AELESHA

AELESHA
29



Hari ini adalah hari terakhir mereka berada di puncak. Hari ini mereka bersiap-siap akan pulang ke Jakarta lagi karna mengingat besok hari senin, hari dimana hampir semua orang memulai kegiatannya masing-masing.


''Nanti kamu naik mobil aja Yang. Biar motor kamu di bawa sama temenmu,'' ujar Varo yang tak rela melihat kekasihnya mengendarai motor seorang diri dengan perjalanan lumayan jauh.


''No. Berangkatnya sendiri, pulang juga sendiri dong,'' ujar Aelesha.


''Biar Vanya yang temenin Ae Kak,'' ujar Vanya tersenyum gembira. Ia senang jika di ajak menaiki motor lagi.


''Enggak!! Mending kamu yang bawa mobil sampai Jakarta. Biar aku yang nemenin Ae,'' ucap Varo yang tak mau mengalah.


Vanya mengerucutkan bibirnya. Kakaknya ini selalu tak mau mengalah dalam segala hal. ''Ishh, Kakak selalu gitu,'' ujar Vanya kesal.


''Heyy, kalian ini perempuan. Aku nggak mau kalau terjadi apa-apa di jalan. Mending kamu bawa mobilnya Van, mengikuti kami dari belakang,'' ujar Varo.


''Iya iya iya, bawel bangett,'' ujar Vanya memasukkan beberapa helai bajunya ke dalam koper dengan kasar.


Selesai mereka bersiap-siap, mereka turun ke bawah untuk berkumpul dengan teman-teman yang lain. Setelah sampai di bawah, mereka berdoa bersama lalu mengendarai kendaraan masing-masing untuk pulang ke Jakarta.


''Yang, beneran bisa?'' tanya Ae ragu dengan kemampuan Varo.


''Bisaa, udah cepetan naik,'' ujar Varo. Ae pun naik ke atas motornya. Ia lalu berpegangan pada ujung jaket milik Varo. Varo yang takut Ae jatuh langsung menarik tangan Ae agar melingkar di perutnya.


''Biar nggak jatuh Yang,'' ujar Varo tersenyum.


''Bilang aja modus!!'' sahut Aelesha mengerucutkan bibirnya.


Mereka pun segera meninggalkan Villa yang di tempati selama 3 hari ini. Ae sebenarnya masih ingin berada di sana. Namun besok adalah hari senin, ia tak mau meninggalkan jadwal pelajaran matematika walaupun saat ini ia bersama dengan guru matematikanya itu.


Pundak yang nyaman menjadikan Ae cepat terlelap ke alam mimpi. Varo pun melambatkan laju motornya agar Ae tak jatuh ke aspal. Tak lupa tangan kirinya memegang tangan Ae yang berada di perutnya.


''Aku mencintaimu gadis kecilku,'' batin Varo melihat Ae yang memejamkan mata dari kaca spionnya.


Lebih dari 3 jam mereka baru sampai di Jakarta. Varo mengantarkan Aelesha menuju rumahnya dengan di ikuti Vanya menggunakan mobil di belakangnya.


''Bukannya ini rumah Aiden,'' gumam Vanya yang merasa tak asing dengan rumah yang ia datangi saat ini.


''Iya benar ini rumah Aiden. Apa Ae adik Aiden?'' batin Vanya bertanya-tanya.


Setelah sampai di halaman rumah, Vanya langsung turun dari mobilnya. Ia benar-benar ingin berjumpa dengan pemilik rumah.


''Ae,'' panggil Vanya.


''Iya, ada apa Van?'' tanya Aelesha.


''Apa ini benar rumahmu?'' tanya Vanya.


Aelesha mengangguk. ''Iya, kita masuk dulu yuk,'' ajak Aelesha. Vanya pun menurut, ia berharap akan segera bertemu dengan seseorang yang ia cintai selama ini.


''Aiden, kamu dimana? Aku di rumahmu Ai,'' batin Vanya sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


''Kamu tinggal sama siapa Ae?'' tanya Vanya.


''Mama sama Papa. Tapi kayaknya mereka lagi nggak ada deh, rumah sepi banget,'' ucap Aelesha.


''Apa kamu anak tunggal?'' tanya Vanya yang masih penasaran.


''Aku----''


Tringgg tringgg tringggg.


''Sebentar aku angkat telpon dulu. Kalian silahkan duduk,'' ujar Aelesha.


Vanya pun duduk di sofa dengan tidak tenang. Matanya melihat sekeliling, tidak ada yang berubah dengan rumah ini. Namun ia tak mendapati 1 foto pun di rumah itu.


''Kamu kenapa sih Van?'' tanya Varo yang melihat adiknya tidak biasa-biasa saja.


Sesaat kemudian, Aelesha kembali setelah menerima telepon tadi.


''Kemana Vanya?'' tanya Aelesha.


''Katanya ke kamar mandi,'' ujar Varo.


''Ohh,'' Aelesha hanya menganggukkan kepalanya.


''Siapa?'' tanya Varo.


''Apanya?'' Ae balik bertanya.


''Yang telepon tadi siapa?'' tanya Varo penasaran.


''Mama, Mama lagi pergi sama Papa nanti malam baru pulang,'' ujar Aelesha.


Varo hanya menganggukkan kepalanya pelan.


*


''Kenapa di rumah ini tak ada satupun foto keluarga? Padahal 5 tahun yang lalu aku jelas ingat, foto Aiden ada di mana-mana bersama adik kecilnya,'' batin Vanya. Setelah dari kamar mandi ia kembali lagi ke ruang tamu untuk bergabung dengan Varo dan Aelesha.


''Ae, aku mau tanya sama kamu,'' ujar Vanya.


''Tanya apa?''


''Apa benar di rumah ini hanya ada kamu, Mama dan Papa kamu?'' tanya Vanya.


''Iya, di rumah belakang ada ART,'' ujar Aelesha.


''Apa kamu anak tunggal?'' tanya Vanya.


''Van, mending sekarang kita pulang deh, Mama udah balik-balik telpon nih,'' ucap Varo berbohong. Varo tak mau jika Vanya menanyakan hal yang lebih lagi kepada Ae, Varo takut Ae akan sedih lagi bila mengingat Kakaknya.


''Bentar dong Kak. Aku masih mau ngobrol sama Aelesha,'' ucap Vanya.


''Kamu mau di marahin Mama?'' tanya Varo menatap adiknya dengan kesal. ''Kalau aku mah ogah, mama kalau marah-marah bisa berhari-hari. Kamu belum pernah merasakan itu semua kan. Ya sudah kalau kamu masih mau ngobrol sama Ae, aku pulang dulu,'' ancam Varo berdiri dari duduknya dan berjalan keluar rumah.


''Kak, tungguin Vanya. Iya-iya Vanya ikut pulang,'' ucap Vanya berlari menyusul Kakaknya.


''Aku pulang dulu ya Ae. Kapan-kapan aku bakal main kesini,'' ujar Vanya melambaikan tangan ke arah Ae yang berada di ambang pintu.


''Hati-hati ya,'' ucap Aelesha membalas lambaian tangan Vanya.


Setelah Varo dan Vanya pulang, Ae segera berjalan menuju kamarnya. Badannya terasa lengket dan ingin cepat-cepat di bersihkan.


''Wanginya nempel di jaket,'' gumam Aelesha terus menerus mencium jaketnya karna terkena parfum milik Varo.


Bayangan saat-saat Varo membonceng ia tadi tak terlupakan di memori ingatan Aelesha. Aelesha berjalan ke kamar mandi dengan senyum-senyum sendiri seperti ODGJ.


''Akhh, kenapa aku jadi kayak orang gila gini. Apa memang seperti ini rasanya jatuh cinta? Kenapa aku baru merasakannya dengan Pak Varo. Kenapa tidak dengan sesama murid saja,'' gumam Aelesha.


Di lain tempat, Varo dan Vanya baru saja tiba di rumahnya. Ia di sambut oleh Mama Gea yang berada di halaman rumah.


''Anak-anak Mama udah pulang, Mana Aelesha? Kenapa nggak di ajak kesini?'' tanya Mama Gea kecewa karna calon menantunya tidak ada.


''Aelesha punya rumah Ma. Dia juga terlihat kelelahan. Kasihan kan kalau Varo ajak ke sini. Nanti bukannya istirahat malah kalian ajak ngegosip mulu,'' ucap Varo.


''Tapi besok harus kamu ajak kesini Ro. Besok keluarga kita akan mengundang keluarga Aelesha untuk merencanakan pertunangan kalian,'' ucap Mama Gea.


''Mama tau aja apa yang aku inginkan,'' batin Varo tersenyum bahagia.


*