
Sesampainya di Villa. Mereka pun segera istirahat di ruang tengah yang lumayan luas.
''Yang cewek-cewek bisa istirahat di atas ya. Ada 5 kamar disana,'' ujar Abi pemilik Villa itu.
Ae dan Vanya bergegas menuju lantai atas. Namun Ae rasanya malas bertegur sapa dengan Vanya. Mereka berjalan sendiri-sendiri tanpa ada obrolan di antara mereka.
''Kenapa juga Pak Varo ikut kesini. Bawa ceweknya lagi,'' batin Ae sangat kesal. Ia masuk ke dalam kamar yang tak jauh dari tangga. Setelah berada di kamar ia segera menuju kamar mandi untuk merendam tubuhnya yang terasa lelah karna perjalanan yang lumayan jauh.
Ingatan-ingatan Ae pada saat Varo di suapi oleh Vanya masih membekas di fikirannya. Seolah-olah ingatan itu tak mau pergi dari otak Aelesha, membuat Ae menjadi kesal sendiri dan ia segera bangkit dari bathup.
''Dasar lelaki buaya, kenapa aku bisa se kesal ini sama dia,'' gerutu Ae sambil mengambil bajunya yang berada di tasnya.
Setelah berganti pakaian, Ae turun kebawah menemui teman-teman Kakaknya. Bosen jika berada di kamar seorang diri, tidak ada ponsel ataupun televisi yang menemaninya.
Aelesha memakai celana pendek selutut dengan kaos oblong yang lumayan besar menempel di tubuhnya. Rambut pirangnya ia cepol asal membuat kecantikannya tak berkurang sedikitpun.
Aelesha menuruni anak tangga dengan pelan. Ada sepasang mata yang memperhatikan dia diam-diam.
''Ae, duduk sini,'' Bima menepuk sofa di dekatnya, Ae pun duduk di sofa dekat Bima.
''Kalian itu udah seperti Kakak adik beneran tau,'' ujar salah satu temannya yang bernama Toni.
''Kalau menurutku sih kalian sudah seperti sepasang kekasih,'' ujar ketua geng bernama Abi.
Varo yang mendengar ucapan teman barunya itu merasa geram sendiri. Ia menatap Ae dengan tatapan yang tajam.
Ae yang merasa di tatap dengan tajam hanya bersikap acuh. Padahal dalam hatinya ia bertanya-tanya kenapa gurunya itu menatapnya dengan tajam.
''Kak Bim, Ae minta dong minumannya,'' Aelesha merebut botol minuman yang di minum oleh Bima. Ia segera meneguk minuman itu sampai habis setengah.
''Ae jangan banyak-banyak,'' ujar Bima merebut botol minuman itu.
''Kak Bima pelit banget deh. Padahal Ae cuma minum dikit loh,'' ujar Aelesha mengerucutkan bibirnya.
''Nggak gitu Ae, soda nggak bagus buat kesehatan kamu,'' ujar Bima.
''Tapi Kak Bima juga minum. Bilang aja kalau nggak boleh ikutan minum juga,'' ujar Aelesha terlihat kesal.
''Bukannya nggak boleh Ae. Soda dapat menyebabkan penuaan dini untuk wanita, asam lambung naik, hormon yang tidak terbentuk dengan baik dan masih banyak lagi. Memangnya kamu mau perutmu sakit, apalagi hormon yang tidak terbentuk dengan baik akan mengganggu kesuburanmu loh,'' ujar Bima.
''Ciee, perhatian banget sih,'' ucap salah satu teman mereka membuat teman-teman yang lainnya bersorak.
''Aku peduli sama dia. Dia adiku, di mana salahnya,'' sahut Bima kesal.
''Lebih dari adik juga boleh kok, iya nggak?'' ucap salah satu temannya meminta persetujuan teman yang lain.
''Betul banget. Kalian kan sama-sama single. Kenapa nggak jadian aja,'' ucap Toni.
''Apaan sih nggak jelas banget,'' ucap Bima.
Sementara Varo yang mendengar ucapan mereka hanya bisa memendam kekesalannya sendiri.
Jam malam menunjukkan pukul 11 malam, Ae pun sudah merasa kantuk mulai menyerangnya. Padahal teman-teman yang lain masih betah bersendau gurau.
''Kalau kamu udah ngantuk tidur aja nggak pa-pa Ae. Besok bangun pagi, biar bisa jalan-jalan,'' ujar Bima mengelus rambut Ae pelan.
''Ya udah Ae tidur dulu ya Kak. Matanya nggak bisa di ajak kompromi nih,'' ujar Aelesha bangkit dari duduknya berjalan menuju arah tangga.
Varo yang merasa ingin berbicara dengan Ae pun juga ikut bangkit.
''Aku ke atas dulu ya. Mau lihat adikku,'' pamit Varo kepada teman-temannya.
''Terima kasih ya,'' ujar Varo berjalan meninggalkan teman-temannya.
Sesampainya di depan pintu kamar Ae, Varo mencoba membuka pintu itu dengan pelan, namun ternyata pintu kamar Ae di kunci dari dalam.
Tok tok tok.
Varo mengetuk pintu itu, berharap Ae segera membukanya.
Ceklek ceklek.
''Ada apa ya Kak Bi---''
''Kamu nggapain kesini?'' tanya Ae ketus. Ae kira yang datang Bima, ternyata Varo.
''Aku mau bicara sama kamu,'' ujar Varo.
''Udah nggak ada yang perlu di bicarakan ya Pak. Aku mau istirahat,'' ujar Aelesha ingin menutup pintu. Namun kaki Varo sudah lebih dulu menghadang pintu kamar Ae.
Varo mendorong tubuh Ae agar masuk ke dalam. Dan dia juga ikut masuk ke dalam dan segera mengunci pintu kamar Aelesha.
''Bapak mau ngapain?'' tanya Alesha panik. Ia berjalan ke belakang sampai tubuhnya membentur tembok.
''Kita perlu bicara Ae,'' Varo mendekat ke arah Aelesha.
''Kalau Bapak mendekat, aku akan teriak,'' ujar Aelesha mengancam Varo. Namun Varo masih kekeh pada pendiriannya. Ia tetap mendekat ke arah Aelesha dan mengunci tubuh Aelesha dengan kedua tangannya yang menempel di dinding.
''Kenapa kamu cuekin aku kayak gini Ae. Salah ku dimana?'' tanya Vari menatap lekad ke arah Aelesha.
Aelesha menarik sudut bibirnya. ''Bapak tanya salah Bapak dimana? Bapak nggak salah apa-apa kok,'' ujar Aelesha dengan ekpresi wajah yang berubah datar.
''Ae jangan gini dong, aku nggak bisa kalau kamu cuekin kayak gini,'' ujar Pak Varo.
''Aku nggak nyuekin Bapak, tapi memang sebaiknya kita jaga jarak Pak. Ya, seperti murid dan guru pada umumnya. Aku nggak mau di cap jadi orang ketiga di antara hubungan Bapak dan kekasih Pak Varo,'' ujar Aelesha menatap Pak Varo dalam-dalam.
''Kekasih? Kekasihku ya kamu Ae,'' ucap Pak Varo.
''Bohong! Sudahlah Pak, berhenti mengganggu hidup Ae,'' ujar Ae dengan mata berkaca-kaca. Ia ingin mendorong tubuh Varo, namun kekuatan Ae jelas kalah dengan tubuh Varo yang lebih besar darinya.
''Ae, aku cinta sama kamu. Mana mungkin aku punya kekasih lain selain kamu,'' ucap Varo serius.
''Bapak kira mataku ini buta? Jelas-jelas Bapak kesini bersama kekasih Bapak kenapa masih mengelak,'' ucap Aelesha dengan tatapan yang kecewa.
''Kamu cemburu?'' tanya Varo dengan senyum di wajahnya.
''Eng enggak, siapa juga yang cemburu,'' ucap Aelesha mengelak.
''Ya kalau cemburu nggak pa-pa sih. Tapi cemburumu itu salah Ae. Kamu cemburu sama calon iparmu sendiri,'' ucap Varo tertawa pelan.
Aelesha langsung menoleh ke arah Varo, mencari kebohongan di mata Varo, namun ia tak mendapati kebohongan itu disana.
''Ja jadi----''
''Dia adikku, namanya Vanya. Baru beberapa hari ini dia pulang dari LN. Sebenarnya kemarin aku mau ngenalin kamu sama dia. Tapi kamu udah marah duluan sama aku,'' ucap Varo. Wajah Ae langsung memerah menahan malu. Ia sangat malu sekali cemburu tak berdasar kepada calon iparnya sendiri. Eh calon ipar? Apa Ae sudah menerima Varo menjadi calon suaminya? Entahlah, hanya Ae yang tau😁.
*
*