
Jam menunjukkan pukul 2 siang. Namun Ae masih terlelap di alam mimpinya. Sementara Bima juga ikut terlelap di sofa dekat dengan Ae. Saat Ae tidur tadi, Bima juga merasakan ngantuk yang sangat hebat. Tiba-tiba ia ikut tertidur di sofa.
Beberapa menit kemudian, Bima menggeliat dalam tidurnya. Badannya terasa sangat sakit. Ia pun mengerjabkan matanya beberapa kali.
''Aww, pinggangku kenapa jadi encok begini?'' gumam Bima menyentuh pinggangnya yang terasa sakit.
''Jam berapa Kak?'' tanya Ae namun masih memejamkan matanya. Bima menyalakan ponsel miliknya untuk melihat jam.
''Jam 2 lebih seperempat,'' ucap Bima.
''Aku harus pulang Kak,'' ucap Ae langsung duduk saat mendengar ucapan Bima jika jam sudah menunjukkan pukul 2 lebih.
''Kita makan siang dulu. Nanti aku antar kamu pulang,'' ucap Bima. Mata Ae yang masih sangat mengantuk membuat Ae hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Ia juga tak yakin jika berkendara dalam keadaan mengantuk akan sampai di rumahnya atau justru sampai di rumah sakit.
''Aku ganti baju dulu ya,'' ucap Bima bergegas meninggalkan Ae yang masih mengumpulkan nyawanya.
Bima masuk ke dalam kamarnya. Ia membasuh muka terlebih dahulu agar terlihat fresh, setelah itu ia berganti pakaian.
Cukup waktu 10 menit ia turun lagi ke lantai dasar untuk mengantar Ae pulang ke rumahnya.
''Ayo, Kakak udah laper banget nih,'' ucap Bima.
Mereka pun keluar dari rumah bersama-sama. Muka bantal Ae masih menempel di wajahnya. Untung saja ia tidur tidak pernah ileran. Mungkin jika ileran, wajahnya yang cantik itu akan di penuhi oleh air liurnya.
''Ayo Ae cepet naik,'' ucap Bima yang melihat Ae jalan masih sempoyongan. Mungkin nyawa Ae belum terkumpul semuanya.
Bima memakaikan helm milik Ae. Saat Ae naik ke atas motor milik Ae sendiri, Bima dengan penuh perhatian memegang tubuh Ae agar tak limbung dengan tangan kirinya.
''Udah Kak, ayo jalan,'' ucap Ae menyandarkan kepalanya di punggung Bima.
''Pegangan dari pada cium aspal!'' perintah Bima. Ae pun memegang ujung jaket milik Bima.
Mereka tak sadar jika ada seseorang yang melihat interaksi mereka dengan tangan yang terkepal kuat.
''Ternyata dia hanya mempermainkanku?'' batin Varo.
''Tapi kenapa aku harus kesal dengannya. Apa aku sudah jatuh hati kepadanya? Tapi mana mungkin. Dia muridku sendiri,'' gumam Varo melihat Ae dan Bima meninggalkan halaman rumah Bima.
''Apa mereka pacaran? Kenapa romantis sekali?'' batin Varo bertanya-tanya.
Klunting.
Bunyi pesan di ponsel Varo mengagetkan lamunannya.
''Sore Pak Varo. Perkenalkan saya murid baru di kelas 11, nama saya Deena,'' ucap pesan itu. Varo hanya membacanya, ia enggan untuk membalas.
''Apaan sih. Ngirim pesan cuma perkenalan doang. Emangnya nggak bisa kenalan di sekolah?'' gerutu Varo memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya kembali.
''Anak Mama kenapa sih dari tadi ngomel-ngomel sendiri? Apa yang membuat kamu kesal, hem?'' tanya Mama Gea.
''Nggak ada Ma,'' ucap Varo santai.
''Masa sih. Tapi dari tadi Mama lihat kamu kesel sama tetangga depan rumah yang bonceng cewek deh. Apa kamu kenal?'' tanya Mama Gea penuh selidik.
''Dia murid aku Ma. Tadi pagi dia malah bolos pulang duluan, eh ternyata nyamperin si Bima,'' ucap Varo dengan rahang yang mengeras.
''Kamu cemburu?'' tanya Mama Gea yang tau gerak gerik anaknya.
''Mama apaan sih. Mana ada guru suka pada muridnya,'' ucap Varo yang tak mau melihat ke arah Mamanya.
''Oh iya ya. Kan kamu udah punya Diva,'' ucap Mama Gea.
''Oh iya Ma. Varo mau ngomong sama Mama. Sebenarnya hubungan Varo dan Diva udah lama berakhir. Diva selingkuh Ma, maka dari itu jika Diva datang kesini nggak usah ijinin dia masuk. Aku udah nggak mood lagi ketemu sama dia,'' ucap Varo kesal.
''Ya, aku nggak mau aja buat Mama sedih. Selama ini kan Diva udah deket banget sama Mama,'' ucap Varo.
''Kok bisa sih Diva selingkuhin anak Mama yang tampan ini. Apa kurangnya coba anak Mama ini. Udah tampan, seorang guru, calon CEO lagi di perusahaan GG corp,'' ucap Mama Gea.
''Udahlah Ma nggak usah bahas Diva. Aku udah muak denger namanya,'' ucap Varo yang terlihat kesal.
*
Di lain tempat, saat ini Bima dan Ae sedang makan sore yang seharusnya jadwal makan siang. Ae terlihat sangat lahap dengan makanan di depannya.
''Makasih ya Kak. Kak Bima kayak Kak Ai deh. Nggak lupa makanan kesukaan Ae,'' ucap Ae.
''Iya Ae. Habisin ya. Atau kamu mau bungkus buat di makan di rumah?'' tanya Bima.
''Enggak Kak. Ini aja udah cukup Kok,'' ucap Ae fokus pada makanannya.
''Ai, lihatlah adikmu sekarang sudah tumbuh dewasa dan sangat cantik. Dia pasti sangat merindukan sosok Kakak sepertimu. Yang selalu menyayangi dan melindungi dirinya. Aku berjanji akan melindungi Ae sama seperti kamu melindunginya Ai. Aku akan menganggap Ae seperti adikku sendiri. Kamu yang tenang di sana,'' batin Bima teringat dengan sahabat yang sangat baik dengan dirinya.
''Kak, kok Kakak malah ngelamun sih. Ini Ae udah selesai makannya. Kita pulang yuk! Katanya mau antar Ae,'' ujar Ae berdiri dari kursinya.
''Eh, i iya Ae. Kakak bayar dulu makanannya,'' ucap Bima.
Setelah membayar makanan, Bima mengantar Ae pulang ke rumah Ae.
''Kak nanti kalau di tanya Mama jawab apa dong?'' tanya Ae setengah berteriak karna suara bising dari motornya membuat Bima tidak mendengar ucapannya.
''Ya bilang aja kalau dari rumah Kakak,'' ucap Bima .
''Nanti kalau Mama marah gimana?'' ucap Ae was-was.
''Enggak! Udah kamu tenang aja,'' ucap Bima.
Setelah sampai di rumah Ae, mereka langsung di sambut oleh Mama Yuni yang berada di halaman rumah.
''Sore Tante,'' sapa Bima.
''Ya ampun Nak Bima. Kamu apa kabar? Kenapa sekarang jarang main kesini?'' tanya Mama Yuni.
''Em, belum sempat Tante. Bima sibuk dengan kerjaan Bima,'' ucap Bima.
''Kak Bima kerja apa? perasaan setiap aku kesana dia di rumah deh. Ahh masa bodo lah,'' batin Ae.
''Kok kalian bisa barengan gini?'' tanya Mama Yuni.
''Tadi aku main ke rumah Kak Bima Ma. Ya buat mengobati rasa rindu Ae pada Kak Ai. Maaf ya Ma,'' ucap Ae sendu.
''Ya nggak pa-pa dong sayang. Mama tau, kamu pasti merindukan kebersamaan-kebersamaan kamu dengan Kakak kamu. Makanya kamu main sama Nak Bima yang seumuran Kakak kamu,'' ucap Mama Yuni pengertian.
''Ya udah kita masuk yuk. Ayo Nak Bima,'' ajak Mama Yuni.
''Maaf Tante, bukannya mau menolak, tapi Bima harus pulang. Ada pekerjaan yang harus Bima selesaikan,'' ucap Bima.
''Terus mau pulang naik apa?'' tanya Mama Yuni.
''Bima udah pesan taksi online kok. Lain kali Bima mampir lagi Tan,'' ucap Bima sopan.
''Ya udah, Tante tunggu ya, lain kali harus mampir. Hati-hati di jalan Bim,'' ucap Mama Yuni yang melihat taksi berhenti di depan gerbang rumahnya.
*
*