
''Aelesha,'' panggil Varo. Ae langsung beralih menatap Varo.
''Kamu nggak pa-pa?'' tanya Varo.
''Aku nggak pa-pa Pak. Maaf,'' ucapnya.
''Kalau boleh tau sebenarnya pria tadi siapa?'' tanya Varo dengan hati-hati.
''Dia pembunuh! Dia sudah membunuh kakakku,'' ucap Ae lirih.
Varo masih mencerna ucapan Ae. ''Kakakmu di bunuh pria tadi?'' tanya Varo memastikan.
''Heem, tepatnya 2 tahun yang lalu. Kakakku di keroyok oleh gengnya. Sampai akhirnya Kakakku meninggal setelah koma 2 hari. Kami kehilangan seorang yang sangat kita cintai Pak, namun apa yang di peroleh seorang pembunuh. Ia masih bisa berkeliaran bebas dan mereka juga bebas melakukan apapun yang mereka mau,'' ucap Ae tak sengaja meneteskan air matanya.
''Tapi kenapa kamu malah baik kepadanya?'' tanya Varo yang masih bingung dengan Ae.
''Siapa bilang? Aku hanya ingin membalas dendam kakakku dengan cara halus,'' ucap Ae langsung mengusap air mata yang menetes di pipinya.
''Apa kamu perlu bantuan saya?'' tanya Varo.
Ae menggeleng. ''Aku bisa sendiri Pak, Kak Bima siap bantu aku,'' ucap Ae.
''Bima? Kenapa harus Bima, kenapa bukan aku Aelesha,'' batin Varo kecewa.
''Tolong antar aku pulang ya Pak,'' ucap Ae.
''Oke,'' ucap Varo langsung membayar makanannya.
Di perjalanan hanya keheningan yang ada. Varo lebih memilih diam. Ia sedikit kecewa dengan Ae.
''Berhenti di depan gerbang warna putih Pak,'' ucap Ae.
Varo menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang warna putih. Ia pun ikut turun.
''Bapak mau mampir dulu? Kebetulan Mama ada di rumah,'' ujar Ae.
''Oke, sekalian bantu jelasin ke Mama kamu,'' ucap Pak Varo. Ae hanya mengangguk saja. Toh Varo adalah gurunya. Mana mungkin Mamanya berprasangka buruk.
''Ma, Mamaaa,'' teriak Ae memanggil Mamanya.
''Iya Nak. Tumben udah pulang jam segini?'' tanya Mama Yuni mendekat. ''Eh ini siapa?'' tanya Mama Yuni yang melihat Varo berdiri di belakang Ae.
''Kenalin Ma, dia Pak Varo, guru Ae di sekolah,'' ucap Ae mengenalkan Varo.
''Owalah guru kamu toh. Mama kira pacar kamu,'' ujar Mama Yuni. Ae hanya melebarkan matanya ke arah Mamanya yang hanya ngasal berbicara.
''Siang Bu, saya Varo. Guru matematika Aelesha di sekolah,'' ucap Pak Varo mengenalkan dirinya.
''Saya Yuni, Mama Ae,'' ucap Mama Yuni berjabat tangan dengan Pak Varo.
''Eh, siku kamu kenapa Nak?'' tanya Mama Yuni yang tak sengaja melihat siku Ae yang di plester.
''Biasa Ma, nyungsep,'' ucap Ae santai.
''Kok bisa? Terus motor kamu di mana? Mama nggak denger suara motor kamu loh ini tadi,'' ucap Mama Yuni.
''Motor di bengkel Ma,'' ucap Ae.
''Ya ampun Ae. Kok bisa sih. Papa harus tau, biar kamu nggak di bolehin lagi bawa motor,'' ucap Mama Yuni mengomel.
''Ae nggak pa-pa Ma. Tadi itu nggak sengaja nyium pantat mobil yang ada di depan,'' ucap Ae.
Mama Yuni pun tak percaya dengan ucapan Ae. Pak Varo pun angkat bicara. Ia menjelaskan secara rinci kejadian tadi pagi kepada Mama Yuni.
''Astaga Ae. Gimana kalau nggak ada Pak Varo. Pasti kamu udah di bawa ke kantor polisi,'' ucap Mama Yuni.
''Terima kasih ya Pak. Maaf jika Ae membuat anda kerepotan,'' ujar Mama Yuni.
''Oh tidak Bu. Ae kan murid saya juga. Itu sudah tanggung jawab saya untuk saling membantu,'' ucap Pak Varo.
''Iya Bu sama-sama. Kalau gitu saya pamit dulu, cepet sembuh Aelesha. Besok pelajaran saya kamu harus masuk,'' ucap Varo.
''Siap Pak,'' ucap Ae. ''Hati-hati Pak Varo,'' ucap Ae melambaikan tangan ke arah Varo yang sudah berjalan menjauh.
Varo hanya tersenyum tipis. ''Murid kesayangan,'' gumamnya sambil membuka pintu mobil.
*
Malam harinya Ae terlihat kesakitan dengan perutnya. Rasa nyeri pada perutnya kembali menerpa. ''Aw, kenapa sakit banget sih,'' gerutu Ae.
Ting.
Bunyi pesan masuk ke dalam ponsel milik Ae. Ae segera melihat siapa yang mengiriminya pesan. Ternyata pesan itu dari Vincent. Ae mengurungkan niatnya untuk membuka pesan itu.
Ting.
Ponsel Ae kembali berbunyi. Ae membiarkan ponselnya berada di atas ranjang. Ia tak ingin menyentuhnya.
Tringg tringgg tringgg.
Kali ini bukan hanya bunyi pesan, namun telepon dari nomor yang tak di kenal.
''Ini nomor siapa sih? Apa salah satu teman Vincent ya gara-gara pesannya nggak aku buka,'' gumamnya. Ia pun malas mengangkat telepon dari nomor yang tidak di kenalnya.
Ae kembali mengusap-usap perutnya dengan pelan, berharap rasa sakit pada perutnya segera reda. Namun rasanya percuma, rasa sakit yang ada pada perut Ae semakin lama semakin menjadi-jadi.
Tok tok tok.
''Non Ae, apa Nona sudah tidur?'' terdengar suara Bi Nur dari arah luar. Ae dengan menahan sakit membuka pintu.
''Ada apa Bi?'' tanya Ae bersikap biasa saja. Ia tidak mau semua orang melihatnya kesakitan.
''Ini ada titipan obat dari pria yang tadi siang kesini. Katanya jangan lupa di minum Non,'' ucap Bi Nur.
Ae pun menerima kantong plastik yang berisi obat pereda nyeri itu.
''Apa orangnya sudah pulang Bi?'' tanya Ae.
''Sudah Non, baru saja pulang. Katanya Pak Tedjo Non Ae nggak angkat teleponnya. Makanya pria tadi menitipkannya di pos satpam,'' ucap Bi Nur.
''Apa jangan-jangan nomor baru tadi ya,'' batinnya.
''Ya udah Bi. Makasih ya,'' ucap Ae lalu menutup pintu kamarnya. Ae segera mengecek ponselnya.
''Aelesha, obatmu tertinggal di mobil saya. Ini saya ada di depan rumahmu. Keluarlah,'' isi pesan tersebut.
Ae tak sadar menyunggingkan bibirnya.
''Perhatian banget sih guru tampanku,'' ucap Ae tersenyum bahagia. ''Eh, tapi kenapa aku seneng banget ya. Padahal kan memang seharusnya seperti itu,'' ucap Ae setelah sadar dengan apa yang di ucapkannya tadi.
''Terima kasih Pak,''' balas Ae ke nomor yang tak di kenal tadi.
Ae segera meminum obat yang di antarkan oleh Varo barusan. Setelah meminum obat, ia naik ke atas ranjang dan persiapan untuk tidur.
*
Pagi hari pun menyapa, Ae merasakan tubuhnya yang terasa remuk setelah jatuh dari motor kemarin. Tapi bukan berarti ia harus bolos sekolah lagi. Ia ingin berterima kasih secara langsung kepada guru tampan yang sering ia gombali itu.
''Semangat Ae, semangat,'' Ae turun dari ranjang lalu berjalan menuju kamar mandi. Hanya gosok gigi dan cuci muka itulah yang di lakukan Ae sebelum sekolah.
Setelah semua perlengkapan sekolahnya sudah siap, ia turun dan berjalan menuju ruang makan. Di sana hanya ada Bi Nur yang mempersiapkan makanan di atas meja.
''Mama mana Bi?'' tanya Ae penasaran. Biasanya Mamanya selalu ada di meja makan saat sarapan pagi.
*