
''Itu kan Aelesha. Sama siapa dia kesini?'' batin Varo menatap Ae yang mulai menghilang dari pandangannya.
*
Ae yang merasakan giginya cenut-cenut di tambah lagi melihat Varo bersama wanita lain, membuat hatinya bertambah kesal. Ia menambah kecepatan gasnya. Tak peduli dengan kendaraan di sekitarnya. Yang terpenting ia tak melanggar aturan-aturan yang ada.
''Akhhhhh,, rasanya pengen makan orang,'' teriak Ae saat berada di jalanan sepi.
Beberapa saat kemudian, motor yang di kendarai oleh Ae telah sampai di halaman rumahnya.
''Tumben udah pulang,'' ucap Mama Yuni yang tengah berada di teras rumah.
''Lagi nggak enak badan Ma. Ae masuk dulu,'' ucap Ae meninggalkan Mamanya.
''Kenapa tuh anak. Nggak biasa-biasanya dia seperti itu,'' gumam Mama Yuni.
Ae segera menuju kamarnya. Sampai di kamar, ia melepas tas dan sepatunya, lalu ia bergegas menuju kamar mandi untuk menggosok gigi.
Setelah di rasa cukup bersih, Ae berkumur dan menatap kaca yang ada di depannya.
''Akhhh,, kenapa masih sakit sihh, kepala juga ikutan cenut-cenut ini,'' gerutu Aelesha dengan mata berkaca-kaca. Seumur hidup baru kali ini ia merasakan yang namanya sakit gigi. Pengen nangis, pengen teriak, pengen marah, itulah yang di inginkan Aelesha.
''Obat, iya aku harus beli obat,'' ucap Ae langsung keluar dari dalam kamar mandi. ''Aku suruh Pak Tedjo ajalah,'' gumam Aelesha mengambil uang berwarna merah di dalam dompetnya lalu turun menuju pos satpam.
''Pak Tedjo, tolong beliin Ae obat,'' rengek Ae sudah seperti anak kecil.
''Obat apa ya Non?'' tanya Pak Tedjo. Baru kali ini anak majikannya itu menyuruhnya, biasanya tidak pernah. Apa-apa sudah biasa Ae lakukan sendiri.
''Obat sakit hati, eh eh bukan! Obat sakit gigi maksudnya,'' ucap Aelesha sambil memberikan uang lembaran berwarna merah kepada Pak Tedjo.
''Baik Non, saya akan belikan,'' ucap Pak Tedjo menerima uang dari Aelesha.
''Makasih ya Pak,'' ucap Aelesha meninggalkan pos satpam dan kembali ke kamarnya lagi.
''Aku buat tidur aja deh, pasti nanti sembuh,'' batin Ae. Ia lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Bukannya sembuh, giginya malah terasa sangat sakit.
''Woyyy gigi!! Kamu kenapa sih? Pengen aku cabut ya? Biar nggak bisa makan enak, iya?'' ucap Ae seorang diri membuatnya seperti orang gila.
''Aduhhhh!!! Pening banget nih kepala. Kalian memang nggak sayang sama aku ya,'' ucap Aelesha sambil memegangi kepalanya. Aelesha menangis, merasakan kepala dan giginya yang terasa nyut-nyutan. Apalagi hatinya yang saat ini tidak baik-baik saja.
Beberapa menit kemudian, Pak Tedjo datang membawa obat yang di minta oleh Ae. Ae segera meminum obat itu, berharap giginya akan segera sembuh setelah meminum obat. Ia merebahkan tubuhnya lagi di atas ranjang.
Saat ingin memejamkan matanya suara ketukan pintu membuat Ae kesal.
''Ae di bawah ada Varo Nak, kamu temui dia sekarang,'' ucap Mama Yuni yang masuk ke dalam kamar Ae.
''Ae lagi nggak enak badan Ma. Ae pengen istirahat,'' ucap Aelesha.
''Kalian berantem?'' tanya Mama Yuni penasaran, karna tidak biasanya anaknya seperti itu.
''Mama sok tau, Ae hanya nggak enak badan aja. Udahlah Mama temui saja dia, suruh dia pulang. Ae lagi nggak mau di ganggu,'' ucap Aelesha membenamkan wajahnya di bawah selimut.
''Ya sudah kalau gitu, Mama keluar dulu,'' Mama Yuni keluar menutup pintu kamar Ae dengan pelan.
''Ngapain juga dia kesini, bikin tambah kesel aja,'' gerutu Ae.
Di bawah, Varo menunggu Ae turun, namun yang turun hanya Mama Yuni sendiri.
''Ae lagi tidur, katanya lagi nggak enak badan. Mending Nak Varo pulang dulu, Nak Varo bisa kesini besok,'' ucap Mama Yuni.
''Ae sakit ya Tan? Sakit apa?'' tanya Varo terlihat khawatir.
''Tante juga belum tau, Ae sejak pulang tadi terlihat lemas gitu. Mungkin dia kelelahan,'' ucap Mama Yuni.
''Ya sudah kalau gitu Varo pamit dulu Tante. Titip salam buat Aelesha, besok pagi Varo balik kesini lagi,'' ucap Varo mencium tangan Mama Yuni dengan takzim.
''Kamu hati-hati,'' ucap Mama Yuni.
Varo pun keluar dari rumah Aelesha. Ia sedikit kecewa karna tak bisa bertemu dengan murid kesayangannya.
''Kamu sakit apa sih Ae, tadi pagi kamu nggak kenapa-napa loh,'' ujar Varo sambil menatap rumah Aelesha sebelum meninggalkan rumah itu.
*
Malam harinya, gigi Ae masih terasa nyut-nyutan, padahal Ae udah 2 kali meminum obat yang di belikan Pak Tedjo.
''Aduhhhh!! Kenapa nggak sembuh-sembuh sih,'' ucap Ae yang tengah berguling-guling di atas ranjangnya.
''Ma, Mama,'' panggil Ae dengan suara seraknya karna terlalu lama menangis karna giginya bertambah sakit.
Ceklek.
''Kamu panggil Mama?'' tanya Mama Yuni membuka pintu kamar Ae.
''Ma, gigiku sakit banget Ma. Gimana ini Ma,'' rengek Aelesha.
''Kita ke dokter aja ya. Mungkin obat yang kamu minum tadi nggak ngefek, makanya sakitnya bertambah,'' ucap Mama Yuni.
''Cara lain dong Ma. Ae nggak mau ke dokter,'' ucap Aelesha sambil menangis.
''Ya Mama nggak tau, mending kita ke dokter, dokter yang lebih tau Ae,'' ujar Mama Yuni.
''Enggak mau! Ae takut Ma.''
''Aduh Ae Ae. Katanya ketua geng, ke dokter aja takut, cemen kamu,'' ejek Mama Yuni.
''Aduh Ma, kalau Mama cuma mau ngejek Ae, jangan sekarang. Gigiku tambah nyut-nyutan ini,'' keluh Aelesha.
''Terus Mama harus gimana? Mama juga bingung Ae,'' ujar Mama Yuni.
''Mama mending keluar deh. Nggak bisa bikin sembuh, malah bikin tambah sakit,'' gerutu Aelesha.
''Ya udah Mama keluar, nanti kalau ada apa-apa langsung panggil Mama ya,'' ucap Mama Yuni.
Mama Yuni pun keluar dari kamar Ae. Mau panggil dokter takut Ae nggak mau. Mau di ajak ke dokter dia juga nggak mau, sudah minum obat tapi belum juga sembuh. Mama Yuni sampai bingung sendiri.
Saat menuruni anak tangga, Mama Yuni melihat Bi Nur yang menaiki anak tangga dengan tergesa-gesa.
''Ada apa Bi?'' tanya Mama Yuni dan suara Mama Yuni mengagetkan Bibi Nur.
''Eh, Nyonya. Di bawah ada Den Bima Nya. Katanya mau bertemu Non Ae,'' ujar Bi Nur.
''Coba Bibi tanya sama Ae, dia mau nggak bertemu dengan Bima,'' ucap Mama Yuni.
''Baik Nya,'' ucap Bi Nur melanjutkan menaiki tangga.
Mama Yuni pun turun untuk menemui Bima di ruang tamu.
''Bima, udah lama?'' tanya Mama Yuni.
''Belum kok Tan, Ae mana ya Tan, sejak kemarin Bima hubungi kok nggak pernah di jawab. Bima Chat juga nggak pernah di balas,'' ujar Bima.
''Ae lagi sakit gigi Bim. Udah minum obat tapi belum sembuh. Mau Tante bawa ke dokter nggak mau. Tante sampai bingung sendiri Bim,'' ujar Mama Yuni.
''Bima boleh jenguk Ae Tan?'' tanya Bima.
''Kamu ke kamarnya aja langsung. Paling dia juga nggak mau kalau turun. Di sana juga ada Bi Nur kok,'' ujar Mama Yuni.
''Baik Tante, Bima ke kamar Ae dulu,'' ujar Bima.
*
*