AELESHA

AELESHA
6



1 bulan pun telah berlalu.


''Ae bangun Nak! Kamu nggak sekolah?'' tanya Mama Yuni yang menggoyang-goyangkan badan Ae.


''Jam berapa sih Ma?'' tanya Ae dengan mata yang masih terpejam.


''Udah jam setengah tujuh Ae,'' ucap Mama Yuni. Seketika mata Ae terbuka lebar. Bagaimana ia bisa bangun telat, padahal tadi malam ia tidur jam 9 malam.


''Kenapa Mama baru bangunin aku sih,'' gerutu Ae. ''Mampus aku, hari ini kan ada mata pelajaran Pak Varo,'' ucap Ae yang tiba-tiba teringat, ia langsung berlari menuju kamar mandi. Bukannya mandi melainkan hanya sikat gigi dan cuci muka.


Dengan gerakan tangan seribu, akhirnya Ae sudah siap berangkat sekolah. Penampilan Ae tak dapat di ragukan. Walaupun tak mandi hanya cuci muka, namun wajah dan tubuh Ae terlihat bersih dan wangi. Tidak ada yang tau jika gadis yang saat ini mengendarai motor sportnya itu tidak mandi.


Beberapa menit kemudian, Ae sudah sampai di sekolah SMA Guna Bangsa. Jarak antara rumah Ae ke sekolah memang tak terlalu jauh, hanya di tempuh beberapa menit saja sampai di sekolah.


Ae ingin memarkirkan motor kesayangannya di tempat biasa. Namun Ia mendapati ada sebuah mobil yang terparkir di dekat tempat mereka parkir. Mobil itu pun mengambil setengah parkiran milik geng Silent Boom. Ae pun tak bisa parkir di sana. Alhasil ia memarkirkan motor kesayangannya di sembarang tempat.


''Mobil siapa sih ini, nggak tau apa kalau ini tempat parkir Silent Boom,'' gerutu Ae. Ia celingukan mencari pemilik mobil itu, namun di sana hanya ada dirinya dan beberapa murid yang baru datang.


Ia pun bergegas berjalan ke kelasnya, karna bel masuk hampir berbunyi. Sesampainya di kelas ia di sambut teman-teman 1 geng nya.


''Pagi Queen,'' sapa Zelo.


''Eh, kalian tau nggak siapa yang parkir di tempat parkir kita?'' tanya Ae tanpa memperdulikan sapaan Zelo.


''Parkir di tempat parkir kita? Memang siapa? Aku tadi datang belum ada yang parkir di sana,'' ujar Wilo mengerutkan keningnya mendengar ucapan Ae.


''Ada mobil yang parkir di sana. Aku aja sampai nggak kebagihan tempat,'' Ae mengerucutkan bibirnya karna kesal.


''Siapa sih berani banget parkir di sana,'' ucap Zehan juga penasaran.


''Entahlah,'' Ae mengedikkan bahunya. ''Tapi nggak mungkin kalau murid sini. Mereka kan udah tau kalau parkiran itu tempat kita,'' ucap Ae.


''Nanti pulang sekolah kita lihat siapa pelakunya,'' ucap Wilo.


''Motor kesayangan aku kepanasan itu,'' rengek Ae manja.


''Nanti jam istirahat kita pindahin, okey zeyeng,'' ucap Zelo.


''Baiklah,'' Ae menurut saja ucapan temannya.


Bel masuk pun berbunyi, semua murid masuk ke dalam kelasnya masing-masing. Selang beberapa saat guru mata pelajaran pun masuk ke dalam kelas.


''Pagi anak-anak,'' sapa Ibu guru.


''Pagi Bu,'' jawab mereka serempak.


''Pagi ini kalian kedatangan teman baru. Dia baru saja pindah dari Singapura. Silahkan masuk,'' ucap Bu guru yang bernama Anggi.


Murid baru itu pun masuk ke dalam kelas, dari yang awalnya hening sekarang para murid laki-laki bersorak heboh.


''Saingan kamu Ae,'' bisik Wilo.


''Perkenalkan dirimu,'' perintah Bu Anggi.


''Hallo, perkenalkan namaku Deena Eliza. Kalian semua bisa memanggilku Deena, terima kasih,'' ucap gadis cantik yang kelihatannya keturunan bule. Kulit putih, wajah bersih dan hidung mancung dan mata berwarna kebiruan membuatnya bertambah mempesona.


''Oke, silahkan duduk di kursi yang kosong Deena,'' ucap Bu Anggi.


''Baik Bu,'' ucap Deena berjalan melewati Ae dan gengnya. Deena duduk di kursi nomor dua dari depan.


Semua murid mengumpulkan tugas, biasanya mereka banyak yang keluar kelas karna tidak mengerjakan tugas rumah. Tapi hari ini semua mengerjakan.


Bel ganti pelajaran pun telah berbunyi, setelah pelajaran Bu Anggi selesai, Pak Varo pun masuk ke dalam kelas.


Tap tap tap.


Bunyi sepatu milik Pak Varo menggema di dalam kelas. Dengan langkah lebar, Pak Varo memasuki ruangan.


''Semangat Pagi,'' sapa Pak Varo.


''Pagi Pak,'' ucap semua murid. Pak Varo menatap Ae yang hanya diam saja, biasanya Ae selalu berulah namun kali ini Ae hanya diam.


''Ae, kamu di tatap Pak Varo tuh,'' bisik Wilo.


''Aku lagi nggak mau bercanda Wil. Aku lagi mau serius. Pusing nih kepalaku,'' ujar Ae kesal.


''Kamu sakit?'' tanya Wilo langsung memegang dahi Ae.


''Enggak! Aku lagi males aja keinget kejadian tadi pagi,'' gumam Ae pelan.


''Setelah pelajaran ini kita langsung gas parkiran, okey,'' ucap Wilo dan langsung di angguki oleh Ae.


''Jika ingin ngerumpi jangan di kelas. Mending keluar, kasihan yang lain ke ganggu,'' ucap Pak Varo tanpa melihat ke arah Ae dan Wilo.


Ae pun langsung berdiri dan meninggalkan kelas, tak lupa ia membawa tas sekolahnya. Pak Varo pun hanya melirik sekilas, namun ia segera memalingkan wajahnya.


''Ae, Ae kamu kenapa sih? Ada masalah? Masa gara-gara parkiran aja kamu badmood gini. Ini lagi jam pelajaran matematika loh, tapi kamu malah nyelonong pergi aja,'' Wilo mengomel sepanjang jalan.


''Terus ngapain kamu ikut keluar kelas? malah bawa tas lagi,'' tanya Ae melihat Wilo yang juga membawa tasnya.


''Ya aku kan nggak bisa kalau pelajaran matematika tanpamu,'' ucap Wilo tersenyum memperlihatkan gigi putihnya.


''Aku mau pulang, kamu mau ikut?'' tanya Ae kepada Wilo.


''Enggak ah, aku mau pulang juga. Mumpung nggak ada mami sama papi,'' ucap Wilo.


''Baiklah,'' ucap Ae. Mereka langsung menuju parkiran dan pulang ke rumah masing-masing.


Di dalam kelas, Pak Varo sejak tadi tak bisa konsentrasi mengajar. Ia terus menerus memikirkan Ae yang aneh hari ini. Gadis itu biasanya selalu ceria, tapi berbeda dengan hari ini.


''Kamu kenapa sih Ae,'' batin Pak Varo. Pak Varo tidak tau jika ada murid yang sejak tadi mengaguminya. Murid itu tak lain dan tak bukan adalah Deena. Deena terpesona dengan guru matematikanya itu. Sikapnya yang cool dan penuh wibawa membuat Deena jatuh hati.


''Aku harus bisa dapatkan guru tampan ini,'' batin Deena.


Di lain tempat, Ae lebih memilih pulang kerumah Bima. Ia tak mau di omeli sang Mama karna ia bolos sekolah.


''Jadi kamu tadi pulang duluan alias bolos gitu? Hanya gara-gara tempat parkirmu di tempati orang lain,'' tanya Bima melongo mendengar penuturan Ae.


''Iya Kak,'' ucap Ae santai.


''Ya ampun Ae. Adik siapa sih ini sebenarnya. Kayaknya Aiden dulu nggak gini-gini amat deh,'' batin Bima.


Ae mengambil camilan yang di siapkan oleh Bima sambil menonton drakor kesukaannya.


''Makasih ya Kak. Aduh Ae kenyang banget deh. Ae tidur dulu ya. Nanti kalau udah jam 2 bangunin ya,'' ucap Ae.


''Oke, tidur yang nyenyak Ae,'' ucap Bima. Bima menatap wajah yang terlelap itu dengan hati kasihan. Pasti Ae sedang merindukan sosok kakak yang selalu melindunginya, batin Bima.