
''Jadi dia adiknya Pak Varo. Mampus aku, aduh malu banget,'' batin Aelesha berbicara, ia memejamkan matanya karna malu.
''Kenapa, hem?''
''Nggak pa-pa. Udah minggir, aku mau istirahat,'' ujar Aelesha mendorong tubuh Varo, namun Varo malah mendekatkan wajahnya.
Cup.
Varo mencium kening Aelesha. Aelesha langsung melebarkan matanya.
''Pak Varo!!!'' pekik Aelesha menyentuh keningnya yang di cium Pak Varo tadi.
''Kenapa, kurang?'' tanya Varo tersenyum.
''Kurang ajar banget sih,'' gerutu Aelesha dengan wajah di tekuk.
''Udah dong jangan marah-marah lagi. Aku nggak mau kalau kita jaga jarak terus kayak gini Ae. Maafin aku ya kalau aku salah,'' ucap Varo, namun Aelesha hanya diam saja.
''Ae,,,''
''Mau maafin atau mau aku cium lagi?'' tanya Varo mendekatkan wajahnya kembali.
''Berani cium sekali lagi, kena bogeman ini,'' ucap Aelesha menatap tajam Varo sambil mengepalkan tangannya.
''Aduh, calon istriku kenapa galak banget sihh,'' Varo gemas dengan tingkah Aelesha yang sedikit bar-bar itu.
''Aku mau istirahat Pak. Udah pergi sana,'' usir Aelesha.
''Berapa kali sih aku bilang jangan panggil aku Pak. Kita ini sepasang kekasih lo,'' ucap Varo.
''Kapan kita jadian? Perasaan aku nggak pernah menerima cintamu deh,'' ujar Aelesha.
Varo pun langsung berjongkok di depan Aelesha. Tangannya menggengam tangan Aelesha dengan lembut. Matanya menatap Aelesha dalam-dalam.
''Ae, aku mencintaimu. Sungguh-sungguh mencintaimu. Aku hanya ingin kamu menjadi yang terakhir untukku. Maukah kamu menjadi pendamping hidupku setelah lulus nanti?'' ucap Varo dengan ekspresi yang serius.
''Aku nggak mau!'' ucap Aelesha melepaskan genggaman tangan Varo.
''Aku nggak butuh penolakan Aelesha. Kamu yang udah buat hatiku kayak gini. Kamu juga yang harus bertanggung jawab,'' ucap Varo.
''Ish, pemaksaan ini namanya,'' ujar Aelesha.
''Aku tau, sebenarnya kamu sudah ada hati kepadaku. Namun kamu hanya gengsi saja mengakuinya,'' ucap Varo sambil tersenyum.
''Enggak! Bapak jangan ngadi-ngadi deh,'' ucap Aelesha memalingkan wajahnya yang memerah.
''Bapak mending pergi dari sini. Aku mau istirahat!'' usir Aelesha lagi untuk kesekian kalinya.
''Jadi gimana hubungan kita Ae? Aku udah cinta berat sama kamu,'' ujar Varo dengan wajah yang memelas.
''Hubungan kita sebatas murid dan guru. Nggak lebih Pak. Udah minggir!'' Aelesha mendorong tubuh Varo hingga terhuyung kebelakang. Ae berjalan menuju ranjangnya tanpa melihat ke arah Varo.
Varo menunduk memegang dadanya.
''Aww, shhh,'' Varo meringis sambil memegang dadanya. Varo seperti merasakan sakit yang luar biasa.
Ae pun menoleh ke arah Varo yang tengah memegang dadanya. Seketika Ae mengeryitkan dahinya.
''Pak Varo,''
''Pak, Bapak kenapa?'' tanya Aelesha turun dari ranjangnya. Ia segera berjalan menuju Varo.
''Pak,,,''
''Shhhh, sa sakit Ae,'' ucap Varo dengan terbata.
''Pak Varo. Pak, jangan tinggalin Ae Pak. Ae cinta sama Bapak. Ae nggak mau kehilangan orang yang Ae sayangi lagi Pak. Pak bangun!!'' Ae menggoyang-goyangkan tubuh Varo. Sampai akhirnya Varo membuka matanya dengan tersenyum.
''Beneran kamu cinta sama aku?'' Varo tiba-tiba menarik tangan Aelesha hingga Ae kehilangan keseimbangan dan jatuh keatas tubuh Varo.
''Ihhh, Pak Varo apaan sih. Pak Varo bohongi aku ya,'' ucap Aelesha memukul dada bidang Varo saking kesalnya.
''Biar kamu mengakui perasaan kamu sayang,'' ucap Varo tersenyum devil.
''Lepasin Ae! Ae marah sama Pak Varo,'' Ae mengerucutkan bibirnya.
Cup.
''Udah jangan marah lagi. Semua masalahnya udah clear kan. Dia adikku bukan selingkuhanku,'' ujar Varo.
''Iya, iya tapi lepasin Ae. Gimana kalau ada yang tau,'' ucap Ae.
''Biar mereka tau kalau kamu udah punya kekasih. Jadi mereka semua pikir-pikir jika mau deketin kamu,'' ujar Varo. Aelesha memutar bola matanya jengah mendengar ucapan Varo.
''Ini udah malam Pak. Sebaiknya kita istirahat, badanku capek nih,'' ucap Aelesha. Varo pun melepaskan Aelesha, dan ia juga ikut bangkit.
''Ya udah kamu istirahat ya. Besok pagi kita jalan bertiga biar kamu akrab sama Vanya,'' ucap Varo.
''Iya kalau nggak males. Oh iya aku udah ada janji sama Kak Bima mau jalan-jalan pagi,'' ucap Aelesha membuat Varo menatapnya dengan tajam.
''Iya iya Mas Varo. Gitu aja ngambekan,'' ucap Aelesha tiba-tiba memanggil Varo dengan sebutan Mas.
''Ya udah cepet tidur. Kamar aku di sebelah kamarmu. Kalau kamu takut tidur sendiri kamu bisa tidur bareng-bareng sama aku,'' ujar Varo dengan senyum menggoda Aelesha.
''Ihh kebiasaan, udah sana balik ke kamar Pak Varo sendiri,'' Ae mendorong tubuh Varo sampai di depan pintu.
''Kiss dulu Yang,'' Varo memejamkan matanya berharap di beri ciuman oleh Aelesha. Namun Aelesha malah menutup pintu kamarnya dengan pelan sehingga Varo tak tau jika ia berhadap-hadapan dengan pintu.
''Yang, cepet dong. Kiss dulu 1 aja,'' ujar Varo masih memejamkan matanya. Namun tak ada sahutan dari Aelesha.
''Yang, Yang,'' Varo sedikit demi sedikit membuka matanya, ternyata yang di depannya bukan Aelesha, namun daun pintu yang tengah tertutup rapat.
''Aeleshaaaaa,'' Varo gemas dengan tingkah Aelesha. Bagaimana bisa ia hampir saja berciuman dengan pintu jika ia tak membuka matanya. Varo pun segera berjalan menuju kamarnya dengan senyum di bibirnya yang tak pernah luntur.
''Ternyata aktingku berhasil membuatmu menyatakan perasaanmu Aelesha. Sampai kapanpun aku tak akan melepasmu,'' gumam Varo yang tengah berada di atas ranjangnya. Ia masih membayangkan bagaimana paniknya seorang Aelesha saat ia pura-pura jatuh pingsan. Sampai-sampai Aelesha mengeluarkan air mata yang selama ini Varo tak pernah melihatnya menangis.
*
Pagi harinya, Ae sudah mandi dan berdandan rapi karna pagi ini Varo mengajaknya jalan-jalan. Namun jam hampir menunjukkan pukul 9 pagi, tapi Varo belum mengetuk pintu kamarnya juga.
''Pak Varo mana sih?'' gumam Ae mondar mandir di kamarnya.
Tok tok tok.
''Itu pasti Pak Varo,'' Ae membuka pintu dengan semangat dan senyum di wajahnya. Namun senyuman itu surut kala seseorang berdiri di depan pintu bukan orang yang ia harapkan.
''Kak Bima?''
''Pagi Ae. Kita cari sarapan yuk. Kamu pasti lapar kan,'' ujar Bima.
''Bener sih yang di katakan Kak Bima. Aku sekarang laper banget. Tapi kalau aku pergi sama Kak Bima pasti nanti Pak Varo marah-marah. Tapi kayaknya dia udah pergi duluan deh. Kayaknya kamarnya kosong,'' batin Ae melirik kamar Varo sekilas.
''Ayo, kamu udah siap kan?'' tanya Bima.
''Eh, i iya Kak. Aku ambil tas dulu,'' ujar Aelesha masuk ke dalam kamarnya lagi untuk mengambil tas.
*
*