AELESHA

AELESHA
30



Keesokan harinya.


Ae sudah rapi dengan seragam putih abu-abu yang di pakai di tubuhnya. Tak lupa tas ransel yang berada di punggungnya dan sepatu warna putih menghiasi kakinya. Rambut yang ia kuncir kuda menjadikan leher jenjang milik Ae terpampang nyata.


''Ihhh kenapa kamu secantik ini sih Ae. Pasti Pak Varo tambah cinta sama kamu,'' ujar Ae sambil menghadap ke kanan dan ke kiri di depan kaca.


Setelah siap dengan peralatan sekolahnya, Ae turun ke lantai bawah untuk sarapan dengan kedua orang tuanya.


''Pagi Ma, Pa,'' sapa Ae sambil mencium pipi Mama dan Papanya.


''Pagi sayang,'' ucap Mama dan Papa.


''Tambah hari tambah cantik nih anak Papa,'' puji Papa Rio.


''Iya dongg, siapa dulu Ae gitu loh,'' ucap Aelesha.


''Papa nggak nyangka loh punya anak gadis secantik ini. Sampai guru di sekolahmu ada yang kepincut denganmu,'' ujar Papa Rio yang sudah mengetahui hubungan antara Aelesha dan Varo.


Wajah Ae langsung memerah saat Papa Rio berbicara seperti itu. ''Papa bisa aja deh,'' ucap Aelesha.


''Nanti malam kita di undang makan malam di rumah Varo,'' ucap Mama Yuni.


''Nanti malam?'' tanya Aelesha memastikan.


''Iya nanti malam sayang. Nanti Mama beliin baju yang bagus buat kamu, biar penampilan kamu tambah cantik,'' ujar Mama Yuni.


''Oke Ma, makasih ya Ma,'' ucap Aelesha tersenyum gembira ke arah Mama Yuni.


Setelah selesai sarapan, Ae pamit berangkat ke sekolah dengan mengendarai si hitam kesayangannya.


Sesampainya di parkiran, Pak Varo sudah lebih dulu datang dan menunggu Ae di sana. Ae memarkirkan motornya di tempat biasanya.


''Pagi Yang,'' sapa Aelesha. ''Eh,, pagi Pak,'' Aelesha meralat ucapannya tadi.


''Nih,'' Varo memberikan jaket berwarna hitam kepada Aelesha.


''Jaket? Buat apa?'' tanya Aelesha menerima jaket itu.


''Tutup paha kamu itu, daripada tiap hari aku antar jemput kamu,'' ujar Varo lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Aelesha. Aelesha jelas kesal dengan sikap juteknya Varo hari ini.


Bel masuk pun berbunyi, seperti biasa jadwal pelajaran pertama adalah matematika. Pelajaran yang sangat Ae sukai termasuk dengan gurunya juga. Pak Varo masuk ke dalam kelas dengan wajah datarnya.


''Selamat pagi,'' sapa Pak Varo.


''Pagi Pak,'' ucap semua murid serempak.


''Tugas minggu kemarin silahkan di kerjakan di depan. Setelah kalian kerjakan lalu kumpulkan di meja saya,'' ucap Pak Varo.


Murid yang sudah mengerjakan pun berlomba-lomba untuk maju ke depan. Namun tidak dengan Aelesha. Aelesha hari ini sangat anteng di kursinya, entahlah apa yang ia lakukan, namun Aelesha nampak sibuk dengan buku di depannya.


Kali ini Deena dengan percaya diri maju ke depan. Ia mengerjakan nomor 5 yang kebetulan soalnya memang lumayan mudah. Saat ia ingin mengumpulkan bukunya dan sudah dekat dengan meja Pak Varo, tiba-tiba tubuh Deena oleng dan hampir jatuh, untung Pak Varo dengan sigap menangkap tubuh Deena. Suara sorakan membuat Aelesha menatap ke depan. Hatinya tiba-tiba terasa sakit saat melihat Varo tengah menatap wajah Deena dan begitupun sebaliknya.


''Aduhh nggak punya muka ya, sampai-sampai ke sekolah cuma cari muka,'' ujar Wilo, Varo pun langsung melepaskan tangannya yang berada di tubuh Deena. Untung Deena tidak ambruk ke lantai.


Aelesha hanya tersenyum kecut saat netra mata mereka bertemu.


''Dasar laki-laki sama saja,'' gumamnya. Ia meneruskan apa yang ia kerjakan tadi tanpa peduli di depannya.


''Makasih Pak, untung Bapak menangkap tubuh saya. Kalau tidak, mungkin saya sudah jatuh tadi,'' ujar Deena tersenyum manis ke arah Varo.


''Sama-sama,'' ucap Pak Varo.


Deena pun kembali ke kursinya. Saat ia berjalan di depan Ae ia melirik ke arah Ae dengan senyum mengejek. Untung Ae tidak melihat itu semua, jika ia melihat sudah bisa di pastikan wajah ayu Deena akan berubah wujud pada akhirnya.


''Ayo, masih ada 5 nomor lagi yang belum di kerjakan. Siapa yang mau mengerjakan?'' tanya Pak Varo. Namun tidak ada yang menyahut ucapan Varo. Ae lebih memilih sibuk dengan buku yang ada di depannya.


''Coba kamu kerjakan,'' ucap Pak Varo.


''Maaf Pak. Saya nggak bisa,'' ucap Aelesha tanpa memandang ke arah depan di mana Varo berada.


''Nggak bisa?'' Varo mengeryitkan dahinya. ''Apa kamu tidak mengerjakan tugas yang saya beri kemarin?'' tanya Varo.


''Iya Pak. Saya tidak mengerjakannya,'' ucap Aelesha berbohong. Padahal tugasnya telah selesai di kerjakannya. Walaupun ia tak mengerjakan tugas di bukunya, biasanya Aelesha bisa mengerjakan tugas di depan tanpa melihat buku.


''Kamu berdiri di depan sampai jam pelajaran saya habis,'' ujar Varo. Ae hanya menurut saja, ia tak mempermasalahkan itu semua. Ae berdiri di dekat papan tulis dengan menghadap ke arah teman-temannya. Deena tertawa mengejek saat melihat Ae mendapat hukuman dari Pak Varo.


Ae pun melihat wajah Deena dengan tatapan datarnya. Menurut Ae, Deena bukanlah saingan selevel dengannya.


Beberapa saat kemudian, Ae mendapatkan ide untuk mengerjai guru matematika sekaligus kekasihnya itu.


Ae memegang kepalanya lalu,,,,


Bruk.


''Aeleshaa,'' pekik Wilo yang berada di depan Aelesha.


Semua murid langsung melihat Ae yang jatuh ke lantai. Pak Varo pun langsung menepuk-nepuk pipi Aelesha.


''Ae, Ae bangun Ae. Ae kamu kenapa?'' tanya Pak Varo panik.


''Pak, sebaiknya Queen segera di bawa ke UKS saja,'' ucap Zelo.


Pak Varo langsung menggendong Ae ala bridal style. Setelah di UKS dokter yang biasa berjaga pun tak ada di tempat, Pak Varo langsung menggendong Ae menuju mobilnya.


''Mampus, mau di bawa kemana aku?'' batin Ae masih memejamkan matanya.


Varo pun langsung menancapkan gasnya. Tangan kirinya tak terlepas dari tangan kanan Ae. Varo juga tak henti-hentinya mencium punggung tangan Ae.


''Ae, kamu kenapa sih Yangg,'' gumam Varo.


Ae yang membuka matanya sedikit sangat hafal jika jalan itu jalan menuju rumah sakit. Ia segera bangun dari sandiwara pingsannya.


''Awww shh,'' Ae pura-pura memegang kepalanya.


''Ae, kamu sudah sadar?'' Varo langsung menepikan mobilnya.


''Aku dimana?'' tanya Aelesha pura-pura tidak tau.


''Kita mau ke rumah sakit Ae. Tadi kamu tiba-tiba pingsan,'' ujar Varo.


''Aku nggak pa-pa kok. Aku mau balik ke sekolah,'' ujar Aelesha.


''Tapi aku khawatir dengan keadaanmu Ae,'' ujar Varo.


''Halah bulshitt,'' ujar Ae sambil membuka pintu, namun sebelum Ae membuka pintunya Varo lebih dulu menguncinya.


''Bukain!!'' ucap Aelesha kesal.


''Kamu kenapa sih Yang? Kamu marah sama aku?'' tanya Varo yang belum menyadari jika Ae tengah kesal kepadanya.


''Aku nggak pa-pa. Bukain pintunya, aku mau balik ke sekolah,'' ucap Ae.


''Kalau ada masalah di bicarakan baik-baik, jangan tiba-tiba marah kayak gini. Aku nggak tau salahku di mana Yang,'' ucap Varo membuat Ae bertambah kesal dengan makhluk ciptaan Tuhan yang tidak peka ini.


*


*