
'Tapi kenapa Tan. Kenapa Aiden bisa meninggal. Kenapa Aiden nggak menepati janjinya sama aku, kenapa?'' tanya Vanya yang sangat terpukul dengan meninggalnya Aiden.
''Karna dia di bunuh dengan orang yang mencintaimu!'' ucap Aelesha berdiri dari duduknya dan menatap tajam ke arah Vanya.
''Jika saja kamu menerima cinta Vincent, maka Kakak tidak akan pernah meninggal Van!'' ucap Ae lagi.
''Ae, Ae,'' ucap Papa Rio menarik tangan Aelesha agar duduk kembali, namun Ae masih berdiri dengan menatap Vanya tajam.
''Jadi Aiden---''
''Kamu dan Vincent ternyata sama saja. Kalian hanya memikirkan perasaan kalian sendiri tanpa memikirnya nyawa orang lain! Dan lihatlah sekarang, kami kehilangan orang yang sangat kami cintai. Semua itu gara-gara kamu dan Vincent!!'' ucap Aelesha dengan nada tinggi.
''Aelesha cukup!!'' ucap Varo bersamaan dengan Papa Rio.
''Apa yang aku bicarakan ini fakta. Karena kamu dan Vincent lah yang membuat Kakakku meninggal!'' ucap Aelesha dengan raut wajah yang berubah menjadi datar.
Plak.
Tamparan Papa Rio mengenai pipi mulus milik Aelesha. Semua orang kaget saat Papa Rio menampar pipi Aelesha.
''Kenapa Papa nampar Ae? Apa papa sudah tidak ingin mempunyai anak lagi? Ayo tampar lagi Pa, tampar. Kalau perlu bunuh Ae sekalian biar Ae bisa menyusul Kak Ai,'' ucap Aelesha dengan ekspresi datarnya.
''Ma maafin Papa Nak, Papa----''
Ae langsung keluar dari rumah itu. Setelah sampai di depan gerbang ia melihat Bima yang kebetulan ingin keluar.
''Kak Bima,'' panggil Aelesha setengah berteriak dan berlari ke arah Bima.
''Aelesha, kok kamu ada di sini?'' tanya Bima yang bingung tiba-tiba Aelesha ada di depan rumahnya.
''Kak bawa Ae pergi dari sini,'' ucap Aelesha langsung naik ke atas motor Bima. Bima pun langsung menancapkan gasnya.
''Aelesha!!!'' Varo pun menyusul Aelesha keluar dari rumahnya. Namun ia sudah tak menemukan Ae di sana.
''Maafkan Aelesha Ray, dia memang sangat sensitive jika menyangkut Kakaknya,'' ucap Papa Rio.
''Aku tau apa yang di rasakan Aelesha Ri. Sudah jangan di fikirkan. Mending kalian segera menyusul Aelesha, aku takut terjadi apa-apa denganya,'' ujar Papa Rayan.
Papa Rio dan Mama Yuni pun mengangguk setuju. Ia langsung menyusul Ae yang sudah tidak ada di depan rumah Varo.
''Varo, Ae mana?'' tanya Mama Yuni sambil menangis terisak.
''Ae pergi Tante. Biar Varo yang mencari Ae,'' Varo langsung masuk ke dalam mobil dan menancapkan gasnya untuk mencari keberadaan Aelesha.
''Ya Tuhan, kamu kemana sih Nak,'' gumam Mama Yuni khawatir dengan Aelesha.
''Sebaiknya kita ikut mencari Ae Ma, ayo,'' ucap Papa Rio membukakan pintu mobil untuk Mama Yuni. Setelah Mama Yuni masuk ke dalam mobil, Papa Rio menyusul masuk dan duduk di kursi kemudi.
Di tempat lain. Ae saat ini ikut Bima ke Bar yang tak jauh dari rumah Bima. Bima mengajak Ae kesana karna ia ingin bertemu dengan teman lamanya disana.
''Kamu nggak pa-pa kan aku ajak kesini. Cuma sebentar kok,'' ujar Bima.
''Its oke, nggak masalah Kak,'' ucap Aelesha. Ini bukan kali pertama untuk Ae ke tempat seperti ini. Ia pernah datang ke bar bersama teman-temannya saat party teman 1 kelasnya.
Ae pun mengikuti Bima dari belakang. Mungkin tempat ini adalah tempat yang sangat pas untuk melupakan semua kekecewaannya kepada orang-orang yang ia sayangi.
''Teman Kakak mana?'' tanya Ae yang tak menemukan siapa-siapa di sana.
''Masih di jalan. Tunggu sebentar ya,'' ucap Bima.
''Oh iya, kenapa kamu tadi tiba-tiba ada di dekat rumah Kakak?'' tanya Bima yang baru sempat menanyakan ini kepada Aelesha.
Ae pun menceritakan semuanya kepada Bima tanpa terlewat sedikitpun.
''Jadi adik Varo itu cewek yang di sukai Aiden?'' tanya Bima memastikan karna selama ini Bima juga tidak tau tentang wanita yang di cintai Aiden karna Aiden terlalu tertutup jika menyangkut wanita.
''Ya begitulah Kak. Dia juga yang di sukai oleh Vincent,'' ujar Aelesha tertunduk lesu.
''Jika dia menerima cinta Vincent, nggak mungkin Kan Kak Ai sekarang meninggal. Pasti dia masih ada di sini,'' ucap Ae terisak.
''Ini semua udah takdir Ae. Kamu harus sabar dan ikhlas, biarkan Ai meninggal dengan tenang,'' ucap Bima mengelus pundak Ae dengan pelan.
''Tapi Ae nggak terima Kak. Gara-gara cinta segitiga konyol ini Kak Ai yang jadi korbannya,'' ucap Aelesha. Bima menarik kepala Ae ke dalam pelukannya. Ia sangat tau bagaimana terpukulnya Ae saat di tinggal oleh Kakaknya.
''Bawa Ae pergi dari Jakarta Kak. Ae nggak mau bertemu dengan mereka lagi,'' ujar Aelesha menatap Bima dengan tatapan memohon.
''Heyy gadis kecil kamu mau pergi kemana, ha? Kamu bahkan masih harus sekolah Ae. Aku nggak mau jadi tersangka atas hilangnya kamu ya,'' ucap Bima.
''Please Kak. Untuk sementara waktu saja. Aku benar-benar nggak mau bertemu dengan mereka,'' ucap Ae memelas membuat Bima memjadi tidak tega.
''Ya sudah tinggal aja di rumahku,'' ucap Bima enteng.
''Rumah Kakak sama rumah Varo berhadapan, yang ada nanti Varo tau kalau aku ada di rumah Kakak,'' ucap Aelesha dengan bibir yang maju ke depan.
''Begini saja Ae, kalau menurutku mending kamu pulang ke rumah. Aku takut Tante Yuni syok jika kamu pergi seperti ini. Apalagi sekarang Aiden juga udah nggak ada kan, kamu anak satu-satunya sekarang. Ya aku tau, mungkin kamu kecewa dengan Vanya, Om Rio sama Varo tapi kan---''
''Hem, iya iya. Bilang aja Kak Bima nggak mau nolong aku,'' ucap Aelesa memotong pembicaraan Bima. Sikap labil yang pernah di miliki semua orang sekarang ada pada diri Aelesha.
''Bukan begitu Ae---''
Belum sempat Bima melanjutkan ucapannya, pintu ruangan itu pun terbuka lebar menampakkan sosok tinggi, putih dan sangat tampan. Aelesha sampai tak berkedip saat melihat seseorang yang saat ini ada di depannya. Bima yang sadar dengan raut wajah Aelesha yang seakan kagum dengan temannya itu langsung meraup wajah Aelesha, agar Aelesha tersadar dari lamunannya.
''Hai Bro apa kabar? Maaf ya nunggu lama,'' ucap lelaki itu duduk di sofa yang ada di dekat Bima.
''Santai aja Al, kita belum lama kok datangnya, iya kan Ae,'' ucap Bima, ia menepuk paha Aelesha dengan sedikit kencang agar Aelesha berkedip melihat ke arah temannya.
''Eh, i iya Kak,'' ucap Aelesha tersenyum canggung.
''Kenalin Al, dia Aelesha,'' ucap Bima mengenalkan Aelesha kepada temannya yang bernama Al.
''Hai, aku Alvarendra,'' ucap Al dengan mengulurkan tanggannya kepada Aelesha.
''Ae, Aelesha,'' ucap Aelesha dengan membalas jabatan tangan Al.
*
*
Ada saingannya Varo nih. Hehehe.