AELESHA

AELESHA
23



''Tante tau tempatnya?'' tanya Varo.


''Setau Tante kalau dulu Aiden ke puncak itu ke villa temannya. Di sana mereka kumpul-kumpul gitu,'' ujar Mama Yuni.


''Nama Villa nya apa ya Tan?'' tanya Varo yang masih kepo.


''Tante lupa nama Villanya. Memangnya kenapa? Kamu mau nyusul Ae kesana?'' tanya Mama Yuni.


''Varo khawatir saja dengan Ae Tante,'' ucap Varo.


''Nggak usah khawatir, di sana udah ada Bima yang jagain. Bima menganggap Ae sudah seperti adiknya sendiri, begitupun sebaliknya,'' ujar Mama Yuni.


''Bagaimana bisa aku nggak khawatir. Bahkan calon istriku pergi dengan orang lain,'' batin Varo.


''Ya sudah kalau gitu Tante, Varo pamit dulu,'' ucap Varo bangkit dari duduknya. Varo pun menyalami Mama Yuni dengan takzim.


''Hati-hati,'' ucap Mama Yuni.


''Iya Tante,'' ucap Varo.


Varo pun mengendarai mobilnya pulang ke rumah. ''Apa aku susulin ke sana aja ya, aku nggak rela tubuhnya di sentuh oleh lelaki lain,'' batin Varo.


Sesampainya di rumah, Varo langsung menuju kamarnya untuk prepare barang-barang yang akan di bawanya ke puncak. Setelah selesai, Varo turun ke lantai bawah.


''Ma, Pa Varo pamit ke Puncak ya,'' ujar Varo.


''Ngapain? Gimana makan malam nanti?'' tanya Mama Gea yang berharap malam nanti bertemu dengan calon menantunya.


''Kapan-kapan aja deh Ma. Varo mau ikut Ae ke puncak,'' ucap Varo.


''Kak aku ikut ya,'' ujar seorang gadis yang berumur di bawah Varo. Varo diam sejenak.


''Ajaklah adikmu. Biar ia bisa akrab dengan Aelesha,'' ujar Mama Gea.


''Tapi Ma---''


''Please kak, Vanya ikut ya,'' ujar Vanya memohon ingin ikut.


''Ya udah cepet, Kakak tunggu di sini,'' ujar Varo mendaratkan bokongnya di sofa di depan orang tuanya.


''Memang di Puncak acara apa Ro?'' tanya Papa Rayan.


''Varo juga nggak tau Pa,'' ujar Varo sambil membuka chat di ponsel Aelesha.


''Kamu hati-hati. Apalagi Vanya ikut, jaga adikmu baik-baik,'' ujar Papa Rayan.


''Iya Pa. Varo pasti jagain dia kok. Papa Tenang aja,'' ujar Varo.


Varo dan Vanya segera berangkat ke Puncak karna hari semakin sore. Varo mengendarai mobilnya dengan pelan karna cuaca sedang turun hujan.


Setelah perjalanan 2 jam lebih, Varo dan Vanya sampai di Puncak. Varo menghentikan mobilnya di pinggir jalan di depan warung makan.


''Kenapa berhenti Kak?'' tanya Vanya.


''Makan dulu, kamu nggak lapar?'' tanya Varo.


''Masa di sini sih Kak. Nggak ada tempat lain kah?'' ucap Vanya yang merasa tak nyaman melihat warung di pinggir jalan dengan banyaknya pelanggan di sana.


''Kalau di Indonesia, warung dengan banyak pelanggan seperti ini biasanya rasanya enak dan murah. Lihatlah para muda mudi banyak yang makan di sana,'' ucap Varo menunjuk muda-mudi yang sedang makan.


''Tapi belum tentu higienis Kak,'' ucap Vanya.


''Kalau kamu nggak mau makan ya sudah. Kakak udah laper banget ini,'' Varo meninggalkan Vanya di dalam mobil. Vanya memang tipikal orang yang pemilih. Apalagi dia sejak kecil tinggal di LN bersama nenek dan kakeknya membuat ia sedikit manja.


Vanya pun akhirnya ikut turun karna merasa perutnya juga minta di isi.


''Kakak tunggu!'' ucap Vanya.


''Cepet dong. Hujan lagi nih, keburu basah bajunya,'' ujar Varo menengadahkan tangannya melindungi kepala agar tak terkena air hujan.


''Di sini pemandangannya bagus banget ya Kak. Apalagi udaranya sangat sejuk,'' ucap Vanya.


''Sejuk dia bilang. Padahal tubuhku hampir saja membeku. Apa dia nggak merasa kedinginan,'' batin Varo menggeleng-gelengkan kepalanya.


Makanan yang mereka pesan pun sudah terhidang di depan mereka. Varo dan Vanya menikmati makanan yang mereka pesan.


Tiba-tiba ada rombongan geng motor yang berhenti di dekat warung itu juga. Varo dan Vanya yang sedang makan sedikit terusik dengan kedatangan mereka yang lumayan banyak.


''Bu, seperti biasa ya,'' ujar pemuda yang mungkin ketua geng itu.


''Baik Mas, silahkan istirahat dulu. Di atas kosong Mas,'' ujar pemilik warung itu.


Mungkin para geng motor itu sudah biasa makan di warung ini. Sampai-sampai pemilik warung sangat hafal dengan mereka.


Varo menoleh melihat para orang-orang yang bergerumbul dengan jaket yang sama. Ia melihat ada seorang gadis yang sangat ia kenal.


''Aelesha,'' batin Varo. Ae juga tak sengaja melihat ke arah Varo, netra mata mereka pun bertemu.


''Pak Varo ngapain di sini?'' batin Aelesha.


Bersamaan di saat Vanya ingin menyuapi Varo dengan sate di tangannya.


''Cobain deh Kak. Ini enak banget,'' ucap Vanya menyodorkan sate ayam yang ia pesan. Sesaat kemudian Ae langsung memutuskan kontak mata mereka. Tiba-tiba hatinya terasa nyeri saat melihat Varo bermesraan dengan wanita lain.


''Ae, kita naik yuk,'' ajak Bima menggandeng tangan Aelesha untuk naik ke lantai dua. Ae pun tak menolak ajakan Bima.


''Kak, Kakak melamun ya?'' tebak Vanya.


''Eh, enggak kok,'' kilah Varo.


''Vanya udah habisin 2 porsi Kak. Mending kita cari penginapan sekarang juga Kak, karna hari mulai malam,'' ujar Vanya.


''Sebentar, Kakak bayar dulu,'' ujar Varo bangkit dari duduknya untuk membayar bersamaan dengan Bima yang ingin menambah pesanan mereka.


''Lhoh Varo,'' ujar Bima.


''Eh Bim, kamu ada di sini juga?'' tanya Varo basa basi. Padahal ia sudah tau sejak tadi jika Bima juga berada di sini.


''Iya lagi liburan, mendinginkan otak,'' ujar Bima


''Kamu sama siapa?'' tanya Bima penasaran.


''Aku sama adikku, dia baru saja pulang dari LN beberapa hari yang lalu,'' ujar Varo.


''Oh, menginap dimana?'' tanya Bima.


''Belum tau nih. Udah keliling-keliling sejak tadi tapi belum nemu penginapan. Semuanya sudah penuh,'' ujar Varo beralasan. ''Ada yang masih kosong, tapi tempatnya enggak nyaman,'' ucap Varo lagi.


''Padahal ini masih hari kamis ya, tapi penginapan kok sudah penuh,'' ujar Bima sedikit berfikir. ''Gimana kalau kamu ikut menginap di Villa temanku saja, dari sini nggak jauh kok. Villanya juga lumayan besar,'' ujar Bima.


''Nggak usah lah, nggak enak ngerepoti kalian,'' ucap Varo berpura-pura tak enak hati. Padahal dalam hatinya ia senang bisa satu Villa dengan Aelesha.


''Nggak ngrepotin kok. Bentar ya aku ke atas dulu bicara sama temenku,'' ujar Bima. Varo hanya tersenyum smirk. Tak menyangka akan di tawari oleh Bima untuk tinggal 1 Villa dengannya.


Varo melanjutkan membayar makanannya, ia kembali duduk lagi di kursi yang ia tempati tadi sambil menunggu kabar dari Bima.


Beberapa saat kemudian, Bima dan teman-temannya turun dari lantai atas.


''Varo, aku udah bicara sama temenku, katanya kamu boleh kok menginap di sana. Ini rombongan kita mau melanjutkan perjalanan, kamu jadi ikut menginap di sana kan? Kasihan adikmu pasti kelelahan dan kedinginan,'' ujar Bima.


Akhirnya Varo pun mengikuti mereka dari belakang. Tatapan Varo tak beralih dari Aelesha yang sedang mengendarai motornya seorang diri.


*


*