
Jam pelajaran kedua telah usai, Deena segera bergegas menuju ruangan Pak Varo. Sementara Ae dan sahabatnya menuju parkiran tempat mobil Deena berada.
''Beres,'' ucap Zehan dan Zelo.
''Thanks ya, kita cabut dari sini,'' ucap Ae.
Mereka pun bergegas meninggalkan mobil milik Deena. Ae pergi ke ruangan Pak Varo sementara yang lain pergi ke kantin.
Tok tok tok.
''Masuk,'' ucap Pak Varo dari dalam ruangan. Ae memutar handle pintu dan masuk ke dalam ruangan.
''Ada apa ya Pak?'' tanya Ae.
''Bantu saya lagi bisa kan? Tapi kamu istirahat dulu. Ini saya sudah pesankan makanan untuk kamu,'' ucap Pak Varo. Deena yang melihat Pak Varo lebih perhatian ke Ae menatapnya dengan sinis.
''Makanlah!'' perintah Pak Varo.
''Tapi Pak----''
''Saya sudah makan,'' ucap Pak Varo memotong ucapan Ae.
''Makasih Pak,'' ucap Ae tersenyum manis ke Pak Varo. Lalu Ae menatap Deena dengan tatapan mengejek.
''Deena, saya juga punya sesuatu untukmu,'' ucap Pak Varo.
''Apa Pak?'' tanya Deena penasaran.
''Ini saya punya 20 soal untukmu,'' Pak Varo menyerahkan 1 lembar kertas untuk Deena. ''Kamu kerjakan di rumah dan besok kumpulkan ke saya. Saya rasa kamu pasti bisa,'' ujar Pak Varo.
''Tapi Pak----''
''Saya hanya ingin tau kefahaman kamu sampai di mana? Kata Pak kepala sekolah, kamu adalah murid pindahan dengan nilai yang lumayan bagus,'' ujar Pak Varo.
Ae menahan tawanya agar tidak meledak.
''Hahaha, kasihan sekali dirimu,'' batin Ae sambil mengunyah makanan yang di pesankan Pak Varo.
''Akhhh siall. Jika nanti aku nggak bisa mengerjakan soal ini pasti aku kena bully teman 1 kelas,'' batin Deena.
''Baiklah,'' ucap Deena mengambil soal itu.
''Dan 1 lagi Deena. Saya ingatkan kamu, hubungan kita hanya sebatas murid dan guru. Hal yang tidak wajar jika kamu mengirim pesan kepada gurumu sendiri hampir 3 kali sehari, dan pesan itu sama sekali tidak penting menurut saya. Jika kamu ingin bertanya tentang pelajaran its oke. Tapi hal yang kamu tanyakan sungguh-sungguh unfaedah Dee. Jadi tolong, jangan pernah kamu ulangi lagi,'' ucap Pak Varo pelan namun masih bisa di dengar oleh Ae.
Deena memang sering mengirim pesan kepada Pak Varo. Mulai dari pagi hari saat ia bangun tidur, sore hari dan bahkan malam hari. Pak Varo jelas risih dengan sikap murid barunya itu.
''Apa kata Pak Varo, dia sering mengirim pesan ke Pak Varo. Sebucin itukah dia dengan guru tampanku?'' batin Ae.
''Tapi Pak, saya hanya ingin dekat dengan Bapak. Apa Bapak sudah memiliki istri? Belum kan. Jadi nggak ada salahnya,'' ucap Deena tanpa malu.
''Saya sudah mempunyai calon istri!'' ucap Pak Varo dan itu membuat Ae tersedak makanan yang ingin di telannya.
Uhuk uhuk uhuk.
Pak Varo dan Deena langsung menatap ke arah Ae.
''Maaf, Ae mengganggu,'' ucap Ae dengan wajah yang memerah karna menahan perih di hidung dan tenggorokannya.
''Minumlah,'' Pak Varo menyodorkan segelas air untuk Aelesha.
''Makasih Pak,'' ucap Ae menerima air yang di berikan Pak Varo.
''Masa Pak Varo udah punya calon istri, kayaknya nggak mungkin deh,'' batin Ae.
''Saya rasa sudah cukup Deena, kamu boleh kembali ke kelasmu,'' ucap Pak Varo. Tanpa sepatah katapun Deena langsung keluar dari ruangan Pak Varo.
Setelah selesai makan, Ae membereskan makanannya dan membuang sampah di tempatnya. Ae pun langsung duduk di kursi yang berada di depan meja Pak Varo.
''Pak Varo butuh bantuan apa?'' tanya Ae.
''Lanjutkan yang tadi ya. Tolong kamu koreksi jawaban teman-teman kamu,'' ucap Pak Varo.
''Baik Pak,'' Ae pun langsung mengambil kertas jawaban teman-temannya dan langsung mengkoreksinya.
''Cantik banget sih kamu Ae,'' batin Pak Varo.
''Em gimana Pak orang yang kemarin?'' tanya Ae tiba-tiba membuat Pak Varo kaget karna diam-diam memperhatikan Ae.
''Dia, dia sudah menghubungi saya. Dan dia minta uang transferan 15 juta,'' ujar Pak Varo.
''15 juta? Banyak banget Pak. Padahal kan hanya penyok sedikit,'' ucap Ae. ''Terus Bapak kasih?'' tanya Ae penasaran.
''Ya iya. Mau gimana lagi. Kan memang saya yang mau bayar, berapapun yang dia minta,'' ucap Pak Varo enteng.
''Tapi itu banyak banget Pak. Aku nggak ada uang segitu banyaknya. Mau minta Papa, baru beberapa hari kemarin aku minta 17 juta buat modif motor. Jika aku minta lagi pasti di jual deh motor kesayangan aku Pak. Tapi Bapak tenang aja, aku pasti ganti kok uang Bapak. Nyicil nggak pa-pa ya Pak,'' ucap Ae dengan muka memelas.
''Ya ampun gemes banget sih lihat wajahnya kalau lagi kayak gini. Pengen aku gigit nih bocilku,'' batin Pak Varo.
''Gimana Pak?'' tanya Ae yang menunggu jawaban Pak Varo.
''Nggak usah. Saya ikhlas kok,'' ucap Pak Varo serius.
''Tapi itu terlalu banyak Pak. Pasti itu gaji Pak Varo 1 bulan lebih,'' ujar Ae.
''Ya nggak pa-pa. Saya beneran ikhlas kok. Cukup kamu bantu saya seperti ini saya sudah senang Aelesha,'' ucap Pak Varo.
''Beneran ikhlas?'' tanya Ae memastikan.
''Ya beneran lah. Udah nggak usah di bahas. Cepat lanjutkan pekerjaanmu, keburu masuk lagi,'' ucap Pak Varo.
''Makasih ya Pak guru tampanku,'' ucap Ae tersenyum manis ke arah Pak Varo.
''I iya,'' ucap Pak Varo salting. Namun ia segera menutupi salah tingkahnya dengan pergi ke kamar mandi.
*
*
Bel pulang pun berbunyi. Ae dan teman-temannya menuju parkiran lebih akhir.
''Akhhh sial kenapa ban ku semuanya kempes. Siapa sih yang melakukan ini semua,'' umpat Deena.
Ae dan teman-temannya tertawa cekikikan mendenger Deena mengumpat kesal.
''Sukurin emang enak,'' gumam Ae.
Deena menoleh kesana kemari ingin meminta bantuan, tapi tak ada murid satupun yang ada di sana. Ae dan teman-temannya bersembunyi di samping pohon.
Namun Pak Varo tiba-tiba muncul. Alhasil Deena meminta bantuan kepada Pak Varo.
''Pak, bisa minta tolong nggak, ban mobilku kempes semua,'' rengek Deena.
''Ini pasti akal-akalannya saja biar bisa bareng sama aku. Huhh dasar wanita,'' batin Pak Varo.
Pak Varo menggaruk kepalanya yang tidak gatal. ''Em---''
''Pak Varo,'' panggil Ae yang berjalan mendekat ke arah Pak Varo.
''Hai Aelesha, ada apa?'' tanya Varo yang merasa terselamatkan dengan kedatangan Ae.
''Bengkel motornya ada di jalan apa ya Pak. Aku rindu sama si hitam, rencananya pengen jengukin dia,'' ucap Ae.
''Ayo saya antar. Kebetulan satu arah sama rumah kita,'' ucap Pak Varo.
''Makasih ya Pak. Pak Varo memang the best,'' Ae mengacungkan 2 jempolnya.
Pak Varo pun membukakan pintu agar Aelesha masuk. Ae dengan senang hati masuk ke dalam mobil milik Pak Varo.
Setelah masuk dan duduk dengan nyaman, Ae menurunkan kaca mobilnya agar Deena melihatnya.
''Pak, terus saya gimana?'' tanya Deena sambil menghentak-hentakkan kakinya.
''Coba minta tolong sama satpam. Maaf saya juga tidak bisa bantu,'' ucap Pak Varo masuk ke dalam mobilnya. Ae tersenyum mengejek ke arah Deena sambil melambaikan tangan.
*