yuni.


Mama Yuni ingin melihat anaknya sukses, apalagi otak encer yang Ae miliki membuat Ae bisa masuk ke universitas manapun yang ia sukai. Namun, di umurnya yang masih sangat muda, Aelesha sudah terpikat dengan seorang laki-laki anak sahabatnya sekaligus guru matematika.


''Mending sekarang kita jalan-jalan Ma. Hari ini Papa nggak ada jadwal apapun. Papa bisa menemani Mama belanja seharian ini,'' ucap Papa Rio.


Papa Rio sebenarnya tau apa yang ada di fikiran sang istri saat ini. Namun Papa Rio juga tidak ingin egois. Ia ingin melihat anak semata wayangnya bahagia. Walaupun harus menikah muda seperti sekarang ini.


''Beneran Pa?'' tanya Mama Yuni dengan mata berbinar. Pasalnya selama ini Papa Rio jarang ada waktu luang untuk keluarga. Karna ia harus mengurus beberapa perusahaannya.


*


Di dalam kamar, Ae di suapi oleh Varo dengan telaten. Ae seperti seorang bayi besar yang sangat di perhatikan oleh Varo.


''Makan yang banyak, biar nanti malam ada tenaga,'' ucap Varo membuat Ae tersedak makanannya.


uhuk uhuk uhuk.


''Pelan Yang. Nggak ada yang merebut makananmu kok,'' ucap Varo.


''Mas tadi bilang apa? Biar ada tenaga buat nanti malam? Emang nanti malam kita mau ngapain?'' tanya Aelesha yang otaknya mulai bergeser. Biasanya ia selalu pintar, namun kali ini otaknya mungkin belum conect sepenuhnya.


''Debay? Apa itu debay?'' tanya Aelesha.


''Dedek bayi sayang. Katanya mau anak laki-laki. Jadi tiap hari harus bikin dong biar cepet jadi. Nggak kebayang sih betapa tampannya anak kita nanti. Papanya tampan, mamanya cantik,'' ucap Varo.


''Ihhhh, aku masih kecil Mas!'' ucap Aelesha mencubit perut Varo.


''Kecil-kecil gini udah bisa di ajak buat dedek bayi kan. Buktinya tadi malam kamu yang ada di atas,'' ucap Varo tersenyum ke arah Ae. Ae terlihat kesal karna Varo mengingatkan kejadian tadi malam yang sangat memalukan menurutnya.


''Udah, aku udah kenyang,'' ucap Ae yang tidak mau lagi membuka mulutnya.


''Jangan ngambek dong Yang. Masak aku bercanda gini aja kamu ngambek. Nggak lucu tau,'' ucap Varo merasa gemas dengan tingkah Ae.


*


Di lain tempat, saat ini Bima sedang bersama dengan Vanya. Seharian ini mereka akan menghabiskan waktu bersama. Padahal setiap hari mereka bertemu, namum mereka tetap merasa rindu jika tidak bertemu beberapa jam saja.


''Aku sudah bicara dengan orang tuaku. Dan mereka lusa akan kesini,'' ucap Bima.


''Benarkah? tapi bagaimana jika orang tuamu tidak setuju dengan hubungan kita Mas?'' tanya Vanya yang takut jika hubungan mereka tidak di restui oleh kedua orang tua Bima.


''Kamu tenang aja. Mereka pasti setuju kok. Kamu jangan mengkhawatirkan sesuatu yang belum pasti,'' ucap Bima mengelus kepala Vanya yang tengah bersandar di dadanya.


''Mas, aku pengen ke makam Aiden. Apa kamu mengizinkan?'' tanya Vanya yang sedikit takut jika Bima marah.


''Kapan? Aku ikut!'' ucap Bima.


''Bagaimana jika hari ini,'' ucap Vanya.


''Baiklah. Aku juga ingin berterima kasih dan meminta maaf kepadanya,'' ucap Bima.


''Berterima kasih? Meminta maaf? Untuk apa?'' tanya Vanya penasaran.


''Ya aku akan berterima kasih, karna dia mau menitipkan seorang bidadari di hidupku. Dan aku akan meminta maaf karna selama aku menjadi sahabatnya aku banyak menyusahkan dia,'' ucap Bima.


Vanya pun mengangguk. Setelah berganti pakaian, Bima dan Vanya berangkat menuju tpu.


''Assalamualaikum Ai,'' ucap Vanya dengan mata berkaca-kaca.


''Ai, maaf. Aku telah berpaling darimu. Aku akan melanjutkan hari-hariku walaupun itu tanpamu. Aku selalu berdoa agar kamu bahagia di surga. Maaf karna telah mengkhianatimu Ai,'' ucap Vanya dengan suara yang menahan isak tangisnya. Bima yang berada di belakangnya mengusap pundak Vanya.


''Ai, maaf jika selama ini aku selalu merepotkanmu. Maaf jika saat kamu butuh pertolongan aku tidak bisa menolongmu. Semoga kamu tenang di sana Ai. Dan aku ingin meminta restu agar aku bisa meminang wanita bidadari hatimu. Aku berjanji akan melindunginya seperti kamu melindunginya waktu dulu. Aku akan selalu mencintainya, sama seperti dulu kamu mencintainya. Aku berterima kasih banyak untukmu Aiden,'' ucap Bima sambil menabur bunga di atas gundukan tanah makam Aiden.


''Walaupun kamu telah tiada di dunia ini. Tapi di hati kecilku namamu tidak akan tergantikan oleh siapapun Ai. Aku mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu,'' batin Vanya sambil mengusap air matanya.


*


Maaf ya sayang sayangku. Author baru sempat update. Author usahakan update setiap hari ya. Hehe.


See you next episode guys.