
Di ruangannya, Varo menatap pintunya dengan intens. Ia sangat berharap Aelesha akan segera menemuinya. Namun hampir setengah jam ia menunggu, Aelesha belum juga menampakkan batang hidungnya.
''Semarah itukah kamu denganku Ae?'' batin Varo.
Di kelas.
Ae memilih fokus pada benda pipihnya. Ia akan berbicara jika ada pertanyaan dari para sahabatnya.
''Jadi selama 1 minggu ini kamu tinggal di rumah Alvarendra, artis terkenal itu?'' tanya Wilo dengan raut wajah tak percaya.
''Hem, walaupun dia artis terkenal tapi dia sangat baik,'' ujar Aelesha.
''1 minggu kamu menghilang rasanya separuh hidupku juga ikut menghilang Ae,'' ujar Zelo yang terdengar seperti gombalan.
''Atututu, belajar ngegombal dari siapa sih?'' mendengar ucapan Zelo, Aelesha langsung meletakkan ponselnya lalu ia mencubit kedua pipi milik Zelo.
''Ishh, orang beneran juga,'' ucap Zelo sambil mengerucutkan bibirnya.
''Gimana kalau nanti kita hangout, udah lama kan kita nggak naik motor bareng-bareng,'' ujar Zehan memberi ide.
''Boleh, ajak anak-anak juga ya. Aku mau traktir kalian semua,'' ucap Aelesha.
''Beneran ajak anak-anak nih? Wahh asik makan gratis. Aelesha udah tajir melintir nih sekarang, karna gebetan barunya seorang artis,'' ujar Zehan bersemangat.
Mereka tidak tau jika di seberang meja ada yang merekam percakapan mereka.
''Jadi Ae punya gebetan baru? itu artinya Pak Varo single dong. Wah aku harus tepe-tepe (tebar pesona) nih sama dia,'' batin Deena tersenyum licik.
''Heh jangan bicara sembarangan, gimana kalau ada yang dengar dan salah faham,'' ujar Aelesha.
''Iya-iya maaf, kan cuma bercanda,'' ujar Zehan.
*
Jam istirahat pun telah tiba, Ae dan gengnya berjalan menuju kantin. Namun saat melewati ruang guru, Pak Varo sudah bersedekap dada di dekat pintu.
''Aelesha,'' panggil Pak Varo.
''Ya Pak,'' jawab Aelesha sambil menoleh ke arah Varo.
''Apa kamu lupa dengan ucapan saya tadi?'' tanya Varo merasa geram dengan sikap Aelesha.
''Oh iya saya lupa Pak,'' ucap Aelesha dengan santainya.
''Ke ruangan saya sekarang!'' ucap Varo tanpa ingin di bantah. Aelesha pun mengikuti Varo dari belakang. Sesampainya di ruangan, Ae duduk di depan kursi Varo.
''Aelesha, kenapa kamu tadi pagi datang terlambat?'' tanya Varo yang wajahnya sudah tidak setegang tadi.
''Tadi malam begadang Pak, jadi bangun kesiangan,'' ucap Ae beralasan.
''Begadang?'' tanya Varo tak percaya, bagaimana ia percaya jika Ae begadang. Pesan yang ia kirim tidak satu pun di balas oleh Aelesha.
''Kenapa pesanku nggak ada yang kamu baca dan kamu balas?'' tanya Varo menatap Ae dengan tajam.
''Karna itu semua tidak penting bagi saya Pak,'' ucap Aelesha formal.
''Ck, aku calon suamimu Ae. Dan kamu bilang itu semua tidak penting? Oke, kalau kamu masih marah sama aku nggak pa-pa. Tapi setidaknya balas pesanku, aku khawatir sama kamu Ae,'' ucap Varo.
''Tidak ada yang perlu di khawatirkan Pak,'' ucap Aelesha santai
Pak Varo hanya bisa menjambak rambutnya dengan kasar. ''Kamu kenapa jadi gini sih Ae. Aku merasa benar-benar seperti tidak mengenalimu,'' ucap Pak Varo.
''Kalau tidak ada lagi yang ingin anda tanyakan saya permisi Pak,'' ucap Aelesha bangkit dari duduknya. Rasa kecewanya terhadap Varo karna telah membentaknya waktu itu masih membekas di hatinya.
''Tunggu! Nanti setelah pulang sekolah aku akan ke rumahmu. Agar masalah ini cepat selesai Ae,'' ucap Varo.
''Maaf, saya sibuk Pak,'' ujar Aelesha langsung keluar dari ruangan Varo.
''Aeleshaa, kenapa kamu jadi begini Ae?'' batin Varo yang merasa kecewa kepada dirinya sendiri karna telah membentak Ae di depan banyak orang waktu itu.
Bunyi pesan membuat Ae menghentikan langkahnya.
📥''Sepulang sekolah jalan yuk, aku bosen di apartemen sendiri,'' bunyi pesan itu.
📤''Kemana?'' tanya Aelesha.
📥''Ya cari makan atau sekedar jalan-jalan,'' ujar lelaki itu.
📤''Oke Kak,'' ucap Aelesha mengiyakan pesan itu.
📥''Nanti aku tunggu di depan gerbang sekolah ya😊,'' ucap lelaki itu dengan emoticon senyum.
📤''Oke,'' ucap Aelesha.
Aelesha langsung memasukkan kembali ponsel ke dalam sakunya. Ia berjalan menuju kantin karna perutnya minta di isi.
''Ngapain kamu di panggil Pak Varo?'' tanya Wilo yang sudah kepo sejak tadi.
''Bahas tadi pagi gara-gara aku telat,'' ucap Aelesha yang langsung duduk di sebelah Wilo.
''Nanti jadi kan?'' tanya Wilo lagi.
''Jadi, tapi nanti malam ya. Aku ada acara nih sehabis pulang sekolah,'' ucap Aelesha.
''Acara apa? Sama Pak Varo kah?'' tanya Zelo yang juga ikut kepo.
''Enggak, sama Kak Al,'' ucap Aelesha sambil meminum es Jeruknya.
''Ya ampun Ae, gimana kalau Pak Varo tau?'' ucap Zehan.
''Ya emang kenapa kalau dia tau. Bukan urusanku juga. Aku udah nggak ada hubungan apa-apa lagi sama dia,'' ucap Aelesha seperti sudah mati rasa.
''Ae jangan gitu lah. Kamu loh yang udah buat Pak Varo kayak gitu,'' ucap Wilo.
''Memangnya kenapa? Bukankah di suatu hubungan putus itu sudah hal yang biasa?'' ucap Ae santai seperti tidak ada beban sedikitpun.
''Ya sudah, terserah kamu saja. Pesanku cuma 1, jangan menyesal jika orang itu benar-benar pergi,'' ucap Wilo.
''Menyesal? hatiku bahkan mati rasa saat berdua dengannya. Entahlah kenapa hati ini bisa sebenci itu dengannya. Aku hanya berharap aku bisa melupakan semua tentangnya,'' batin Aelesha.
*
Jam pelajaran pun berakhir, kali ini Ae pulang lebih akhir karna ia tak ingin di lihat oleh murid lain jika ia akan jalan dengan artis yang saat ini sedang naik daun.
Saat di rasa sudah sepi, Ae baru saja keluar dari ruang kelasnya. Ia berjalan menuju parkiran tempat motor kesayangannya berada.
Aelesha pun memakai helm lalu menaiki motornya, semua itu tak luput dari pandangan Varo yang saat ini tengah berada di dalam mobil.
''Kenapa dia pulang lebih akhir? Apa yang sebenarnya ia lakukan?'' batin Varo merasa curiga dengan Aelesha. Varo pun mengikuti Ae dari belakang. Saat Ae sudah keluar dari gerbang, Varo melihat ada seseorang yang tengah bercakap-cakap dengan Ae yang memakai motor dengan merk yang sama dengan Aelesha.
''Dia siapa?'' batin Varo.
Saat Ae dan Al melajukan motornya masing-masing, Varo mengikuti mereka dari belakang. Ia penasaran, siapa lelaki yang tengah bersama Ae itu.
Mereka pun membelokkan motornya ke pusat perbelanjaan yang ada di kota itu. Varo masih setia mengikuti mereka. Saat Ae dan Al memarkirkan motornya, Varo menghentikan mobilnya dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Ia ingin melihat wajah orang yang tengah bersama calon istrinya itu.
Al pun melepas helm yang berada di kepalanya. Lalu ia memakai topi hitam, kaca mata hitam dan juga masker. Varo pun mengerutkan dahinya saat melihat orang itu.
''Kenapa dia sangat tertutup? Apa dia seorang penjahat yang menjadi incaran polisi?'' batin Varo menduga-duga.
*
*
''