
''Pak Varo ngapain disini?'' tanya Ae yang masih bingung dengan kedatangan Varo.
''Jelas mengajakmu pulang Yang. Aku sudah ingat semuanya. Maaf jika selama ini aku melupakanmu,'' ujar Varo.
''Ma, aku nggak sedang mimpi kan Ma? Ini beneran Pak Varo kan Ma?'' tanya Ae yang belum percaya sepenuhnya dengan kedatangan Varo dan keluarganya.
''Ini beneran sayang, kamu nggak sedang bermimpi,'' ujar Mama Yuni tersenyum ke arah Aelesha.
Buliran air mata menetes begitu saja di pipi Aelesha. Antara percaya atau tidak jika yang ada di depannya saat ini adalah Varo orang yang ia cintai.
Greb.
Aelesha langsung memeluk Varo dengan erat. Rasa rindu yang selama ini ia rasakan akhirnya terbayar juga.
Hiks hiks hiks.
''Pak Varo jahat!! Kenapa Pak Varo bisa melupakan aku. Aku sangat tersiksa saat Pak Varo tidak mengenalku,'' ujar Ae dengan air mata yang tak mau berhenti menetes.
''Maafin aku Yang, aku janji nggak akan melupakanmu lagi,'' ujar Varo mengelus punggung Ae dengan pelan.
Ehm ehm.
Deheman Papa Rio membuat mereka melepaskan diri dari pelukan itu. Varo pun tersenyum canggung.
''Belum halal juga,'' sindir Papa Rio.
Papa Rio melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. ''Ae, sebentar lagi pesawat yang kita tumpangi akan berangkat,'' ujar Papa Rio.
''Jangan pergi Yang, please,'' ujar Varo memohon, wajahnya pun memelas.
''Maaf Pak, tapi Ae harus pergi,'' ujar Ae sambil melepaskan tangan Varo yang tengah menggenggam tangannya.
''Tunggu Ae 4 sampai 5 tahun Pak. Ae pasti akan mewujudkan apa yang Bapak inginkan selama ini,'' ujar Aelesha.
''Enggak! Kumohon jangan pergi Ae,'' ujar Varo memohon.
''Maaf Pak,'' Aelesha pun melangkahkan kakinya meninggalkan Varo yang membeku di tempatnya.
''Aeleshaa!!'' panggil Varo berlari ke arah Aelesha dan memeluknya dari belakang.
''Please jangan pergi. Jika kamu pergi aku juga ikut pergi Ae,'' ujar Varo.
Aelesha jelas bingung, di sisi lain ia harus pergi namun di sisi lain dirinya masih merindukan seseorang yang sangat ia cintai.
''Ma, Pa, apa nggak bisa jika di undur beberapa hari lagi?'' tanya Aelesha.
''Tentu bisa sayang. Jadi bagaimana?'' tanya Papa Rio.
''Ae ingin menghabiskan beberapa hari lagi dengan Pak Varo Pa, bolehkan kan?'' tanya Aelesha.
Papa Rio menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Varo pun ikut bahagia karna Ae tidak jadi berangkat hari ini.
''Makasih sayang,'' ucap Varo ingin memeluk Ae lagi, namun ia mendapat tatapan tajam dari Papa Rio.
''Di halalin dulu, jangan main peluk-peluk aja,'' ujar Papa Rio.
''Apa boleh om?'' tanya Varo serius.
''Ya jelas boleh, daripada kalian berbuat dosa,'' ujar Papa Rio.
Akhirnya mereka pun pulang ke rumah keluarga Rio untuk membahas hubungan Varo dan Ae ke jenjang yang lebih serius.
''Jadi bagaimana?'' tanya Papa Rio saat mereka sudah sampai di kediamannya.
''Kalau menurutku, bagaimana kalau Ae dan Varo bertunangan terlebih dahulu. Walaupun mereka berjauhan kan setidaknya ada ikatan di antara mereka,'' usul Mama Yuni.
''Tapi menurutku itu kurang pas Yun. Bagaimana kalau mereka langsung menikah saja. Aku takut jika suatu saat mereka bertemu setelah sekian lama berpisah, mereka akan melakukan dosa,'' sahut Mama Gea.
''Betul yang di ucapan istriku Yun,'' ucap Papa Rayan membenarkan ucapan Mama Gea.
''Aku terserah mereka saja, bagimana Ae?'' tanya Papa Rio.
''Langsung nikah aja ya?'' ucap Varo langsung mendapat pukulan dari Ae.
''Aku masih mau kuliah Pak,'' ucap Aelesha.
''Aku akan dukung kuliahmu Yang. Tapi aku mau kita nikah dulu, setelah itu aku juga akan ikut pindah bersamamu ke negara S,'' ujar Varo.
''Gimana Ae?'' tanya Papa Rio lagi.
''Entahlah Pa. Aku nurut aja gimana baiknya,'' ucap Aelesha menghembuskan nafas panjangnya.
''Apa aku udah siap menikah dengannya. Aku bahkan masih kekanak kanakan. Aku juga belum bisa sepenuhnya mengurus diriku sendiri. Tapi aku juga tidak ingin kehilangan Pak Varo lagi. Aku harus bagaimana?'' batin Aelesha.
''Baiklah, bagimana kalau pernikahan kalian kita adakan 4 hari lagi?'' tanya Papa Rio.
''Apa?! yang benar saja dong Pa,'' ujar Aelesha.
''Udahlah Yang, nurut aja sama orang tua,'' ujar Varo yang sangat setuju dengan ucapan calon mertuanya.
Ae pun langsung diam. Percuma jika ia yang berbicara, papanya pasti tak akan mendengarkan.
''Bagaimana dengan pestanya. Apa kamu mau pesta yang meriah Ae?'' tanya Papa Rio.
Ae menggelengkan kepalanya. ''Aku ingin hanya ijab qabul saja, aku nggak ingin ada pesta yang besar-besar. Apalagi aku baru saja lulus SMA, pasti bakal ada gosip yang tidak-tidak jika aku menikah dengan guruku sendiri,'' ujar Aelesha.
''Betul yang di katakan Ae om, kita adakan ijab qabul saja, jika nanti ingin membuat pesta biarkan Ae sampai lulus S1 dulu,'' ujar Varo.
''Baiklah jika itu keinginan kalian,'' ujar Papa Rio.
Akhirnya hari dan tanggal pernikahan mereka pun sudah di tentukan. Kali ini Ae hanya bisa menghela nafasnya dengan panjang.
''4 hari lagi aku akan menikah. Sungguh ini semua di luar dugaanku,'' batin Aelesha.
Waktu menjelang sore, Varo dan keluarganya pun berpamitan untuk pulang ke rumah. Di mulai dari hari ini dan sampai ijab qabul nanti, Varo dan Ae tidak boleh bertemu terlebih dahulu. Ada sebuah tradisi yang tidak memperbolehkan mereka bertemu sampai hari H nanti.
''Aku pulang dulu Yang. Jangan rindu sama aku,'' ucap Varo menatap Ae dengan tatapan yang masih merindu. Ingin memeluk, namun calon mertuanya sedang mengawasi mereka di sana. Ia juga ingin mencium, namun apalah daya, ia tak seberani itu.
''Yang ada Pak Varo yang kangen sama Ae,'' ujar Aelesha.
''Kalau itu pasti dong. Udah ya, Mas pulang dulu. Jaga diri baik-baik. 4 hari lagi bisa bobok bareng,'' bisik Varo tepat di dekat telinga Aelesha.
''Ishhh,'' Aelesha mencubit perut Varo dengan menatap tajam ke arah Varo.
Varo tersenyum tanpa dosa. Setelah drama perpisahan, akhirnya Varo masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah Aelesha.
Di sepanjang jalan, Varo tak henti-hentinya tersenyum. Ia sangat bersyukur akhirnya ia mengingat semuanya sebelum ia melingkarkan cincin di jari manis Diva. Ia tak tau entah apa jadinya jika ia sampai menikah dengan Diva dan setelah itu ia mengingat semuanya.
''Terima kasih Tuhan. Aku yakin jika Aelesha memang jodoh terbaik dari Mu,'' ujar Varo di dalam hati.
''Kak Varo sejak tadi senyum-senyum terus deh Ma, kayaknya Kak Varo udah nggak sabar pengen cepet kawin,'' ucap Vanya.
''Nikah woe nikah!! Kawin-kawin kayak kambing saja,'' gerutu Mama Gea.
''Memangnya beda ya Ma?'' tanya Vanya yang memang terlihat polos.
''Bedaa!!'' ucap Varo, Mama Gea dan Papa Rayan bersamaan.
*
*
Jangan lupa jejaknya ya guys.
Like, coment, vote, fav dan beri hadiah😚