
Stiven berlari mengikuti brankar rashel yang di bawa oleh dokter serta perawat ke UGD, stiven terlihat sangat panik dan hawatir dengan keadaan rashel.
Maaf pak, silahkan tunggu diluar! "ucap suster tersebut menyuruh stiven untuknkeluar agar dokter bisa memeriksa rashel.
Stiven mengangguk lalu keluar dari dalam UGD tersebut.
****************
" Kamu siap - siap sekarang kita akan pergi ke rumah mama! "ucap xavi yang sudah siap dengan pakaian staeliesnya.
" Kerumah mama?" heran sheila, "untuk apa?"
"Memberitahu kehamilan kamu!, tidak mungkinkan kamu akan merahasiakn ini pada mama kamu terus - terusan. "
"Bagaimana kalau mama kamu nantinya tau dari orang lain, pasti mama kamu akan kecewa dan merasa jika dia tidak dianggap lagi. Apa kamu mau seperti itu? "
Sheila masih terdiam, sheila memikirkan bagaiaman reaksi mamanya nanti.
"Sheila"
"Sheila"
"Sheila tersentak lalu melihat ke arah xavi," Kamu baik - baik sajakan? "
" Iya, saya baik - baik saja." jawab sheila.
.
.
.
Xavi membukakan pintu mobil untuk sheila. Mereka bergandengan masuk kedalam rumah qania.
Art yang membukan pintu untuk sheila dan xavi langsung bergegas memanggil qania kedalam kamar dan memberitahukan jika ada kedatangan sheila dan xavi.
"Mama... "ucap sheila membantu mamanya untuk duduk.
Qania tersenyum melihat ke arah sheila dan xavi." Mama senang melihat kalian akur seperti ini. "
Xavi membalas senyuman qania," Ma kami ke sini mau mau memberi kabar gembira untuk mama. "
" Oh ya... Apa itu?" tanya qania yang sangat penasaran.
"Sheila hamil ma."
Mata qania terlihat sangat berbinar mendengar kabar yang selama ini ia nantikan.
Qania beralih menatap sheila, cBener sayang? "tanya qania.
Sheila mengangguk," yaampun mama senang sekali. "ucap qania memeluk sheila dan mengelus perut sheila.
" Sekarang kamu sudah tidak sendiri lagi ada anak di dalam perut kamu yang harus kamu jaga. Kamu harus jaga dia baik-baik ya. "
"Mama ingin melihat cucu mama lahir dengan sehat dan memanggil mama dengan panggilan nenek. "
" Mama sudah tidak sabar menantikan waktu itu."
****************
Stiven memperhatikan Rashel yang terbaring di atas brankar rumah sakit.
"Selamat ya pak, istri bapak saat ini sedang mengandung. Usia kandungannya sudah memasuki dua minggu."
" Usia kehamilan yang sangat muda jadi ae tolong di jaga dengan baik ya pak, jangan biarkan istri bapak terlalu stres! "ucapan dokter tadi masih teringat dengan jelas oleh stiven, saat dokter itu menjelaskan bagimana kondisi rashel.
Rashel mengedipkan matanya beberapa kali sebelum matanya terbuka dengan sempurna. Rashel melihat sekeliling dan melihat ke arah stiven yang duduk di sisi ranjangnya.
" Kamu yang bawa saya ke rumah sakit?" tanya rashel melihat ke arah stiven.
" Menurut kamu,? "ucap stiven melihat ke samping dan kebelakang," Tidak ada Rico di sini. "
Stiven berdiri, stiven membungkuk mengarahkan wajahnya pada rashel yang saat ini sedang berbaring. Dalam jarak eajah yang begitu dekat mereka saling bertatapan.
" Kamu hamilkan?" ucap stiven, membuat wajah rashel semakin tegang.
" Apa anak yang kamu kandung saat ini itu anak saya? "tanya stiven tak merubah posisinya.
Rashel terlihat sangat tegang, posisi stiven yang sangat dekat dengannya membuat rashel sangat gugup.
" Apa benar anak yang kamu kandung itu anak saya?" tanya stiven lagi semakin mendekatkan wajahnya.
"Jawab atau saya akan mencium kamu sampai kamu tidak bisa bernafas! "ancam stiven yang mendapat pelototan dari rashel.
Rashel mendorong wajah stiven menjauh dari wajahnya. Rashel duduk dan menatap tajam ke arah stiven.
" Asal kamu tau anak yang saya kandung saat ini adalah anak Rico bukan anak kamu.
Jadi jangan terlalu banyak berharap dari saya karna saya tidak sudi mengandung anak dari kamu! "ucap Rashel yang kemudian turun dari brankar rumah sakit sambil memegangi perutnya yang saat ini masih terasa sedikit sakit.
Stiven memperhatikan rashel yang keluar dari dalam ruangan." entah kenapa feeling saya mengatakan jika anak yang kamu kandung itu adalah anak saya bukan anak Rico." ucap stiven.
************
"Xavi sheila kalian dari mana?" tanya karina saat xavi dam sheila masuk kedalam rumah bersamaan.
"Kita abis dari rumah mama qania ma. "jawab xavi.
Karina melihat ke belakang xavi dan sheila," mama kamu ngga ikut ke sini sheila? '' tanya Karina.
"Engga ma, lagiankan mama sekarang ini masih dalam masa pemulihan jadi ngga bisa pergi terlalu jauh." jawab sheila.
"Oooo..... gitu. "ucap karina mengangguk.
" Lalu bagaimana dengan berita kehamilan kamu, kamu sudah memberi tahu mama Kamukan?" tanya karina lagi.
" Sudah ma, aku sama mas xavi baru saja memberi tahu mama soal kehamilan aku. "
" Lalu bagaimana reaksi mama kamu? Dia senangkan?"
"Sheila mengangguk, iya mama sangat senang bahkan dia tidak sabar umtuk bisa menggendong cucunya nanti."
" Hmmm... Mama juga tidak sabar menunggu kehadiran calon cucu mama ini. "
*************
Sheila menutup pintu kamarnya setelah berbincang sedikit dengan mama xavi tadi di bawah.
Sheila melihat xavi yang sepertinya sedang menelfon di balkon kamarnya dengan seseorang.
" Bagaimana keadaan kamu sekarang? Kamu baik - baik sajakan? "
Iya aku baik - baik aja, makasih kemarin kamu udah nenangin aku.
" Iya sama - sama ca, kalau ada apa - apa tentang penyelidikan frans yang ngga bisa kamu lakuin sendiri kamu langsung aja telfon dan minta bantuan aku."
" Iya er, makasi atas tawaran kamu."
"Itu bukan cuma sekedar tawaran tapi aku bener - bener mau bantu kamu ca,"
"oooo... Jadi ternyata dia sedang bertelfonan dengan sandra, pantas saja tadi dia buburu masuk kamar tanpa menunggu saya ternya ini tujuannya." batin sheila yang menguping dari balik pintu.
"Aku tau er tapi saat ini aku lagi nemu jalan buntu, kamu taukan ngga ada bukti yang bisa ngarahin aku untuk ngungkap siapa pelakunya. Ngga ada tuntunan untuk aku er."
"Kamu pasti bisa ca, ada aku yang akan bantu kamu ngungkap kematian frans."
Mata sheila terbelalak saat xavi mrngatakan jika ia akan mengungkap kasus mematian frans, "kematian frans? Apa yang di maksud xavi adalah pak frans?" batin sheila yang terkejut dengan pembicaraan xavier dan casandra.
Sangking terkejutnya sheila tidak sengaja menyenggol vas bunga yang ada di lemari kecil di belakangnya.
Parr..
Vas bunga itu pecah dan mrnimbulkan bunyi yang keras.
" Bunyi apa itu er?" tanya sandra dari telfon.
Xavi tidak menjawab dan lebih memilih mengecek sendiri apa yang terjadi.
Sheila. "ucap xavi saat melihat sheila berjongkok mengambil beling, pecahan dan vas bunga tersebut.
.
.
.
Bersambung
Udah hampir mencapi 100 wpisode nih gays jadi gimananih menurut kalian perjalanan cerita sheila dan xavier. Bumbu - bumbu apalagi yang menurut kalian perlu di tambahan biar cerita ini semakin seru dan menarik.
Di tunggu komen dan like kalian ya tentang cerita ini. Tanggapan kalian sangat berarti untuk aku biar aku ngga bosen nulis cerita ini supaya cerita ini makin berlanjut sampai kejahatan rashel dan stiven terungkap.