
Malik meletakkan ponselnya di atas lemari kecil di samping tempat tidurnya. Tubuhnya di hempaskan begitu saja ke atas ranjang. Malik menatap langit-langit kamar dengan wajah yang bahagia, ini adalah hari yang paling bahagia yang ia rasakan. Mengingat semua kejadian yang ia alami bersama ayu membuat malik tersenyum bahkan tertawa sendiri.
"Makan sendiri itu ngga enak mas!" malik teringat dengan kalimat yang di ucapkan ayu saat malik menolak untuk makan. Kalimat bujukan yang di katakan ayu agar ia makan sangatlah romantis karna dalam kalimat tersebut terkandung dua makna yang tersembunyi yaitu kasih sayang dan juga Perhatian.
"Wanita itu memang sangat Perhatian. "Malik memuji ayu tanpa sadar.
Rasa takut ayu saat memasuki sea world sebuah aquarium besar yang semua bagiannya di tutupi kaca sehingga kita merasa seperti sedang berjalan di dalam laut.
" Ini kacanya ngga bakal pecahkan mas kalo kita injek gini?"pertanyaan yang dilontarkan ayu saat menginjakkan kakinya kedalam akuarium itu. Pertanyaan yang membuat malik tertawa lepas.
" Ya engga lah"
"kalo kita lompat pecah ngga mas?"
"Ngga"
"Syukurlah, aku takut banget kalo seandainya pecah kan kasian sama ikan-ikan dan juga biota di dalemnya. Belum juga kerugiannya pasti gede banget"cerocos ayu sambil mengelilingi akuarium itu.
Perjalannya hari ini bersama ayu membuat malik melihat sisi berbeda dari gadis itu dan juga dirinya karna, selama bersama aleta malik sangat jarang tertawa mereka berdua selalu larut dalam keseriusan entah itu pekerjaan fasion atau ketenaran. Aleta sangat tergila-gila dengan media sosial ia selalu ingin dikenal oleh khalayak banyak.
Cukup lama malik memandang langit-langit kamarnya sambil memikirkan ayu. Malik mulai merasa nyaman dengan ayu. Semua kesederhanaan ayu dan juga sikap yang apa adanya menjadi daya tarik tersendiri untuk malik.
...*********...
Pagi ini ayu membuatkan sarapan untuk malik ayu sudah melupakan semua kata-kata malik yang menyakitkan dan tidak melnjutkan misinya. Ayu memasak soto yang waktu itu ia masak.
"Semoga aja mas malik suka"ucap ayu meletakkan semangkok soto ayam di meja makan.
Taklama kemudian malikpun turun dengan pakaian rapi dengan stelan jas berwarna donker dengan kemeja berwarna putih di dalamnya. Ayu tersenyum lebar saat malik sampai di meja makan.
"Sarapan dulu mas"sapa ayu lembut dengan senyuman. Ayu membukakan kursi untuk malik duduk.
Tanpa pikir panjang dan sok jual mahal lagi malikpun langsung duduk dan mencicipi soto yang ia damba-dambakan waktu itu namun tidak kesampaian karna ayu tidak menyisakannya.
"Kamu mau kemana? "tanya malik melihat ayu yang sudah berpakain rapi.
" Aku mau kerja mas"
"Kerja? "malik sedikit terkujut ia tidak tahu kalau selama ini ayu bekerja.
" Iya, aku bekerja di Beyond magazine" jawab ayu.
"He emm"malik mengangguk-nganguk sambil terus menyantap sotonya.
" gimana mas, enak?"
"enak, enak banget. " puji malik mengacungkan dua jempolnya ke arah ayu sambil tersenyum lebar.
Mata ayu berbinar saat mendengar pujian malik terhadap masakannya. Lelah memasak yang ia rasakan seketika lenyap.
"Kamu belajar masak di mana?"
"aku belajar masak sama ibuk."
"Ibuk? "
"Iya, ibu kandungku. Tapi ia sudah meninggal sejak aku berumur lima tahun"ayu menghela nafas panjang dan berusaha untuk tetap tersenyum.
Mendadak suasana meja makan terasa canggung, malik merasa tidak enak dengan pertanyaan yang ia lontarkan tadi. Sendok yang berada di genggaman malikpun tidak sengaja jatuh dan mengenai setelan jas yang malik kenakan sehingga meninggalkan noda.
"saya ngga papa" malik mengibas-ngibaskan tangannya ke stelan yang terkena noda "Saya ke atas dulu" lanjut malik berjalan menuju kamarnya.
Ayu mengangguk, kemudian membereskan makanan malik yang sudah habis.
...*********...
"Harusnya saya ngga bahas itu tadi"Ucap malik sambil melepaskan stelan jasnya.
" Tapi kenapa mbak nirmala bisa ngangkat ayu jadi anaknya?"
" Mereka ketemu dimana?"
" Lalu ayahnya ayu?"
" Kenapa mbak Nirmala ngga cerita apapun? C
Ingin sekali malik menanyakan itu semua kepada ayu. Tentang bagaimana ia bisa diangkat menjadi anak kakak tertuanya dan semua yang terjadi pada orang tua ayu.
Tiba-tiba malik ingin mengetahui semua tentang ayu. Tentang wanita yang terpaksa ia nikahi karna nama baik keluarga.
Setelah selesai, malikpun memeriksa gawainya yang terus bergetar saat ia sarapan tadi. Malik melihat beberapa chat masuk dari nomor yang tidak ia kenal.
[+41... .] "Hai bee."
Mata malik terbelalak saat membaca isi chat itu. Bee adalah panggilan sayang Aleta untuknya. Walaupun malik tidak suka dipanggil seperti itu karna menurutnya itu panggilan alay yang digunakan anak-anak remaja pada kekasihnya. Namun tetep saja Aleta memanggil malik dengan sebutan "bee" dan aleta juga memaksa malik untuk memanggilnya dengan sebutan "boo".
"Aleta? "desah malik.
Kode negara yang tercantum di dalam nomor itu adalah kode negara Swiss, itu membuat malik bertambah yakin kalau itu benar-benar Aleta.
[+41...]" bee... aku benar-benar minta maaf, karna pergi diam-diam seperti ini. Aku berharap kamu bisa memafkanku."
[+41... ]"Aku tau kamu pasti sangat marah karna aku meninggalkanmu tepat di hari pernikahan kita. Aku yakin keluargamu juga marah padaku mereka pasti mengangapku tidak benar-benar mencintaimu."
[+41...]"Tapi satu hal yang harus kamu tau kalau aku sangat-sangat mencintai kamu bee."
[+41...]"Aku harap kamu masih setia menungguku di sana."
[+41...]" Setelah semua pekerjaanku di sini selesai aku akan segera kembali dan kita bisa melanjutkan pernikahan kita lagi bee."
[+41...]" i love you. "
Tubuh malik menegang, dadanya bergemuruh dan tangannya bergemetar. Malik melemparkan ponselnya ke atas kasur begitu saja. Sudah dua bulan berlalu, tapi kenapa baru sekarang Aleta menghubunginya. Kenapa aleta menghubunginya di saat ia sudah mulai merasa nyaman dengan wanita lain. Wanita yang berpura-pura menjadi aleta di pernikahannya.
Chet Aleta malah membuat malik merasa sesak saat ini trauma akibat Aleta meninggalkannya di hari pernikahan seketika muncul lagi. Kepanikan, ketakutan serta kesedihan itu kembali terlintas di pikiran malik. Padahal sudah susah payah ia mencoba melupakan kejadian itu dan menganggap kalau kejadian itu hanya mimpi buruk semata yang tidak pernah ada.
Memang semarah-marah apapun malik kepada aleta tetap saja masih ada keinginan malik untuk kembali kepada aleta. Bagaimanapun hubungan malik dengan aleta sudah berjalan cukup lama ada banyak kenangan manis yang terukir bersama tidak mungkin bisa hilang hanya dalam waktu dua bulan. Lagi pula malik dan ayu kan sudah menandatangani surat perjanjian bahwa ayu akan meninggalkan malik ketika aleta sudah kembali, seharusnya sekarang malik tidak merasa bimbang seperti ini. Seharusnya malik senang karna aleta tidak benar-benar meninggalkannya
.
.
.
Bersambung.