
Pernikahan Bima dan Vanya baru saja selesai di gelar. Dan hari ini mereka berdua resmi melepas masa lajangnya dan berganti status kawin alias menikah.
Senyuman tak pernah luntur dari bibir mereka berdua.
''Aku nggak nyangka akan melepas masa lajangku secepat ini,'' ucap Bima.
''Aku juga Mas,'' ucap Vanya dengan malu-malu.
Mereka berdua duduk di kursi pelaminan. Banyak tamu undangan yang ikut hadir memberi selamat kepada Vanya dan Bima.
''Selamat Bro. Secepat ini kamu menemukan pendamping. Beda sama aku,'' ujar Al, sahabat Bima.
''Mungkin jodohmu masih di jaga orang kali, hehe,'' ucap Bima sambil cengengesan.
''Kak Alll,'' pekik seorang wanita yang tidak asing di telinga mereka.
Al dan sepasang pengantin baru itu langsung mencari ke arah sumber suara, dan benar pemilik suara itu adalah Aelesha.
''Aelesha,'' ucap Al.
''Kak Al apa kabar, ihh kenapa lama nggak muncul,'' rengek Aelesha dengan wajah yang di tekuk.
''Bukannya kamu udah nikah ya?'' tanya Al.
Ae pun mengangguk pelan. Ia lupa jika saat ini ia tidak lajang. Berbeda saat ia bertemu Al dulu.
''Aelesha!'' suara bariton itu terdengar dingin di telinga Ae. Ia memutar tubuhnya pelan menuju ke arah suara itu.
''E eh sa sayang, em ini kenalin Kak Al, temen Aelesha,'' ucap Ae sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
''Varo, suami Aelesha!'' ucap Varo dengan lantang sambil menjabat tangan Al.
''Al,'' ucap Al membalas jabat tangan Varo.
''Em Kak Al, aku pergi dulu ya. Sampai bertemu lain hari,'' ucap Aelesha sambil melambaikan tangan dan menarik tangan Varo untuk pergi dari sana.
Rasa-rasanya akan ada perang ketiga jika Varo tidak di ajak pergi dari sana. Aelesha sudah hafal dengan raut wajah Varo yang tidak bersahabat.
''Lepas!'' ucap Varo melepaskan tangannya dengan kasar.
''Kok kamu kasar sih Mas!'' ucap Aelesha tidak terima.
''Kamu ngapain ha? Di tinggal ambil makan aja udah deket-deket sama cowok lain. Kamu itu udah punya suami tau nggak?'' ucap Varo dengan nada tinggi.
''Kamu ngebentak aku? Aku cuma nyapa dia doang. Aku nggak ngapa-ngapain. Di sana juga ada adik ipar, memang nya aku berani ngapain?'' ucap Aelesha kesal.
''Udah jadi kebiasaan ya kamu itu. Selama ini kamu nggak pernah hargai aku tau nggak? Kalau kamu udah ketemu sama temen kamu, pasti kamu lupain aku begitu saja,'' ucap Varo.
Di saat pertengkaran mereka, ada seseorang yang tengah memperhatikan mereka dari jauh. Dan Aelesha sangat mengenal wanita itu.
''Sebaiknya kita bertengkar di kamar saja. Aku nggak mau di lihat banyak orang,'' ucap Aelesha meninggalkan Varo yang tengah menatapnya kesal.
Sesampainya di kamar, Aelesha melepaskan gaun yang ia pakai tadi. Rasanya tubuhnya sangat lengket karna seharian memakai pakaian seperti itu.
Saat ia melepaskan gaunnya. Varo masuk ke dalam kamar. Aelesha hanya cuek saja. Berbeda dengan Varo yang tengah menelan salivanya dengan susah payah.
''Pasti kamu tergoda dengan tubuhku ini kan?'' batin Aelesha sambil memakai bajunya dengan gaya menggoda.
''Akhh sialll, selalu seperti ini. Aku kan nggak bisa jika lihat tubuhnya yang polos seperti ini,'' batin Varo. Langkah Varo tiba-tiba mendekat ke arah Aelesha.
Greb.
Varo langsung memeluk Ae dari belakang.
''Gimana aku nggak marah kalau istriku dekat-dekat sama lelaki lain?''
''Minggir!'' sentak Aelesha. Ia pura-pura kesal kepada suaminya itu.
''Maafin aku ya sayang. Aku terlalu cemburu jika kamu dekat-dekat sama cowok lain. Aku nggak mau kamu duain aku sayang,'' ucap Varo.
''Terserah deh terserah! Memangnya selama ini aku kurang setia gimana sama kamu. Aku cuma nyapa dia doang. Eh, kamu malah marah-marah nggak jelas!''
''Iya, maafin aku ya. Udah jangan kesel gitu dong. Nanti hilang loh cantiknya,'' rayu Varo.
''Kucingku ini sangat manis sekali jika ada maunya. Akh dasar lelaki,'' batin Aelesha.
''Jangan di ulangi lagi. Apalagi sampai bentak aku di depan umum kayak tadi. Aku nggak mau Mas,'' ucap Aelesha dengan suara manjanya.
''Iya sayang. Maafin Mas ya. Mas janji nggak akan ngulangi hal yang tadi. Mas khilaf Ae,'' ujar Varo dengan tatapan menyesal
Akhirnya mereka menyelesaikan masalah mereka di atas ranjang.
*
1 bulan pun telah berlalu, hari ini adalah hari keberangkatan Aelesha menuju negara S. Ia ingin melanjutkan studynya di sana.
Aelesha berangkat ke negara S bersama dengan suaminya. Varo lebih memilih meninggalkan karirnya menjadi guru, hanya karna ingin menemani sang istri disana.
Varo tidak mau Aelesha sendiri di negara itu. Apalagi Aelesha yang masih sangat muda dan cantik. Banyak orang yang mengira Aelesha belum mempunyai suami.
''Kita berangkat dulu ya Ma, Pa. Doain Aelesha pulang dengan gelar di belakang nama Aelesha. Aelesha bakal kangen sama Mama dan Papa,'' ujar Aelesha sambil merangkul Mama dan Papanya.
''Kamu hati-hati disana. Nurut sama suami, dan jangan bandel-bandel di negara orang Ae,'' ujar Mama Yuni.
''Siap Ma,'' ucap Aelesha dengan tangan hormat.
Ia pun beralih ke Mama dan papa mertua.
''Ma, Pa Ae berangkat dulu ya. Doain Aelesha bisa sukses nantinya,'' ucap Aelesha.
''Mama sama Papa pasti doain kamu Ae. Hati-hati ya di sana. Jangan lupa buatkan cucu untuk Mama,'' ujar Mama Gea yang langsung di cubit oleh Papa Rayan.
''Mama bercanda Pa,'' ucap Mama Gea.
''Van, Kak Bima, Aelesha pamit dulu ya. Yang rajin buat anaknya. Nanti kalau aku udah pulang, keponakannya harus sudah besar dan pinter ngomong ya,'' ujar Aelesha.
''Kamu juga jangan lupa buatnya. Di sana udah nggak ada pengganggu lagi. Harus cepet jadi dong,'' ujar Kak Bima yang tidak mau kalah dengan Aelesha.
''Aku masih kecil Kak. Aku belum bisa jadi Mama yang baik. Harus banyak belajar dulu,'' ujar Aelesha.
''Masih kecil tapi udah bisa buat anak, cie Aelesha,'' ledek Bima.
''Ihhh Kak Bima apaan sih. Aku di ajari sama Mas Varo nih. Aku sebenarnya polos tau nggak?!'' ucap Aelesha. Varo yang tiba-tiba namanya di sebut langsung melebarkan matanya.
''Sayang mending kita segera cek in. Kamu nggak mau kan gagal lagi berangkat ke negara S,'' ucap Varo yang tidak mau istrinya membahas begituan lagi.
''Betul yang di ucapkan Varo. Mending kamu segera cek in. Papa doakan semuanya lancar, dan kamu kembali membawa kesuksesan Ae. Jaga diri baik-baik sayang,'' ucap Papa Rio memeluk anak semata wayangnya itu.
''Ya sudah Aelesha pamit dulu. Da da semuanya. Sampai berjumpa 4 tahun lagi,'' ucap Aelesha melambaikan tangannya meninggalkan keluarganya yang tengah menatapnya.
*
*
TAMAT.