
''Lepasin dia!'' ucap seseorang yang sangat Ae kenali suaranya.
Ae langsung menoleh ke arah sumber suara, dan benar pemilik suara itu adalah Varo. Ae pun langsung melepaskan tangan Diva.
''Berani sekali kamu menyakitinya. jelas-jelas yang salah itu teman-temanmu, apa seperti ini perbuatanmu selama ini? padahal kamu masih pelajar loh, tapi kenapa sudah seperti brandalan saja,'' ujar Varo tersenyum mengejek.
Ae yang mendengarkan ucapan Varo seperti itu jelas hatinya merasa sakit. Bagaimana bisa orang yang ia cintai malah membela orang lain.
''Jelas-jelas dia ngerem mendadak. Kenapa kalian tidak mau di salahkan. Huh, dasar orang sok kaya,'' ucap Wilo yang kesabarannya hanya setipis tisu.
''Kita ini memang orang kaya. Tidak seperti kalian ya, bahkan kami bisa membeli dealer motor kesayangan kalian ini hanya dalam waktu sekejab,'' ujar Diva dengan sombongnya.
''Waww, amazingg,'' ucap Wilo sambil bertepuk tangan heboh. ''Bahkan kami juga bisa membeli mulut orang sombong seperti anda ini,'' ujar Wilo menatap tajam ke arah wanita yang ada di depannya ini.
''Udah Wil udah,'' ucap Ae kepada Wilo.
''Dia yang mulai duluan Ae,'' ujar Wilo meredam kekesalannya.
''Jadi pengen kalian apa?'' tanya Ae sambil menatap Varo dengan tatapan yang sulit di artikan.
''Ya ganti rugi dong!'' ucapcDiva.
''Katanya orang kaya, masa mobil lecet gini aja minta ganti rugi. Kok nggak malu,'' sahut Wilo memutar bola matanya jengah.
''Kalau kami nggak mau ganti rugi bagaimana?'' tanya Ae bersedekap dada dengan gaya santainya.
''Aku akan membawa kasus ini ke kantor polisi,'' ujar Diva tersenyum sinis ke arah Aelesha.
''Aduhhh aku takutt,'' ujar Aelesha dengan akting yang membuat orang lain kesal. Namun detik berikutnya wajahnya berubah datar. ''Bawa saja kami nggak takut,'' ucap Ae dengan santai.
''Oke, karna kamu yang meminta duluan akan aku laporkan kalian ke polisi,'' ucap Diva.
''Silahkan Nyonya Diva yang terhormat, calon istri dari Georgino Alvaro,'' ucap Aelesha sambil memandang Varo yang berada di dekat mobil.
''Kenapa tatapan matanya sangat tidak asing. Siapa sebenarnya gadis ini. Kenapa saat aku dekat dengannya bawaannya hanya kesal kesal dan kesal,'' batin Varo.
''Ayo cepat laporkan ke polisi. Bahkan aku tak menjamin jika kamu masih bisa pulang ke rumah setelah lapor polisi,'' ujar Ae tersenyum smirk.
''Kamu mengancam kami?'' tanya Diva menatap tajam ke arah Aelesha.
''Aku tidak mengancam. Hanya bicara saja,'' ucap Ae dengan gaya santainya.
''Ck, jangan coba-coba mengancam ya. Aku akan benar-benar melaporkan kalian ke polisi,'' ujar Diva benar-benar menelpon polisi. Ae langsung mengambil ponsel yang ada di tangan Diva lalu mematikan sambungan telponnya.
''Sebelum kamu lapor polisi, sebaiknya kamu ikut aku,'' ujar Aelesha menarik ujung baju milik Diva.
''Hey, kamu mau bawa aku kemana? lepasin nggak!'' ucap Diva yang terus meronta ingin di lepaskan.
Sesampainya di sebuah toko yang tak jauh dari TKP (tempat kejadian perkara) Ae meminta pemilik toko untuk memutarkan rekaman CCTV yang terekam beberapa menit yang lalu. Tadi Ae tak sengaja melihat ada CCTV yang terpasang di dekat sana, Dan benar saja jika mobil Diva yang mengerem mendadak dan membuat Ata menabraknya dari belakang.
Ae yang melihat kejadian itu pun tersenyum mengejek. Sementara Diva menutup wajahnya karna malu.
''Sudah tau kan siapa yang salah disini? Jadi jangan pernah cari gara-gara dengan geng Silent Boom,'' ucap Ae menatap tajam Diva lalu meninggalkannya.
Setelah sampai di tempat teman-temannya, ia pun mengajak teman-temannya melanjutkan perjalanan.
''Cabut guys,'' ucap Ae langsung memakai helmnya.
''Hei, kalian mau kemana? Tanggung jawab dulu,'' ucap Varo berteriak kepada Ae dan teman-temannya. Ae pun melepas kembali helmnya lalu mendekat ke arah Varo.
''Calon istri Mas Varo cantik, tapi sayang tukang fitnah orang,'' ucap Ae sambil tersenyum penuh arti ke arah Varo.
''Mas, dia memanggilku Mas. Kenapa rasanya aku senang sekali saat ia memanggilku dengan sebutan seperti itu. Sebenarnya siapa sih gadis ini. Apa benar aku pernah mengenalnya,'' batin Varo menatap kepergian Ae bersama dengan teman-temannya.
Diva pun kembali menuju mobilnya. Sangat di sayangkan ia tak bisa meminta ganti rugi kepada orang yang menabraknya. Kekesalannya berkali-kali lipat saat Ae lebih cerdas daripada dirinya sendiri.
''Gimana Div?'' tanya Varo.
''Mereka nggak mau tanggung jawab! Kamu dengar sendiri kan kalau aku melaporkannya ke polisi ia malah mengancamku yang tidak-tidak. Dasar anak brandalan, percuma orang tuanya membesarkan mereka jika sudah besar malah jadi seperti itu,'' gerutu Diva sambil menghentak-hentakkan kakinya kesal.
''Udahlah, nanti setelah dari rumah sakit kita ke bengkel buat benerin mobil kamu,'' ucap Varo dengan sabar.
Sementara di lain tempat.
Ae dan gengnya sedang berada di sebuah taman. Mereka menikmati udara sejuk di pagi hari dengan angin sepoi-sepoi yang menerpa kulitnya.
Saat yang lain sedang bersenda gurau bersama, Ae lebih memilih menyendiri di bawah pohon dengan memegang sebuah botol plastik yang di dalamnya terdapat air mineral.
Ae memejamkan matanya sejenak untuk mengurangi kegundahan di dalam hatinya.
''Bagaimana aku bisa melupakanmu, bahkan saat aku keluar rumah sekalipun, di sana aku bisa bertemu denganmu,'' batin Aelesha.
Dorrrr.
Wilo datang mengagetkan Ae yang tengah memejamkan mata.
''Hobby banget bikin orang jantungan,'' gerutu Aelesha kesal.
''Kamu kenapa? Mikirin orang yang tadi?'' tanya Wilo pura-pura tidak tau, padahal ia sudah tau jika Ae sedang memikirkan guru matematikanya itu.
''Enggak memikirkan, cuma kefikiran aja,'' ucap Aelesha yang melanjutkan memejamkan matanya.
''Udahlah lupain dia Queen, cari cowok yang baru yang lebih dari dia,'' ujar Wilo.
''Belum ketemu, kalau udah ketemu nanti langsung aku ajakin nikah,'' ucap Ae asal.
''Heleh sok-sok an ngomongin nikah. Ingat, kamu masih kelas 2 SMA,'' ucap Wilo.
''Ya nggak pa-pa dong. Contohnya nikah sama anak pemilik sekolah, kan aku masih bisa melanjutkan sekolah disana,'' ujar Aelesha yang tak sadar dengan ucapannya.
''Memangnya kamu tau siapa pemilik sekolahnya?'' tanya Wilo memancing Ae.
''Enggak tau,'' ucap Aelesha.
''Pemilik sekolahan kita adalah Pak Rayan, Papa Pak Varo guru matematika kita,'' ujar Wilo menjelaskan.
''Apa?! Kenapa aku nggak tau,'' ucap Aelesha langsung membuka matanya dengan lebar.
''Pengetahuanmu kurang luas,'' ucap Wilo dengam santai.
''Masa iya Om Rayan? Sejak kapan? Kenapa masalah begini aku nggak tau,'' batin Aelesha.
''Dan tanpa sadar kamu ingin menikah dengan anaknya. Udah berapa kali kamu ingin menikah dengannya. Cieee, yang nggak bisa move on,'' ledek Wilo membuat wajah Aelesha memerah seperti kepiting rebus.
*
*