AELESHA

AELESHA
39



Aelesha langsung keluar begitu saja dari ruangan Varo. Ia kembali ke parkiran, lalu melajukan motornya pergi dari rumah sakit itu.


''Kenapa harus aku yang kamu lupakan, kenapa?'' tangis Ae pecah saat mengendarai motornya. Ia begitu sakit hati saat Varo benar-benar tak mengenalinya. Apalagi Varo hanya mengingat orang lain yang akan menjadi calon istrinya, bukan dirinya.


''Aku tau aku yang salah disini. Tapi kenapa balasannya lebih pedih seperti ini,'' ucapnya.


Aelesha menghentikan laju motornya di sebuah taman yang lumayan sepi. Ia turun dari motornya lalu duduk di kursi panjang yang ada di taman itu. Ia duduk merenung seorang diri, ingatan saat-saat ia bersama dengan Varo pun teringat kembali.


''Apa aku harus menyerah? Merelakan kamu dengan orang lain?'' batinnya.


Sesaat kemudian, hujan turun dengan derasnya. Ae yang memang fikirannya kacau pun membiarkan air hujan membasahi dirinya.


Setelah lama merenung dan hujan pun mulai reda, Ae bergegas pulang ke rumahnya. Di rumah sudah ada Mama dan Papanya yang mengkhawatirkan keadaannya.


''Kamu dari mana aja sih Ae? Mama bener-bener khawatir sama kamu,'' ujar Mama Yuni.


''Biarkan Ae mandi dan ganti baju terlebih dulu Ma,'' ucap Papa Rio.


Aelesha tak menanggapi ucapan mereka, ia memilih berjalan menuju kamar dengan raut wajah yang tidak terbaca.


''Pa, gimana kalau Aelesha kenapa napa. Lihatlah, dia seperti orang yang bingung Pa. Mama tau ini pasti tidak mudah untuk Aelesha, Varo benar-benar tidak mengenalinya,'' ucap Mama Yuni yang menatap anaknya dengan tatapan prihatin.


Sesampainya di kamar, Aelesha langsung bergegas ke kamar mandi dan berendam di sana. Ia memikirkan bagaimana caranya agar Varo bisa mengenalinya.


Ae pun teringat pada foto kebersamaan mereka yang berada di puncak.


''Aku harus bawa foto itu ke rumah sakit. Aku harap ingatannya akan segera kembali setelah melihat foto itu,'' ucap Ae langsung bangkit dari bathup. Ia pun langsung berganti pakaian dan bergegas ke rumah sakit.


''Ae kamu mau kemana?'' tanya Mama Yuni penasaran.


''Ae mau ke rumah sakit Ma,'' ucap Aelesha tanpa ingin berkata-kata lagi.


Ia pun langsung menancapkan gasnya menuju rumah sakit. Sesampainya di sana, Ae langsung menuju ruang rawat Varo, sebelum masuk ke dalam ruangan ia mengetuk pintu terlebih dahulu.


Terdengar suara sahutan dari dalam ruangan menyuruh Ae masuk. Disana terlihat ada Mama Gea, Papa Rayan dan Vanya yang sedang mengobrol santai dengan Varo.


''Eh Aelesha, sini Nak,'' ucap Mama Gea.


''Kamu ngapain kesini lagi?'' tanya Varo yang terlihat jijik melihat Aelesha masuk ke dalam ruang rawatnya lagi.


''Aku aku---''


''Biar kalian nyaman ngobrolnya, kami tunggu di luar ya,'' ujar Mama Gea dan di angguki oleh Papa Rayan. Mereka bertiga keluar dari ruangan, dan hanya menyisakan Varo dan Aelesha saja.


Varo masih menatap lekad Aelesha yang menundukkan wajahnya. ''Kamu ngapain kesini lagi,'' sentak Varo yang melihat Ae diam saja. Ae pun sontak kaget dan menatap ke arah Varo.


''Apa kamu benar-benar tak mengingat aku?'' tanya Aelesha.


''Ya, aku benar-benar tidak mengingat orang yang tidak penting di hidupku,'' ucap Varo terlihat acuh.


''Tidak penting? Aku akan memperlihatkan sesuatu agar kamu ingat denganku,'' ucap Aelesha membuka ponsel miliknya dan memperlihatkan foto kebersamaan mereka.


''Aku tidak mengeditnya Pak, ini asli,'' ucap Aelesha.


''Pak? Kamu panggil aku Pak? Kamu kira aku ini Bapak-bapak?'' ucap Varo terlihat kesal saat Ae memanggilnya Bapak.


''Karna kamu guruku di sekolah!'' ucap Aelesha.


''Aku gurumu? Berarti kamu muridku dong. Nggak mungkin lah aku menyukai bocil sepertimu,'' ujar Varo tersenyum mengejek ke arah Ae.


Ae pun menghembuskan nafasnya kasar. Sejenak kemudian, ia memikirkan cara lain agar Varo mengingatnya. Ae pun mengeluarkan jurus-jurus andalannya.


''Ikatan hati kita bagai ikatan kovalen antar senyawa, sulit di pisahkan oleh reaksi apapun,'' ucap Aelesha membuat Varo menatap Ae dengan tatapan tak terbaca.


''Kamu ngomong apa sih. Lama-lama sama kamu, aku jadi gila. Nggak mungkin kan aku tertarik dengan wanita penggombal sepertimu. Mending kamu pulang deh, aku mual lihat wajah kamu,'' ucap Varo tanpa beban sedikit pun.


''Pak, tapi aku benar-benar calon istrimu. Kenapa kamu nggak ingat sama sekali denganku?'' ucap Aelesha dengan mata berkaca-kaca.


''Kamu nggak usah ngawur deh, mending kamu pulang, besok kan harus sekolah,'' ucap Varo dengan tatapan mengejek.


''Pak---''


''Aku mau istirahat, pulanglah. Jangan menemuiku lagi,'' ujar Varo membelakangi Aelesha. Aelesha yang di usir oleh Varo hanya bisa menangis. Hatinya sangat sakit melihat seseorang yang pernah dekat dengannya menjadi tidak mengenalnya seperti ini.


Aelesha bangkit dari duduknya. Ia melihat ke arah Varo yang tengah memejamkan mata, tanpa berbicara Ae langsung pergi dari ruangan Varo. Varo yang mendengar Ae menutup pintu langsung membuka matanya kembali. Ia menatap langit-langit ruang rawatnya dengan tatapan kosong, entahlah apa yang tengah di fikirkan oleh Varo, hanya Varo yang tau.


Setelah sampai di rumah, Ae menumpahkan semua tangisannya.


''Maafkan aku Pak, maafkan aku. Mungkin ini memang karmaku yang harus aku tanggung karna telah menyakitimu,'' ucap Aelesha sambil menatap ponselnya yang terdapat foto Varo di dalamnya.


''Aku rindu kamu yang selalu perhatian, aku rindu pertengkaran-pertengkaran kecil denganmu Pak, aku juga rindu menggombal dan mengerjaimu,'' ujar Aelesha dengan isak tangis yang semakin keras.


Tubuhnya meringkuk di atas ranjang king size miliknya. Aelesha tiba-tiba terbawa ke alam mimpi. Di sana ia bermimpi jika Varo menikah dengan wanita lain yang jelas bukan dirinya. Varo tengah tersenyum bahagia dengan pasangannya saat ini. Hati Ae terasa sesak melihat Varo bersanding dengan wanita lain. Dan pada akhirnya ia tak kuat melihat Varo bahagia, ia memilih berlari pergi jauh dari keramaian itu.


''Pak Varo kamu jahat!!!!'' teriak Aelesha yang terus berlari tanpa tau arah.


Hingga pada akhirnya ia,,,


Brukkk.


Kepalanya membentur meja yang ada di dekat ranjangnya. Ae bermimpi jika ia terjatuh saat berlari, namun mimpi itu menjadi kenyataan untuknya. Ia pun terjatuh dari atas ranjang miliknya.


''Aww, shhhh, gara-gara Pak Varo nih. Ngapain juga dia datang di mimpi aku kayak gitu. Apa mungkin---'' Ae menjeda kalimatnya. Ia menduga yang tidak-tidak tentang Varo.


''Kata orang kalau mimpi meninggal malah panjang umur, berarti kalau aku mimpiin dia menikah dan bahagia, itu artinya ia tidak akan menikah dengan orang lain dong. Iya bener, pasti kayak gitu,'' ujar Aelesha dengan senyum terbit di wajahnya.


*


*