
Sudah 4 hari ini Ae merajuk karna ponselnya benar-benar sudah tidak bisa tertolong lagi. Apalagi di ponsel itu banyak sekali nomor teman-temannya dan juga foto kekasih hatinya. Ia pun mendiamkan Varo sebisa mungkin agar Varo tidak mengulangi kesalahannya lagi.
''Sayang, udah dong. Masa gara-gara ponsel kamu diemin aku kayak gini. Aku tuh bener-bener minta maaf Yang,'' ujarnya. Ae pun diam, ia fokus pada laptop milik Varo yang ada di depannya.
''Rasanya aku juga ingin menenggelamkan laptop itu,'' batin Varo cemburu dengan laptopnya. Berbagai cara Varo lakukan untuk sang istri, namun Ae masih tetap merajuk.
''Bukankah dia sudah selesai masa haidnya ya. Ini kan sudah seminggu pernikahan kami,'' batin Varo tersenyum licik. Merasa di cueki oleh sang istri membuat ia turun dari ranjang dan menyambar kunci mobilnya. Ia pun pergi tidak pamit dengan Aelesha.
''Aku akan membuat malam ini menjadi malam yang tidak akan kamu lupakan seumur hidup sayangku. Salah siapa mendiamkan aku selama ini,'' batin Varo menancapkan gas mobilnya menuju sebuah apotik.
Setelah mendapatkan apa yang ia cari, Varo pun kembali ke rumahnya.
''Bi, tolong buatkan jus kesukaan Ae ya,'' ucap Varo saat mendapati art ada di dapur.
''Baik Den, sebentar ya,'' ucap art itu.
Varo pun menunggu dan duduk di kursi meja makan, jari-jarinya mengetuk atas meja sambil memikirkan sesuatu.
''Biar saya saja yang bawa Bi. Bibi istirahat aja,'' ucap Varo mengambil nampan yang berisi segelas jus jambu dari tangan Bibi.
''Baik Den, Bibi permisi dulu,'' ucap Bibi kembali ke belakang.
Varo pun melihat sekeliling, ia tidak mau ada yang melihat rencananya kali ini. Ia pun menuangkan obat ke dalam jus milik Aelesha. Setelah mencampurkan obat dengan jus, Varo membawanya menuju kamar sang istri.
''Sayang, aku buatkan jus kesukaan kamu nih. Di minum ya,'' ucap Varo menyodorkan jus itu ke depan Aelesha.
Ae yang memang sangat suka dengan jus jambu pun tidak berfikir panjang. Ia langsung meminum jus itu hingga tandas.
''Gimana, enak?'' tanya Varo dengan senyum yang terukir di bibirnya.
''Hem, thanks,'' ujar Ae kembali fokus pada film yang ada di depannya.
Varo pun meletakkan gelas kosong itu di atas nakas. Lalu ia berjalan menuju sofa yang tidak jauh dari ranjang yang di tempati Ae.
Varo membuka ponselnya, sambil menunggu reaksi obat tersebut. Ae yang tiba-tiba merasa aneh dengan tubuhnya pun bangkit dari duduknya dan berlari ke kamar mandi.
''Huh, kenapa badanku jadi panas gini,'' gumam Ae yang merasa tubuhnya tidak baik-baik saja. Ia pun keluar dari kamar mandi dengan keringat yang mengucur di dahinya. Tak sengaja ia melihat Varo yang tengah bertelanjang dada sedang merebahkan tubuhnya di atas sofa. Ae pun tanpa sadar mendekat ke arah Varo.
''Mas,'' suara Ae tidak seperti biasanya terdengar di telinga Varo. Varo pun tersenyum dalam hati.
''Ada apa sayang?'' tanya Varo dengan berpura-pura tidak tau.
''Akhh, tubuhku panas sekali Mas. Aku, aku ingin----'' ucapannya pun terhenti, Ae sudah seperti cacing yang kepanasan.
''Kamu kenapa sayang, kamu baik-baik saja kan?'' tanya Varo kembali.
Aelesha yang melihat dada bidang Varo pun langsung naik ke atas tubuh Varo. Ia pun langsung melahap bibir Varo dengan rakus.
''Yes, berhasil!'' batin Varo tersenyum bahagia.
''Mas, aku pengen,'' rengek Ae.
''Pengen apa?'' tanya Varo pura-pura tidak tau.
Ae pun tak menjawab. Ia malah turun dari tubuh Varo dan melucuti semua pakaiannya.
Skip🤣🤣
Pagi harinya, sinar mentari menerobos masuk ke dalam kamar milik pasutri yang telah menghabiskan malam pertamanya. Ae yang merasa seluruh badannya remuk, langsung mengerjabkan matanya.
''Akhhh, badanku sakit semua,'' rintihnya. Ia pun duduk di ranjang sambil mengumpulkan semua nyawanya. Aelesha belum sadar betul jika saat ini ia tidak memakai apapun.
Saat ia ingin menurunkan kakinya, ada rasa nyeri di area intinya. Ia pun langsung menatap ke bawah dan----
''Akhhhh,'' Varo langsung membekap mulut Aelesha yang tengah teriak. Ia tidak mau kejadian waktu lalu terulang kembali.
''Apa yang kamu lakukan Mas!'' pekik Aelesha saat tangan Varo sudah lepas dari mulutnya.
''Aku? Memangnya apa yang aku lakukan? Bukankah kamu yang meminta terlebih dulu tadi malam?'' tanya Varo.
Aelesha pun diam, ia mengingat kejadian tadi malam saat ia dengan agresif nya mencium bibir Varo. Ia pun ingat saat ia melepas semua pakaiannya di depan Varo. Wajah Aelesha pun terasa panas saat ia mengingat semuanya. Ia benar-benar malu dengan suaminya itu.
''Gimana, udah ingat?'' tanya Varo menaik turunkan alisnya.
Ae pun hanya diam, rasanya ingin sekali menenggelamkan dirinya ke dasar bumi saking malunya.
''Udahlah sayang nggak usah malu kayak gitu. Udah hal yang wajar kita melakukan semua ini. Tadi malam kamu juga sangat menikmatinya, sampai-sampai kamu memintanya berulang-ulang. Aku sangat puas Yang,'' ujar Varo tersenyum ke arah Ae.
''Mas Varo nyebelinn!!!'' pekik Aelesha.
''Kamu sendiri yang mancing-mancing Mas Ae. Mas lelaki normal, jadi ya langsung On gitu aja saat kamu telanjang di depan Mas,'' ucap Varo tanpa di tutup-tutupi.
''Udah nggak usah bahas itu lagi, aku lagi bete sama Mas Varo,'' ujar Aelesha bangkit dari duduknya. Namun saat intinya terasa sangat sakit, ia pun duduk kembali.
''Aww, sakit Mas,'' ucap Aelesha.
''Biar Mas gendong ya,'' Ucap Varo dan langsung di angguki oleh Aelesha. Ia pun tidak curiga dengan suaminya yang tengah merencanakan hal lain.
*
Setelah hampir 1 jam berada di kamar mandi, mereka pun keluar. Ae yang berada di gendongan Varo pun mendengus kesal.
''Dasar suami nggak sayang istri. Udah tau istrinya merasakan sakit kayak gini, masih aja di gas,'' gerutu Aelesha.
''Habisnya enak banget! Gimana, mau nambah lagi, mumpung Mas masih kuat ini,'' ujar Varo langsung di berikan tatapan tajam oleh Aelesha.
''Ambilin bajuku dong Mas! Aku benar-benar nggak bisa jalan ini,'' rengek Aelesha.
''Iya, sebentar Yang,'' ucap Varo berjalan menuju lemari hitam milik Aelesha. Varo pun mengambil setelan baju rumahan untuk di pakai Aelesha.
''Nih, apa perlu Mas yang pakein?'' tanya Varo.
''Nggak usah! Pasti Mas Varo hanya modus aja,'' ucap Aelesha langsung merebut baju yang ada di tangan Varo.
''Modus sama istri sendiri pahala Yang,'' ucap Varo.
*
*