AELESHA

AELESHA
40



Seminggu telah berlalu, dan hari ini Varo sudah di perbolehkan pulang oleh dokter. Aelesha yang mendengar kabar itu pun langsung ikut ke rumah sakit bersama Mamanya. Setelah beberapa hari tidak menjenguk Varo membuat ia rindu dengan guru matematikanya itu.


''Semoga Pak Varo sudah mengingat aku,'' gumamnya dalam hari saat berada di perjalanan.


Sesampainya di rumah sakit ia sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan Varo.


Ceklek.


Ae membuka pintu ruang rawat Varo. Dan terlihat pemandangan di depannya saat Varo di suapi oleh seorang wanita yang mungkin umurnya setara dengan Varo.


Semua orang melihat ke arah pintu. Ae pun membeku di tempatnya.


''Yuni, Aelesha,'' ucap Mama Gea.


''Eh, iya. Gimana keadaan Varo Ge? Katanya sudah di perbolehkan pulang?'' tanya Mama Yuni mendekat ke arah Mama Gea.


''Iya Yun, alhamdulillah sudah di perbolehkan pulang,'' ujar Mama Gea.


Mama Gea melihat ke arah Ae yang melihat intetaksi Varo dan Diva yang sedang bersenda gurau tanpa merespon kedatangannya.


''Ae,'' panggil Mama Gea dengan pelan.


''I iya Tante,'' ucap Aelesha beralih menatap Mama Gea.


''Kamu jangan bersedih ya,'' ujar Mama Gea sambil mengelus kepala Aelesha.


''I iya Tante. Dia siapa ya?'' tanya Ae yang sejak tadi penasaran.


''Dia Diva. Mantan kekasih Varo. Tapi Varo hanya ingat jika Diva masih kekasihnya,'' ucap Mama Gea menatap mereka dengan sendu.


Aelesha menghembuskan nafas panjangnya.


''Jadi dia yang namanya Diva. Aku mah nggak ada apa-apanya jika di sandingkan dengannya. Pantas saja Pak Varo lebih ingat dengannya,'' batin Aelesha.


Ia merasa tak ada gunanya berlama-lama di sana. Ia pun segera berpamitan dengan Mama Gea.


''Tante, aku pamit ya, aku harus pergi sekarang,'' ucap Aelesha.


''Pergi kemana Ae?'' tanya Mama Gea.


''Aku ada urusan. Mama Ikut aku pulang atau masih ingin disini?'' tanya Ae.


''Mama disini aja Ae. Nanti pulangnya Mama pesan taksi online saja,'' ujar Mama Yuni.


''Baiklah, aku permisi dulu,'' setelah berpamitan, Ae keluar dari ruangan Varo. Dadanya terasa sesak saat melihat kemesraan Varo dengan wanita lain.


''Memang, aku harus melupakanmu,'' ujar Aelesha menoleh sekilas ke arah pintu sebelum melanjutkan langkahnya kembali.


''Semoga kamu bahagia dengannya,'' ujar Aelesha tersenyum getir saat mengingat Varo lebih ingat dengan orang lain daripada dengannya.


Ia melajukan motor sport nya tanpa arah. Bayangan-bayangan saat Varo bermesraan dengan Diva membuat dadanya merasa sakit.


Ia pun membelokkan motornya menuju rumah sahabatnya. Ia ingin melupakan tentang apapun yang berhubungan dengan Varo.


Tok tok tok.


Pintu rumah Wilo di ketuk dari luar, dan tanpa menunggu waktu yang lama Wilo membukakan pintu.


''Aelesha,'' Ucap Wilo dengan mata yang melebar. Pasalnya Aelesha jarang sekali mampir ke rumahnya jika ia tidak dalam keadaan sedih.


Aelesha langsung memeluk Wilo dengan erat. Ia menumpahkan tangisannya di pundak Wilo.


''Dia benar-benar ngelupain aku Wil. Dia sama sekali nggak ingat aku. Aku harus gimana Wil?'' ucap Ae dengan isak tangisnya.


Wilo menghembuskan nafasnya. ''Kamu yang sabar Ae, jika dia jodohmu pasti nanti dia ingat segalanya tentangmu. Udah jangan sedih lagi ya,'' ucap Wilo mengelus punggung Ae.


''Tapi aku rasa dia tidak akan ingat denganku, dokter saja tidak bisa memastikan Pak Varo bakal bisa sembuh atau enggak,'' ucap Aelesha mengusap air matanya yang terus mengalir.


''Aku tidak meragukan siapapun Wil. Aku hanya meragukan diriku sendiri yang tidak bisa menjaga cinta kita berdua, sampai-sampai aku harus kehilangan dirinya,'' ucap Ae lesu.


''Udah-udah, kita masuk yuk, jangan sedih lagi, oke,'' ucap Wilo merangkul pundak Ae dan mengajaknya masuk ke dalam rumahnya.


Ae duduk di sofa ruang tamu. Sementara Wilo mengambilkan air untuk Ae agar Ae lebih tenang. Wilo juga sangat sedih melihat sahabatnya seperti itu. Wilo pun menelpon Zelo dan Zehan agar mereka kerumahnya untuk menghibur Aelesha yang sedang patah hati.


Beberapa saat kemudian, Zehan dan Zelo telah sampai di rumah Wilo.


''Kamu nyuruh mereka berdua buat kesini?'' tanya Ae dengan muka yang memerah karna habis menangis.


''Iya, biar kamu nggak sedih terus,'' ucap Wilo.


''Hah,'' Ae menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Lalu tubuhnya di sandarkan ke sandaran sofa.


''Liburan yuk,'' ujar Ae membuat mereka seperti orang yang bodoh.


''Liburan? Liburan kemana?'' tanya Zehan.


''Raja ampat,'' ucap Aelesha santai.


''Hah,'' beo mereka bertiga.


''Kenapa kalian seperti orang idiot gini. Hah, hah, hah, nggak jelas banget,'' gerutu Ae kesal.


''Pasalnya Raja ampat itu jauh Ae, dan kita masih sekolah. Memangnya kamu mau di hukum?'' ucap Zehan.


''Ya nggak sekarang Zehan. Setelah UKK berakhir. Kan minggu ini UKK udah berakhir,'' ujar Aelesha.


''Iya ya, bener. Minggu ini UKK udah berakhir. Huh, nggak sabar pengen cepet-cepet lulus,'' ujar Wilo.


''Jadi gimana nih liburannya? Setujukan?'' tanya Aelesha.


''Setuju-setuju aja sih. Cuma kita berempat nih. Anak-anak nggak di ajak?'' tanya Zelo.


''Mereka belum punya ktp. Kalau ajakin mereka jangan yang jauh-jauh. Yang deket-deket aja,'' ujar Aelesha.


''Iya bener. Mereka masih kecil. Mending kita berempat aja. Sebelum berpusing-pusing ria karna sebentar lagi kita naik ke kelas 12,'' ujar Wilo.


''Oke deh, deal,'' ucap Zehan.


*


Seminggu telah berlalu. Dan hari ini mereka berangkat ke Raja Ampat Papua.


''Gimana, udah siap kan?'' tanya Ae.


''Siap dong,'' ujar mereka bertiga.


''Ya udah kita berangkat ke bandara sekarang,'' ucap Aelesha.


Mereka menumpangi taksi online yang sudah mereka pesan. Barang-barang yang mereka bawa juga lumayan banyak karna mereka di sana lumayan lama.


Perjalanan dari Jakarta ke Papua memerlukan waktu sekitar 5 sampai 7 jam. Dan itu membuat Wilo sedikit takut karna ia bisa mual jika terlalu lama di dalam pesawat.


''Mukanya nggak usah tegang. Nanti kamu malah beneran muntah lo Wil. Santai-santai bayangin aja kalau kita udah nyampek sana, bakal di perlihatkan dengan pesona keindahan raja ampat,'' ujar Aelesha.


Setelah perjalanan 6 jam. Akhirnya mereka sampai di Papua Barat lebih tapatnya di kota Sorong. Dari sana mereka masih memerlukan waktu sekitar 2 jam untuk sampai di Raja Ampat.


''Ae, aku mual banget nih. Kita bisa kan duduk sebentar. Aku bener-bener nggak kuat,'' ujar Wilo yang terlihat wajahnya memucat.


''Iya, kita duduk dulu. Kamu bawa minyak angin nggak? Sini biar aku olesin tubuh kamu,'' ujar Aelesha.


*