
Setelah menemukan hotel untuk mereka menginap, Ae dan Wilo merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang sama. Wilo yang mual akibat naik pesawat sedangkan Aelesha memikirkan sesuatu hal yang tidak akan mungkin terjadi.
''Gimana ya rasanya suatu saat honey moon di tempat ini dengan suami. Pasti seru banget,'' ujar Aelesha tersenyum memandang langit-langit kamar.
Wilo yang mendengar ucapan Ae langsung menoleh menatap Aelesha.
''Queen, kamu nggak sakit kan?'' tanya Wilo meraba kening Aelesha dengan punggung tangannya.
''Ishh, apaan sih Wil. Orang cuma bayangin doang kok,'' ucap Aelesha menyingkirkan tangan Wilo dengan kesal.
''Pasti kamu bayangin kayak gitu sama Pak Varo, iya kan? Ngaku deh,'' ujar Wilo.
''Apaan sih, nggak jelas banget. Aku membayangkan sama suamiku kelak. Bukan sama orang lain,'' gerutu Aelesha.
''Memang kamu udah tau siapa suamimu kelak? Pasti yang ada di fikiranmu saat ini cuma Pak Varo. Aku yakin itu,'' ucap Wilo.
''Benar juga yang di katakan Wilo. Tapi itu kan nggak mungkin, dia udah punya calon istri,'' batin Aelesha merasakan hatinya kembali sakit.
Ae pun turun dari ranjang, ia berjalan menuju jendela kaca dan melihat pemandangan dari jendela itu.
''Aku janji akan melupakanmu Pak. Aku akan memulai hidupku yang baru setelah ini,'' ujar Aelesha dalam hati.
Tok tok tok
Tok tok tok.
''Siapa sih?'' gumam Ae berjalan menuju pintu untuk membukakan pintu.
''Ae, ada kabar yang sangat mengejutkan,'' ujar Zelo.
''Apaan?'' tanya Aelesha penasaran.
''Vincent, Vincent kecelakaan setelah balap motor liar. Dan sekarang kondisinya kritis,'' ucap Zelo.
''Ha?'' Aelesha masih bingung dengan ucapan Zelo.
''Aduh, jangan oneng deh Queen. Masa aku bilang kayak gitu kamu nggak paham?'' ujar Zelo.
''Vincent kecelakaan?'' tanya Ae memastikan.
''Iya, dan sekarang kondisinya kritis,'' ucap Zelo.
''Beneran? Serius kamu?'' tanya Ae lagi, ia sampai melebarkan matanya karna kaget.
''Beneran lah Ae, lihat nih beritanya,'' Zelo memperlihatkan berita yang tengah viral. Pasalnya Vincent adalah anak dari keluarga terpandang di Jakarta, namun nasib baik tak selalu menimpanya. Setelah pertama kali ia mengikuti balap liar, pada saat itulah nyawanya harus ia pertaruhkan.
Ha ha ha ha.
Tawa Aelesha tiba-tiba pecah. Zelo yang melihat pun langsung bingung dengan Aelesha.
''Queen, kamu kenapa?'' tanya Zelo yang sedikit takut karna Ae tak berhenti tertawa.
''Eh, enggak-enggak. Aku hanya bahagia saja,'' ucap Aelesha sambil memegangi perutnya karna terasa kaku setelah tertawa cukup lama.
''Bahagia? Bukankah Vincent selama ini dekat denganmu ya?'' tanya Zelo bingung.
''Kami memang dekat. Karna aku ingin membalaskan dendam yang telah di perbuat olehnya,'' ucap Aelesha enteng.
''Dendam? Dendam apa? Kenapa kami tidak tau?'' tanya Zelo penasaran.
''Karna dia, kak Ai meninggal. Dia yang udah membunuh Kak Ai Zel. Dan lihatlah dia sekarang, dia kritis dan sebentar lagi---'' Ae melambaikan tangannya. ''Good bye dunia, hahaha. Memang karma itu nyata. Dia yang telah menghilangkan nyawa seseorang dan sekarang nyawanya sudah dekat dengan ajal,'' ucap Aelesha tak henti-hentinya tertawa.
''Jadi, kak Ai meninggal di bunuh dia?'' tanya Zelo memastikan. Ae menjawab dengan anggukan kepala.
''Ba baik Queen,'' ucap Zelo mengangguk kepalanya patuh.
Aelesha langsung menutup pintu kamarnya. Ia segera membuka medsosnya dan melihat kronologi kecelakaan yang menimpa Vincent.
''Tuhan itu sangat adil bukan? bukankah nyawa harus di balas dengan nyawa,'' ucap Aelesha sambil tersenyum bahagia.
''Aku tidak perlu mengotori tanganku untuk menghilangkan nyawamu Vincent,'' ujar Aelesha tersenyum dengan sebelah bibir terangkat ke atas.
''Ada apa sih Ae sebenarnya. Kenapa kamu dan Zelo tadi kayaknya lagi heboh banget,'' tanya Wilo yang baru saja keluar dari kamar mandi.
''Enggak pa-pa. Nanti malam, aku akan mengadakan party disini,'' ucap Aelesha dengan tersenyum bahagia.
''Kamu nggak lagi bercanda kan Ae?'' tanya Wilo dengan tatapan menyelidik. Pasalnya tadi saja wajahnya masih kusut karna kebanyakan memikirkan guru matematikanya. Tapi entah angin darimana, nanti malam ia malah membuat party disini.
''Enggak! Aku serius Wil,'' ujar Ae langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
''Acara apa?'' tanya Wilo yang masih penasaran.
''Acara--- ada deh pokoknya,'' ucap Aelesha dengan wajah yang terlihat sangat bahagia.
''Ada apa sebenarnya dengannya. Apa Ae sudah rada-rada konslet ya otaknya karna terlalu memikirkan Pak Varo. Akh kasihan sekali kamu Ae,'' batin Wilo menatap Ae dengan tatapan sedih.
Malam harinya, Ae memesan banyak makanan di restoran yang ada di hotel itu. Di meja mereka banyak lilin-lilin serta minuman yang bermacam-macam rasanya. Padahal yang memakan makanan itu semua hanya 4 orang. Ae, Wilo, Zelo dan juga Zehan.
''Ae beneran ini kamu yang pesan semuanya? Dan kamu juga kan yang akan membayarnya?'' tanya Zehan yang khawatir di kerjain oleh Aelesha.
''Tenang, aku akan membayar semuanya kok. Udah nggak usah khawatir, makanlah sampai perutmu kenyang,'' ujar Aelesha yang duduk di kursinya.
''Kamu nggak lagi ngerjain kita kan. Kita nggak mau ya berakhir cuci piring di belakang,'' ujar Zehan.
''Nggak bakalan. Udah cepetan makan. Banyak omong kamu Han,'' ucap Zelo yang sudah tau sebenarnya.
''Karna hari ini aku lagi bahagia, maka dari itu kalian boleh nambah apapun yang kalian inginkan. Aku siap membayarnya,'' ujar Aelesha tersenyum ke arah sahabat-sahabatnya.
Wilo berbisik kepada Zehan karna merasa aneh dengan sikap Aelesha. ''Kasihan ya Aelesha, pasti dia lagi tertekan banget karna Pak Varo tidak mengingatnya, makanya dia sampai seperti itu,'' bisik Wilo yang di lihat oleh Ae.
''Kenapa kalian bisik-bisik? Lagi ngomongin aku? Ya udah deh terusin!'' ujar Ae dengan muka datarnya. Tak ada tanda-tanda bahwa ia akan marah.
''Noh, coba lihat gerak geriknya. Aneh banget kan,'' ujar Wilo berbisik lagi di dekat telinga Zehan. Zehan hanya menganggukkan kepalanya pelan. Sementara Ae dan Zelo sudah menikmati makanan yang ada di atas meja.
''Kenapa kalian nggak makan, diet kah?'' tanya Zelo.
''Eh, i iya Zel. Kita makan kok,'' ujar Wilo yang langsung mengambil makanan dan memakannya begitu juga dengan Zehan.
''Kalian pasti bertanya-tanya kenapa aku jadi seperti ini,'' ujar Aelesha yang masih fokus pada makanan di depannya.
Wilo dan Zehan hanya saling pandang. Berbeda dengan Zelo yang bermuka santai.
''Sebenarnya itu yang ingin kami tau Queen,'' ucap Zehan sedikit takut.
''Karna aku lagi bahagia makanya aku traktir kalian seperti ini,'' ujar Aelesha.
''Bahagia? Bahagia yang bagaimana? Tadi saja dia masih berandai-andai dengan Pak Varo dan setelah aku dari kamar mandi, tiba-tiba dia cekikikan seperti orang gila,'' batin Wilo.
''Maksudnya apa Queen?'' tanya Zehan yang tidak paham dengan maksud Aelesha.
*
*