
"Hei lik"Mario menepuk pundak Malik yang sedang duduk di kursi kantornya.
" Mmmm, ngapain lo kesini?" jawab malik ketus, malik terus mengetik tanpa menghiraukan sahabat yang duduk di mejanya.
Memang sahabat satunya itu tidak ada sopan santun jika berada di depan malik.
"ya mau ketemu lo lah, masak mau ketemu tembok kantor lo" jawabnya ngasal.
"Ngga lucu, kalo ngga ada kepentingan mending lo pergi deh gue sibuk" usir malik.
"idih sok sibuk lu, eh lik gue penasaran deh sama bini lo kayak apa sih wajahnya?" pertanyaan Mario membuat tangan malik terhenti kemudian menatap mario yang sedang manantikan jawabannya.
"ya kayak aleta lah. Kan gue nikah sama Aleta. " jawab malik dengan ekspresi datar.
Mario tertawa kecil mendengar jawaban malik pasalnya mario tau jika yang di nikahi sahabatnya itu buka Aleta tapi perempuan lain.
"Malik-Malik gue masih aja lo boongin gue tau kali kalo yang lo nikahin itu bukan Aleta,mana mau tuh nenek lampir pake hijab. orang dianya aja di di swiss nihh" mario memamerkan foto aleta yang berada di swiss ke hadapan malik.
Malik menepis ponsel mario dari hadapannya, tidak suka dengan foto yang di perlihatkan oleh mario. Hati malik sakit jika melihat foto aleta yang bersenang-senang di swiss sedangkan dirinya harus menderita bahkan menikahi wanita yang tidak ia cintainya di sini.
"Jadi siapa yang lo nikahin? "tanya mario lagi.
" Anak angkat kakak gue" jawab malik malas.
"Jadi lo nikahin keponakan lo sendiri dong "histeris mario sambil tertawa ngakak mengejek malik.
" Diem lo, jangan sampai ada yang tau kalo yang gue nikahin itu bukan aleta.!!" ancam malik.
" Siap pak bos" mario mengangkat tangannya ke dahi seperti orang hormat ke arah malik.
"udah sana-sana pergi gue mau kerja" usir malik mendorong tubuh mario sampai ke pintu keluar.
"kasar amat lo, sahabat sendiri lo usir "kesal mario namun tidak di hiraukan oleh malik. Malik langsung menutup pintu ruanggannya malas jika harus meladeni sahabat satunya itu.
...*********...
Kemerlap- kemerlip lampu diskotik ditambah dengan suara musik DJ yang keras dan juga orang-orang yang berjoget serta bersorak riya melupakan semua masalah mereka. begitu juga yang di lakukan oleh malik. Sudah dua botol miras yang di minum oleh malik sejak tadi.
"Aleta.... Aleta kenapa kamu pergi ninggalin aku"ucap malik berjalan sempoyongan keluar dari diskotik.
" ALETA! " malik terus-terusan meneriaki nama aleta berjalan tanpa arah menembus hujan lebat.
Malik memang sengaja tidak membawa mobil karna dia akan mabuk berat, sudah ia rencanakan sejak pulang kantor tadi. Malik meninggalkan mobilnya di parkiran kantor dan pergi ke kleb menggunakan taksi online.
Malik tidak peduli dengan butiran air hujan yang membasahi tubuhnya ia terus saja berjalan sampai ke persimpangan jalan. Malik duduk di trotoar jalan, kepala Malik terasa akan pecah. Malik duduk dalam waktu yang lama. Hujan yang tadinya lebat kinipun beransur-ansur reda.
"ALETA I LOVE YOU! " teriak malik masih terpengaruh dengan minum keras yang ia minup tadi.
Saat malik larut dalam khayalannya tiba-tiba saja sebuah mobil van hitam berhenti tepat di depan malik. Pemilik mobil itu keluar sedikit terburu-buru menghampiri malik.
"Malik lo ngapain? "tanya mario mendekati malik. Lo mabok ya?" tanya mario lagi.
"Aleta, akirnya kamu dateng "ucap malik ngelantur. Malik benar-benar seperti orang gila baju yang basah kuyup ditambah dengan rambut yang acak-acakan untung saja mario tadi tidak sengaja lewat dan melihat malik. kalau tidak mungkin saja malik akan duduk di sana sampai pagi dan tersadar dari pengaruh alkohol yang entah sudah berapa botol di minumnya.
"Aleta, aleta gue MARIO"ucap mario menampar pipi malik untuk menyadarkannya. Mario membambawa malik kedalam mobilnya untuk diantarkan pulang. Bisa malu besar ia kalau sampai wartawan melihat malik dalam keadaan gelandangan seperti ini.
Tok....
Tok...
Tokkkkk...
Mario memukul pintu rumah malik dengan gebrakan yang cukup kuat seperti rentenir yang akan menagih hutang. Bukan tanpa alasan mario melakukan itu karna ia memikul tubuh Malik yang berat di atas punggungnya. Malik tidak sadarkan diri jadi mau tidak mau mario terpaksa menggendongnya.
Mendengar gebrakan pintu yang kuat ayu yang tidur di sofa berniat menunggu malik pulangpun terjaga dari tidurnya dan langsung berlari menuju pintu.
"Astagfirullah mas"ucap ayu kaget saat membuka pintu, mendapati malik terkulai lemas di gendongan pria yang tidak di ketahui ayu.
" Mas malik kenapa?" tanya ayu panik.
" Lo siapanya malik?" tanya mario yang terkasima melihat ayu. Walau tanpa make up dan baju yang mewah ayu terlihat begitu cantik sangat cantik melebihi model-model yang pernah ia lihat di majalah bahkan di tv. Baru kali ini mario melihat kecantikan yang begitu sempurna tepat di hadapannya.
"Aku istrinya "jawab ayu, ayu buru-buru membuka jalan dan menyuruh mario masuk.
Ayu tau pria tersebut keberatan menggendong malik yang tubuhnya sama besar dengan orang yang menggendongnya. Mario menganguk dan segera menuju kursi tamu untuk membaringkan malik.
" Mas malik kenapa? Tanya ayu lagi karna tadi mario tidak menjab, malah beralih bertanya.
" Hah" ucap mario tersadar dari terkasimanya dari awal ayu membuka kan pintu tadi mario memang tidak henti-hentinya memperhatikan ayu.
"malik mabok" jawab mario apa adanya. Mario sedikit gugup berada di hadapan ayu. Terlebih dengan wajah panik ayu yang terlihat begitu imut di mata mario.
" Makasi udah ngantarin mas malik ya "ayu mendekati malik yang terbaring lemas, mengangkat kepala malik kemudian mengalasnya dengan bantal.
" Yaudah kalo gitu aku balik" pamit mario, tidak sopan jika ia berlama-lama di rumah malik terlebih hari yang sudah tengah malam dan juga keadaan malik yang tidak sadarkan diri.
"Sekali lagi makasi ya "ucap ayu sembari mengantar mario menuju pintu keluar.
" Iya" jawab mario yang berjalan mendahului ayu.
Setelah mengantar mario ayu pun langsung memapah malik menuju kamarnya. Ayu tidak sanggup jika harus memapah malik ke lantai dua.
Sesampainya di kamar ayu langsung mengganti pakaian malik yang lembab juga membersihkan beberapa pasir dan juga beberapa daun kering di tubuh malik. Entah apa yang sudah malik lakukan sampai baju bahkan badannya berantakan seperti ini. Bau alkohol juga sangat menyengat dari tubuh malik.
Saat ayu akan keluar dari kamar, malik tiba-tiba saja terjaga dan langsung menarik tangan ayu sehingga tubuh ayu tidak sengaja jatuh tepat di dada bidang malik.
"Jangan pergi!!! "ucap malik memegang tangan ayu kuat.
.
.
.
.
Bersambung.