
Beberapa bulan kemudian.
Hari ini adalah hari terakhir ujian bagi kelas 12. Ae yang menginginkan sekolah di universitas idamannya di negara S pun dengan semangat mengikuti ujian. Ia benar-benar akan melanjutkan kuliahnya di negeri orang.
''Semangat Ae, jalanmu masih panjang. Ingat cita-citamu yang ingin menjadi Dokter spesialis,'' batin Ae sambil mengisi lembar jawabannya.
Saat di tengah-tengah ia mengerjakan soalnya. Ia teringat kembali dengan Varo yang ingin mengajaknya menikah setelah lulus sekolah. Ae pun menghembuskan nafas panjangnya.
''Kenapa dia malah mampir di fikiranku?'' batin Ae kesal. Ia pun berusaha menjernihkan otaknya kembali dengan membaca soal-soal. Namun tetap saja di otaknya masih terbayang-bayang sosok Varo.
''Akhhh,,, udah beberapa bulan ini aku berusaha melupakannya, tapi kenapa dia malah muncul kembali,'' batin Ae sambil meninju kepalanya dengan pelan.
*
Sementara di lain tempat, saat ini Varo dan Diva sedang merencanakan pertunangannya yang akan di adakan besok lusa di kediaman Diva. Jelas dengan amnesia Varo membuat Diva sangat bahagia. Ia tidak perlu repot-repot dan bekerja keras untuk merebut hati Varo kembali.
''Sayang, habis ini kita beli cincin ya. Aku pengen cincin yang simple tapi mewah, yang berhiaskan berlian. Aku nggak mau ya kalau kamu belikan cincin yang biasa-biasa saja,'' ujar Diva dengan bergelayut manja di lengan Varo.
''Iya, nanti pilihlah yang kamu suka,'' ujar Varo sambil melepaskan tangan Diva yang bergelayut di lengannya. Ia merasa risih dengan Diva yang menurutnya sangatlah manja.
''Kenapa aku ragu dengan pertunangan ini? Bukankah ini adalah pertunangan yang aku impikan sejak dulu. Aku sungguh ingin bersanding dengan Diva, tapi entah mengapa akhir-akhir ini gadis kecil itu selalu saja mampir di mimpiku. Dan sudah lama aku tak pernah melihatnya lagi,'' batin Varo.
Malam harinya.
Varo sedang berdiri di balkon kamarnya. Ia benar-benar memikirkan pertunangannya dengan Diva yang akan di laksanakan besok lusa. Mama Gea yang ingin melihat keadaan anaknya pun ikut menyusul Varo ke balkon.
''Apa yang kamu fikirkan Ro?'' tanya Mama Gea yang tiba-tiba muncul dari arah belakang Varo.
''Eh Mama,'' ujar Varo sedikit kaget dengan kedatangan Mamanya.
''Sepertinya kamu banyak fikiran ya,'' ujar Mama Gea yang bisa menebak fikiran Varo.
''Enggak kok Ma,'' ujar Varo berbohong.
''Mama wanita yang melahirkanmu Ro. Mama tau apa yang di rasakan anak Mama,'' ujar Mama Gea sambil mendaratkan bokongnya di kursi yang ada di balkon itu.
Varo pun menghembuskan nafasnya sebelum ia bercerita dengan sang Mama. Mungkin ini adalah hal yang pas untuk di ceritakan dengan wanita yang telah melahirkannya.
''Sebenarnya Varo ragu dengan pertunangan ini Ma,'' ujar Varo yang ikut duduk di sebelah Mamanya.
''Why?'' tanya Mama Gea dengan tatapan penasaran.
''Entahlah Ma. Tapi hati ini ragu dengan pertunangan ini. Akhir-akhir ini Varo sering bermimpi tentang gadis kecil itu,'' ujar Varo sambil mendongakkan kepalanya melihat kelap kelip bintang di langit.
''Gadis kecil? Gadis kecil yang mana?'' tanya Mama Gea tidak tau.
''Gadis kecil yang kata Mama dia calon istriku,'' ucap Varo.
''Maksud kamu Aelesha?'' tanya Mama Gea, Varo pun menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan.
''Tapi mengapa aku nggak ingat apapun dengan gadis itu Ma. Bahkan tak ada satupun foto atau apapun tentangnya yang masih tersimpan di kamarku?'' tanya Varo.
''Karna kamu belum lama kenal dengannya. Pertama kali Mama bertemu dengannya, Mama sudah tau jika gadis itu gadis baik-baik. Ya walaupun ia masih sedikit kekanak-kanakan karna memang umurnya juga masih sangat muda. Waktu itu kamu mengenalkannya kepada Mama dia adalah wanita yang akan mendampingimu kelak. Kalian pasangan yang sangat serasi walaupun umur kalian terbilang jauh. Kamu juga seperti sangat mencintainya, padahal kan dia muridmu sendiri di sekolah,'' ujar Mama Gea sedikit memberi bumbu pada ucapannya agar Varo sedikit mengingat tentang Aelesha.
''Apa benar aku sedekat itu dengan gadis kecil itu?'' batin Varo.
''Terus bagaimana hubunganku dengan Diva Ma?'' tanya Varo.
''Kamu pernah bilang sama Mama kalau kamu dan Diva sudah lama putus. Diva menghianati kamu dan jalan dengan orang lain masuk ke dalam hotel. Hanya 1 pesan Mama, Mama nggak mau kamu kembali dengan orang yang salah Ro. Semoga ucapan Mama ini bisa kamu pertimbangkan baik-baik sebelum semuanya terlambat,'' ujar Mama Gea bangkit dari duduknya. Mama Gea pun meninggalkan Varo yang tengah berfikir sendiri.
''Akhhh kenapa aku nggak ingat apa-apa?'' ucap Varo sambil menjambak rambutnya dengan kesal.
*
Hari pertunangan pun telah tiba. Varo yang sudah lengkap dengan baju dan jas yang ia pakai pun sejenak berdiri di depan kaca besar di dalam kamarnya. Ia akan meyakinkan hatinya bahwa pertunangan ini bukanlah pertunangan yang akan ia sesali nantinya.
''Sebentar lagi aku akan bertunangan dengan Diva. Semoga pilihanku ini adalah pilihan yang tepat,'' ujar Varo memantapkan hatinya.
Ia pun menuruni anak tangga. Di sana sudah ada Mama Gea Papa Rayan dan juga Vanya yang sudah siap.
''Anak Mama tampan sekali,'' puji Mama Gea.
''Makasih Ma. Kita berangkat sekarang ya,'' ajak Varo dan di angguki oleh mereka bertiga.
Mereka pun berangkat ke rumah Diva di antar oleh supir pribadi keluarga Rayan. Setelah beberapa saat, mobil yang mereka tumpangi telah sampai di halaman rumah Diva.
Di sana sudah banyak para tamu undangan yang datang untuk menghadiri pertunangan anak dari keluarga pembisnis Rayan dan juga Jeremi.
Varo dengan langkah ragu-ragu masuk ke dalam rumah di ikuti oleh orang tuanya.
Tringg tringg tringg.
Tiba-tiba ponsel milik Mama Gea berdering. Mama Gea dan yang lain pun menghentikan langkahnya.
''Halo Yun, ada apa?'' tanya Mama Gea.
''Maaf Ya Ge. Aku nggak bisa datang ke acara pertunangan anak kamu. Hari ini Ae akan berangkat ke negara S. Jadi mau tidak mau aku dan suami harus mengantarkan dia. Sekali lagi maaf ya,'' ucap Mama Yuni di seberang telepon.
''Jadi Ae harus berangkat sekarang ke negara S. Yah, padahal aku pengen kalian datang dan hadir di sini loh Yun. Tapi nggak pa-pa sih semoga perjalanan kalian lancar ya. Semoga Ae bisa meraih apa yang ia cita-citakan,'' ujar Mama Gea. Setelah bercakap-cakap sedikit lama akhirnya mereka pun mengakhiri panggilan telepon itu.
*
*
'