
Bima menaiki anak tangga menuju kamar Aelesha.
Tok tok tok.
''Ae, boleh Kakak masuk?'' tanya Bima.
''Masuk aja Kak,'' ucap Aelesha.
Bima pun memutar knop pintu, lalu masuk ke dalam kamar Ae. Di sana ada Bibi Nur yang tengah memijat leher Ae bagian belakang.
''Kamu sakit apa? Dan sejak kapan? Kenapa telpon dan chat Kakak nggak pernah kamu bales?'' pertanyaan beruntun di lontarkan oleh Bima kepada Ae.
''Huft, gimana mau angkat dan bales pesan Kak Bima. Ponselnya aja di bawa Pak Varo,'' batin Ae.
''Ae sakit gigi Kak. Kepala juga ikut nyut-nyutan,'' ujar Aelesha tak menjawab pertanyaan terakhir Bima.
''Kakak antar ke dokter yuk!'' ajak Bima.
''Nggak mau,'' tolak Aelesha.
''Gimana mau sembuh kalau nggak mau ke dokter. Besok Kakak mau ke puncak sama temen-temen Kakak, kamu bisa ikut kalau kamu mau,'' ucap Bima.
''Naik motor?'' tanya Ae.
''Ya iya dong. Kamu pasti pengen ikut kan? Ya udah kita ke dokter sekarang,'' ujar Bima.
''Pasti Kak Bima bohong. Biar aku mau di ajak ke dokter kan. Aku nggak akan ke tipu,'' ucap Aelesha dengan wajah di tekuk.
''Beneran Ae, emang Kak Bima pernah bohong sama kamu?'' ucap Bima.
''Ya enggak sih. Ae ikut ya Kak. Tapi Ae bawa motor sendiri,'' ucap Aelesha dengan nada memohon.
''Tapi kamu harus izin dulu sama Tante Yuni. Aku nggak mau ya kena omel gara-gara bawa anak gadis orang,'' ujar Bima.
''Siap Bos. Ya udah anterin Ae ke dokter sekarang. Ae nggak mau liburan tapi merasakan gigi yang sakit,'' ucap Aelesha.
''Siap Tuan Putri. Yuk berangkat sekarang,'' ujar Bima.
Bima pun mengantar Ae ke dokter gigi. Bima mengerti jika saat ini Ae tengah ketakutan karna raut wajah yang pucat dan telapak tangan yang dingin.
''Nggak usah takut, ada Kakak di sini,'' ucap Bima menggenggam tangan Aelesha yang tengah antri menunggu giliran di panggil.
''Kak, aku merasa Kak Bima seperti Kakak yang selalu melindungi Ae. Aku kangen sama Kak Ai. Semoga tenang di sana Kak,'' batin Aelesha.
Saat nama Ae si panggil, Ae tak mau masuk seorang diri. Ae memaksa Bima mengantarnya masuk ke dalam.
Dokter yang bernama Alma itupun memeriksa gigi Aelesha.
''Gimana Dok? Nggak di cabut kan?'' tanya Aelesha yang sudah ketakutan.
''Enggak kok. Sebenarnya gigi kamu nggak kenapa napa, nggak ada yang berlubang juga,'' ucap Dokter Alma.
''Tapi kok sakit dok?'' tanya Aelesha.
''Itu karna ada makanan yang masuk ke sela-sela gigi yang dapat menimbulkan rasa sakit. Kamu diam dulu ya, biar saya ambil makanan yang masuk tadi,'' ucap Dokter Alma dengan penuh kesabaran.
Setelah makanan yang masuk ke sela-sela gigi sudah di ambil, Ae merasa bisa bernafas lega karja giginya sudah tak sakit lagi.
''Makasih ya Dok. Ini beneran gara-gara makanan yang masuk tadi,'' ujar Aelesha tersenyum bahagia.
''Iya. Jika makan daging dan yang lainnya harus hati-hati. Walaupun gigi kita utuh, tapi makanan itu masih bisa masuk ke sela-selanya,'' ucap Dokter Alma.
''Iya Dok, sekali lagi terima kasih,'' ucap Aelesha.
Setelah selesai memeriksakan giginya, Ae mengajak Bima mampir dulu ke cafe yang biasa ia dan teman-temannya berkumpul. Sejak tadi siang ia belum memakan apapun. Cacing di dalam perutnya pun minta asupan gizi dari Aelesha.
''Kak Bima jahat deh,'' Aelesha kesal karna sejak di perjalanan dari tempat dokter tadi, Bima selalu mengejeknya.
''Maaf maaf cuma bercanda Ae. Kamu mau pesan apa?'' tanya Bima sambil membolak balikkan daftar menu.
''Indomie kuah, telurnya setengah mateng di tambah irisan cabenya 5 biji,'' ucap Aelesha kepada pelayan cafe itu.
''Ae, kamu ngajak Kakak makan di sini cuma mau makan indomie, yang benar saja kamu,'' ucap Bima menggeleng-gelengkan kepalanya.
''Salahnya di mana Kak? Aku udah lama nggak makan indomie di sini. Apalagi sekarang hujan, ya paling enak makan yang anget-anget dan berkuah,'' ujar Aelesha.
''Ya sudah, samakan saja pesanan saya seperti adik saya Mbak,'' ucap Bima.
''Lha, malah ikutan,'' ejek Aelesha.
''Benar yang kamu katakan. Kayaknya memang enak sih hujan-hujan gini makan indomie kuah,'' ucap Bima.
Setelah pesanan mereka sudah berada di depan mata, Ae dan Bima pun menikmati indomie kuah dengan irisan cabe merah dan telur setengah matang. Wajah Bima sampai memerah karna merasa lidahnya terbakar karna panas dari kuah dan pedasnya irisan cabe.
''Kak Bima lucu,'' Ae menatap Bima sambil cekikikan sendiri.
''Gila ini pedas banget Ae,'' ucap Bima yang sudah menghabiskan air mineral 1 botol.
''Mending Kak Bima pesen lagi aja yang nggak pedas. Kasihan perutnya,'' ucap Aelesha.
''Enggak mau! Pasti nanti kamu ejek Kakak kalau Kakak nggak bisa habisin ini,'' ucap Bima yang memaksa agar indomie itu masuk ke dalam perutnya.
''Udahlah mending Kakak pesan aja. Aku nggak bakal ejek Kakak kok. Aku pesenin lagi ya,'' ucap Aelesha.
''Nggak usah. Aku udah kenyang. Kenyang air,'' ucap Bima yang meminum air mineral botol kedua.
''Ya udah kalau nggak mau,'' ucap Aelesha.
Di meja lain tampak seseorang melihat ke arah Aelesha dengan tangan yang terkepal erat.
''Aelesha, siang tadi kamu nggak mau ketemu aku dengan alasan lagi nggak enak badan. Dan sekarang kamu malah berduaan dengan lelaki lain makan di cafe. Apa sih sebenarnya maumu Ae?'' batin Varo menatap Ae dari kejauhan.
Varo datang ke Cafe bersama Iqbal, teman Varo yang pernah mengobati luka Aelesha. Dan Varo tak menyangka akan melihat Ae di cafe yang sama.
''Gimana Aelesha. Apa dia udah beneran sembuh?'' tanya Iqbal.
''Aku nggak tau,'' ucap Varo yang matanya masih fokus ke tempat Ae berada.
''Yah kok nggak tau sih. Menurut kamu Aelesha itu gimana sih orangnya?'' tanya Iqbal.
''Aku nggak tau,'' ucap Varo dengan jawaban yang sama seperti di awal.
''Aelesha imut ya. Dia juga kelihatannya cerdas. Andai aku juga murid di sana. Pasti udah aku embat tuh,'' ucap Iqbal, Varo hanya diam saja tak menanggapi ucapan Iqbal karna mata dan fikirannya fokus pada Aelesha.
''Varo! Kamu lihatin apa sih, dari tadi di ajak ngomong diem aja,'' ucap Iqbal menoleh ke arah Varo melihat.
''Tuh dia Aelesha,'' ucap Varo menunjuk dengan dagunya.
''Itu cowoknya?'' tanya Iqbal.
Varo hanya mengedikkan bahunya pertanda tidak mengerti.
''Mereka cocok sih menurutku,'' ujar Iqbal membuat hati Varo semakin memanas.
*
*