AELESHA

AELESHA
38



''Pak Varo,'' gumam Ae. Jantungnya terasa ingin melompat dari tempatnya. Ia sangat takut jika sesuatu hal terjadi dengan Varo. Apalagi mobil yang di tumpangi Varo terlihat sudah tidak berbentuk lagi.


''Ayo Ma kita ke rumah sakit,'' ucap Aelesha langsung menarik tangan Mama Yuni.


''Pakai mobil saja Ae,'' ucap Mama Yuni, namun telinga Ae seperti tuli, ia tak mendengarkan ucapan Mamanya.


''Ae pakai mobil saja! Mama nggak mau kamu bonceng pakai motor,'' ucap Mama Yuni yang takut naik motor dengan Aeleshaa.


''Kelamaan Ma. Udahlah Mama cepetan naik,'' perintah Aelesha. Mama Yuni pun naik ke atas motor Aelesha dengan hati-hati. Aelesha segera menyerahkan helm yang ia pegang tadi untuk keamanan Mamanya.


''Pegangan Ma,'' ucap Aelesha. Mama Yuni langsung memeluk tubuh Aelesha dari belakang. Lalu Aelesha menancapkan gasnya menuju rumah sakit.


Di sepanjang perjalanan Ae dengan tak sadar terus memutar gasnya sampai-sampai Ae mengendarai motornya sudah seperti pembalap.


''Ae kamu mau bunuh Mama?'' teriak Mama Yuni yang berada di belakang. Ae yang mendengar ucapan Mamanya langsung mengurangi kecepatannya.


''Maaf Ma,'' ucap Aelesha.


Selang beberapa saat, mereka telah sampai di rumah sakit. Ae dengan terburu-buru langsung bergegas menuju ruang IGD bersama Mama Yuni. Di depan ruang IGD terlihat ada Mama Gea dan juga Vanya yang tengah menangis tersedu-sedu. Ae pun menghentikan langkahnya saat melihat Mama Gea dan Vanya menangis seperti itu. Air matanya pun tanpa sadar ikut menetes.


''Gea, bagaimana keadaan Varo?'' tanya Mama Yuni.


''Varo,,, Varo akan segera di operasi Yun,'' ucap Mama Gea dengan isak tangisnya.


Dokter dan beberapa suster keluar dari ruang IGD dengan mendorong blankar yang di tempati oleh Varo. Di sana Varo terbaring lemas dengan mata terpejam, terlihat ada beberapa luka memar di wajahnya. Hati Ae kembali teriris, ini semua salah dia, jika saja Ae tak berkata kasar dengan Varo, pasti saat ini Varo baik-baik saja.


''Pak Varo, Pak Varo harus kuatt. Aku tau Pak Varo bisa melewati semua ini. Aku cinta sama Bapak,'' bisik Ae di dekat telinga Varo.


Sampai di depan ruang operasi, langkah Ae dan yang lain terhenti. Blankar yang di tiduri oleh Varo di dorong masuk ke dalam ruangan.


''Mohon pihak keluarga menunggu disini. Kami akan melakukan yang terbaik untuk pasien,'' ujar Suster. Pintu ruangan kembali di tutup, lampu berwarna merah diatas pintu pun menyala pertanda operasi di mulai.


''Aku mencintaimu Pak, sangat-sangat mencintaimu. Maafkan aku yang berkata kasar padamu, aku mohon jangan tinggalin aku. Aku yakin kamu kuat Pak,'' batin Ae menatap pintu ruang operasi yang masih tertutup.


Selang 1 jam, lampu yang berada di atas pintu pun padam, itu menandakan operasi telah berakhir. Tak berselang lama dokter pun keluar dari ruang operasi.


''Bagaimana Dok keadaan anak saya?'' tanya Mama Gea.


Dokter menghembuskan nafasnya kasar. ''Operasinya berhasil Bu. Namun, banyak saraf pasien yang rusak, besar kemungkinan pasien akan mengalami gagar otak atau biasa di sebut amnesia,'' ujar Dokter.


''Nggak mungkin Dok, nggak mungkin anak saya amnesia,'' Mama Gea berteriak histeris.


''Gea, kamu yang sabar ya. Varo pasti bisa sembuh seperti sedia kala kok, iya kan dok?'' tanya Mama Yuni.


''Untuk itu kami tidak bisa memastikan Bu. Kita hanya bisa menyerahkan semuanya kepada yang di atas. Kami permisi dulu,'' pamit Dokter itu.


''Nggak mungkin! Ini semua pasti mimpi, nggak mungkin Pak Varo amnesia. Aku nggak mau kamu lupain aku begitu saja Pak,'' gumam Aelesha dengan berderai air mata.


Sama halnya dengan Vanya, Vanya juga sangat terpukul atas musibah yang menimpa Kakaknya saat ini.


Beberapa saat kemudian, Varo di pindahkan ke ruang rawat, namun ia belum di perbolehkan untuk di besuk oleh pihak keluarga. Pihak keluarga hanya menunggu di luar dan melihat Varo dari balik jendela kaca.


2 hari kemudian.


Saat Aelesha berada di samping Varo, tiba-tiba jari-jari Varo bergerak, Aelesha yang melihat pun langsung memencet panggilan darurat agar dokter segera memeriksa Varo. Mata indah yang berwarna kecoklatan itu pun akhirnya terbuka setelah dua hari tertutup rapat, mata itu pun melihat kesana kemari karna mungkin tempat itu terasa asing baginya.


''Pak Varo, akhirnya Bapak sadar juga,'' ucap Aelesha dengan wajah yang bahagia.


Varo yang melihat Aelesha di dekatnya hanya menatap dengan tatapan asing. ''Kamu siapa?'' tanya Varo.


Deg.


Jantung Aelesha seakan berhenti begitu saja. Apa benar jika Varo amnesia dan melupakan dirinya.


''Aku Aelesha Pak, Aku---''


''Permisi Nona, biar Dokter memeriksa keadaan pasien,'' ucap suster yang datang bersama dengan dokter yang menangani Varo.


Aelesha pun mengangguk, ia akhirnya mundur dan melihat dari jauh saat Varo di periksa.


''Syukurlah, akhirnya pasien sudah sadar,'' ucap Dokter tersebut.


Mama Gea dan yang lain pun ikut masuk saat mendengar kabar jika Varo sudah sadar. Mama Gea langsung mendekat ke arah blankar Varo.


''Akhirnya kamu sadar juga Nak, kami semua sangat khawatir dengan keadaanmu,'' ucap Mama Gea langsung memeluk tubuh Varo yang masih terbaring.


''Sebenarnya aku kenapa Ma?'' tanya Varo membuat Aelesha langsung membeku di tempatnya. Bagaimana bisa Varo hanya lupa dengan dirinya, namun tidak lupa dengan keluarganya.


''Kamu baru saja kecelakaan Nak, tapi syukurlah sekarang kamu sudah sadar,'' ucap Mama Gea.


''Kecelakaan? Kok bisa Ma?'' tanya Varo yang tidak ingat apapun.


''Sudahlah jangan membahas peristiwa itu, nanti hanya membuat Mama sedih lagi Ro,'' ucap Papa Rayan.


''Ma, Pa, mereka siapa?'' tanya Varo melihat ke arah Ae, Mama Yuni dan Papa Rio. Varo terlihat asing dengan mereka.


''Kamu nggak ingat siapa mereka? dia Aelesha calon istrimu dan mereka calon mertuamu,'' ucap Mama Gea.


''Calon istri? Calon mertua? Ini apa sih maksudnya, calon istriku cuma Diva Ma,'' ujar Varo yang tak sadar dengan ucapannya.


''Diva? Siapa Diva? Kenapa dia ingat dengan orang lain, sementara denganku dia lupa,'' batin Aelesha kecewa.


''Hubunganmu dengan Diva sudah berakhir Nak, dan sekarang ini calon istrimu,'' ujar Mama Gea menunjuk Aelesha.


''Aw, shh,'' Varo memijat kepalanya yang terasa sakit. Mama Gea dan yang lain pun panik saat Varo merintih kesakitan. Dokter dan beberapa suster masuk kembali ke dalam ruang rawat Varo, lalu dokter tersebut memeriksa keadaan Varo.


''Gimana Dok keadaan anak saya?'' tanya Papa Rayan.


''Pasien mengalami amnesia, ia hanya mengingat kejadian yang lalu, namun dia melupakan kejadian 2 tahun terakhir ini,'' ujar dokter menjelaskan.


Bagai di hantam batu besar, Aelesha tak menyangka akan di lupakan begitu saja oleh Varo. Hatinya sakit sekaligus kecewa kepada dirinya sendiri karna telah membuat Varo berakhir seperti ini.


*


Maaf ya baru bisa update lagi.


Jangan lupa tinggalkan jejaknya kawan🥰