
Malam hari pun telah tiba, malam ini keluarga Papa Rio akan berkunjung ke rumah keluarga Rayan. Mereka bertiga sudah siap dengan pakaian yang mereka kenakan.
''Kita berangkat sekarang ya. Keluarga Rayan sudah menunggu,'' ujar Papa Rio.
Mereka pun berangkat menuju kediaman keluarga Rayan. Tidak berselang lama, mobil yang mereka tumpangi telah sampai di depan rumah keluarga Rayan.
''Lho, itu kan rumah Kak Bima Ma,'' ucap Aelesha.
''Dan ini rumahnya Varo Ae,'' ucap Mama Yuni.
''Jadi Pak Varo sama Kak Bima tetanggaan. Pantes waktu di puncak kemarin Kak Bima akrab banget sama Pak Varo,'' batin Aelesha.
Mereka pun turun dari mobil yang mereka tumpangi tadi. Ae terlihat sangat anggun dengan memakai dress di atas lutut berwarna hitam.
Varo, Mama Gea dan Papa Rayan berada di teras rumah untuk menyambut tamu istimewanya malam ini.
''Selamat datang Pak Rio, Bu Yuni dan calon menantu,'' ucap Papa Rayan tersenyum.
''Bagaimana kabarmu Ray, lama sekali ya kita tidak bertemu,'' ujar Papa Rio menepuk pundak sahabatnya itu dengan pelan.
''Kabarku baik Ri. Kita memang lama sekali ya tidak bertemu. Waktu ulang tahun istriku aku juga tidak ada di rumah. Jadi kita tidak bisa bertemu juga,'' ucap Papa Rayan.
''Waktu itu aku juga berada di LN. Jadi aku tidak bisa hadir,'' ucap Papa Rio.
''Oh benarkah? Aku kira kamu hadir waktu itu,'' ucap Papa Rayan. Mereka pun tertawa bersama-sama.
''Oh iya silahkan masuk,'' ucap Papa Rayan menyuruh masuk tamu istimewanya itu.
Mereka pun duduk di ruang tamu sambil menunggu makanan siap.
''Siapa nama gadis cantikmu ini Ri. Wah nggak menyangka ya, sebentar lagi kita akan berbesanan,'' ucap Papa Rayan tersenyum ke arah Ae.
''Aelesha, panggil saja Ae,'' ucap Papa Rio.
''Nama yang cantik, cantik seperti orangnya,'' puji Papa Rio. Ae hanya tersenyum caggung saat mendengar pujian dari calon mertuanya.
''Oh iya, aku juga belum berkenalan dengan calon menantuku loh,'' ucap Papa Rio menatap Varo yang tengah perang dingin dengan Aelesha.
Varo tak mendengar ucapan calon mertuanya. Ia masih menatap Aelesha dengan tatapan datarnya.
''Ro, calon mertuamu mau berkenalan denganmu,'' bisik Mama Gea tepat di dekat telinga Varo.
''Eh, iya ada apa Om?'' tanya Varo yang tidak menyimak ucapan para orang tuanya tadi.
''Sepertinya tidak perlu waktu lama lagi ya untuk menikahkan mereka. Kayaknya mereka sudah tidak tahan kalau lama-lama,'' ledek Papa Rio.
''Papa apaan sih, siapa juga yang mau nikah sama dia. Ogah!'' ucap Aelesha membuat Varo bertambah kesal.
''Oh ceritanya ini tadi lagi berantem toh. Kayak jaman kita dulu Ma,'' ucap Papa Rio dan di tertawai oleh para sahabatnya.
''Kalau memang Aelesha nggak mau nikah sama Varo nggak pa-pa Nak. Umur kamu memang masih muda. Jalan kamu juga masih panjang. Biarkan Varo mencari wanita lain saja,'' ucap Papa Rayan, Varo pun langsung melebarkan matanya mendengar ucapan Papanya.
''Papa apaan sih. Enggak! aku nggak mau cari wanita lain,'' ucap Varo kesal membuat tawa orang yang ada di ruang tamu itu pecah.
''Eh, aku lupa mau mengenalkan kalian pada putriku. Sebentar ya aku panggilkan dulu,'' ucap Mama Gea berjalan meninggalkan ruang tamu.
''Memangnya putrimu ada di sini Ray. Kapan dia pulang ke Jakarta?'' tanya Mama Yuni.
''Baru beberapa hari yang lalu Yun. Kemarin dia juga ikut ke puncak bareng sama Aelesha juga,'' ucap Papa Rayan.
''Iya Ma, kemarin Mas Varo sama Vanya juga mampir di rumah. Tapi Mama sama Papa lagi keluar jadi nggak ketemu deh,'' ucap Aelesha.
''Ohh, pasti sekarang sudah dewasa ya,'' ucap Mama Yuni.
Sepatu hak tinggi menghiasi kaki Vanya, malam ini Vanya juga tak kalah cantik. Ia memakai dress di bawah lutut dan tanpa lengan. Setelah langkahnya sampai di ruang tamu, jantungnya berhenti berdetak.
''Tante Yuni,'' gumam Vanya.
Mama Yuni pun tak kalah kaget saat mengetahui anak gadis sahabatnya ini adalah teman almarhum anaknya dulu.
''Vanya?'' ucap Mama Yuni.
Vanya pun langsung berlari ke arah Mama Yuni dan langsung memeluknya dengan erat. Mereka yang berada di sana di buat melongo dengan tingkah mereka berdua.
''Tante, Tante apa kabar? gimana kabar Aiden Tante. Aku sangat rindu dengannya,'' ucap Vanya tanpa melepaskan pelukan di tubuh Mama Yuni.
''Tante baik kok Van. Kabar kamu sendiri bagaimana?'' tanya Mama Yuni melepaskan pelukan Vanya.
''Vanya baik Tan. Aiden mana? Kenapa nggak ikut kesini? Aku kemarin ke rumah Tante lo. Tapi nggak ada siapa-siapa,'' ujar Vanya.
Mama Yuni bingung ingin menjawab pertanyaan Vanya yang mana dulu. Mama Yuni tau hubungan Vanya dan Aiden tidak hanya sekedar teman biasa. Mereka sama-sama mencintai, namun mereka sulit untuk mengungkapkan perasaan satu dengan yang lain.
''Tan, kok Tante diem sih?'' ucap Vanya.
''Sebaiknya kita makan malam dulu, di lanjut nanti ya ngobrolnya,'' ujar Mama Gea.
Mereka pun mengangguk setuju. Namun tidak dengan Vanya. Ia ingin secepatnya mendengar kabar tentang Aiden, pujaan hatinya selama ini.
''Kita makan malam dulu ya. Nanti Tante ceritakan semuanya tentang Aiden,'' ucap Mama Yuni mengelus pelan pundak Vanya.
''Iya Tante,'' ucap Vanya ikut berjalan menuju ruang makan.
Mereka semua berperang dengan fikirannya masing-masing.
''Bagaimana jika Vanya tau kalau Aiden sudah tidak ada di dunia ini,'' batin Mama Yuni.
''Jadi selama ini Vanya berhubungan dengan Kakaknya Ae yang sudah meninggal itu?'' batin Varo.
''Apakah wanita yang pernah Kakak ceritakan itu adalah Vanya? Berarti Vanya adalah wanita yang pernah di cintai oleh Vincent juga,'' batin Aelesha.
''Ternyata Vanya mencintai anak Yuni juga. Bagaimana kalau dia tau jika orang yang di cintainya sudah tidak ada di dunia ini,'' batin Mama Gea.
''Kenapa mereka seperti sedang menyembunyikan sesuatu kepadaku?'' batin Vanya.
Mereka semua diam, hanya dentingan sendok yang bersuara. Tawa ceria seperti tadi sudah tidak ada lagi, yang ada hanya keheningan di meja makan itu.
Setelah selesai makan malam, Mama Yuni akhirnya menjawab semua pertanyaan Vanya.
''Vanya, Tante akan menjawab semua pertanyaan kamu. Namun 1 hal yang Tante minta sama kamu, kuatkan hatimu setelah tau semuanya tentang Aiden,'' ucap Mama Yuni. Vanya mengangguk pelan.
''Aiden sudah tidak ada di dunia ini. Dia sudah pergi meninggalkan kita semua. Dia, dia sudah meninggal Van,'' ucap Mama Yuni dengan terbata bata, tubuhnya bergetar menahan air matanya.
Tes.
Air mata Vanya langsung jatuh begitu saja saat mendengar ucapan Mama Yuni.
''Tante nggak usah bercanda deh. Aku nggak percaya kalau Aiden udah nggak ada Tan. Udahlah kalian semua jangan membohongi aku,'' ucap Vanya dengan air mata yang mengalir di pipinya.
''Hampir 2 tahun ini Aiden meninggalkan kita Van. Kamu harus ikhlas, biarkan dia dengan tenang di sisi Nya,'' ucap Mama Yuni yang tak bisa membendung air matanya.
*
*