
Saat Vanya berjalan masuk ke halaman rumahnya. Varo pun sudah sampai di teras rumah. Ia menatap Vanya tanpa berkedip.
''Darimana kamu?'' suara bariton itu membuat Vanya terlonjak kaget. Perasaan tadi tidak ada orang, pikir Vanya.
''I itu dari rumah temen Kak,'' ucap Vanya setengah gugup.
''Temen? Sejak kapan kamu punya teman di sini. Bahkan kamu jarang keluar rumah,'' ujar Varo dengan tatapan penuh selidik.
''Ah, i itu---''
Tiba-tiba Mama Gea keluar saat Vanya belum selesai berbicara.
''Vanya darimana aja kamu. Katanya pergi sebentar, kenapa sampai malam gini?'' cecar Mama Gea.
''Mampus aku, gimana ini?'' batin Vanya.
''Jawab Van!'' sentak Varo membuat jantung Vanya hampir keluar dari tempatnya.
''Dari rumah Bima Kak,'' ucap Vanya pelan.
''Ngapain?'' tanya Varo lagi.
''Em, anu itu----'' belum selesai Vanya berbicara tiba-tiba suara bariton milik Bima terdengar.
''Van, ponsel kamu ketinggalan,'' ucap Bima membuat Vanya melebarkan matanya.
''Tamat riwayatmu Van,'' batin Vanya.
''Ehmm, ada yang bisa menjelaskan disini?'' tanya Varo sambil bersedekap dada.
''Malam Tante, Ro,'' sapa Bima terlebih dahulu.
''Nggak usah basa basi, cepat jelaskan ada hubungan apa sebenarnya kalian ini. Kenapa Vanya malam-malam keluyuran kerumah kamu?'' ucap Varo.
''Kami pacaran,'' ucap Bima menggenggam tangan Vanya yang terasa dingin.
''Sejak kapan?'' tanya Mama Gea penasaran.
''Sejak hari ini Tante,'' ucap Bima sambil tersenyum.
Mama Gea dan Varo pun saling memandang. Membuat Vanya bertanya-tanya di dalam hatinya.
''Ma, restui hubungan kami Ma. Aku nggak mau kehilangan orang yang aku cintai lagi, please Ma. Jangan pisahkan aku sama Mas Bima ya Ma,'' ujar Vanya langsung memohon di dekat kaki Mamanya membuat Mama Gea menahan tawanya.
''Memangnya Mama mau ngapain Van?'' tanya Mama Gea membuat Vanya mendongakkan wajahnya.
''Mama sama Kakak nggak mau restui hubungan aku kan? Iya kan? Tapi aku tetap akan mempertahankan hubungan ini Ma,'' ujar Vanya sambil memeluk kaki Mamanya.
''Memangnya kalian sudah melakukan apa sampai-sampai kamu nggak mau pisah sama dia?'' tanya Varo dengan tatapan tajamnya.
''Enggak, belum eh maksudnya kita nggak ngelakuin apa-apa kok. Iya kan Van?'' ucap Bima meminta persetujuan dari Vanya. Vanya pun mengangguk.
''Kami nggak ngelakuin apapun Kak. Kenapa Kakak curigaan sih,'' ucap Vanya terdengar sewot.
''Kakak nggak curiga Van, Kakak hanya bertanya,'' ujar Varo.
Saat perdebatan mereka memanas, Ae tiba-tiba datang dari dalam rumah.
''Kak Bima? Kak Bima kok ada di sini?'' tanya Aelesha dengan senyum terpancar di wajahnya.
''Eh, i iya Ae,'' ucap Bima.
''Mending kita masuk dulu, makan malam sama-sama. Setelah itu kita bicarakan semuanya dengan Papa juga,'' ucap Mama Gea.
Mereka pun mengangguk setuju. Ae yang masih penasaran pun hanya bisa menebak di dalam fikirannya.
*
*
Setelah menikmati makan malam dengan keheningan, saat ini mereka berada di ruang keluarga. Vanya pun mengeluarkan keringat dingin di tubuhnya. Ia benar-benar takut jika orang tuanya tidak merestui hubungan mereka.
Bima dan Vanya pun saling memandang. ''Kalau saya pribadi, saya serius dengan anak Om. Saya ingin membahagiakannya Om,'' ucap Bima dengan lancar.
''Apa kamu sudah mengenal Vanya lebih dalam lagi? Vanya anak manja, dari kecil ia selalu di manja oleh neneknya, jadi terbawa sampai sekarang. Vanya juga tidak bisa memasak, menyapu atau pun mencuci baju. Ia hanya bisa menghabiskan uang dan kerjaannya hanya rebahan saja. Apa kamu siap mempunyai istri seperti itu?'' tanya Papa Rayan. Mendengar ucapan Papanya, Vanya melebarkan matanya, ia tak percaya Papanya akan membuka kartu As nya di depan Bima.
''Saya mencintai anak anda Om. Saya bersedia menikahi dia karna saya mencintainya. Disini saya mencari istri, bukan mencari pembantu. Jika Vanya bisa memasak, mencuci ataupun menyapu, itu bonus bagi saya. Jika ia tidak bisa melakukan itu semua, saya akan membayar orang untuk melakukan itu semua,'' ucap Bima tanpa ragu.
Papa Rayan tersenyum dalam hati. Mungkin kali ini ia harus merelakan anak gadisnya untuk di pinang oleh tetangganya ini.
''Apa pekerjaan kamu?'' tanya Papa Rayan.
''Saya bekerja di perusahaan Paman saya Om. Ya mungkin gajinya tidak seberapa, namun saya bisa mencukupi semua kebutuhan anak Om. Jadi Om jangan khawatir,'' ucap Bima mantap.
''Orang Tuamu?'' tanya Papa Rayan lagi.
''Orang Tua saya ada di LN. Mereka lebih suka tinggal di sana dan mengurus perusahaan peninggalan opa saya yang ada di negara itu,'' ucap Bima.
''Tapi kenapa kamu malah suka berada di sini, kenapa tidak ikut dengan orang tuamu?'' tanya Papa Rayan kembali.
''Saya lebih suka di tanah air sendiri Om. Ya walaupun saya tinggal seorang diri, namun di sini banyak teman-teman saya yang sudah seperti saudara sendiri,'' ujar Bima.
Papa Rayan pun mengangguk anggukkan kepalanya.
''Jadi kapan kalian akan menikah?'' tanya Papa Rayan.
''Apa Papa merestui hubungan kami?'' tanya Vanya dengan mata berbinar.
''Tentu saja. Papa ingin kamu juga bahagia seperti Kakak kamu. Bagaimana, kapan kalian siap untuk melangsungkan pernikahan?'' tanya Papa Rayan.
''Saya akan memberitahukan kepada orang tua saya dulu Om,'' ujar Bima.
''Iya, itu harus!'' ucap Papa Rayan.
Setelah menikmati makan malam bersama dan mengobrol tegang bersama Bima. Varo mengajak istrinya untuk naik ke lantai atas dimana kamarnya berada. Malam ini mereka akan menginap di rumah Varo. Awalnya Ae menolak, namun setelah di rayu oleh Varo, akhirnya ia mengiyakan, toh tidak ada salahnya menginap di rumah mertua sendiri sebelum berangkat ke LN, pikirnya.
Sesampainya di kamar, Ae langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size milik Varo.
''Gimana, nyaman kan?'' tanya Varo yang juga merebahkan tubuhnya di samping Aelesha.
''Bukankah kasur sama saja ya?'' ucap Aelesha yang terdengar kesal di telinga Varo.
''Hem, udah sembuh belum Yang?'' tanya Varo mengalihkan pembicaraan.
''Masih kemarin juga, kurang 5 hari lagi,'' ucapnya sambil mengangkat 5 jarinya.
''Lama bener sih Yang,'' ujar Varo merengek seperti anak kecil yang sedang minta mainan.
''Jatahnya kan seminggu Mas. Nggak sabar banget sih. Emang gimana sih rasanya, kok Mas Varo kayak nggak sabaran banget,'' ujar Aeleshaa.
''Ya, ya---
''Mas Varo belum ngelakuin itu kan sama Diva?'' tanya Aelesha dengan tatapan menyelidik.
''Belum, eh enggak Yang. Kita nggak ngelakuin itu, beneran,'' ucap Varo mengangkat 2 jarinya.
''Masa? Nggak percaya aku. Diva yang selalu tampil terbuka kayak gitu nggak mungkin kan Mas Varo nggak tergoda,'' ujar Aelesha membuat Varo mematung di tempatnya.
*
*
Hallo guysss.
Maaf ya baru update.
Jangan lupa mampir di karya baruku yaa.
SATU ATAP DENGANMU🥰🥰