
''Jadi Ae harus berangkat sekarang ke negara S. Yah, padahal aku pengen kalian datang dan hadir di sini loh Yun. Tapi nggak pa-pa sih semoga perjalanan kalian lancar ya. Semoga Ae bisa meraih apa yang ia cita-citakan,'' ujar Mama Gea. Setelah bercakap-cakap sedikit lama akhirnya mereka pun mengakhiri panggilan telepon itu.
''Siapa Ma?'' tanya Vanya.
''Tante Yuni, katanya dia nggak bisa datang kesini karna Aelesha akan pergi ke negara S hari ini,'' ujar Mama Gea sambil melirik Varo yang tengah menyimak Mama Gea berbicara.
''Ae berangkat hari ini? Katanya masih sebulan lagi,'' ujar Vanya.
''Mama juga nggak tau,'' ujar Mama Gea mengedikkan bahunya.
''Jadi gadis kecil itu akan pergi? Kenapa hatiku merasa seperti kehilangan ya?'' batin Varo.
Tak menunggu lama, acara pertunangan antara Varo dan Diva pun di mulai. Namun hati Varo seperti tak tenang. Bayang-bayang wajah gadis kecil itu pun terlintas di otaknya. Sedikit demi sedikit ia ingat saat-saat kebersamaan dengan Aelesha. Varo pun memegang kepalanya yang terasa pening.
''Sayang, kamu kenapa?'' tanya Diva memegang tangan Varo.
''Shhhh, kepalaku pening sekali,'' rintih Varo saat mereka akan bertukar cincin di jari pasangannya.
Bayang-bayang saat kebersamaan antara Varo dan Ae kembali terlintas di otak Varo.
''Aelesha,'' gumam Varo pelan. Semua kenangan mereka pun akhirnya dapat Varo ingat. Dan ia juga mengingat saat Diva menghianatinya.
''Sayang,'' panggil Diva kembali.
''Maaf, aku nggak bisa melanjutkan pertunangan ini. Aku telah mengingat semuanya. Dan aku juga mengingat saat kamu menghianatiku,'' ujar Varo meletakkan cincin yang akan di pasangkan ke telapak tangan Diva.
''Varo kamu jangan bercanda ya. Lihatlah sudah banyak tamu undangan yang datang. Kamu jangan permainkan keluargaku ya Ro,'' ucap Diva menahan tangan Varo.
''Aku nggak cinta sama kamu Div. Aku hanya mencintai gadis kecilku. Semoga kamu mengerti,'' ujar Varo langsung pergi dari hadapan Diva menuju ke orang tuanya.
''Ma, Pa aku ingin menyusul Aelesha,'' ujar Varo.
''Ada apa ini?'' tanya Pak Jeremi, Papa Diva.
''Pa, Varo jahat Pa,'' ujar Diva mengadu ke Papanya dengan berlinang air mata.
''Maaf Om, saya tidak bisa melanjutkan pertunangan ini. Saya sudah mengingat semua, bahkan saya juga mengingat Diva yang pernah tidur dengan lelaki lain saat kami masih pacaran dulu,'' ujar Varo menatap Diva tajam.
''Bohong! Itu semua bohong Pa. Varo hanya ingin mempermainkan keluarga kita, dia hanya ingin mempermalukan keluarga kita Pa,'' ujar Diva.
''Saya sama sekali tidak bohong Om. Selama ini saya hilang ingatan, dan saya tidak mengingat apapun. Sekali lagi saya minta maaf. Semoga Diva mendapatkan yang lebih baik,'' ujar Varo.
''Saya tidak terima Pak Rayan. Ternyata kalian hanya mau mempermalukan keluarga saya,'' ujar Pak Jeremi dengan wajah yang memerah menahan amarah.
''Kami meminta maaf Pak Jeremi. Namun yang di katakan Varo memang benar, selama ini dia memang hilang ingatan, dan hari ini entah keajaiban dari mana ia ingat semuanya. Bahkan dengan sikap anak anda yang telah menduakan anak saya,'' ujar Pak Rayan.
''Pokoknya saya mau pertunangan ini di lanjutkan. Kalau tidak, saham di perusahaan Pak Rayan akan saya tarik,'' ancam Pak Jeremi.
''Itu tidak masalah Pak. Karna saya lebih mementingkan kebahagiaan anak saya di banding dengan harta, kami permisi!'' ucap Papa Rayan mengajak anak dan istrinya pergi dari rumah keluarga Jeremi.
''Varo, Varoo tunggu!'' Diva mengejar Varo yang sudah hilang di balik pintu.
''Varo jangan tinggalin aku Ro. Please!'' ucap Diva memohon meraih tangan Varo.
''Maaf Div. Aku benar-benar nggak bisa melanjutkan semuanya,'' ujar Varo melepas gengaman tangan Diva.
Ia pun melanjutkan langkahnya menuju parkiran mobil. Setelah itu, Varo dan juga keluarganya pergi dari rumah Diva.
''Kamu jahat Ro. Kamu jahat! jika aku tidak bisa memilikimu, maka tak ada satupun wanita yang akan memilikmu juga,'' batin Diva menggenggam tangannya dengan erat sambil melihat kepergian Varo.
Di dalam mobil.
''Maafkan aku Yang, pasti hari-harimu selama ini sangat sulit,'' batin Varo.
''Kita mau kemana Ro? Pulang atau ke rumah Aelesha?'' tanya Mama Gea.
''Ke rumah Ae Ma,'' ujar Varo.
Selang beberapa saat, mobil mereka telah sampai di rumah berlantai 2 milik keluarga Rio.
''Mau cari siapa ya Pak?'' tanya Pak Tedjo, satpam di rumah Ae kepada Papa Rayan.
''Pak Rio nya ada?'' tanya Papa Rayan.
''Pak Rio baru saja pergi ke bandara Pak,'' ujar Pak Tedjo.
''Ke Bandara?'' tanya Papa Rayan memastikan.
''Iya Pak,'' ucap Pak Tedjo.
''Ya sudah kalau begitu, terima kasih infonya Pak,'' ucap Papa Rayan kembali masuk lagi ke dalam mobil.
''Gimana Pa?'' tanya Mama Gea.
''Rio udah berangkat ke Bandara,'' ujar Papa Rayan.
''Ayo kita berangkat sekarang ke bandara Ma, Pa. Aku nggak mau kehilangan Ae lagi,'' ujar Varo yang tidak sabar.
Mobil yang mereka tumpangi pun melaju menuju bandara Ibu kota. Sepanjang jalan Varo berdoa agar ia bisa berjumpa kembali dengan Aelesha.
''Ae, tunggu aku sayang. Aku nggak akan melepasmu lagi,'' batin Varo.
Setelah hampir 1 jam perjalanan, akhirnya mereka pun sampai di Bandara Ibu kota. Mama Gea diam-diam menelpon sahabatnya, Mama Yuni.
''Yun, kalian dimana? kami sudah sampai di bandara nih,'' ucap Mama Gea setengah berbisik.
''Kami masih di ruang tunggu Ge. Beneran kalian sudah ada di bandara. Syukurlah karna sebentar lagi kita akan cek in,'' ujar Mama Yuni.
''Ya sudah, sampai ketemu nanti,'' ujar Mama Gea mengakhiri panggilan teleponnya.
Mama Gea mengajak Varo dan yang lain untuk masuk ke ruang tunggu. Varo menoleh kesana kemari mencari sosok yang ia rindukan.
''Ae, kamu dimana?'' batin Varo yang belum menemukan Ae.
Akhirnya netra matanya pun menangkap sosok yang sangat ia cintai sedang berdiri dengan menatap ponsel pintarnya.
''Aelesha,'' ucap Varo dengan senyuman mengembang di bibirnya. Tanpa ba bi bu ia pun langsung berlari ke arah Ae dan memeluk Ae dengan erat.
''Kamu siapa? Lepas!'' ucap Ae yang tak tau siapa yang sedang memeluknya saat ini. Ia pun terus meronta ingin di lepaskan, namun pelukan Varo bertambah erat.
''Aku rindu kamu Ae. Kumohon jangan pergi,'' ujar Varo membuat Ae membeku di tempatnya. Ia sangat hafal dengan suara itu, namun itu tak mungkin jika orang yang memeluknya saat ini adalah Varo.
''Lepasin!!!'' ujar Aelesha meronta, Varo pun akhirnya melepaskan pelukannya.
''Pak Varo,'' gumam Ae pelan. Rasanya seperti mustahil Varo berada di sini.
''Jangan pergi Yang, kumohon,'' ucap Varo menggenggam tangan Ae dengan erat.
*
*