
Hari pun telah berganti, hari ini Varo dan Ae memilih jalan-jalan keliling kota sebelum mereka meninggalkan kota itu. Mereka pun berencana mampir ke rumah Mama Gea dan Papa Rayan sore hari.
''Ke rumah Mama sama Papa di bawain apa Mas?'' tanya Aelesha kepada Varo.
''Mama suka sate yang ada di dekat pertigaan jalan xx Yang, bawa itu aja mereka pasti suka,'' ucap Varo.
''Ya udah kita beli satenya,'' ucap Aelesha.
Varo pun menancapkan gasnya menuju jalan xx. Sesampainya di sana Ae turun dari mobil lalu membeli sate yang di sukai oleh mertuanya.
''Mang, 50 tusuk ya,'' ucap Aelesha.
''Apa nggak kebanyakan Yang?'' ucap Varo yang merasa pesanan Ae terlalu banyak.
''Nanti di bagi-bagi Mas. Rumah Mas juga deket sama rumah Kak Bima. Nanti kalau nggak habis di bagi sama Kak Bima juga,'' ujar Aelesha.
''Oke deh,'' ucap Varo mengiyakan saja, daripada ribut dengan Aelesha hanya masalah sate. Padahal 50 tusuk sangatlah banyak. Biasanya Mama Gea habis 5 tusuk itu saja sudah paling banyak. Malah Aelesha pesan 50 tusuk, pikir Varo.
Setelah membeli sate, mobil mereka pun langsung melaju menuju rumah Mama Gea. Di perjalanan banyak obrolan-obrolan kecil yang mereka ciptakan.
''Kalau kamu pengen punya anak berapa Yang?'' tanya Varo.
Ae mengangkat 2 jarinya. ''2 aja, tapi cowok semua,'' ujar Aelesha.
''Why?'' tanya Varo penasaran dengan jawaban Aelesha.
''Jadi cewek ribet. Biar Mamanya aja yang cewek, yang paling cantik di rumah,'' ujar Aelesha tersenyum tanpa dosa ke arah Varo.
''Jadi Mamanya nggak mau ada saingan nih?'' tanya Varo dengan nada meledek.
''Enggak gitu Mas. Punya anak laki-laki itu ada istimewanya sendiri. Dan kalau bisa aku ingin punya anak laki-laki 2 aja,'' ujar Aelesha.
''Baiklah-baiklah. Selesai haid langsung gas buat baby cowok,'' ujar Varo langsung mendapat cubitan di perut dari Aelesha.
''Ishh,'' Aelesha mendengus kesal kearah Varo. Pasti pembicaraan Varo berakhir tentang hal mesum seperti itu, pikir Aelesha.
''Lihatlah,aku pengen punya anak lelaki seperti ini kalau besar. Uhh betapa gemesnya. Iya nggak sih Mas,'' ujar Ae memperlihatkan foto 2 aktor Thailand.
''Hem, iya,'' jawab Varo datar. Ia tak menyangka istrinya akan segila ini dengan aktor Thailand. Mulai dari di dalam kamar terpasang foto Bright dengan ukuran yang lumayan besar. Di ponsel dengan wallpaper foto Bright juga dan sekarang ia menginginkan punya anak seperti Dew dan Juga Nani aktor Thailand yang juga tak kalah dengan Bright.
Varo memijat kepalanya yang terasa cenut-cenut. Ketampanannya tidak ada artinya di mata sang istri. Untung Ae tidak melanjutkan kuliah di negara Thailand. Kalau sampai itu terjadi, entah apa yang akan terjadi dengan rumah tangganya.
Beberapa saat kemudian, mobil yang mereka tumpangi pun sudah berhenti di depan rumah Mama Gea. Aelesha turun sambil membawa sate yang ia bawa tadi.
''Masuk yuk,'' ajak Varo, Ae pun mengangguk sambil melingkarkan tangannya di lengan sang suami.
''Sore Ma, Pa,'' sapa Ae kepada Mama Gea dan Papa Rayan. Ia tak lupa menjabat tangan mertuanya itu dengan takzim.
''Lho, kalian kok nggak bilang-bilang kalau mau kesini. Kan Mama bisa masakin kalau tau kalian mau kesini,'' ujar Mama Gea kaget tiba-tiba anak dan menantunya datang.
''Aku bawa sate kesukaan Mama nih, jadi Mama nggak perlu repot-repot masak,'' ujar Aelesha menenteng kantong plastik yang berisi sate.
''Ya ampun, kok kalian repot-repot sih. Tapi makasih ya udah tau kesukaan Mama. Sini yuk, bantu Mama siapin makan malam sayang,'' ajak Mama Gea kepada Aelesha.
''Baik Ma,'' Aelesha pun mengekor di belakang menuju dapur. Di sana sudah ada beberapa ART yang sedang memasak.
''Bi, ini kenalin menantu Ibu. Namanya Aelesha,'' ucap Mama Gea memperkenalkan Ae kepada asisten rumah tangganya.
''Saya Aelesha Bi,'' ucap Aelesha tersenyum ramah.
''Non Aelesha geulis pisan ya, orangnya juga terlihat ramah. Den Varo nggak salah pilih emang. Beda sama yang kemarin,'' ucap Bi Santi.
''Memangnya kenapa sama yang kemarin Bi?'' tanya Mama Gea penasaran.
''Eh enggak Nyonya,'' Bi santi langsung membekap mulut lemesnya.
''Nggak pa-pa bilang aja. Memangnya kenapa sama yang kemarin?'' tanya Mama Gea penasaran.
Akhirnya Bi Santi dan Bi Marni menceritakan tentang mantan kekasih Varo yang nggak ada sopan-sopannya, mulai dari menyuruh seenaknya bahkan jika Bi Santi atau Bi Marni salah ambil barang ia akan mencaci maki para asisten rumah tangga itu.
''Kenapa Bibi baru bicara sekarang?'' tanya Mama Gea.
''Kami takut Nyonya dan sepertinya Den Varo juga sangat cinta sama Non Diva,'' Ucap Bi Marni.
''Hem, ya sudahlah. Untung Varo tidak jadi menikah dengannya. Aku sangat bersyukur sekali,'' ucap Mama Gea sambil menghembuskan nafas panjangnya.
Setelah cukup lama mengobrol, mereka pun akhirnya menata makanan ke atas meja makan karna hari mulai malam. Aelesha yang tidak pernah masuk ke dapur pun hanya membantu sebisanya.
''Ma, Vanya mana ya? Kok dari tadi aku nggak lihat,'' ucap Aelesha.
''Tadi izinnya keluar sebentar sayang. Tapi udah jam 7 kok belum pulang ya,'' ucap Mama Gea sambil melihat ponselnya untuk menelpon Vanya.
''Akhir-akhir ini Vanya sering keluar Ae. Entah sama siapa. Tapi kalau Mama nggak salah lihat, dia keluar sama rumah depan tuh. Bukannya itu temenmu ya,'' ujar Mama Gea.
''Kak Bima maksud Mama?'' Ae mengeryitkan dahinya. Sejak kapan Bima dan Vanya berhubungan, pikirnya.
''Mama nggak tau namanya. Mama cuma hafal sama mukanya aja,'' ucap Mama Gea.
*
Di lain tempat lebih tepatnya di rumah Bima. Saat ini Bima dan Vanya sedang menikmati menonton film bersama dan juga memakan cemilan.
Mereka begitu mesra setelah Vanya menerima cintanya.
''Udah jam 7 aku pulang dulu ya Mas,'' ujar Vanya.
''Masih jam 7 Van, belum malam. Film nya juga belum selesai,'' ucap Bima yang belum rela jika Vanya pulang sekarang.
''Besok aku kesini lagi ya. Aku pulang dulu,'' Vanya langsung mengecup pipi kanan milik Bima membuat pemiliknya langsung melebarkan matanya.
''Daaa,'' Vanya pun pergi dari rumah Bima dengan sedikit berlari agar Bima tak mengejarnya.
Saat ia menutup gerbang milik Bima, ada sepasang mata yang melihatnya.
''Bukannya itu Vanya, ngapain dia di rumah Bima malam-malam gini,'' batin Varo.
Varo pun langsung bergegas turun dari balkon kamarnya. Ia langsung menuju teras rumahnya dan menyambut adiknya dengan bersedekap dada.
*
*