
Hari pun silih berganti, hari ini Varo dan Aelesha akan melaksanakan ijab qabul yang bertempat di kediaman Aelesha.
Dengan setelah jas berwarna hitam, Varo terlihat sangat tampan dan gagah. Bibirnya terus tersenyum, namun hatinya sedang merasa tak karuan. Antara senang, deg-deg an sampai-sampai tangannya pun ikut gemetar.
''Lancarkanlah Ya Tuhan,'' ujarnya.
Tok tok tok.
Pintu kamarnya pun di ketuk dari luar, suara Mama Gea nyaring di telinga Varo.
''Iya Ma, sebentar,'' ucap Varo berjalan membukakan Pintu kamarnya.
''Kamu sudah siap?'' tanya Mama Gea saat Varo sudah menampakkan batang hidungnya.
''Udah Ma, gimana penampilan Varo. Varo tampan kan Ma?'' tanya Varo dengan raut wajah bahagia.
''Jelas tampan dong, tapi masih tampan Papa kamu,'' ujar Mama Gea sambil terkikik geli.
''Iya, iyaaaa percaya,'' ucap Varo melirik mamanya dengan sedikit kesal.
''Ya udah ayo kita berangkat sekarang. Papa sama Vanya sudah menunggu di bawah,'' ujar Mama Gea.
Varo dan Mama pun menuruni anak tangga bersama-sama. Terlihat di ruang tamu sudah ada Papa dan Vanya yang tengah menunggu.
''Kak Varo tampan banget,'' puji Vanya.
''Jelas dong! Calon suami Aelesha,'' ucap Varo bangga.
''Iya, iya. Ya udah ayo kita berangkat sekarang,'' ajak Mama Gea yang sudah tidak sabar.
Mereka pun berangkat ke rumah Aelesha dengan membawa 2 mobil. Mobil yang pertama membawa Varo dan keluarganya sementara mobil kedua membawa seserahan.
Saat mobil keluar dari pelataran rumah, Vanya melihat Bima yang juga ingin keluar rumah dengan pakaian yang rapi. Vanya pun mengeryitkan dahinya. Ia penasaran ingin pergi kemana si Bima, sejak tadi pagi Bima tak ada menghubunginya.
''Apa Ae mengundang Bima juga? tapi bukankah pernikahan ini rahasia ya?'' batin Vanya.
Setelah hampir setengah jam perjalanan, Varo dan keluarganya telah sampai di halaman rumah Aelesha. Di sana sudah ada beberapa mobil dan motor yang mengisi halaman rumah.
Varo mengambil nafas dalam-dalam lalu di hembuskannya secara perlahan.
''Deg-degan ya Kak,'' ejek Vanya.
''Nggak usah ngejek Kakak, kamu belum ngrasain yang namanya kayak gini,'' ujar Varo.
Mereka pun langsung masuk ke dalam rumah, di sana sudah ada penghulu yang menunggunya. Varo pun duduk di depan penghulu dan juga Om Rio, calon mertuanya.
''Bagaimana, apa sudah siap?'' tanya Pak Penghulu.
''Siap Pak,'' ujar Varo mantap.
Tangan Varo menjabat tangan Pak penghulu, setelah itu ia mengucapkan ijab qabul yang di saksikan keluarga dan kerabat dekat.
''Bagaimana para saksi, sah?''
''Sahhhh,''
''Alhamdulillah,''
Varo pun menghembuskan nafasnya dengan panjang. Akhirnya, yang ia inginkan selama ini terkabul juga. Sekarang ia sudah sah menjadi seorang imam di dalam rumah tangganya. Ia berhasil mempersunting murid kesayangannya yang sedikit kekanak-kanakan dan juga bar-bar. Murid yang suka seenaknya sendiri dan selalu melanggar tata tertib.
Varo tersenyum kala mengingat wajah istrinya yang sangatlah imut dan juga menggemaskan namun kadang juga membuat darahnya naik.
Sepatu hak tinggi terdengar menuruni anak tangga, semua mata memandang ke arah suara sepatu itu.
Di sana ada Aelesha yang menjadi ratu hari ini. Balutan kebaya berwarna putih dengan rambut yang di sanggul membuat kecantikannya bertambah. Hari ini tidak ada Aelesha yang imut-imut, yang ada Aelesha yang terlihat dewasa dan tambah menawan di mata Varo. Varo pun sampai tak berkedip melihat istrinya saat ini.
''Cantik sekali istriku,'' batin Varo.
Ae berjalan mendekat ke arah Varo, entah mengapa jantung Varo malah berdegub dengan kencang. Ae duduk di samping Varo yang tengah menatapnya. Ae tersenyum menampilkan giginya yang rapi dan juga putih.
''Kamu cantik,'' 2 kata yang membuat Ae tersipu malu. Wajahnya terasa seperti terbakar, Ae yakin jika saat ini wajahnya sudah seperti kepiting rebus.
Setelah acara inti selesai, banyak keluarga dan juga kerabat dekat yang ikut mendoakan pernikahan mereka. Senyum tak luntur dari wajah 2 keluarga itu.
''Akhirnya kita jadi besan ya Yun,'' ujar Mama Gea.
''Iya Ge, aku nggak nyangka Ae secepat ini menikah dengan anak sahabatku sendiri,'' ujar Mama Yuni.
''Ini yang namanya jodoh Yun. Aduhh,, aku nggak sabar pengen cepet-cepet gendong cucu,'' ujar Mama Gea.
''Aduhh Ge Ae masih ingin kuliah. Mana bisa ia punya anak dalam waktu dekat ini. Biarkan ia lulus kuliah dulu Ge,'' ujar Mama Yuni yang tak setuju dengan ucapan Mama Gea.
''Ya nggak pa-pa Yun. Biar aku yang jaga anaknya. Biar Ae fokus pada kuliahnya, sementara Varo fokus sama pekerjaannya,'' ujar Mama Gea yang kekeh pada pendiriannya.
''Ya udah deh terserah. Aku hanya pengen anakku fokus dulu sama kuliahnya Ge. Apalagi dengan umurnya yang masih sangat muda, pasti masih pengen seneng-seneng kan ya. Biarkan mereka pacaran dulu setelah nikah,'' ujar Mama Yuni.
''Ya juga sih,'' ujar Mama Gea menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Di tempat yang sama, Vanya tengah menyendiri. Berkali-kali ia menatap ponselnya, namun tak ada bunyi pesan satupun dari seseorang yang di kenalnya 3 hari yang lalu.
''Aku masih penasaran pergi kemana dia tadi?'' gumam Vanya. Ia membuka pesan-pesan yang biasa ia baca setelah chat dengan Bima. Ia melihat nomor Bima yang baru saja aktif beberapa menit yang lalu, membuat hatinya terasa nyeri.
''Kenapa hatiku merasa kecewa ya, padahal kan kita hanya sebatas teman, tidak lebih. Dia mau chat atau tidak itu bukan urusanku. Siapa tau aja dia udah punya kekasih,'' batin Vanya memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Saat langkahnya ingin mendekat ke arah keluarganya, ia tak sengaja melihat sosok yang ia kenal datang bersama seorang wanita.
Vanya pun tersenyum getir, ternyata perhatian-perhatian kecil yang Bima tunjukkan kepadanya hanya sebatas kepada teman tidaklah lebih, pikir Vanya.
Bima dan wanita itu terlihat memberi selamat kepada pasangan suami istri yang baru beberapa saat ini mengubah statusnya. Tanpa Vanya sadari, Bima telah mendekat ke arahnya.
''Hai, nglamun aja!'' ujar Bima membuat Vanya tersadar.
''Oh, hai,'' ucap Vanya terlihat tersenyum, namun senyum tidak ikhlas yang terlihat.
''Sepertinya aku terlambat ya, ijab qabulnya sudah selesai. Padahal saat kamu berangkat tadi aku juga ikut berangkat,'' ujar Bima.
''I iya,'' ujar Vanya apa adanya.
''Apa kamu ingin makan sesuatu? Biar aku ambilkan,'' ujar Bima membuat Vanya langsung menggeleng.
''Aku kenyang. Aku ke Mama Papa dulu,'' pamit Vanya langsung melenggang pergi.
''Ada apa sih dengan Vanya. Kenapa dia sangat cuek hari ini, enggak seperti biasanya,'' gumam Bima. Ia pun tak ambil pusing. Bima malah mendekat ke arah Wilo dan juga teman-temannya yang sedang asik bersenda gurau.
*
*
Maaf lama up guys.
Lagi sibuk rl nih.