AELESHA

AELESHA
34



Bima dan Al pun akhirnya ikut tidur di apartemen karna menemani Ae yang tidak berani tidur sendiri.


Ae tidur di kamar tamu, sedangkan Bima dan Al tidur di kamar Al.


''Makasih ya Bro, udah ngebolehin Ae tinggal disini untuk sementara waktu,'' ujar Bima saat mereka berdua terlentang di atas ranjang.


''Heem, Ae gadis yang manis. Ya walaupun ia terlihat sangat bar-bar kadang,'' ujar Al tersenyum karna mengingat tingkah Aelesha yang berbeda dengan gadis lainnya.


''Kakaknya meninggal 2 tahun yang lalu. Kakaknya adalah sahabat 1 geng denganku. Kami semua sangat terpukul atas kepergiannya, apalagi Aelesha. Orang yang paling dekat dengan almarhum. Maka dari itu, Ae menganggap aku sudah seperti Kakaknya sendiri dan begitu juga sebaliknya,'' ujar Bima.


''Aku kira kalian ada hubungan spesial,'' ucap Al menoleh menatap Bima.


''Tidak! Aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri. Aku akan melindunginya sama seperti Kakaknya melindungi dia,'' ucap Bima.


''Kasihan sekali ya Aelesha,'' ucap Al yang merasa kasihan dengan Aelesha. Biasanya seorang adik perempuan memang sangat dekat dengan Kakak lelakinya. Tapi untuk sekarang kedekatan Aelesha dan sang Kakak hanya angan-angan belaka karna Kakaknya sudah tidak ada lagi di dunia ini.


''Maka dari itu, aku akan melindunginya sebelum ia menikah dengan lelaki pilihannya,'' ucap Bima serius.


*


Di lain tempat, Varo baru saja pulang setelah mencari Aelesha kesana kemari. Ia bingung mencari Ae kemana lagi. Apalagi ponsel milik Ae sudah di non aktifkan sejak pukul 10 tadi.


''Kemana sih kamu Ae,'' batin Varo yang memikirkan Aelesha di balkon kamarnya. Ia menyesal telah membentak Aelesha tadi. Namun ia juga tak mau jika adik perempuannya di salahkan atas meninggalnya seseorang yang adiknya pun tak tau menahu tentang itu semua.


''Jika Ae tadi jalan kaki nggak mungkin kan secepat itu. Apa Bima yang sudah membawa Ae pergi,'' batin Varo.


Varo pun langsung bergegas menuju lantai bawah dan membuka pintu utama. Ia melihat ke depan, rumah Bima tampak gelap gulita seperti tidak ada kehidupan disana.


''Apa Ae sedang bersama Bima?'' gumam Varo yang masih penasaran dengan kepergian Aelesha yang menghilang tiba-tiba.


''Iya, Aelesha pasti sedang bersama Bima,'' ucap Varo kembali.


Ia pun memutuskan masuk ke dalam rumah lagi. Ia akan memikirkan cara untuk menemukan Aelesha kembali.


*


Pagi hari pun menyapa, Ae pun menggeliat saat sinar matahari menerobos jendela kamar yang saat ini ia tempati. Ia meraba raba tempat tidurnya untuk mencari benda pipihnya. Setelah menemukan, ia membuka ponselnya dan ternyata jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi.


Di sana banyak sekali pesan masuk dan panggilan yang tak terjawab dari Varo dan Mama papanya. Ae tidak berniat sedikit pun untuk membuka pesannya, ia lebih memilih turun dari ranjang menuju kamar mandi.


Setelah keluar dari kamar mandi, ponselnya kembali berdering. Ia hanya melihat sekilas panggilan yang masuk tanpa ingin mengangkatnya. Ternyata panggilan itu dari Wilo sahabatnya. Ae pun meninggalkan ponselnya di kamar, lalu ia keluar dari kamar untuk mencari keberadaan Bima dan Al.


Tanpa Aelesha duga, ternyata dua lelaki baik itu terlihat sibuk menyiapkan sarapan di dapur. Aelesha pun mendekat dengan niatan ingin membantu mereka.


''Apa yang bisa Ae bantu?'' tanya Aelesha membuat dua lelaki itu kaget.


''Ya ampun Ae, bikin orang jantungan aja,'' ujar Bima mengelus dadanya.


''Hehe, maaf Kak,'' ucap Aelesha sambil nyengir kuda.


''Aww,'' pisau yang baru saja ia pegang mengenai jari telunjuknya. Darah mengalir lumayan banyak dari jari Aelesha.


''Ae kamu nggak pa-pa?'' tanya Al yang langsung melihat jari Ae yang terkena pisau.


''Perih Kak,'' ujar Aelesha dengan mata berkaca-kaca. Seorang ketua geng yang terkenal kuat dan bar-bar bisa menangis hanya karna terkena pisau di jarinya.


''Biar Kakak obati,'' ucap Al membawa Ae duduk di kursi meja makan. Al pun mengambil kotak p3k untuk mengobati jari Aelesha.


''Ya ampun Ae, seharusnya kamu bilang dong kalau nggak bisa. Aku kan nggak tau,'' ujar Bima yang menyesal menyuruh Aelesha untuk mengupas bawang.


''Ae nggak pa-pa kok Kak. Ini hanya sedikit perih,'' ujar Ae yang menahan jarinya terasa cenut-cenut.


Al pun datang membawa kotak p3k. Ia dengan telaten mengobati jari Aelesha. Setelah di obati, Al memberikan plaster pada jari Ae yang terluka.


''Udah, lain kali hati-hati Ae,'' ujar Al tersenyum manis kepada Aelesha.


''Makasih ya Kak,'' ucap Aelesha terpesona dengan senyuman Alva.


''Iya sama-sama. Kamu duduk di sini saja, biar aku sama Bima yang masak,'' ucap Al sambil berdiri lalu mengacak rambut Ae dengan pelan. Ae pun hanya tersenyum canggung. Bagaimana bisa ia yang wanita tidak sedikitpun bisa melakukan pekerjaan rumah, bagaimana jika Varo tau. Apa ia akan tetap melanjutkan niat baiknya untuk meminang dirinya, pikir Aelesha.


''Kenapa aku malah mikirin orang nyebelin itu. Enggak! Enggak! Lupakan dia Ae, dia bukan lelaki yang kamu cari selama ini,'' batin Aelesha.


Ponsel milik Ae yang berada di dalam kamar pun terus berbunyi. Namun sang pemilik tak mendengar, walaupun ia mendengar sekalipun, mungkin Ae tidak akan pernah mengangkat telepon dari orang terdekatnya.


*


Di lain tempat.


Vanya saat ini tersungkur di depan makam yang bertuliskan nama Aiden. Walaupun di depannya jelas-jelas tertulis nama Aiden, namun rasanya ia belum percaya sepenuhnya jika Aiden telah meninggalkannya untuk selamanya.


''Ai, apa ini bener makam kamu? Tapi kenapa kamu ninggalin aku Ai? Kamu udah janji kan mau jemput aku ke Negara S. Tapi kenapa kamu lebih memilih pergi seperti ini. Kenapa Ai kenapa?'' Vanya berteriak histeris di depan makam Aiden. Rasanya antara percaya dan tidak percaya dengan makam yang ada di depannya. Mama Gea mengusap bahu Vanya dengan pelan.


''Ini sudah takdir Van. Kamu harus ikhlas dengan kepergiannya,'' ujar Mama Gea.


''Apa kamu tidak rindu denganku Ai. Bahkan saat aku di LN aku tak henti-hentinya memikirkanmu. Aku bahkan tidak sabar menunggu pertemuan kita, tapi sekarang,,,,''Vanya menjeda ucapannya. ''Sekarang aku hanya bertemu gundukan tanah yang menjadi tempat peristirahatan terakhirmu. Aku rindu denganmu Ai, aku rindu,'' ucap Vanya yang tak kuasa menahan air matanya. Berulang kali Vanya mencium batu nisan yang bertuliskan nama Aiden.


Varo yang juga ikut ke makam pun hanya menghembuskan nafas panjangnya. Ia tau bagaimana dengan perasaan Vanya saat ini. Vanya begitu sangat kehilangan orang yang menjadi cinta pertama setelah Papanya itu.


Mama Yuni yang ikut ke makam pun ikut menangis sesenggukan melihat Vanya begitu kehilangan seorang sahabat yang begitu spesial di hatinya.


*


*


Maaf telat update guys😊