AELESHA

AELESHA
59



Hari ini adalah hari kedatangan keluarga Bima di Jakarta. Bima dan Vanya menjemput keluarga Bima ke Bandara menggunakan mobil Vanya.


Saat di perjalanan menuju Bandara, Vanya terlihat gelisah dan tidak tenang. Jantungnya berdegub lebih kencang daripada biasanya. Vanya benar-benar takut jika keluarga kekasihnya tidak bisa menerima dirinya.


Setelah perjalanan satu jam, mereka pun sampai di bandara Ibu Kota.


''Mas, aku benar-benar takut,'' ucap Vanya dengan gelisah.


''Kamu nggak perlu takut. Keluargaku baik kok, kamu yang tenang ya,'' ucap Bima menggenggam tangan Vanya yang terasa dingin.


Mereka pun menunggu di ruang tunggu. Setelah beberapa saat menunggu keluarga Bima pun akhirnya datang.


''Kak Bim!!'' pekik seorang gadis dengan wajah blasteran. Ia menubrukkan badannya di badan Bima.


''Hay Mars, bagaimana kabarmu. Kamu sudah dewasa ya sekarang,'' ucap Bima mengelus pundak gadis itu. Vanya yang melihat pun hanya tersenyum tipis sebelum ia menyapa Papa dan Mamanya Bima.


''Ma, Pa,'' sapa Bima langsung melepaskan pelukan gadis yang bernama Mars. Bima pun bergantian memeluk Mama dan Papanya.


''Sudah lama menunggu?'' tanya Mama Bima yang bernama Kelin.


''Belum kok Ma. Kenalin ini Vanya, kekasihku,'' ucap Bima mengenalkan Vanya kepada orang tuanya.


''Halo Om, Tante,'' sapa Vanya menyalami kedua orang tua Bima.


''Oh jadi ini yang namanya Vanya? Hampir setiap hari Bima selalu bercerita tentang kamu loh Van. Benar kata Bima, kamu memang sangat cantik. Seperti Bidadari,'' puji Mama Kelin.


''Terima kasih Tante. Tapi menurutku Mas Bima terlalu berlebihan,'' ucap Vanya dengan wajah yang memerah karena pujian dari mamanya Bima.


''Gimana kalau ngobrolnya di lanjut nanti. Sekarang kita makan siang dulu, pasti Mama dan Papa kangen masakan Indonesia,'' ucap Bima.


''Kamu tau aja sih Bim,'' ucap Papa Rama.


Bima pun membantu sang Papa membawa koper barang-barang orang tuanya. Setelah sampai di parkiran mobil, 3 koper itu di letakkan di bagasi mobil.


''Mobil siapa Bim?'' tanya Mama Kelin penasaran. Pasalnya selama ini Bima tidak mau memakai mobil. Ia kemana-mana lebih memilih memakai motor sportnya.


''Mobil Vanya Ma. Kan Mama tau sendiri Bima nggak punya mobil,'' ucap Bima.


''Kan memang kamu sendiri yang nggak mau pakai mobil. Kemana-mana lebih memilih menggunakan motor sportmu itu,'' ujar sang Mama.


''Ya nggak pa-pa sih Ma. Vanya juga seneng banget kalau di ajak naik motor. Buat apa beli mobil mahal-mahal,'' jawab Bima santai.


''Udah-udah. Kapan kita berangkatnya. Papa udah laper banget nih,'' ucap Papa Rama melerai perdebatan mereka berdua.


Bima pun membuka pintu depan, agar Vanya masuk terlebih dahulu. Namun saat Vanya ingin masuk, tiba-tiba Mars mendahului dan duduk anteng di kursi dekat kemudi.


''Mars, disini tempat duduk Vanya!'' ucap Bima.


''Aku pengen duduk disini Kak. Aku kangen banget sama Kakak. Masa nggak boleh sih,'' ucap Mars dengan wajah yang memelas.


''Kamu boleh kok duduk di depan. Biar aku duduk di belakang,'' ucap Vanya lebih baik mengalah. Toh sama adik iparnya sendiri, pikirnya.


''Nggak papa ya Van kamu duduk di sini. Mungkin Mars memang rindu sama Bima. Apalagi mereka sudah sangat lama tidak pernah bertemu,'' ucap Mama Kelin.


''Iya Tan, nggak pa-pa Kok. Masa Vanya nggak mau ngalah sih sama calon adik ipar sendiri, hehe,'' ucap Vanya sambil tersenyum canggung.


''Jadi----


''Iya, tapi kamu jangan khawatir. Mars sudah menganggap Bima seperti Kakaknya sendiri kok,'' ucap Mama Kelin agar Vanya tidak berfikir yang macam-macam.


Saat mereka asik mengobrol bunyi klakson membuyarkan obrolan mereka. Mama Kelin dan Vanya pun segera masuk ke dalam mobil.


''Jadi dia bukan adik Bima?'' batin Vanya.


Setelah sampai di restoran. Vanya lagi-lagi kalah dari Mars. Saat Vanya ingin duduk di dekat Bima, tiba-tiba Mars datang dan menyerobot tempat duduk yang ingin di duduki oleh Vanya. Dengan terpaksa Vanya mengalah karna ia tidak mau ribut di tempat umum.


''Mungkin dia memang sangat rindu dengan Mas Bima,'' batinnya berfikir positif kepada Mars.


Mereka pun segera memesan makanan yang mereka inginkan. Tanpa menunggu lama makanan yang mereka pesan pun sudah terhidang di meja makan.


''Waow, Sepertinya ini enak,'' ucap Mars langsung melahap makanan yang di pesan oleh Vanya.


''Mars itu makanan Vanya. Kalau kamu mau kamu bisa pesan!'' ucap Bima merasa kesal dengan Mars.


''Nggak pa-pa kok Mas, biar aku pesan lagi saja,'' ucap Vanya segera memanggil waiters untuk memesan makanan yang di makan oleh Mars tadi.


''Dia aja nggak pa-pa tuh Kak. Kenapa Kak Bim gitu sih sama Mars, Mars baru saja tiba di sini loh,'' ucap Mars dengan bibir cemberut.


''Nggak gitu Mars, kalau kamu mau seharusnya kamu pesan sendiri. Jangan main makan punya orang lain,'' ujar Bima menasehati Mars.


''Udah nggak pa-pa Mas. Lagian aku udah pesan lagi kok,'' ucap Vanya merasa tidak enak hati kepada calon mertuanya.


''Lain kali jangan seperti itu. Itu sungguh-sungguh tidak sopan!'' ucap Bima menatap kesal ke arah Mars.


Tidak berselang lama, makanan yang di pesan oleh Vanya pun datang. Mereka segera menyantap makanan mereka bersama-sama.


''Vanya sayang, biasanya kamu pengen cobain makanan punyaku. Nih,'' Bima menyodorkan 1 sendok penuh. Walaupun Bima dan Vanya di beri jarak oleh Mars, tapi mereka tetap bisa bersikap romantis.


''Mass,'' gumam Vanya pelan.


''Nggak pa-pa nggak usah malu, mama sama papa juga pernah muda kok,'' ucap Bima tersenyum sambil melirik kedua orang tuanya yang tengah menatap dirinya. Mau tak mau Vanya pun menerima suapan dari Bima.


''Mending Mars pindah tempat duduk,'' ucap Papa Rama.


''Tapi Mars udah nyaman disini Om,'' rengek Mars.


''Kamu pindah di kursi Bima, biar Bima dekat dengan Vanya,'' ucap Mama Kelin membuat Mars terpaksa pindah tempat duduk. Walaupun dalam hatinya ia sangat kesal karna Bima dan Vanya duduk berdekatan.


''Nah,,gitu dong. Kalau gini kan kalian enak suap-suapannya,'' ucap Mama Kelin membuat wajah Vanya bersemu merah.


''Udah Mas, aku malu,'' bisik Vanya di dekat telinga Bima saat Bima lagi-lagi menyuapi dirinya.


''Kalau kamu malu ganti suapin Mas dong. Biasanya kan kita tukar makanan gini,'' ujar Bima membuat wajah Vanya kembali bersemu merah.


Saat mereka asik bersuap-suapan di kursi lain nampak Mars yang hanya mengaduk-aduk makanannya. Ia sangat kesal karna melihat dua sejoli yang terlihat sangat romantis. Bagaimana ia tidak kesal, sejak dulu ia sangat menyukai Bima, namun Bima selalu menjaga jarak dengannya. Mars berharap Bima bisa membuka hati untuknya, namun saat ia mendengar kabar Bima akan menikah, Mars sangat marah dan ia akan berusaha sebisa mungkin menggagalkan semuanya.


*


*